Baisuki
Namaku Bai Suki, aku mendirikan sebuah rumah bordil di kawasan red street. Red street bukan hanya rumah bagi para p*****r, tapi para penjudi, penjual obat-obatan, pembunuh bayaran, penjahat kambuhan atau penjual senjata. Semua jenis penjahat dapat ditemukan di tempat ini, dan tidak ada yang bisa menaklukkannya termasuk kerjaan Stockholm. Sudah banyak gubernur dikirim kemari dan dikembalikan hanya dalam bentuk kepala dan badang tercincang. Semua orang percaya penghuni tempat ini turun temurun merupakan bangsa Viking karena itu mereka selalu mencintai kerusakan dan kejahatan.
Aku masuk ke tempat ini saat berumur 17 tahun. Aku ingin membuktikan pada seseorang bahwa aku berguna karena itu aku datang kemari, membangun rumah pelacuran ini. Dan sekalipun aku membangun tempat ini, aku tidak pernah merasa bagian dri tempat ini. Meski di mata orang lain ini adalah tempat pelacuran bagiku ini seperti pub, semua orang bisa menari, minum bersama atau menyanyi, kalau kemudian terjadi transaksi seksual diantara mereka itu bukan bagian dari rumah bordil ini, meski gadis yang melakukan itu harus bersedia membagi keuntungan 20% keuntungan dengan rumah pelacuran red ini.
Aku berusia 25 tahun, aku bekerja sebagai dosen ilmu seni dan sastra di universitas Lein. Bagiku itu adalah pekerjaan utamaku dan tempat ini hanya untuk beristirahat. Aku punya cukup uang untuk pindah ke kawasan lebih layak tapi bagiku, aku tumbuh disini dan terbiasa disini.
Sekarang pukul sebelas malam. Aku baru saja pulang dari Universitas, sekarang membersihkan diri. Orang-orang menyebutku sebagai wanita tercantik di tempat ini, meski aku meragukan hal tersebut. Nenek moyang ayahku adalah orang Turki kuno, sementara ibuku ibuku orang Asia Tengah. Aku dibawa kesini saat berusia 7 tahun. Mereka menjual ku ke istana sebagai pelayan kerjaan dan bertemu seorang gadis bernama Bai.
Bai berusia 15 tahun. Aku menganggapnya sebagai kakakku sendiri, tapi satu kali aku melihatnya, dia dibawa ke kamar pangeran Stuart lalu disana dia dinodai lalu dibuang jasadnya ke tepi sungai Sein. Aku mengatakan pada semua orang kalau Bai diperkosa tapi tidak ada yang percaya, aku dipukuli, lalu disuntikkan obat penenang. Aku dianggap seorang pengguna obat-obatan terlarang dan dimasukkan kedalam panti rehabilitasi. Saat itulah aku bertemu orang itu.
Dia adalah pangeran kedua. Putra Raja Arnold yang mendadak meninggal beberapa hari setelah kematian Bai. Setelah itu Stuart mengambil alih tahta karena anak-anak raja Arnold masih terlalu kecil. Lelaki tua b******n itu tidak memiliki anak, karena itu sepertinya penerus akan dipilih dari tiga orang anak lelaki Raja Arnold.
Pan, pelayan ku wanita Asia menyemprotkan parfum kesturi ke rambutku yang masih basah, menyisir rambutku dengan minyak kelapa sambil melihat lembut pundakku yang terasa agak pegal. Aku seperti kebanyakan wanita Asia lainnya. Mataku coklat muda. Hanya saja percampuran dengan orang Turki kuno membuatku juga terlihat sedikit seperti orang barat. Hidungku ramping, mataku agak besar dan bulu mata lentik. Bibirku berbentuk hati yang agak berisi. Mungkin karena terlihat unik orang-orang menganggapku cantik. Kecantikan memberikan seorang wanita kekuatan dan keistimewaan tersendiri.
Pintu kamarku diketuk. Tidak banyak orang punya akses untuk masuk ke kamar ini, hanya tiga orang, Bibi Pan, pengawal ku Raian dan Pangeran kedua.
"Masuklah!"
"Maafkan saya menggangu Anda Nona" Kata Raian. Dia seorang pria Asia bertubjb tinggi, berambut gelap berantakan. Matanya sipit, hidungnya ramping, bibirnya sedikit lebar dengan dihias kumis dan janggut. Dia masih muda, usianya 30 tahun. Dia mantan pembunuh bayaran yang kemudian bekerja untukku dua tahun ini.
"Ada apa?"
"Terjadi kekacauan dibawah, ketua dari kelompok serigala merah berkeras ingin bertemu dengan Anda"
"Ah, omong kosong apa lagi ini"
"Anda akan turun?" Bibi pan bertanya dengan khawatir.
"Mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan. Aku tidak mau mereka membawa masalah untuk para gadis"
Aku menggulung rambut hitam panjangku yang masih basah. Mengenakan mantel tidur sutra berwarna emas, menurunkan tangga dari tempat yang gelap menuju ruangan yang berisik dengan lampu-lampu pesta warna-warni. Suara musik benar-benar berisik.
"Apa yang Anda cari dariku"
Lelaki gemuk berusia 40 tahunan yang sedang duduk di kursi pojok bersama beberapa wanita itu menegakkan duduknya. Dia menenggak alkoholnya dengan serakah lalu menyeka bibirnya dengan lengan bajunya. Benar-benar terlihat seperti lelaki barbar berbau alkohol.
"Aku ingin kau melayaniku malam ini"
"Kurasa Anda sudah mendengar dari banyak orang di tempat ini. Aku tidak menjual diriku, jadi lupakan ide itu dari kepala Anda"
Lelaki itu menatap dengan sinis.
"Berapa yang harus aku bayar?"
"Aku sudah mengatakan jawabannya dan aku tidak punya waktu untuk menemanimu bermain"
Aku berbalik badan, pria itu berdiri lalu menahan pundakku. Raian memutar tangan lelaki itu sampai dia meringis, tetapi anak buahnya tidak tinggal diam, sepuluh orang lelaki berdiri hendak mengeljng dan menyerang kami. Aku benar-benar lelah dengan semua ini.
"Berhenti!" Kataku dengan tegas, aku tidak ingin pub ku rusak karena perkelahian, akan terlalu banyak kerugian. Sudah beberapa kali terjadi perkelahian di pub ini untuk omong kosong dan salah satunya tawar menawar untuk tidur denganku. Tawaran yang sudah sangat sering kudengar sampai-sampai aku jadi mual.
"Tidak perlu berkelahi, aku akan ikut denganmu"
"Nona!" Raian menyanggah dengan khawatir.
"Tidak masalah"
"Kalau begitu, ikutlah denganku"
"Aku ingin mobil terpisah"
"Apapun untukmu ratuku"
"Agh, menjijikkan"