Perasaan tidak bisa diatur dengan mudah
Yang ada hanya akan menimbulkan gundah
Mulanya penolakan mungkin bisa membuncah resah
Namun, ada kalanya berakhir cinta yang indah...
***
Keesokannya, sore hari sepulang dari keliling, Hariyadi memarahi Nadia hampir satu jam lamanya. Padahal Nadia juga baru sampai rumah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan barunya. Rupanya aksi heroik cucunya mendadak viral di grup f*******: Busam Samarinda. Semalam perkelahian dengan dua cecunguk resek ternyata direkam oleh seseorang tanpa nama. Alias belum diketahui siapa. Lalu disebarluaskan di grup. Benar saja, apapun bentuk beritanya, kalau sudah masuk info Busam, dijamin dalam hitungan menit saja sudah langsung merajalela. Ibarat wabah, grup kenamaan warga Samarinda itu lebih cepat bermutasi dan menjadi buah bibir hangat bila berita cukup menarik.
Untunglah Nando menyelamatkan gadis itu. Ia baru datang membawa kabar dari cabang Balikpapan. Meminta Hariyadi langsung turun tangan ke lapangan. Salah satu fusonya dibobol orang, dan diperkirakan mengalami kerugian puluhan juta. Jangan salah, muatan rokok lebih riskan dari bahan baku atau sembako. Harga satu kardus rokok saja sudah jutaan rupiah nilainya. Kacamata pria tua itu sampai jatuh begitu mendengar kabar dari keponakan sekaligus tangan kanannya. Nando mengambil kacamata yang jatuh di atas karpet berbulu. Ia juga cemas. Keduanya langsung bergegas berangkat ke luar kota detik itu juga.
Sementara Nadia mendumel tak karuan. Rasanya ingin sekali ia meremas-remas guci antik kesayangan kakeknya. Sebagai bentuk balas dendam akibat kupingnya panas habis dimarahi. Gadis itu berniat mencari udara segar sambil duduk di tepi kolam renang. Namun ia sempat menghentikan langkah melihat Akbar duduk di kursi sofa dekat kolam renang. Pria itu mesam-mesem tak jelas menekuri layar ponsel. Nadia baru sadar kalau Akbar punya alat komunikasi dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Terlalu fantastis bila dibeli dari hasil gajian karyawan biasa. Apalagi merek tersebut tengah jadi favorit kalangan anak milenial.
"Nontonin apaan sih? Bahagia banget kayaknya. Bisa ya kamu senyam-senyum gitu, sementara muridmu ini kena omelan beruntun! Dasar nggak berperasaan!" protesnya kesal. Ia ikut duduk di sofa lain.
Akbar tidak menjawab. Ia menunjukkan video yang berhasil diunduh dari kiriman temannya. Abrar yang memberitahu Akbar soal pertarungan Wonder Woman versi lokal sedang naik daun. Lagi-lagi sang sahabat jadi pusat informasi dadakan. Jiwa kemutakhiran Abrar lama-lama bisa menyaingi agen FBI mungkin.
Melihat apa yang jadi tontonan Akbar, emosi Nadia makin memuncak. Tangannya sudah kegatalan ingin meninju samsak di belakang rumah. Sayangnya ia sedang tidak mood main boxing sekarang. "Bagus ya? Seneng banget lihat penderitaan orang!" keluhnya sensi.
"Menderita? Bukannya kamu yang udah bikin dua orang ini menderita? Sampai mukanya melas gitu. Anak orang kamu hajar habis-habisan."
"Ya salah siapa main culik orang sembarangan."
"Siapa sih yang diculik? Sampai kamu secemas itu. Aku jadi penasaran, pangeran mana yang sukses bikin kamu khawatir?" sindirnya terang-terangan.
"Pangeran dari Sungai Mahakam! Puas?!"
"Marah-marah tapi perhatian juga kamu."
"Perhatian sama siapa? Ge-er!"
"Tagline beritanya seru juga ya, Keberanian Sang Wonder Woman Lokal Melawan Dua Penculik Demi Menyelamatkan Kekasih Hati."
Nadia menutup kuping. Risih mendengar hal itu lagi berulang kali. Sudah puluhan panggilan di telepon tidak ia jawab karena hanya menanyakan ulasan tersebut. Pesan di sosial media juga ia abaikan. Untungnya Sekar masih dalam perjalanan kembali ke rumah. Kalau tidak, ia bisa jadi bahan ledekan cie cie oleh kawannya itu. "Jangan dibahas!" pekiknya tak sudi.
"Lhoh kenapa? Kan keren. Anggap aja dukungan mereka sebagai doa."
"Doa apaan?!" Nadia bersungut. Tangannya sudah menjauh dari telinga.
"Ya doa mudah-mudahan kita jodoh beneran."
"Ih! Ogah! Nggak mau sama kamu!" Bibirnya mungkin bisa menolak, padahal hatinya sudah kelabakan menimbun guguran kelopak mawar. Bersiap menyemai benih baru.
"Kenapa? Aku kurang ganteng?"
"Kamu kurang memenuhi syarat buat jadi jodohku. Asal kamu tahu, Nadia Shita Hutama ingin pria yang paket lengkap. Ibarat makan nasi tanpa lauk, rasanya hambar. Nggak mau setengah-setengah. No perfect but interesting," ujarnya spontan.
"Oh ya? Memangnya kamu bisa jamin kalau pertemuan kita setiap hari dan kedekatan kita, nggak akan menimbulkan perasaan intim?"
Pertanyaan tersebut membungkam bibir Nadia. Sorot mata Akbar menghunus tajam. Tatapannya penuh ketegasan. Sedetik kemudian pandangan itu meluruh. Seperti hujan datang di senja hari. Sejuk. Retinanya mengendur. Pandangannya beralih ke bawah, tanpa sengaja melihat punggung kaki Nadia. Ada bekas lebam kebiruan di sana. Pria itu beranjak. Meninggalkan Nadia dengan perasaan kacau balau. Mengingat cara Akbar menatapnya, Nadia merasakan hal lain.
Tak berapa lama Akbar kembali. Membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Ia berjongkok di hadapan kaki Nadia. Tanpa sungkan menyentuh pergelangan kaki Nadia dan memindahkannya ke dalam air.
"Eh! Apaan nih!" Nadia ingin menolak. Tapi Akbar menawan kakinya. Dibasuhnya dengan sangat hati-hati punggung kaki Nadia yang membiru lebam. "Ka-kamu ngapain sih!"
"Jangan dibiasain. Kelihatannya lukanya sepele. Tapi kita nggak tahu bisa sebahaya apa kalau dibiarin," tukas Akbar.
"Nggak sakit kok! Cuma biru-biru dikit!"
"Ini gara-gara semalem berantem?"
"Bukan. Tadi pas di kantor bantuin angkat barang. Kejatuhan deh."
Akbar geleng kepala. Gadis ini selalu sok tangguh. "Kalau sakit bilang sakit. Jangan berusaha kuat cuma karena takut dipandang lemah," ucapannya tepat sasaran.
Sejujurnya, baru pertama Nadia merasa ada seseorang seperhatian ini padanya. Susah payah ia menyembunyikan senyum. "Ehm, kamu selalu kayak gini ya sama orang?"
"Nggak juga."
"Terus? Kok mau pegang kakiku? Nggak gengsi apa?"
"Semalem kamu gengsi nggak nolongin aku?"
Nadia menggeleng. "Beda cerita kali."
"Kalau kata Rahul di film Kuch Kuch Hota Hai, ada tiga perempuan yang bisa bikin seorang pria tunduk. Ibunya, Durgama, dan pujaan hatinya. Kalau buatku..."
"Apa?" Nadia penasaran.
"Nenekku, ibuku, dan-"
"Dan?"
Akbar menengadah. Memandang wajah Nadia yang menunggu kelanjutan perkataannya. "Seseorang..."
"Seseorang? Siapa?"
"Mbak Nadia!"
Akbar dan Nadia terlonjak bersamaan. Gadis itu hampir terpeleset karena bekas air di kakinya licin di lantai. Akbar menangkup dan menendekapnya. Ia langsung membenarkan caranya berdiri. Wajahnya merona kemerahan.
"Mbak! Mbak!"
Suara mbok Wati tiba-tiba menggema nyaring. Wanita paruh baya tampak tergopoh menghampiri Akbar dan Nadia sambil menjinjing sedikit rok panjangnya agar tidak terinjak kaki. "Mbak! Mas!" teriaknya lagi terdengar semakin panik.
"Ada apa sih Mbok? Kayak habis lihat hantu aja."
"Itu Mbak, anu..." Mbok Wati gemetaran.
"Tenang dulu Mbok, bicara pelan-pelan," kata Akbar berusaha menenangkan.
Mbok Wati menarik napas dalam-dalam. Mengatur keresahan dalam dirinya. Barulah ia bisa mengatakan ada sesuatu terjadi. Ia baru dapat telepon dari rumah sakit. Mobil yang membawa Sekar dan teman-teman seperjuangannya telah mengalami kecelakaan.
Tanpa berpikir panjang, Nadia langsung berlarian menuju garasi mobil. Rasa sakit di kakinya diabaikan begitu saja. Ia bahkan belum sempat menanyakan di rumah sakit mana. Perasaan was-was lebih dulu datang mengganggu pikirannya. Sampai sulit berpikir jernih. Untungnya Akbar masih dalam kondisi wajar. Ia sempat meminta keterangan lebih jelas pada mbok Wati. Lalu menyusul Nadia dengan tergesa. Pria ini harus lekas menghalau niat Nadia untuk menyetir sendiri. Jika tidak, bisa-bisa akan ada banyak resiko tinggi di jalanan nanti. Sebab Nadia bukan orang yang bisa diajak santai ketika kekhawatiran berkecamuk. Akbar tidak mau sampai ada kebut-kebutan liar akibat labilnya emosi Nadia.
Sampai di garasi Nadia linglung. Ia kelupaan ambil kunci mobil di kamar. Ia berniat kembali, tapi Akbar mencegat. "Pakai mobilku aja di depan!" ucapnya.
"Mobilmu?" Sejenak Nadia menimbang heran. Setelah ia asumsikan baik-baik, ada yang tidak beres dengan gaya hidup pria ini. Menilik gaji seorang mentor atau asisten tidak mungkin sebesar gaji bos besar. Jam tangan mewah, ponsel mahal, mobil berkelas. Nadia memicing curiga. "Kamu ini sebenernya beneran cuma karyawan biasa atau bukan sih? Jangan-jangan mafia ya? Pengedar obat terlarang? Atau-"
Kalimatnya terhenti. Akbar sepertinya menyadari keteledorannya. "Mobil temenku yang kemarin itu kupinjam," ralatnya cepat. "Mau bengong aja apa ke rumah sakit nih?" tanyanya mengalihkan perhatian Nadia yang tampak masih ragu-ragu.
Akhirnya keduanya langsung melesat menuju rumah sakit umum tempat Sekar dirawat. Sepanjang jalan Nadia hening tak seperti biasanya. Bagaimanapun juga Sekar adalah satu-satunya karib sangat dekat yang ia punya. Walau bukan keluarga kandung, tetap saja mereka memiliki banyak kenangan susah senang bersama. Pernah mereka hampir menyukai satu pria yang sama, lalu tanpa mereka sadari keduanya mundur pelan-pelan. Begitu tahu kisah masing-masing, keduanya menertawakan diri satu sama lain. Katanya, lebih baik patah hati sendiri daripada harus mematahkan hati sahabatnya.
"Sekar pasti baik-baik aja." Akbar melirik kondisi Nadia yang gamang. Entah keberanian dari mana, satu tangannya meraih pergelangan tangan Nadia. Seakan ingin menyalurkan energi positif dalam dirinya. Gadis itu terlonjak sedikit gusar. Merasakan seperti ada aliran listrik baru saja menyengat kulitnya.
Hanya beberapa detik saja genggaman tangan Akbar mampu menggetarkan sesuatu dalam hati Nadia. Pria itu mungkin tidak sadar, karena sudah kembali fokus pada jalanan. Nadia menatap wajah kharismatik Akbar lekat-lekat. Meski hanya dari samping, ketampanannya tetap terpampang nyata. Buru-buru ia mengalihkan pandangan ke jendela. Debaran jantung makin kentara bagai genderang perang. Batinnya memuji kebenaran nyata betapa wajah rupawan itu sangat menggoda iman. Namun, logika Nadia sekuat mungkin terus menyangkal. Ia harus menaikan level waspada dalam hati menjadi siaga dua.
Sesampai di rumah sakit, mereka menuju ruang informasi dan menanyakan di mana Sekar dirawat. Seorang suster memberitahu dan menunjukkan letak kamarnya.
"Sekar!" Nadia berhambur ke sisi ranjang temannya. Kakinya luka-luka, lengannya diperban, dan wajah cantik itu agak lecet-lecet. "Sakit semua ya?"
"Nggak pa-pa kok, cuma luka ringan. Tapi-"
"Tapi apa? Kenapa? Ada yang parah?"
Sekar menggeleng. "Bukan. Lukanya nggak terlalu. Tapi aku nggak bisa lanjut ikutan seleksi kesehatan di Balikpapan minggu depan."
Nadia memahami kekecewaan mendalam di hati Sekar. Cita-citanya ingin terbang bersama burung besi melintasi jagat raya melalui cakrawala, kini harus tertunda lagi. Tahun lalu ia sudah menundanya karena masih belum selesai kuliah. Sekarang, tes tahap pertama lolos, malah ada musibah menghalangi tes tahap berikutnya.
"Sekar?" panggil Akbar yang berdiri di samping Nadia. "Kamu tahu nggak, kenapa seseorang dikasih ujian?"
"Untuk menguatkan dan menaikkan derajat orang tersebut."
"Good. Itu lah kenapa kamu harus ikhlas. Yakin deh, mungkin ada rencana Dia jauh lebih baik buat kamu. Biasanya, musibah datang disusul berkah dan hadiah terindah."
Kata-kata tulus Akbar membangun kembali semangat Sekar yang baru saja roboh. Gadis itu tersenyum simpul. Wajahnya merona kemerahan. Nadia menatap bergantian keduanya dengan pandangan aneh. Satu sisi ia senang Sekar terhibur. Di sisi lain, agaknya ia tak rela bila terjadi perasaan lain di antara mereka. Nadia menggelengkan kepala. Mengusir sekelumit pikiran lain dalam benaknya. Ia menatap Akbar seksama. Pria itu mengukir tawa ringan di sudut bibir. Satu tangannya mengelus pucuk kepala Sekar layaknya seorang kekasih.
Untuk pertama kalinya, hadir kegetiran dalam batin Nadia. Kecemburuan yang tidak ia harapkan kedatangannya. Nadia memberontak di d**a. Ia tidak mungkin menyukai Akbar dalam waktu sesingkat ini. Pasti hanya rasa suka atau kagum semata. Seolah dirinya lupa, bahwa Sang Pemilik Hati lebih berhak kapan saja menancapkan panah asmara di hati setiap insan. Tanpa perlu perhitungan waktu, tanpa butuh alasan pasti, sebuah rasa bisa kapan saja tumbuh saat benih mulai ditanam.
"Nad? Nadia?"
Lamunan Nadia buyar. Sekar sudah tiga kali memanggil, baru panggilan keempat Nadia sadar. "Nggak! Nggak mungkin suka!" teriaknya kilat. Sampai keluarga pasien lain yang menjaga di tempat masing-masing menoleh kaget.
"Nggak mungkin suka gimana maksudnya, Nad?" Sekar bingung. Begitu pula Akbar.
Nadia garuk hidung, sangking malunya ia pun izin ke luar sebentar. Gadis itu merutuki diri, memaki diri sendiri tanpa ampun.
"Mikir apaan sih aku! Itu tadi pasti cuma perasaan ... ehm ... apa ya? Apa ya? Apa sih?!" Ia memukul-mukul dadanya. Berusaha menetralisir kegundahan yang kian nyata terasa.
Baru duduk di kursi panjang depan kamar inap, Akbar menghampiri. Ikut duduk di sebelah Nadia. "Kamu baik-baik aja?"
"Iya nggak apa."
"Mukanya jangan cemberut gitu dong, nanti ilang manisnya." Akbar mencubit gemas pipi Nadia. Menimbulkan detakan makin hebat di jantung sang gadis. Batinya bertanya-tanya, atas dasar apa dirinya gugup dari segala tindakan sederhana Akbar? Rasanya tidak masuk akal sekali.
"Nad?"
"Apa sih?! Udah sana temenin Sekar dulu! Aku sumpek di dalem banyak orang sakit. Bau obat pula," kilahnya asal.
"Kok gitu?"
"Ya pokoknya gitu."
"Terus nanti kalau misal aku yang sakit gimana?"
"Maksudnya gimana?"
"Kamu nggak mau jagain juga?"
"Kenapa aku yang harus jagain kamu? Memangnya kamu siapaku?"
"Calon suami."
Tanpa berani menjawab lagi, Nadia bangkit berdiri. Kemudian pergi begitu saja. Akbar tak mengerti, sikap Nadia sangat sulit diartikan maknanya. Ia hanya menatap punggung sang gadis yang makin menjauh, hingga lenyap di belokan bangsal. Dirinya tak tahu, Nadia menekan d**a yang bergetar tak beraturan. Ia menyandarkan punggung pada tembok. Memejamkan mata sekilas. Bayangan Akbar tersenyum melintas dalam kegelapan. Matanya terbuka, jantungnya meronta.
"Astaghfirullah ... kalem Nad, kalem. Ini cuma sindrom kelamaan jadi jones, makanya ngelantur nggak jelas. Apa bagusnya dia? Nggak! Nggak! Cuma sindrom aja, ntar juga ilang sendiri," gumamnya bermonolog.
"Harus waspada! Jaga hati jaga iman. Bayangin Lee Minhoo aja, Nad!" lanjutnya menggerutu bimbang.
=====♡ LoveGuard ♡=====