Tidak Ada Penerus

1292 Kata
Scandal Dengan Nyonya - - [Episode 2 ~ Tidak Ada Penerus] Cinta bertepuk sebelah tangan. Max lebih memilih keluar dari kamar karena Tuan Zen dan Bianca memerlukan waktu berdua. Dan Max sadar akan itu, sebelum di suruh pergi, Max sudah pergi dahulu. Sungguh peka! " Eh Max, tunggu sebentar. " Ucap Tuan Zen saat melihat Max akan keluar dari kamar dan meninggalkan sepasang suami-istri itu. " Ya Tuan? " tanya Max menjawab panggilan Tuan nya itu. " Kantor gimana? " tanya Tuan Zen dengan pelan dan Bianca tetap di sisi sang suami dan memijat pelan bahu suaminya itu. " Semuanya baik Tuan. " Ucap Max lagi dan menundukkan kepalanya dan bersikap sopan. " Baiklah saya permisi dulu Tuan. " Ucap Max mengangguk sebentar ke arah Tuan Zen dan Bianca yang tiba-tiba saja gelagapan saat Max melihat kearah nya. I catch you (aku menangkap mu)! Tuan Zen membiarkan saja Max keluar dari kamarnya, mungkin Max masih ada banyak pekerjaan karena saat Tuan Zen sakit Tuan Zen tidak pernah lagi datang ke jantung dan semuanya di urus oleh sekretarisnya itu. " Udah kamu istirahat dulu ya. " Ucap Bianca setelah selesai menyuapi Tuan Zen dan dengan menurut Tuan Zen pun berbaring di ranjang yang empuk dan di bantal yang nyaman karena sudah di tata oleh Bianca. " Terimakasih Bi, kamu istirahat juga ya. " Ucap Tuan Zen dengan tersenyum dan memandang sang istri itu. Dan dengan mengagukkan kepalanya, Bianca setuju dan mengecup kening Tuan Zen sekilas dan setelah itu langsung keluar dari dalam kamar Tuan Zen dan segera pergi ke kamarnya sendiri. " Hei Max! " ucap Bianca memanggil Max yang melintas di depannya. " Ya Nyonya? " tanya Max dengan sopan, walaupun Max mempunyai perasaan tersembunyi dan terlarang! Max sadar kalau Bianca adalah istri Tuan nya. Dan sebisa mungkin, Max berprilaku seperti sekertaris yang setia dan profesional karena Max di gaji setiap bulan. Cinta tidak harus buta! Cinta tidak harus memiliki! " Tuan lagi istirahat, sekarang kamu boleh pulang aja, biar saya yang jagain Tuan Zen. " Ucap Bianca yang di angguki oleh Max lalu Max mengatakan... " Saya permisi Nyonya. " Ucap Max menundukkan sekilas dan setelah itu langsung pergi dari hadapan Bianca untuk segera pulang ke apartemen. Max keluar dari Zen Penthouse dan segera melangkah kaki kearah garasi rumah dimana mobil nya di parkir. Tin tin tin! Suara kunci mobil yang terbuka. [ Ting ~ Pesan masuk ] Beno : Kesini loe b*****t! Jangan berkhayal dengan bini orang terus ya, buruan! Kevin sama Jared udah nunggu daritadi!! Isi pesan singkat dari Beno yang membuat Max berdecak kesal seketika. " Itu orang benar-benar ya! Nggak ada basa-basi nya. " Guman Max pelan dan segera memencet tombol GPS dan mengatakan... " Black Devil Club. " Ucap Max singkat dan setelah itu GPS memperlihatkan alamat dan Max segera menyetir dengan petunjuk dari GPS. Setelah berkendara selama tiga puluh menit, akhirnya Max samping juga di club. Setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas valet, Max segera masuk ke dalam club dengan kemeja putih yang sudah di gulung samping siku dan kancing kemeja sudah di buka tiga hingga memperlihatkan d**a bidang Max yang sangat menggoda yang di hiasi bulu halus siapapun kaum hawa yang melihatnya pasti akan merasakan ba... sah seketika. Sedangkan jas nya sudah Max tinggalkan di dalam mobil tadi. Max masih melangkah menuju meja yang di maksud Beno hingga sudah di jarak dekat Beno berkata yang terdengar begitu menjengkelkan. " Nih! Hot gini aja di campakkan apalagi badan loe yang kayak tusuk sate. " Ucap Beno tanpa filter dan berkata tentang fakta kepada bartender saat bartender itu mengatakan sedang putus cinta, bukanya menceritakan kisahnya sendiri Beno malah berkata mengejek bartender dan mengolok-olok Max sekalian. Dasar sampah! " Eh, ini beneran Max dicampakkan? " tanya bartender itu dengan tatapan tidak percaya dengan ucapan Beno yang terkenal buaya selang...kangan itu. " Cih! Di bilangin nggak percaya! Emang loe