Bab. 6 - Pelajaran

1673 Kata
Kita tidak tahu dari mana akan mendapat sebuah pelajaran hidup Yang pasti kita harus tahu, mana yang baik dan mana yang buruk untuk diikuti atau tidak sama sekali...  ***  Seharian ini Nadia mulai berkutat dengan berbagai polemik bisnis di bidang ekspedisi. Perusahaannya memegang kendali utama dari sektor pengiriman barang dari penjuru se-Kalimantan Timur. Bahkan berhasil bekerja sama dengan salah satu perusahaan rokok terkemuka di dunia. Untuk hari pertama, Akbar hanya mengajaknya berkeliling dan melihat seluk-beluk aktivitas karyawan. Anehnya, Nadia tampak sudah akrab dengan sebagian besar supir di sana. Gadis itu leluasa berceloteh layaknya anak pada orang tua sendiri. Sesekali mereka tak sungkan melemparkan guyonan yang menimbulkan gelak tawa. Sambil menunggu muatan masuk ke dalam truk tentunya. Akbar meneliti dari kejauhan. Wajah cantik Nadia semakin bersinar tiap kali senyumnya merekah. Mawar merah tidak akan sanggup menandingi keindahan hakiki itu. Pria itu merasakan debaran hebat dalam dadanya. Ingatannya tentang Nadia masih saja melekat kuat dalam benak. Seringkali datang tanpa mampu dilawan. Hanya sebuah kisah sederhana, tapi entah kenapa begitu membekas dalam jiwanya. Setahun lalu, di hari Selasa menjelang siang. Akbar datang ke kampus Mulawarman. Ia berniat menemui kekasihnya untuk menyerahkan makalah yang ketinggalan di rumah Akbar. Pria itu biasa membantu Nilam menggarap tugas-tugasnya. Daripada jenuh menunggu, dirinya memutuskan untuk berkeliling. Hitung-hitung sekalian nostalgia masa muda. Walau pun tidak kuliah di tempat yang sama. Langkahnya terhenti tepat di salah satu sudut bangunan dekat pohon. Ada Nilam di sana bersama seseorang. Wanita itu berbagi ciuman panas dengan seorang pria tak dikenal oleh Akbar. Batinnya seperti dihujani paku payung yang menusuk-nusuk perih. Hal yang sama sekali tidak pernah terpikirkan atau terbersit sedikit pun dalam angan Akbar. Bahwa gadisnya sebegitu picik dan tega telah mengkhianati ketulusannya. "Ngintipin orang ciuman itu bisa bikin bintitan loh." Suara seorang gadis membangunkan rasa sakit Akbar. Pria itu berpaling bersamaan timbunan amarah dalam nafasnya yang memburu. "Kenapa marah? Kalau nggak suka lihatin mending pergi." "Nilam itu cewekku!" Nadia tampak tidak kaget sama sekali. Ia sudah tahu beberapa gosip santer tentang teman-teman sekampusnya. Salah satunya tentang Nilamsari Ayudya. "Oh gitu. Oke, selamat bersenang-senang," tukasnya lalu berlalu pergi. Tapi ia berhenti sebentar, memutar sedikit bahu ke belakang. "Jangan kalah sama perasaan. Jadi cowok harus lebih  kuat buat terima kenyataan. Kadang kita harus ngelihat hal buruk untuk dapetin sesuatu yang lebih baik," ujarnya. Kemudian benar-benar pergi. Itu lah kali kedua pertemuan tanpa disengaja mereka. Hari di mana Akbar punya kekuatan untuk berhenti mempertahankan perasaannya yang tak sebanding dengan Nilam. Sayangnya, sepertinya Nadia memang tidak ingat sama sekali. Lamunan Akbar buyar, ketika lambaian telapak tangan terlihat jelas di depan wajahnya. Nadia geleng kepala. "Ngelamun ya? Awas nanti kesambet loh!" celetuknya sembari menyodorkan segelas es cendol. "Nih buat kamu. Es cendolnya pak Mamat paling mantep di sini. Dijamin rasanya susah dilupain." Akbar menerima dan mengaduknya. Warna hijau cendol mulai beradu dengan warna putih santan, serta cokelat gula aren. Dari wanginya saja sudah bisa ditebak rasanya akan senikmat apa. "Daripada boba, aku lebih suka cendol. Asli khas Indonesia. Bikin seger dan nagih. Daripada mikirin mantan yang paitnya naudzhubilah menyiksa batin, ya kan?" selorohnya masih sambil mengunyah cendol. "Gimana rasanya kerja hari pertama?" Akbar ingin tahu. "Ehm ... lumayan. Lumayan bikin pusing maksudnya." "Baru lihat-lihat sikon masa udah pusing sih? Belum cek dokumen dan admin loh?" Gadis itu mencibir kesal. "Bisa nggak aku jadi pengawas lapangan aja? Paling males kalau urusan sama duit atau berkas-berkas. Ujung-ujungnya itung-itungan lagi." "Bagus dong. Ngitungin uang lebih berfaedah daripada ngitungin kesalahan orang lain." Nadia mesem. Ditinjunya pelan lengan Akbar dengan gelas dingin di tangannya. Ngobrol dengan pria yang umurnya lumayan beda di atasnya ternyata tak seburuk bayangan Nadia. "Sebelum kerja sama kakek, kamu kerja di mana?" Pertanyaan Nadia sukses membuat pria itu kelimpungan. Ia tak bisa langsung menjawab.  Ekor matanya berotasi seperti bumi mengelelilingi matahari. Seakan mencari jawaban tanpa musti berbohong. Sebab dirinya pun benci dibohongi. Cukup ia berpura-pura saja jadi asisten. "Di perusahaan sawit." Dalam hati Akbar berdoa semoga Nadia tidak bertanya lebih jauh lagi. Pria ini bukan ahlinya menipu orang lain. Kecuali kepepet mungkin. Kalau kata Adrian, si raja buaya darat berlisensi dari pamor, hanya orang-orang tidak berperasaan lah yang pantas dibohongi. Dan hanya para pengkhianat lah yang layak disakiti. Kadang motto temannya itu terngiang di kepalanya. "Wow. Jadi konsultan ya? Atau jadi asisten juga? Kayaknya dari penampilan nggak mungkin kamu jadi buruh tani sawitnya." "Memangnya kenapa? Ada bedanya?" Akbar berusaha menggiring Nadia ke topik lain. "Iya lah, jelas. Temenku ada yang kerja di lahan sawit langsung. Kulitnya jadi item-item.  Tapi memang dari sananya udah item manis sih." Nadia mengingat-ingat. "Temenmu cewek apa cowok?" "Kepo deh. Kalau cewek kenapa? Kalau cowok kenapa?" "Kalau cewek ya bagus, bukan sainganku berarti. Kalau cowok harus segera diantisipasi sebelum naik tingkat jadi lawanku." "Maksudnya? Saingan apa? Lawan apa?" Akbar mengedipkan mata. "Siapa tahu nanti aku beneran naksir kamu." "Astaghfirullah ... aku kira kamu nggak bisa ngegombal. Nggak tahunya ... wajah memang bisa menipu mata ya, ckck," balas Nadia berdecak heran. "Ya kan siapa tahu. Kalau kata orang Jawa, witing trisna jalaran saka kulina." "Apa artinya coba? Tahu nggak?" "Cinta dimulai karena terbiasa." Keduanya tertawa. Duduk sambil menikmati es cendol dan percakapan ringan. Sejak kemarin mendatangi kantor ini, Akbar agak heran akan satu hal. Kebanyakan kakek Hariyadi mempekerjakan supir yang terlihat sudah berumur. "Nad, kamu tahu nggak kenapa kakek Hariyadi masih mempekerjakan para bapak-bapak itu?" "Oh, kakek dulu datang ke Kalimantan cuma modal diri. Paham susahnya merantau dari nol. Bapak-bapak semua yang kerja sama kakek memang kelihatannya udah sepuh, tapi semangat  dan tenaga mereka masih tinggi. Patut diacungi jempol. Di sini loyalitas diutamakan. Masih betah ya silakan lanjut. Kakek nggak akan pensiunin karyawan tanpa mereka sendiri yang mengajukan diri." Akbar mengangguk paham. Rupanya ada alasan baik di belakangnya. Ia jadi teringat masa kecilnya bersama sang ayah dan ibunya. Berkebun sawit panas-panasan. Makan nasi bungkus dengan lauk tempe goreng, ikan asin, dan sambal bawang seadanya. Biasanya kalau sempat akan ditambah sedapnya rebusan daun singkong hasil dari kebun belakang rumah. Rindunya mencuat tanpa bisa dihadang. Namun, sekali lagi Akbar terpaksa harus menelan kekecewaan mendalam. Keluarganya sudah tidak utuh lagi. Ibunya sampai kini pun belum ditemukan keberadaannya di mana. "Mbak Nadia mau soto Banjar kah?" teriak salah seorang supir bertopi hitam. "Boleh, Pak. Dua ya?" Malah Akbar yang cepat tanggap menimpali. "Siap bos! Ditunggu!" pekik pria paruh baya itu. Kemudian tampak berbincang dengan tukang soto Banjar keliling yang biasa mangkal dekat kantor. Nadia melirik ke arah pria di sampingnya. "Aku udah kenyang. Kamu pesen aja satu tadi." "Nggak pa-pa nanti kuhabisin kalau kamu nggak mau." "Kuat?" "Nanya apa nantangin?" "Dua-duanya sih." "Mau tahu selain aku kuat makan juga kuat apa lagi?" "Apa?" "Kuat hati buat selalu setia sama satu orang." "Halah gombal. Siapa sih gurumu?" "Tadi kan udah ketemu kamu sama guruku." "Yang mana?" "Yang di KFC. Yang cowok." "Oh dia! Pasti pacarnya banyak