SCANDAL DENGAN NYONYA
[Episode 6 ~ Mulai Frustasi]
" Bisa nggak sih, nggak usah ngomongin Bianca!! " ucap Max yang terlihat frustasi.
Beno melihat itu bukanya kasian malah terkekeh, sekarang Beno tau kalau sudah ada apa-apa antara Bianca dan Max.
Hm... Perlu dibuktikan kalau masih tidak percaya.
" Sensi amat sih Max!? Biasanya juga juga nggak apa-apa! Kenapa hari ini beda? " ucap Beno yang pura-pura nggak tau padahal di dalam pikirannya sudah ada satu kemungkinan... Max dan Bianca tidur bersama.
" Nggak apa-apa! Nggak udah ngaco! " ucap Max yang jelas-jelas menghindar dan itu tidak berlaku untuk Beno!
" Benarkan!? Hei ladies temani Max malam ini... Gue yang bayar! " ucap Beno pada para wanita bayaran yang sedari tadi melihat ke arah meja ke empat pria yang tampan tapi sayang sekali dari empat pria itu hanya Max jatuh cinta dan di campakkan maka dari itu Max perlu pelampiasan.
" Apa sih! " ucap Max yang enggan dan memilih untuk menyesap Vodka.
" Hahaha gue udah tau Max! Udah pergi sana! Max udah punya wanita simpanan apa hubungan simpanan!? " ucap Beno lagi dengan terkekeh.
" Seriusan loe sama Bianca? Wanita bersuami tapi kesepian! " ucap Jared yang tau apa yang di maksud Beno begitu juga dengan Kevin mereka diam karena tidak banyak ngomong tidak seperti Beno yang suka banyak bacot!
" Loe semua jangan kayak cenayang ya! Ngeri tauk nggak gue! " ucap Max yang enggan menjawab dan malah berkata lain.
" Udah nggak usah di tanya!? Udah fix dari gelagatnya saja udah terlihat. " Ucap Beno lagi.
-
-
-
-
-
-
Sedangkan itu, Tuan Zen sedang berada di kamar dengan kedua istrinya yaitu Aliyyah dan Bianca.
Aliyyah dan Bianca sedang memijit kaki suami mereka dan setelah beberapa saat, Tuan Zen mengatakan...
" Aliyyah kamu keluar dulu, aku mau berdua di kamar ini dengan Bianca saja. " Ucap Tuan Zen tanpa memandang Aliyyah karena tangan nya sudah berada di salah satu pundak Bianca dan memijat nya pelan.
" Matilah kau Bianca! Pasti Zen minta servis tapi burung nya nggak bisa berdiri karena kelumpuhan dulu masih bisa berdiri walaupun mandul. " Ucap Bianca dalam hati sedangkan Aliyyah yang sedari tadi di suruh keluar masih berada di dalam ruangan dan melihat tatapan Tuan Zen kepada Bianca dengan tatapan gairah!
Walaupun Aliyyah tau burung di bawah sana tidak bisa berdiri dan tidak ada keturunan!
" Baiklah sayang, aku ke kamar dulu ya, night... " dusta Aliyyah di setiap perkataannya walaupun dalam hati ingin sekali mengumpat tapi tetap harus di tahan.
Setelah mengatakan itu, Bianca memeluk Tuan Zen sekilas lalu keluar, setelah menatap pintu kamar, Aliyyah berkata dalam hati...
" Lumpuh aja belagu! Kalau nggak kaya aku juga nggak sudi punya suami lumpuh yang nggak bisa memuaskan di ranjang gitu juga mandul lagi... Kalau bukan harta ogah banget aku harus bertahan! Semoga aku jadi CEO selamanya. " Ucap Aliyyah dalam hati penuh dengan iri dengki.
Berawal sakit hati karena suaminya menikah lagi dan menganggapnya mandul tapi setelah menikah lagi istrinya juga tidak hamil berarti Tuan Zen memang benar-benar mandul tapi enggan untuk mengakuinya.
Kalau sampai itu terjadi, Aliyyah yakin harga diri Tuan Zen tercoreng dan Tuan Zen tidak bisa membiarkan itu dan lebih kalayak umum mengetahui kalau istrinya yang mandul.
Benar-benar licik!
Setelah mengucapkan sampah serapah di depan kamar Tuan Zen tertutup, Aliyyah mengeluarkan ponselnya dan mengatakan...
" Di tempat biasa. " Ucap Aliyyah singkat dan segera mematikan sambungan telepon dan di dalam hatinya mengatakan...
" Biarkan kenikmatan yang berkuasa malam ini. "
-
-
-
-
-
-
-
" Bi? " ucap Tuan Zen.
" Iya suamiku... " ucap Bianca yang tersadar dari lamunannya.
Untuk apa dia melamun!
" Aku gantikan kamu baju dulu ya? " ucap Bianca mengalihkan perhatian dan lebih mengatakan hal lain.
" Yaudah. " Ucap Tuan Zen.
Setelah mengatakan itu, Bianca menuju lemari yang menyimpan baju Tuan Zen, Bianca mengambil kaos, celana pendek dan dalam.
" Sini aku bantu suamiku. " Ucap Bianca yang sudah datang dengan satu set pakaian Tuan Zen dan dengan perlahan membantu Tuan Zen untuk membuka baju.
Bianca sibuk membuka baju Tuan Zen dan setelah selesai membuka celana Tuan Zen dan Bianca melihat di bawah sana basah, Bianca termenung sesaat dan setelah sadar segera mengelap bagian sensitif itu tapi saat Bianca akan bersikap biasa-biasa saja tiba-tiba saja Tuan Zen mengatakan...
" Manjakan kelakian ku Bi!? " ucap Tuan Zen yang pyur itu adalah perintah tapi Bianca masih terdiam mematung dan mengatakan dalam hati...
" Seenak dengan Max kah? " ucap Bianca yang mulai membandingkan kelakian suaminya sendiri dengan pria lain.
Dan setelah terdiam beberapa saat, Bianca harus mencium bibir Tuan Zen dulu sebagai pemanasan karena tidak mungkin Bianca langsung ke bagian kelakian yang lembek tapi banyak cairan itu.
Di dalam hati, Bianca merasakan jijik! Maka dari itu ciuman lebih baik sambil menggenggam kelakian itu yang membuat Tuan Zen menggeram tapi kelakian tidak juga berdiri.
Ish!
Bianca masih berada di ciuman yang panas! Saat Bianca memejamkan matanya, tiba-tiba saja kegiatan panas dan erotis nya dengan Max terlihat di pikirannya.
Bukannya memikirkan Tuan Zen, Bianca malah asik memikirkan Max seolah-olah yang sedang berciuman dengannya bukan Tuan Zen tapi Max.
Benar-benar kurang ajar!
" Bruk! "
" Awww! "
" Kenapa suamiku!? " tanya Bianca yang merasakan sakit karena di dorong Tuan Zen hingga jatuh dan merasakan sakit di area b****g nya.
" Nggak guna! Loe itu! Nggak bisa bikin gue ereksi!! " ucap Tuan Zen yang menyalahkan Bianca karena tidak bisa membuat burung nya berdiri.
Burung nya memang tidak bisa berdiri, mau di apakan!
Itu adalah efek samping dari kelumpuhan nya!
" Pergi!! " ucap Tuan Zen dengan marah kepada Bianca.
" Suamiku... " ucap Bianca mencoba sabar walaupun dalam hatinya sudah mengumpat segala sampah serapah tapi Tuan Zen tidak peduli dengan ucapan Bianca dan lebih memilih untuk mengambil telepon yang berada di samping ranjang dan menghubungi Max.
" Max antarkan satu wanita ke kamar ku! Sekarang juga aku tunggu!! " ucap Tuan Zen dengan marah dan segera membanting gagang pintu karena merasakan marah.
" Dan loe kenapa masih berada di sini? Saya bilang pergi!! " ucap Tuan Zen dengan berteriak dan Bianca mematung seketika.
" Selamat malam Tuan, ini wanita yang Tuan minta... Saya permisi dan akan membereskan Nyonya Bianca. " Ucap Max segera memberikan apa yang diinginkan Tuan Zen dan segera membawa Bianca pergi dari sana.
" Ya sana bawa pergi! Dasar mandul!! " ucap Tuan Zen yang menyakiti hati Bianca, memang biasanya Tuan Zen kalau marah suka berteriak tapi tidak sampai mengatai Bianca mandul dan baru pertama ini, Tuan Zen mengatai Bianca mandul dan rasanya menyakitkan.
Bianca masih mematung berada di depan kamar, hingga telinganya mendengar suara desahan dari dalam, berarti mereka sudah bercinta.
Kenapa rasanya sesakit ini, tanpa sadar Bianca segera pergi dari depan kamar Tuan Zen dan berlari sepanjang lorong dengan tangisan...
" Kenapa tidak ada kebahagiaan untuk ku!? " ucap Bianca dalam tangisan dan Max mengikuti dari belakang hingga Max bisa menggapai Bianca dan Max membawa Bianca di gudang bawah tanah yang pintunya tidak jauh dari Max yang menggapai Bianca tadi tanpa pikir panjang Max membawa Bianca masuk kedalam sana karena Max yakin di belakang sini tidak ada cctv dan sebagiannya, Max tau itu karena Max sudah bekerja dengan Tuan Zen bertahun-tahun dan sudah tau tata letak rumahnya.
" Hei!? " ucap Bianca memberontak tapi Max dengan sigap membungkam Bianca dengan ciuman karena sudah aman, mereka sudah berada di dalam gudang bawah tanah yang pintunya sudah di tutup jadi aman.
Max membungkam Bianca dengan ciuman sangat, hingga nafas kedua manusia itu terdengar terengah-engah hingga Bianca berkata...
" Hamili aku Max, aku tidak mandul! "
" Hamili aku!! "