pernah lihat nih dedemit ciuman apalagi n***e disini? " tanya Beno dengan semakin semangat mengolok-olok yang penting bukan dirinya sendiri yang sedang di bicarakan, Beno cukup betah! " Alah bacot loe Ben! Loe ngajakin gue ke club cuma buat dengerin omongan loe yang nggak guna ini? Vodka satu ya. " Ucap Max yang sudah jengah dengan kata-kata Beno akhirnya bersuara dan sambil melihat bartender dan memesan minum. " Tauk! Biarkan Max kenalan sama cewek yang disini dululah Ben! Biar kelihatan laku. " Ucap Jared yang ikut meledek Max. Dasar sialan! " Gimana kerjaan loe bro? " ucap Kevin yang tenang karena dari mereka berempat baru Kevin yang sudah menikah sedangkan Beno dan Jared masih menjadi penjahat s**********n dan Max dengan cinta bertepuk sebelah tangan. Kasihan! " Ya biasalah bro. " Ucap Max singkat sambil menyesap Vodka itu dengan perlahan. " Gimana? Sakit hati yang pasti selalu nambah donk? " tanya Jared dengan menggoda. Benar-benar taik! " Alah, nggak guna loe! Gue sumpahin loe juga bakal merasakan apa yang gue rasakan. " Umpat Max dan bukannya takut Jared malah terkekeh begitu juga dengan Beno. " Udah sana jadi DJ aja Max, nggak guna loe ladeni si Jared dan Beno itu. " Ucap Kevin yang ada benarnya juga. Dan tanpa pikir panjang, Max segera menuju ke tempat DJ untuk mengambil alih. " Si Max masih perjaka kan, samping sekarang? " tanya Beno yang otaknya tidak jauh dari s**********n dan mendengar pertanyaan Beno itu, Kevin dan Jared tertawa terbahak-bahak. " Gue takut anu Max berkarat karena nggak pernah di beri pelumas! " ucap Jared dengan kotor dan itu membuat Beno dan Kevin terkekeh. " Lihat sebulan lagi, gua ada feeling kalau Bianca juga suka sama si Max. " Ucap Jared yang membuat Beno dan Kevin bertatapan dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana Jared tau? " Kata siapa loe? " tanya Beno dengan tidak percaya karena ucapan Jared juga buaya seperti Beno, jangan sampai ada buaya menipu buaya. " Ya feeling gue aja. " Ucap Jared dengan tenang. " Sebentar lagi anu Max bakal ketemu pelumas jadi nggak jadi berkarat malah jadi tambah kinclong. " Seloroh Kevin yang membuat Beno dan Jared tertawa dengan ngakak. " Jadi DJ dadakan aja di kerebutin banyak cewek gimana kalau si Max jadi buaya kayak Jared dan Beno? Gue yakin Beno dan Jared bakal nggak laku! Hahaha. " Ucap Kevin dengan berkhayal dan itu membuat Beno dan Jared berdecak seketika. Apa-apaan tuh! " Noh lihat gimana pesona seorang Max sang asisten. " Ucap Kevin sambil melihat ke arah panggung dimana di sebelah kanan, kiri dan belakang Max sudah di penuhi cewek-cewek padahal Max hanya menjadi DJ saja sudah seperti itu! Gimana kalau jadi buaya? Hm... " Eh ngomong-ngomong, itu Tuan Zen sama Bianca belum punya anak ya? Tidak ada penerus! " ucap Beno yang malah membahas Bianca dan mengabaikan Max yang sedang di kerebutin banyak cewek. " Belum, dari istri pertama Nyonya Aliyyah juga nggak punya! Tuan Zen keburu sakit-sakitan lagi! Gimana mau berkembang biak padahal enak, istrinya ada dua... Yang satu udah berumur dan satunya lagi masih muda tinggal celap celup. " Ucap Jared dengan terus terang dan mengatakan fakta yang tidak jauh dari selang...kangan. " Gue nunggu kedua orang tua itu meninggal karena Max menunggu janda nya Bianca. " Ucap Beno dengan terbahak-bahak merasa lucu apa yang sudah di katakanya. " Eh taik! Malah berharap orang cepet mati lagi. " Ucap Kevin yang tidak habis pikir dengan pikiran Beno itu. " Nggak sempai nunggu jadi janda, itu Bianca udah bakal kecantol dengan pesona nya si Max. " Ucap Jared dengan santai dan itu membuat Kevin dan Beno saling berpandangan dan mengatakan... Benarkan. - Pagi hari. Seperti biasanya, Bianca mengurus sang suami yang sakit mulai dari memandikan di bantu pelayan dan setelah selesai memakai kan baju dan merapihkan penampilan Tuan Zen. Tiba-tiba saja pintu di buka dengan kencang dan di susul dengan berjalan yang cepat dan... Plak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN