Biasanya, orang suka menebak isi hati orang lain
Akan tetapi...
Tidak banyak yang sadar tentang isi hati sendiri...
***
Tidak terasa akhir bulan sudah menyapa. Minggu pagi rumah Nadia tampak lenggang. Kakek Hariyadi dan Nando sejak tiga hari lalu ke Bulungan, mengecek lansung kondisi gudang barang di sana. Baru setahun ini perusahaannya membuka cabang di Kalimantan Utara. Kegiatan rutin tiap enam bulan sekali pun dilakukan. Sementara Sekar bertemu teman-temannya entah di mana. Nadia sendirian berkeliling rumah. Biasanya ia akan senang bila boleh tidur seharian tanpa gangguan. Entah kenapa sudah dua minggu berturut-turut Akbar tidak mengajak mereka olahraga seperti biasanya.
Sejak kejadian lalu perkara sindir menyindir, pria itu jadi agak dingin pada Nadia. Hal ini mendasari sang gadis sulit tidur dengan nyenyak belakangan. Sikap Akbar yang mendadak berubah, bicara seperlunya. Mengajari ala kadarnya. Tidak ada percakapan lain selain hal-hal berbau profesionalitas. Jelas saja Nadia merasakan sesuatu tidak beres. Seolah dirinya dihindari begitu saja. Anehnya, ia merasa sangat kesal dan tidak senang.
Gadis itu bertopang dagu di halaman depan. Bibirnya manyun, matanya menatap kosong kolam ikan di samping. Ia duduk dengan posisi amat malas. Sampai suara decitan ban mobil terdengar halus berhenti di parkiran depan rumah. Gadis itu melongok, menatap seksama sebuah Fortuner warna hitam mengkilat. Rasanya tidak mungkin tamu atau teman bisnis kakek Hariyadi berkunjung. Mereka pasti selalu membuat janji bila ingin bertemu atau sekadar kopi darat dengan kakeknya. Sedangkan selama dua pekan ke depan kakek Hariyadi ada di Bulungan.
Seseorang turun. Menurunkan kacamata dan melepasnya. Lalu mendatangi Nadia yang tampak masih terkejut. "Kenapa bengong? Belum mandi pun kamu tetep manis ya," celetuk Akbar.
"Kamu ngapain ke sini?! Bukannya udah nggak ada jadwal olahraga lagi? Sekar juga lagi jalan. Aku nggak mau olahraga sendirian. Terus, maksudnya muji-muji barusan apa ya?" Nadia bersungut. Ia berpaling muka, menutupi rasa malu. Dalam hati girang bukan kepalang, kedatangan pria ini sungguh di luar prasangka. Sedikit pun Nadia tidak berpikiran Akbar akan menemuinya begini. Gadis itu belum sadar, bahwa hatinya menyembunyikan sebuah makna. Kerinduan yang terpendam dalam.
Akbar membuang napas pendek. Dua tangannya berkacak pinggang. "Aku baru inget kalau pernah janjiin mau ajak kamu jalan-jalan. Waktu itu kan batal gara-gara aku ada masalah yang harus dibereskan. Sekarang, mau kulunasin."
"Maksudnya?"
"Buruan mandi. Kita hang out."
"Serius?"
"Nggak mau?"
"Mau! Tapi, berdua aja gitu? Kok kelihatan kayak-"
"Kencan?"
Perkataan Nadia langsung disahut oleh Akbar. Mendengar kata kencan rasanya jantung gadis itu meloncat-loncat kesenangan. Perutnya mulas menahan kegugupan yang melanda. "Aku mandi dan siap-siap dulu. Yakin mau nunggu?"
"Berapa lama sih? Paling satu atau dua jam kan?"
"Nggak lah. Itu mah Sekar. Tiga puluh menit aja cukup."
"Jangankan nunggu cuma tiga puluh menit. Seabad dua abad pun aku nggak keberatan."
Tak ada balasan lagi. Nadia langsung masuk untuk memulai ritual mandi dan mempersiapkan diri. Selama asik berkutat dengan guyuran air, ia terngiang kalimat Akbar barusan. Pria itu agaknya sudah kembali menjadi Akbar yang pertama dikenal Nadia. Sikapnya hangat lagi.
Beberapa saat berlalu dalam gulana. Usai membasuh diri, Nadia mematut diri di cermin. Ia ambil inisiatif berlari cepat ke kamar samping, kamar Sekar. Lalu memboyong sesuatu di tangannya. Dan kembali ke kamar sendiri.
Nadia duduk merenung di hadapan meja rias. Melirik beberapa make up yang ia keluarkan dari pouch. Hatinya kebingungan, apakah ia harus mempercantik diri atau biasa saja seperti hari-hari sebelumnya? Paling hanya pakai pelembab bayi dan bedak tabur. Lalu lipstik warna bibir. Itu sudah paling bagus menurutnya. Entah kenapa sekarang ia ingin tampil secantik dan seanggun Sekar. Dan hasilnya malah gagal total. Perjanjian hanya tiga puluh menit berubah jadi satu setengah jam lebih. Gadis itu merutuk membanting blush on dan eyeshadow dengan gerutuan tak jelas. Untung tidak sampai pecah porak poranda.
"Ternyata sesusah ini ya pakai make up! Perasaan kalau lihat di Youtube gampang aja deh!" keluhnya frustrasi. Ia tak tega melihat wajah sendiri di cermin. Lebih parah dari ondel-ondel pikirnya. Lipstik merahnya terlalu mentereng. Itu hasil menjarah di kamar Sekar tadi. Lalu warna pipinya terlalu oranye. Belum lagi sapuan warna di kelopak matanya, terlalu merah muda. Benar-benar tatanan yang tidak selaras sama sekali.
Sejak sepuluh menit lalu Nadia tidak sadar, seseorang berdiri menyandar ambang pintu kamar. Bibirnya menarik senyum seindah bunga matahari mekar. Dua tangan ia silang di d**a. "Ehem ... kamu lebih cantik apa adanya," katanya.
Suara Akbar mengejutkan gadis itu. Nadia menoleh kilat. Akbar berusaha menahan tawanya memergoki riasan yang sungguh melebihi batas wajar. Cepat-cepat Nadia menutup muka menahan malu setengah mati. Salahnya sendiri membiarkan pintu kamar terbuka lebar. Kebiasaan yang sulit dihilangkan. "Jangan lihat!" pekiknya. "Sana pergi! Ngapain di situ?!" usirnya.
Namun, Akbar justru mendekati Nadia. Menyingkirkan tangan sang gadis setengah paksa. Ia meneliti meja rias, mencari pembersih wajah. Jangan salah, Akbar termasuk pria yang cukup peduli akan penampilan dirinya. Ia tahu benda-benda mana untuk perawatan pria dan mana yang ditujukkan buat wanita. Setelah menemukan yang dicari, ia menuangkan micelar water ke kapas. Dengan sangat hati-hati dibersihkannya seluruh polesan make up di wajah Nadia. Gadis itu diam menurut. Menahan gerogi sekaligus perasaan malu.
"Aku bisa bersihin sendiri kok," tukasnya.
"Oh ya? Dandan aja kacau balau gini, gimana mau bersihin."
Nadia mendengkus sebal. Untuk apa pula ia harus repot-repot mempercantik diri? Kalau pada akhirnya bukan pujian dan pandangan mata terkesima yang ia dapat. Batinnya mengumpat sejadi-jadinya. Ingin sekali ia berlari ke dapur mencari piring bekas, lalu melemparnya sampai hancur berkeping. Gunanya bagi Nadia, supaya kekesalannya tersalurkan. Lagi-lagi kakinya tak kuasa beranjak. Tubuh Akbar menjadi penghalang emosinya membuncah.
"Pada dasarnya kamu itu udah cantik. Jadi nggak usah dianeh-anehin lagi. Cukup pakai ini, ini, ini, dan ini." Akbar menunjuk bb cushion, lipstik warna bibir, eyeshadow cokelat muda, dan maskara. Tanpa diduga sebelumnya, tangan pria itu lihai memainkan make up sampai berhasil memperindah maha karya Yang Kuasa. Ia menambahkan sedikit perona pipi untuk menampilkan kesan manis di wajah natural Nadia. Tak sampai lima belas menit ia selesai. Dipandanginya Nadia lekat-lekat. "Cantik."
Nadia melihat ke arah cermin. Benar-benar sulit dibayangkan. Seorang Akbar paham betul tentang dunia perempuan. Padahal, ia hanya tahu sekilas. Biasanya juga mempraktekkannya pada sang adik sebelum sakit dulu. Gara-gara permintaan adiknya ia jadi sedikit banyak tahu seluk beluk tata rias.
"Hebat! Tapi, kamu normal kan?"
"Kenapa? Cowok makein bedak ke cewek memangnya nggak normal?"
"Siapa tahu kamu belok," cibir Nadia sarkastis.
Demi melindungi harga diri dan kelelakiannya yang baru saja setengah dihina, Akbar menarik bahu Nadia. Gadis itu menoleh dan sebuah kecupan di bibir menyambutnya. "Aku normal. Dan aku suka kamu apa adanya," bisik Akbar membuat Nadia merinding di sekujur tubuh.
Pria itu berjalan ke luar sambil tersenyum bahagia. "Buruan! Aku tunggu di mobil!" Ia berhenti sebentar, memutar pundak sedikit menghadap Nadia. "Ah ya, jangan lupa pakai baju dan dalaman. Aku lumayan hampir khilaf tadi," selorohnya mengedipkan satu mata.
Barulah Nadia tersadar. Ia menatap tubuh polosnya yang tertutup handuk sampai ke bagian d**a. Sialnya, ikatannya hampir melorot tanpa ia sadari. Tangannya lekas menahan ikatan handuk yang menyumpal di bagian tengah d**a. "Akbar! Dasar cowok m***m!!" teriaknya spontan.
"Lumayan, masih pagi udah menang banyak," gumam Akbar berlalu, tak peduli cecaran Nadia di dalam kamar.
Sementara itu, Nadia mengusap-usap bibirnya dengan telunjuk. "Mimpi bukan sih? Beneran tadi dia cium aku? Atau cuma khayalanku aja?" tanyanya pada diri sendiri. Perlahan badannya menghangat memikirkan kejadian tersebut. Ia jadi senyum-senyum tak jelas.
=====♡ LoveGuard ♡=====