"Kok kamu makin gendut sih, Din." Oh, apa tidak ada kalimat sapaan lain yang menjadi pembuka? Dasar Yuna! Moodku berguguran gara-gara dia. Aku cemberut mendengar celetukan Yuna, aku baru saja sampai di warung Bu Rika. Tapi apa yang aku dapat? Celoteh comel Yuna yang menyebalkan, "gak ada pembahasan lain apa sih, Yun? Belum juga duduk, udah kamu katain gendut." Ujarku sewot, menarik kursi untuk duduk tepat di hadapannya. Sumpah, moodku langsung anjlok tanpa arah! Yuna seperti biasa, anak satu ini kebal dengan nada sewot ku. "Halah, bersyukur dong, bisa gendut. Biar gak dikatain krempeng, pendek lagi." Ya Allah, sadis banget Yuna ini. Padahal baru berapa hari gak ketemu, tapi kenapa mulut Yuna sudah selicin sabun batangan kek gini. Aku masih mau sewot, dibaik-baikin malah nglunjak nanti.

