Bab. 9 - Cemburu

2203 Kata
Tidak ada rasa tanpa cemburu Tidak ada cemburu tanpa rasa Keduanya erat dalam hal cinta Juga luka... *** Dua pekan telah berlalu dengan cepatnya. Siang itu gerimis tipis mengguyur kota Samarinda. Nadia jenuh menggeluti komputer dan data-data laporan barang. Beberapa tumpukan berkas bahkan belum sempat ia pelajari maupun ditandatangani. Kelopak matanya makin sayu menahan kantuk yang kian mengganggu. Hawa sejuk dan suara hujan selalu berhasil menggugah keinginan untuk tidur. Lima menit lalu ia mematikan pendingin ruangan. Sengaja membuka jendela supaya angin sepoi-sepoi masuk leluasa. Ditambah alunan nyanyian alam yang ditimbulkan dari tetesan langit. Tidak ada petir atau kilat di angkasa. Hanya hujan saja yang datang. "Ah! Bosan! Ngantuk!" serunya sambil meregangkan dua tangan. Diraihnya ponsel, mencari menu Youtube untuk mencari tontonan drama terbaru. Nihil, semuanya terlihat menjemukan baginya. Terlebih ketika sosok tampan Lee Minho muncul, bukan wajah aktor tersebut yang terbayang. Justru malah wajah maskulin Akbar yang berkelebat tanpa terduga. Pria itu tampak tersenyum samar. Adegan membasuh kaki kembali datang. Lalu berganti dengan adegan pelukan tanpa sengaja mereka. "Astaghfirullah! Aku kenapa sih?! Kok dia lagi dia lagi! Nggak beres kayaknya ini otak! Perlu direparasi kali ya?!" dumelnya. Tanpa sadar dua tangan ia pukul-pukulkan pelan ke kepala. Berharap pikiran kacaunya segera sirna. Akhirnya ditumpuklah beberapa buku tebal yang terpajang di sisi meja. Entah apa gunanya buku itu ia pun tak paham. Yang Nadia tahu, kakeknya suka membaca cerita-cerita novel lawas. Terutama kisah tentang perjuangan kemerdekaan negara Indonesia. Kemudian ada juga buku pewayangan di sana. Gadis itu menelungkup berbantal buku. Mencari posisi ternyaman untuk memuaskan kantuknya. Tak sampai sepulih menit, ia pun terlelap. Seseorang datang sambil asik mengetik pesan di layar ponsel. Hari ini Akbar memang sudah bilang akan datang terlambat dan tidak sempat menjemput Nadia. Alasannya lumayan biasa, sedang kena diare. Padahal faktanya, ia ada urusan dengan bisnisnya. Semalam begadang usai menjenguk sang adik. Kondisinya makin membaik. Bahkan sudah bisa bicara. Jadi Akbar lumayan tenang sekarang. Tugasnya tinggal menyelesaikan misi. Membuat Nadia lebih bisa mengontrol diri dan mengajarinya memegang kendali perusahaan Hariyadi. Memang bukan hal mudah. Semua harus dilakukan mulai nol. Sebab jurusan Nadia beda genre dengan tata laksana sekarang. Untunglah gadis itu pintar, mudah memahami apa yang diajarkan mentornya. Belakangan emosi Nadia juga mulai mengendur, alias lebih bisa diatur. Tanpa paksaan atau ancaman, ia mau berangkat ke kantor. Pria itu mendekati kursi tempat Nadia duduk. Menatap wajah pulas sang gadis dengan perasaan hangat. Sesekali bibir Nadia mengecap seakan memanggil-manggil Akbar untuk mengecupnya. Sesaat  ia menarik napas dalam-dalam, membuang pikiran dewasa dalam dirinya. Bagaimanapun juga Akbar pria normal. Wajar saja ia tergoda dengan bibir mengagumkan di hadapannya. Lebih-lebih sudah lama dirinya tidak menikmati manisnya sebuah ciuman. Mungkin sampai lupa seperti apa rasanya. Retinanya menemukan kertas putih terjatuh di lantai karena tersibak angin. Dipungutnya kertas itu. Ada sebuah puisi di baliknya. ** Terkadang aku merasa hening Meski dalam keramaian Lalu saat hujan datang Hatiku mendadak ramai sekali Hujan bagiku seperti ketidakpastian Entah kapan datangnya Entah kapan perginya Entah membawa kebaikan Entah membawa bencana Entah deras Entah tidak Sama seperti dia Yang datang di hidupku tanpa terduga Lalu menghantui setiap malamku Dalam mimpi Aku menemukan dia Memelukku dengan erat Membasuh kakiku Mengajarkanku sesuatu Tapi aku Tidak ingin tenggelam terlalu dalam... ** Akbar mengulum senyum.  Tidak menyangka gadis seperti Nadia jago mengolah rangkaian kata indah. Sepertinya ia tahu untuk siapa puisi tersebut ditujukan. Sebelum Nadia terbangun, dipotretnya puisi dengan tulisan cakar ayam itu. Memang berantakan sekali, tapi masih bisa dibaca dengan kesabaran tingkat tinggi. Kemungkinan besar si penulis tengah dalam masa kejenuhan yang hakiki. Mengalami dilema hati dan berusaha memungkiri. Kelopak mata Nadia terbuka perlahan. Akbar meletakkan kembali kertas dan menindihnya dengan bulpoin. "Bangun. Kita harus lanjut belajar," katanya. Nadia menggerutu. Matanya ia buka lebar-lebar. Meraih air minum di gelas dan meneguknya tanpa sisa. "Aku lagi males banget nih. Mager. Hujan-hujan enaknya bobok cantik tahu," dumelnya. "Mau bobok cantik?" "Iya. Sambil dengerin musik." "Yaudah. Ayo kita ke hotel sekarang." Nadia mendelik. Ia berdiri berkacak pinggang. "Enak aja! Memangnya aku cewek apaan?!" Berhasil. Akbar sukses membangkitkan semangat gadis itu lagi. Terlalu mudah emosi Nadia dipancing ke luar. "Udah sampai mana kamu cek?" "Ish sibuk banget aku. Belum sempet cek apa-apa. Aku tadi mainan game di komputer. Terus nyamil. Terus nonton Youtube. Terus tidur deh," tukasnya santai. Akbar mengembuskan napas berat. Ia geleng kepala sendiri. Benar-benar bocah. "Sini. Kita mulai belajar tentang grafik pemasukan dan-" Kalimat Akbar terhenti. Ia sengaja berdiri tepat di samping kursi Nadia. Kemudian membungkukkan badan, tangannya lincah bermain dengan mouse. Sekilas terlihat seakan ia tengah merangkul gadis itu. Nadia berusaha tenang. Tapi ia makin susah fokus pada penjelasan Akbar. Wangi parfum di tubuh Akbar makin menyeruak. Menelusup dari indra penciuman hingga menjalar ke dasar hati. Sialnya Nadia malah menikmati wangi tersebut. Dalam hati dirinya merutuk. Seakan menjadi tokoh utama dalam drama tentang percintaan. Di saat hujan turun, suasana dan cuaca sangat mendukung romantis. Ia bergeming dengan lonjakan jantung yang kian menggemparkan seluruh isi dadanya. "Gimana? Paham? Gampang kan?" Suara Akbar menyadarkan Nadia. Akibat terlalu khusyuk dengan pikiran naifnya, Nadia lengah dan sama sekali tidak mendengarkan. "Ehm ... anu, aku lapar," kilahnya spontan. "Jangan bilang kalau kamu nggak dengerin apa yang kubilang?" Nadia terpaksa menggeleng jujur. Suara hujan di luar semakin menggericik kuat. Ingin rasanya ia berlari dan membiarkan tubuhnya kebasahan. Lalu melenyapkan hawa panas dalam dirinya. Berada