tuh." "Siapa bilang?" "Aku barusan." Akbar hanya menggeleng singkat. Merasa kasian pada kawan baiknya. Banyak orang menyangka keahlian dan tampang Abrar pasti mampu mengundang kaum hawa mendekat dan menjerat. Memang demikian. Tapi bedanya, pria itu hanya akan memberi wejangan dan jurus-jurus andalan bila benar-benar diperlukan. Alias bukan untuk sekadar merayu lalu ditinggalkan. Hal yang paling diingat Akbar dari Abrar adalah prinsip temannya itu. Lebih baik sendiri sampai menemukan tambatan hati yang pasti. Daripada berkelana dengan banyak hati tapi tidak sampai jadi suami istri. Saat dirinya asik melamunkan nasihat Abrar. Nadia berdiri dan berjalan menghampiri seorang pria tua, yang terlihat kesulitan mengangkat karton berisi barang. Tanpa sungkan dan ragu ia membantu. Tidak hanya satu dua karton, tapi lima karton sekaligus ia naikkan ke truk bergantian. "Udah Mbak nggak pa-pa. Saya masih kuat," kata pak Ujang. "Saya bantuin Bapak bukan karena kasihan loh. Tapi kan ini tanggung jawab saya juga. Belajar mulai dari bawah," kilah Nadia sopan. "Mbak Nadia ini udah cantik, baik hati lagi. Kalau anak saya udah besar nanti, semoga dapat yang seperti Mbak Nadia." "Pak Ujang bisa aja. Lagian bukannya Pak Ujang udah dipindah ke bagian pengecekan barang ya? Kok masih bantuin angkat-angkat?" "Di dalam udah rampung kerjaan, Mbak. Saya nggak suka nganggur. Makanya cari kesibukan. Biar makin sehat kan harus banyak gerak." Ucapan pak Ujang cukup menggetarkan nurani Nadia. Selama ini dirinya sering sekali mengeluh ini itu bila diberi sedikit tugas. Atau dimintai tolong kakeknya. Padahal umurnya jauh lebih muda dari pak Ujang. Malu rasanya bila ingat kelakuan diri sendiri. Dalam hati Nadia bertekad untuk berubah menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Ia menoleh ke arah Akbar dengan tangan berkacak pinggang. Sejak tadi pria itu tergakum memandangi kemurahan hati Nadia. "Hei, Pak mentor yang budiman! Ngapain masih leha-leha di situ?! Buruan ke sini! Masih muda jangan mau kalah sama para bapak-bapak strong ini!" teriaknya lantang. Alhasil Akbar pun bangkit. Melingkis lengan kemeja hingga siku dan bersiap membantu angkat barang. "Siap bos!" Ia mengacungkan dua jempol. "Nanti kutraktir semuanya makan soto Banjar gratis ya?" Kalimat Nadia makin membangkitkan semangat para pekerja. Akbar berbisik sesuatu di telinga gadis itu. "Memangnya kamu ada uang? Bukannya kartu atm dan kartu kreditmu diblokir sama kakek?" Seketika Nadia mendelik kaget. Ia lupa akan hal penting itu. Lebih parah lagi, uang di dompet hanya tinggal selembar lima puluh ribu dan selembar dua puluh ribu. Lalu, bagaimana dirinya bisa membayar traktiran nanti? Satu-satunya jalan adalah meminta pertolongan Akbar. "Pakai uangmu dulu ya? Habis gajian kuganti deh sekalian bonusnya." Ia balik berbisik. "Ehm, boleh aja. Asal ada syaratnya." "Pake syarat segala?!" keluh Nadia. "Mau nggak?" Daripada menanggung malu, lebih baik Nadia mengiyakan saja. "Yaudah apa syaratnya?" "Teriak yang kenceng kalau kamu pengen punya suami yang kayak aku." "What?! Ogah!" "Yaudah bayar sendiri." Ingin rasanya Nadia menendang lutut Akbar. Lalu meninju perut pria itu sampai mual minta ampun. Namun apa daya, banyak pasang mata menatap dirinya dengan senyum penuh harap. Mau menghubungi Sekar pun tidak bisa. Temannya sedang mengikuti tes seleksi masuk pramugari di Balikpapan. Kepala Nadia bagai ditimbun bara api, mengepulkan asap dan api yang berkobar. Hanya beberapa detik amarahnya harus dipadamkan. Ia menarik oksigen kuat-kuat. Lalu bersiap menyuarakan permintaan Akbar. "AKU PENGEN PUNYA SUAMI KAYAK AKBAR!" Seluruh orang yang mendengar spontan terdiam beku. Sementara Akbar sudah menahan senyum penuh kemenangan. Baru hari pertama sudah berhasil mengerjai Nadia. Bagaimana hari-hari berikutnya nanti? Pikirannya mulai bahagia walau baru memikirkannya saja. =====♡ LoveGuard ♡=====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN