Balas dendam terbaik bagi sebagian orang adalah dengan jalan menjadi pribadi lebih baik lagi...
***
Akan ada saatnya seseorang sadar bahwa dirinya pernah atau telah atau sedang mencintai orang yang salah. Sama halnya seperti Akbar saat ini. Pria itu duduk berhadapan dengan masa lalunya yang enggan ditemui lagi. Entah apa yang membuatnya mau akhirnya bertemu dengan Nilam setelah sekian purnama datang dan berpulang silih berganti.
Gadis itu masih tetap secantik dulu. Tapi tidak lagi mampu menembus hati Akbar. Perasaannya telah lama terkikis kekecewaan mendalam. "Waktu kamu hanya lima menit. Cepat katakan yang ingin kamu katakan." Akbar meneliti jam tangan tanpa berniat menatap sosok anggun di hadapannya.
Wajar bila banyak pria terpikat. Senyum menikam Nilam lebih berbahaya dari serbuk m****n sekali pun. Mampu mencandukan dan melemahkan syaraf-syaraf sebagian besar para lelaki mata keranjang. Kemolekan tubuh sintal dengan baju ketatnya semakin menggoda kaum adam. Dulu, tidak pernah ia mengenakan pakaian seminim itu di depan Akbar. Malam ini sepertinya ia punya niat lain, selain hanya untuk berbicara sesuatu pastinya. Apalagi kalau bukan berusaha menarik kembali perhatian mantan kekasihnya. Tunggu. Tidak semudah itu. Salah satu motto hidup Akbar adalah, sekali mantan selamanya mantan! Apakah ia bisa mempertahankan prinsip yang dibuatnya sendiri? Sementara wajah ayu dan badan menggairahkan menggoda kelelakiannya.
"Kamu apa kabar?"
Akbar membuang napas pendek. Seringainya tampak jelas menghias sudut bibir. Ada kejenuhan dan rasa muak tersirat di sana. Disesapnya minuman hangat di atas meja. Lagi-lagi Nilam tersenyum. Kali ini senyuman mencurigakan. Benar saja, tak sampai sepuluh menit, Akbar merasakan pening menjadi-jadi di kepalanya. Rasa kantuk menggerayangi mata sayunya. Sekuat mungkin ia menahan diri untuk tidak tumbang. Sempat ia ketik sebuah pesan dari ponsel dengan pandangan setengah kabur.
"Kamu masukkan apa di minumanku?!" cecarnya mengurut kening.
"Apapun itu. Aku jamin habis ini kamu nggak akan bisa lari lagi dari aku."
Agaknya firasat Akbar benar. Nilam merencanakan hal buruk terhadapnya. Gadis itu bangkit berdiri. Mendekati Akbar dan memanggil dua orang yang sejak tadi duduk di dekat mereka. Kedua pria itu mengikuti instruksi Nilam. Akbar kehilangan keseimbangan, tubuhnya lemas tak berdaya. Dua orang memapahnya menuju mobil yang terparkir di halaman depan restoran. Pintu mobil baru akan dibuka.
"Wah, ada penculikan nih kayaknya," celetuk seseorang menghentikan niat tiga orang tersebut. Satu tangan Nadia bertengger di pinggang. Satu tangannya lagi asik memegangi lolipop yang sesekali menyumpal bibirnya.
Ia tidak sendirian. Nando ada bersamanya. Sebelum menemui Nilam, perasaan Akbar memang sudah tidak enak. Itu sebabnya ia meminta Nando menyusulnya untuk antisipasi bila terjadi sesuatu. Rupanya Nadia yang bosan di rumah pun memaksa ikut.
"Siapa kalian?" Sejenak Nilam mengingat-ingat seperti tak asing dengan wajah Nadia.
"Aku muridnya Akbar. Kenapa? Kepo banget," balasnya tak acuh. Nando hanya mengurut kening melihat tingkah kekanakan Nadia. Ia menyesal mengajak anak majikannya ini. Pasti akan terjadi keonaran nanti.
"Tunggu. Kamu Nadia Hutama kan? Cewek yang sering bikin masalah di kampus? Jangan ikut cumpur urusan saya! Saya pacarnya."
Nadia terbahak mendengar pernyataan Nilam barusan. "Mbaknya halu ya? Atau lagi banyak pikiran? Makanya ngelantur gitu. Itu mentorku tolong ya dikembaliin. Atau-"
"Atau apa? Berani?" Nilam mendelik tanpa gentar. Ia mengambil alih Akbar yang sudah pingsan ke dalam pelukan. Menyuruh dua temannya mengerjai Nadia. Mereka salah sasaran bila harus berhadapan dengan si tukang pukul dengan sasaran utama para pria b******k.
Nando menyuruh Nadia menyingkir. Tapi gadis itu sudah kepalang tanggung. Ia justru menitipkan jaketnya pada Nando. Dan meminta pria itu menonton dengan tenang. Tanpa menunggu lama ia melayangkan pukulan dan tendangan andalan ke arah pemuda yang ia perkirakan umurnya masih di bawahnya. Beberapa kali bogemnya berhasil mengenai sasaran tanpa meleset sedikit pun. Lumayan berguna juga hasil latihan karate otodidaknya selama ini. Belajar bela diri cuma dari menonton film laga. Kadang ia menirukan gaya Joe Taslim dalam film aksinya. Nando sudah tak tahan. Bisa-bisa mereka babak belur karena keganasan Nadia tanpa ampun.
"Udah stop! Nadia cukup! Kalian juga! Saya lagi banyak kerjaan! Nggak akan ada waktu ngurus masalah ini ke rumah sakit atau kantor polisi nanti!" pekik Nando berusaha melerai.
Dua orang tadi mundur. Mau tak mau Nilam kalah. Mereka pergi meninggalkan Akbar tanpa berkata-kata sepatah pun.
Di dalam mobil Nando menggerutu. Menasihati Nadia untuk lebih bersikap dewasa dan tidak asal main tonjok saja. Gadis itu tak peduli. Sebab telinganya sudah disumpal dengan headset tanpa kabel. Alunan musik Blackpink terdengar mengisi gendang telinganya. Di kursi belakang Akbar tergolek belum sadarkan diri.
"Cewek itu tadi mantannya apa ya? Aku baru inget. Itu kan si Nilam mantan anak fakultas ekonomi. Kok bisa ya dia sama Akbar?" Nadia menimbang gusar. Sempat melirik ke belakang menatap wajah tampan Akbar. Dilepasnya headset yang menyumbat telinga.
"Memangnya kenapa?"
"Ya aneh aja. Seorang Akbar yang kelihatannya cowok baik-baik, kok bisa jadian sama cewek simpenan om-om gitu?"
Nando terkesiap. Sedikit heran dengan maksud ucapan Nadia. "Simpenan om-om gimana?"
"Inget nggak waktu aku ikut kamu antar hadiah ke rumah om Gunawan? Itu kan pertama kali aku tahu kalau yang diomongin anak-anak kampus bener. Aku denger sih Nilam habis putus dari pacarnya, terus demi bayar kuliah dia gitu lah pokoknya."
"Sejak kapan kamu peduli sama gosip murahan?" cibir Nando.
"Bingung aja. Setahuku Nilam itu pacarannya sama cogan-cogan elit alias banyak duit. Jadi penasaran, Akbar banyak duit ya?" celetuknya asal.
Percakapan terjeda, saat sosok yang dibicarakan mulai terbangun. Nadia melambaikan tangan begitu mata Akbar terbuka jelas. Pria itu berusaha duduk menyandar kursi. Menerima sodoran air mineral dari gadis di kursi depan. Lalu meneguknya perlahan. Rasa pusingnya lumayan berkurang. "Thanks, udah bantuin," katanya sembari menepuk pundak Nando dari tempatnya duduk. Nando hanya mengacungkan satu jempol. Lalu meralat kalau Nadia yang sudah menolongnya.
"Bukan gue. Nih anak yang ngehajar mereka."
"Nadia? Kamu berantem lagi?!" omelnya.
"Apa sih? Berlebihan. Bukan berantem tahu, cuma ngasih sedikit perhitungan."
"Kamu pikir Matematika?! Lagian ngapain sih lo ajakin!" keluh Akbar pada Nando. Wajahnya dibuat pura-pura marah. Ia berdehem sekali.
"Tahu sendiri kan si nona besar satu ini rewelnya minta ampun. Kalau udah merengek mana bisa ditolak lagi."
"Nadia, mulai sekarang kamu nggak boleh main pukul orang lagi!" tegas Akbar sok galak.
"Kenapa sih? Over banget jadi orang."
"Ini demi kebaikan kamu. Sebagai perempuan memang harus kuat. Tapi bukan berarti mengandalkan fisik semata. Kamu nggak bisa terus-terusan menyelesaikan masalah dengan jalan emosi dan kekerasan, Nad." Petuah panjang Akbar hanya dibalas dengkusan sebal oleh Nadia. Bukannya berterimakasih, pria itu malah menceramahinya. Sia-sia rasanya Nadia sempat terbersit sedikit mengkhawatirkan Akbar.
Sepanjang perjalanan, mobil berubah hening. Hanya terdengar suara alunan musik dari radio. Batin Nadia kesal bukan kepalang. Semua orang memarahinya di saat dirinya hanya ingin berbuat baik. Mungkin memang caranya yang kurang tepat.
Sampai di salah satu apotek yang buka 24 jam, Nando turun sebentar untuk membelikan pesanan kakek, sekaligus membelikan obat pereda pusing untuk Akbar. Tinggal mereka berdua di dalam mobil.
Nadia membuang muka ke arah luar jendela. Akbar tahu gadis itu ngambek padanya. Ia melongokkan kepala ke depan. Tepat hampir mengenai bahu Nadia. Gadis itu tersentak kaget dengan sikap mendadak Akbar. Tanpa sadar ia sudah menoleh menatap satu arah. Wajah keduanya begitu dekat saling memandang.
"Makasih ya?" ujar Akbar seraya tersenyum manis. Nyaris melumerkan kebekuan dalam jiwa hampa Nadia. Gadis itu lekas berpaling ke depan. Melihat jalanan dengan perasaan tak tentu. Sudah lama jantungnya tidak berdebar sekencang ini. Nadia tak paham kenapa dirinya bisa segugup itu.
"Habis ngomel sekarang bilang makasih, nggak jelas banget!" dumelnya berusaha menenangkan diri.
"Ya kan harus jaga image di depan Nando. Daripada nanti aku dilaporin ke kakek, dikira aku nggak ngajarin bener ke kamu." Alasan yang masuk akal.
"Jadi, sebenernya kamu ada di pihak siapa sih? Kakek atau aku?"
"Dua-duanya."
"Serakah!"
"Namanya juga usaha."
"Usaha apaan?"
"Usaha dapetin hati calon kakek mertua dan hati kamu."
Perut Nadia seketika terasa mual. Lama-lama dekat Akbar, bukan pelajaran bisnis yang ia dapat. Malah pelajaran asmara. Ia harus membuat tameng siaga satu sebelum hatinya benar-benar tercuri oleh pria tersebut.
"Eh ya, kamu kok bisa pacaran sama Nilam?" Gadis itu teringat rasa ingin tahunya tadi. Kebetulan yang bagus untuk memutar topik.
Akbar kembali duduk menyandar kursi. Membuang napas kasar seolah enggan membahasnya. "Ada pertanyaan lain nggak?"
"Ehm, apa ya? Kira-kira cara bales perbuatan mantan yang udah nyakitin kita gimana ya?"
"Masih belum move on kamu?" sindir Akbar.
"Bukan. Biar tahu rasa aja. Masa dia berani telepon-telepon dan chat aku lagi! Kan nggak tahu diri banget! Yang ninggalin dia, yang nyesel dia juga kan."
"Beneran mau tahu caranya?"
Nadia mengangguk mantap. Menunggu jawaban Akbar dengan khidmat.
"Jangan dendam. Jadi lebih baik dari sebelumnya. Tetap bahagia."
"Kok gitu?"
"Ngebalas orang yang udah nyakitin kita nggak harus selalu kita balas sama. Justru dengan kita memperlihatkan bahwa kita baik-baik aja tanpa dia, dan bisa tetap bahagia nggak ada dia, kita berhasil membalas perbuatannya."
Sejenak Nadia menimbang belum memahami. "Maksud kamu apa sih?"
"Singkat kata gini, dengan kita berubah jadi pribadi lebih baik lagi, otomatis dia akan nyesel udah nyia-nyiain kita dulu. Apa sih yang lebih menyakitkan daripada penyesalan? Ya kan?"
Bola mata Nadia berbinar terang layaknya bohlam lampu baru dinyalakan. "Setuju! Oke, aku akan belajar jadi Nadia yang lebih bisa diandalkan, nggak emosian, nggak kekanakan, nggak tempramen, nggak apa lagi ya?"
"Nggak inget mantan!"
Mereka bertos ria. Seakan malam ini menjadi sebuah kesepakatan bersama. Untuk menutup lembaran masa lalu. Dan membuka halaman baru yang lebih berarti.
"Besok mulai belajar cek berkas operasional ya?" Akbar mengingatkan.
Wajah Nadia lesu kembali. "Bisa nggak kita jalan-jalan dulu. Otakku buntu disuruh mikir belakangan ini."
"Oke."
"Hah? Kok oke?"
"Bukan besok. Hari Minggu nanti kita jalan-jalan."
"Males lah kalau Minggu mah enakan tidur di rumah."
"Kamu pilih mana, olahraga atau jalan-jalan?"
"Jalan-jalan!" Nadia berteriak lantang. Ia paling benci disuruh olahraga.
Nando datang masuk mobil dan menyodorkan obat pada Akbar. Lalu meletakkan pesanan kakek di tengah pembatas antara kursi kemudi dan kursi sampingnya. "Kalian lapar nggak?" tanyanya.
"Lapar!" Nadia heboh. Ia paling doyan makan dan paling senang kalau sudah diajak makan.
"Mau makan nasi uduk?"
"Nasi uduk yang di deket lampu merah arah ke Sempaja ujung kan?"
Nando mengangguk.
"Mantap! Cus berangkat!" Semangat Nadia membara. Di jok belakang Akbar hanya geleng kepala. Gadis ini memang masih belum dewasa. Peringainya kadang mirip anak remaja. Ia tak bisa bayangkan bagaimana rumah tangga mereka nanti. Tunggu, lagi-lagi Akbar berpikir terlalu jauh. Ia memukul kepala sendiri. Berusaha mengeyahkan pikiran absurdnya.
"Kayaknya gue kena getahnya deh, kemarin ngatain Abrar ngemong Disya. Sekarang malah gue yang harus ngemong Nadia," gumamnya pelan. "Terus kapan giliran gue diemong?" lanjutnya bermonolog sendiri.
Akbar yang malang, minim kasih sayang, minus perhatian khusus, dan kurang belaian. Sepertinya benar begitu.
===== ♡ LoveGuard ♡ =====