di dekat Akbar cukup membuatnya kegerahan. Telunjuk Akbar menyingkirkan poni depan Nadia. Kemudian ia tekankan jarinya tersebut ke kening Nadia. "Bandel," selorohnya. Akbar mesem mendapati pipi gadis itu merona lagi. Sedangkan Nadia mulai berhalusinasi. Ia ingat satu adegan dalam film anime Naruto. Ketika Sasuke menjentikkan jarinya ke kening Sakura. Rasanya sama persis. Apa ia sedang berhalunasi sekarang? Tanpa sadar Nadia mencubit pipinya sendiri. Ia merintih, sadar bila semua nyata adanya. "Kenapa?" "Nggak pa-pa." "Demam?" "Nggak." "Kok merah mukanya?" "Pipiku memang dari lahir udah gini kok," celetuknya asal. Ia berdiri dan membuang muka. Menyembunyikan rasa malu dalam batin. "Mau makan apa?" "Nggak tahu." "Katanya laper. Kok nggak tahu?" "Ish, terserah deh, yang penting makan." Seseorang masuk bersama Nando. Sekar datang membawa bungkusan makanan, dibantu pria di sampingnya. Ia sudah lumayan sehat karena lukanya tidak begitu parah. "Kalian pasti lapar kan? Aku masak sayur labu siam dan tempe mendoan kesukaan Nadia. Aku juga buatkan kopi gula aren untuk Mas Akbar." Ia mengangkat bawannya dengan wajah sumringah. "Tumben? Ada angin apa nih?" selidik Nadia curiga. Sebentar diliriknya pria di belakang. Akbar sudah berpindah membantu Sekar dan Nando mengeluarkan menu mereka. Lalu menatanya di atas meja panjang di sudut ruangan. "Lagi pengen masak aja sih." "Pinter masak ya kamu," puji Akbar. Sejujurnya Nadia kesal setengah mati melihat tampang sumringah pria itu. Terlihat jelas sekali ada sesuatu di antara keduanya. Begitu pikiran buruk Nadia bergelayut. Perasaan iri berkelana menyekat isi kepala. Ia sadar betapa dirinya jauh dari kata layak sebagai seorang gadis yang pantas untuk dicintai. Dibandingkan Sekar, Nadia merasa bukan apa-apa. Temannya sangat cantik, wajahnya mirip boneka Barbie kalau sedang tertawa. Kulitnya eksotis tidak kalah dengan artis Bolywood sekelas Aishwarya Rai. Tubuhnya tinggi semampai seumpama model papan atas. Tanpa sadar hatinya menggunjing kelebihan sosok kawan baiknya. Ia mendengkus sebal. Kecemburuan yang belum ia sadari baru saja bereaksi. "Aku nggak bisa lama-lama. Harus ke Loajanan jemput kakek." Nando langsung permisi. Tapi Nadia melarang. "Makan dulu! Kakek pasti paham," cegahnya. Pegangan tangan Nadia di pergelangan tangan Nando cukup mengganggu Akbar. Kilatan mata elang menatap tak senang akan hal itu. Akhirnya mereka makan berempat. Situasi terlihat kurang baik sekarang. Nadia duduk di samping Nando. Akbar di sebelah Sekar. "Mas Akbar cobain deh, makanan favoritnya Nadia loh ini. Kasih nilai buat masakanku ya?" Sekar menyendokkan sayur dan berusaha menyuapi Akbar dengan sendok di tangannya. Nadia kesal. Tadinya Akbar ingin menolak. Tapi tiba-tiba Nadia mengambil sayur juga, menyuapkannya ke mulut Nando dengan sok manis. "Makan yang banyak ya, kamu harus sehat. Jangan sampai kekurangan gizi, nanti badanmu jadi kurus, nggak atletis lagi," seloroh Nadia sambil melirik Akbar dan Sekar. Melihat perilaku Nadia, emosi Akbar terpanggil. Ia pun menerima suapan Sekar dengan senyum merekah-rekah. "Ehem ... enak banget. Aku kasih nilai sepuluh. Kayak gini nih calon istri idaman," sindir Akbar melirik arah Nadia dan Nando. Gadis itu bersungut. Ia menghela napas sebentar. Lalu memaksakan senyum. "Mas Nando nanti kalau cari istri jangan yang cuma pinter masak ya?" Nadia menekankan kata calon istri. "Kenapa?" Nando bingung. "Mau cari istri apa koki dapur? Terima apa adanya aja," balasnya. Ucapannya berjaya sampai membuat Akbar tersedak. Pertempuran agaknya baru saja dimulai. Sekar menyodorkan minum untuk Akbar. Nadia merebutnya dan meneguk isinya sampai tak bersisa. Akbar melotot heran. Sementara Nando dan Sekar saling pandang. Keduanya baru sadar ada yang tidak beres dengan dua orang di dekat mereka. "Sok-sokan bahas calon istri idaman segala, minum aja masih diambilin. Manja. Bayi besar!" cibir Nadia sarkastis. "Apa kamu bilang? Bayi besar? Manja? Terus, kemarin siapa yang nangis-nangis di pinggir jalan gara-gara ketemu man-" Ucapan Akbar mengambang. Telapak tangan Nadia lebih dulu membekap bibir pria itu sampai sulit berbicara. Nando mengurut kening, Sekar geleng kepala menyaksikan dua manusia ini. "Bisa diem nggak?! Dasar ember!" Akbar menyingkirkan tangan Nadia. "Kamu yang mulai!" protesnya. "Apaan aku? Kamu duluan? Tadi nyindir dan nyinggung aku kan? Mentang-mentang aku nggak bisa masak gitu?!" "Bentar, kenapa kamu merasa gitu? Memangnya kamu berniat jadi calon istri idamanku?" Benar juga, kenapa Nadia sensi? Pertanyaan Akbar bagai guntur menyambar. Nadia baru saja masuk dalam perangkapnya sendiri. Senjata makan tuan. Niat hati ingin melawan malah dia yang kena batunya. "Kalian ini mendadak kayak anak kecil tahu." Sekar mengingatkan. "Lagian kalau jodoh juga nggak masalah kan?" "Siapa?!" Nadia kesal. "Kamu sama Mas Akbar." "Nadia pasti nggak akan nolak," celetuk Akbar percaya diri. Ia memegang bukti kongkrit tentang kemungkinan besar gadis itu sudah ada rasa padanya. Puisi yang ditulis Nadia tidak bisa dipungkiri, maknanya terlalu jelas dan kentara sekali tertuju pada siapa. Bisa ia prediksi sembilan puluh sembilan persen benar. "Ih ge-er! Aku sukanya sama ... ehm ... sama ..." Nadia bingung. "Mas Nando!" pekiknya ngawur.  Pernyataan barusan meruntuhkan harapan Akbar. Pria ini belum mahir membedakan mana kebohongan dan mana kejujuran seorang Nadia. Nadia sendiri terlalu naif, mengingkari kenyataan hati. Membuang perasaan yang jelas makin melekat. Keduanya tidak sadar, kejadian kali ini benar-benar bisa menjadi sumber kesalahpahaman terbesar ke depannya. Bila tidak segera diluruskan tentunya. "Maksud kamu?" Nando garuk kepala tak paham. "Iya aku udah lama naksir Mas Nando. Gimana kalau kita jadian aja?!" "Tapi Nad, Mas Nando kan sepupumu?" Sekar mengingatkan. "Sepupu jauh! Garis bawahi itu!" tegasnya. Akbar berdiri. Membuang napas kuat-kuat dan berlalu tanpa sepatah kata pun. Sekar menyusul setelah memandang Nadia penuh tanda tanya. "Kamu kenapa sih, Nad?" Nando tahu betul bagaimana Nadia. Mereka sudah sering bertemu. Sudah tahu tabiat masing-masing satu sama lain. Mana mungkin Nadia sampai menaruh hati padanya. Mustahil sekali. Nando terlalu jauh dari kriteria impian seorang Nadia Shita Hutama. Pria berkacamata ini terlalu kaku dan patuh. Sedangkan Nadia menyukai pria yang terlihat bebas tapi tegas. Bebas dalam artian tidak suka mengekang atau membatasi ini itu. Tegas dalam maksud hanya setia pada satu pilihan saja. Mungkin Nando setia, tapi gayanya terlalu overdosis. Begitu biasanya Nadia dan Sekar menyebut pria cerdas anti melawan titah kakek. Dalam jajaran tiga sosok idaman Nadia, jelas Nando kurang cocok memenuhi kriteria tersebut. "Maaf," lirihnya menahan kejengkelan. "Kenapa minta maaf? Aku tanya kamu kenapa sampai ngomong gitu di depan mereka berdua?" "Nggak tahu. Aku juga bingung kenapa aku semarah ini." "Karena?" "Itu-" "Apa?" "Udahlah lupain aja." Nadia enggan membahas. Batinnya terlalu membingungkan untuk mendefinisikan arti sikapnya adalah sebuah cemburu tanpa dasar. Di luar Sekar menghampiri Akbar duduk di kursi panjang tepat menghadap ke luar. Ada balkon berpagar besi mengitari lantai dua. Gerimis menemani kesengsaraan hatinya yang jatuh. "Mas Akbar kenapa?" "Kenapa apanya?" "Kelihatannya gimana gitu." "Nadia beneran suka ya sama Nando?" Sekar tertawa. "Nggak mungkin lah. Aku tahu banget gimana Nadia, Mas. Cemburu ya? Kalian lucu banget sih. Dipikir-pikir Mas Akbar kalau jelouse mirip banget sama Nadia. Kalian itu gengsinya selangit. Ogah ngaku tapi diem-diem ngenes dalam hati." "Maksud kamu?" Akbar mulai tertarik dengan penjelasan Sekar barusan. Memang benar, dirinya paling tidak bisa menahan cemburu. Dan sikapnya bisa kekanakan jika dilanda cemburu. "Kalian sebelas dua belas. Aku kasih tahu ya Mas, kalau mau dapetin hatinya Nadia. Pertama, kuatin niat dulu. Kedua, harus mau mengalah. Ketiga, jangan gampang nurutin maunya dia. Nadia nggak suka cowok pengecut yang cuma bisa ngikutin kata orang. Keempat, jangan pernah ketawain dia kalau lagi naik darah. Kelima, dia suka diajakin salat. Keenam, dia suka dipeluk. Ketujuh, sering-sering berdoa." Sekar mengakhiri daftar panjang, yang lebih tepat disebut tutorial andalan demi meraih hati teman karibnya. Seluruh kata-kata Sekar diingat baik-baik oleh Akbar. Serumit itu ternyata meluluhkan hati Nadia yang sekeras baja. "Susah-susah gampang kayaknya," gumamnya. "Iya awalnya memang susah. Tapi dijamin nggak akan nyesel akhirnya." "Kenapa?" "Nadia kalau udah sayang sama seseorang, bahkan nyawanya bisa dia kasih buat orang itu. Gimanapun juga, Nadia sama kayak cewek-cewek yang hatinya ringkih, Mas. Bedanya, dia berusaha nutupin dengan kelakuannya yang sok strong." "Kayaknya aku harus sering-sering konsultasi ke kamu nih. Biar lebih tahu banyak soal calon istriku." Sekar hanya menyunggingkan senyum tipis. Bibirnya mungkin bisa menipu mata. Tapi hatinya tidak. Sejak pertama bertemu, sejak berkenalan, sejak di rumah sakit, ia sudah menaruh hati pada Akbar. Namun, ia tak ingin jadi egois. Sekuat jiwa dirinya berusaha  mendukung Nadia dan Akbar untuk bersama. Sekali pun harus membunuh perasaan terdalamnya. Seperti prinsipnya selama ini. Lebih baik patah hati sendiri, daripada harus mematahkan hati sahabatnya. ===== ♡ LoveGuard ♡====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN