Bab. 5 - Sang Mantan

1750 Kata
Ada banyak alasan seseorang pergi Bisa jadi sudah tidak ada rasa Atau ada yang salah dalam dirinya *** Pengejaran Akbar berakhir di halaman salah satu tempat karaoke dekat lampu merah. Sadar sudah terlambat, karena mobil dan motor lalu lalang melintas, menyebabkan dirinya harus menunda menyebrang jalan tadi. Ia pun hanya bisa berdiri memandangi Nadia yang sudah bercakap-cakap serius dengan seseorang. Gadis itu akhirnya berhasil menemui Damar. Mantan pacar yang lama menghilang secara tiba-tiba. Damar adalah kakak senior di kampus Nadia dulu. "Kamu ngapain di sini, Nad?" "Aku yang harusnya tanya, kenapa kamu nggak ada kabar? Ngilang nggak jelas. Nggak ada kata putus." "Maaf, Nad. Aku pikir memang sebaiknya kita udahan aja. Nggak usah saling ketemu lagi." "Kenapa? Apa alasannya? Apa karena kakekku nggak setuju?" Damar terlihat gugup dan bingung. Lidahnya kelu tak mampu menjawab pertanyaan gadis yang pernah mengisi kekosongan hatinya. Dari padangan matanya, menyiratkan sesuatu yang sulit diprediksi. Entah itu rasa sakit, kecewa, cinta, atau penyesalan. Sulit terpecahkan. Pria itu punya tumpukan rahasia yang tampak jelas dari gelagatnya. Sebagai sesama pria, Akbar sudah memahami mimik tersebut. Ada kesalahan telah terjadi. Namun tak mampu untuk diakui. Sayangnya, Nadia masih saja menutup mata dan berharap ada penjelasan dari semua ini. Mungkin, karena perasaannya masih ada untuk Damar. Atau, karena lukanya masih menganga karena pria itu. "Jawab, Dam! Kenapa?! Aku ada salah apa?!" Nadia mulai kehilangan kendali. Akbar ingin maju melerai, tapi seorang perempuan muncul dari balik pintu masuk tempat karaoke di depan mereka. "Karena gue!" Nadia terkejut. Kehadiran teman lamanya membuat pikirannya membuncah penuh kecamuk. Isabela Sulistyawati adalah seorang gadis yang dulu pernah kenal dekat dengan Nadia. Mereka sering beberapa kali menggarap tugas bersama, atau sekadar jalan-jalan. Bahkan, pernah suatu ketika Bela tak mampu membayar uang semester dan menunggak beberapa bulan. Ia hampir tak melanjutkan kuliah. Berkat bantuan dan kemurahan hati Nadia lah gadis berambut agak cokelat itu berhasil menyelesaikan pendidikannya. Sejak hijrah dari Jakarta ke Samarinda, keluarga Bela memang mengalami kesulitan keuangan. Ayahnya bangkrut dan harus menanggung banyak hutang. Jelas saja Nadia tak menyangka. Kenapa tiba-tiba sekarang temannya berteriak lantang seperti itu. Suara dan kalimatnya sanggup menembus jantung Nadia yang berdarah sejak lama. "Maksud kamu apa, Bel?!" Amarah Nadia sudah di ambang batas. Bola matanya berkilat hampir menyamai petir yang menyambar di malam hari. "Nadia yang terhormat, yang dipuja-puja banyak temen cewek. Karena kebaikan lo, kekayaan lo, dan semacamnya. Asal lo tahu, gue mau temenan sama lo selama ini, itu cuma buat bikin gue ketularan tenar. Bodohnya, lo gampang banget ditipu ternyata." Retina Nadia seperti mata harimau yang siap menerkam mangsa. Satu tangannya terayun ke atas. Bersiap memberikan sebuah tamparan keras pada gadis tak tahu diri di hadapannya. Pegangan Akbar menghentikan aksi brutalnya. Pria itu menarik Nadia mundur. "Berhenti melakukan hal yang bisa memperburuk citramu sendiri," tegas Akbar. "Kamu nggak usah ikut campur! Ini urusanku!" "Urusamu sekarang jadi urusanku juga!" Nada tinggi Akbar mendapatkan balasan kekesalan semata. Nadia membuang muka. Bukan karena takut. Tapi hatinya sudah menjerit pilu di dalam dadanya. Genangan air mata ingin luruh terjun di pipi. Sekuat mungkin ia tahan. "Aku cuma pengen tahu kenapa dia ngilang gitu aja!" Gadis itu menuntut penjelasan kenapa Damar pergi begitu saja tanpa kata putus. Damar bingung. Akhirnya Bela bersuara, bahwa mereka sudah lama berkencan bahkan saat Damar masih berstatus sebagai pacar Nadia dulu. Nadia ingin menampar Damar, tapi Bela menghadang. "Jangan egois dong jadi orang! Damar itu cowok normal, Nad! Lo nggak bisa kasih apa yang dia mau, terus lo nuntut supaya dia bertahan sama lo? Makanya punya pikiran jangan kolot amat. Jadi cewek sok jual mahal, cowok lo mana tahan sih!" "Cukup Bel! Kamu ngomong apa sih?!" Damar tak menyangka Bela memuntahkan kata-kata semengerikan itu. "Apa maksud kamu ngomong gitu, Bel?!" Nadia ingin jawaban lebih jelas. Meski Damar berusaha menyuruh Bela diam, tetap saja Bela angkat bicara. Malah lebih jelas lagi ia tekankan.  "Ya salah lo sendiri diajakin ML nolak! Akhirnya gue yang kasih dia. Jadi, mending jangan sok marah deh. Lo udah bukan siapa-siapa dia lagi. Paham?!" Ingin rasanya Damar berlalu dari tempat ini, menahan malu separah itu. Sama saja ia menyaksikan aibnya dibongkar di hadapan dirinya sendiri, disaksikan gadis yang pernah atau mungkin masih ia sayangi. Nadia terdiam bisu. Hening tanpa suara, ia  tidak membalas. Menyadari penyebab runtuhnya hubungan yang hampir dua tahun mereka jalin, dirinya tahu sekarang apa alasannya. Membenarkan salah satu perkiraan yang ia tawan dalam batinnya selama ini. Dugaannya tidak meleset. Hal itulah yang mendasari sikap Damar. Bela mungkin kejam berkata sedemikian frontal dan terbuka, tapi baginya Damar lebih jahat lagi. Gadis itu berbalik pergi. Sementara Damar hanya menatap dengan pandangan penyesalan. "Nad!" pangggil Damar ingin menghampiri. Bela menarik pria itu untuk tidak menyusul. "Jangan macem-macem! Atau gue sebar video dan foto kita!" ancamnya. Sebentar Akbar meneliti kedua orang itu. Dari pakaian yang dipakai Bela, ia yakin Bela bekerja di tempat karaoke ini. Sempat diamatinya name tag di bagian d**a gadis itu. Isi kepalanya sudah berpikir harus melakukan apa, untuk memberinya pelajaran berharga karena berani menyakiti Nadia. "Kenapa ngelihatin kayak gitu? Lo pacar barunya Nadia? Jagain baik-baik cewek lo tuh!" mulut berbisa Bela menyemburkan ucapan pada Akbar. Agaknya ia tak tahu dengan siapa dirinya berhadapan. Akbar hanya menyeringai. "Kalian berdua sampah," tukasnya. Lalu berbalik pergi menyusul Nadia. "Apa lo bilang! Cowok sialan! b******k banget ngatain kita-" "Stop, Bel! Mending lo diem atau kita selesai! Terserah lo mau apain video dan foto itu! Toh lo juga udah bikin gue malu barusan!" Damar memperingatkan. Sementara mereka sibuk bertengkar. Nadia sudah masuk mobil. Menutup muka dengan dua tangan. Tidak mampu lagi menahan kesedihan, bendungan hati Nadia tumpah ruah. Air mata tak mampu ia halau untuk turun. Gadis itu memang penuh kepuraan. Ia terlihat kuat hanya di luar saja. Jauh di lubuk jiwanya, sebenarnya hanya seseorang yang amat rapuh. Lebih lapuk dari butiran kayu. Akbar menghampiri, duduk di kursi kemudi. Ia mendengar semuanya. Hatinya ikut terluka melihat Nadia terisak. Didekapnya tubuh gadis itu tanpa permisi. Tidak ada perlawanan apapun. Badan Nadia lemas tanpa daya. Tangisannya semakin kencang terdengar. Beginilah rupanya sisi sebenarnya seorang gadis tempramental yang hobi memukul pria. Itu semua cuma topeng belaka. Faktanya, batinnya sama seperti gadis kebanyakan. Mudah merasakan pedih akibat disakiti. Satu tangan Akbar lihai mengetik pesan di balik punggung bergetar Nadia. Ia mengirimnya ke Abrar. Meminta bantuan apa yang bisa dilakukan seorang pria untuk menghibur gadis yang tengah dilanda patah hati. Memang tidak salah lagi, temannya adalah sumber solusi dari segala kondisi. Sumber antisipasi dari setiap masalah hati. Serta sumber energi dari berbagai kendala dan situasi. Abrar Surenedra_ Jangan tanya apapun. Jangan larang dia nangis. Jangan menghakimi. Cukup diem sampai dia tenang. Tak lama kemudian ia pun menerima balasan. Keningnya sedikit berkerut membaca pesan dari Abrar. Namun, ia jadi tahu apa yang harus dilalukan. Ditepuk-tepuknya punggung Nadia seperti menidurkan bayi mungil. "Menangislah sampai puas. Jangan berhenti sebelum benar-benar terhenti sendiri." Nadia tersentak. Bangun dari ketidaksadaran diri. Ia menjauhkan diri dari pelukan Akbar. Meraih tisu di atas dasbor mobil. Kemudian menyeka guyuran hujan di pipi. Batinnya merutuk tak karuan, bagaimana bisa ia dengan mudah membiarkan pria asing merengkuh tubuhnya. Begitu pikirnya. Akbar menyodorkan sebotol air mineral yang memang sepertinya selalu tersedia di mobil. Karena ada tempat khusus untuk menyimpannya. Ia sudah diberitahu Nando sebelumnya tentang mobil Nadia yang seperti toserba makanan. Berbagai camilan dan jenis miniman ada di dalam sana. "Maaf..." Akbar memicing heran. Seorang Nadia Shita Hutama mengatakan maaf padanya. Bisa masuk salah satu keajaiban dunia mungkin. "Kenapa minta maaf?" "Nggak tahu. Malu aja rasanya." "Malu? Harusnya mereka yang malu, bukan kamu." "Apa semua cowok itu harus dapat bukti perasaan tulus dengan berhubungan intim ya?" Tanpa sadar Nadia mempertanyaan hal yang mengganggu kepalanya. Pria di sampingnya tersenyum tipis. "Ehm .. kurasa kita punya satu kesamaan. Kamu ditinggalin karena nggak mau. Aku ditinggalin karena dia kecewa aku nggak mau." "Maksudnya?" "Gini Nad, cinta nggak bisa dibuktikan cuma dengan hubungan fisik aja. Cinta itu datangnya dari sini." Akbar menunjuk dadanya. "Kalau kita dituntut buat ngelakuin hal yang nggak kita suka, apalagi perbuatan terlarang, itu namanya bukan pembuktian tapi pembodohan," lanjutnya. Sejenak Nadia terkesima atas jawaban Akbar.  Ia kira pria ini akan sangat membosankan. Sepertinya perkiraannya keliru. "Aku punya prinsip. Nggak mau ngelakuin kayak gitu sebelum nikah." "Prinsip yang bagus. Pertahankan itu, Nad. Kehormatanmu nggak bisa dibandingkan dengan apapun." "Apa bener cowok hanya akan mau nikahin cewek yang belum pernah?" Kali ini Akbar tak bisa menahan tawanya. Menurutnya itu pertanyaan konyol. "Buat cowok yang pikirannya sempit, mungkin bener kayak gitu. Tapi buat cowok yang hatinya tulus, nggak akan mikirin hal dan memandang dari satu sudut seperti itu." "Maksudnya?" Nadia masih amatiran soal asmara. Ia belum tahu saja kalau Akbar tidak jauh berbeda darinya. Hanya saja, pria itu sudah banyak makan pahit manis hubungan percintaan dari curhataan teman-teman sejawatnya. Sedikit banyak jadi tahu. "Pernikahan itu nggak sekadar cuma buat nyatuin diri di atas ranjang, Nad. Tapi juga nyatuin pikiran dan hati. Kita nggak bisa milih sama siapa bakal berjodoh. Tapi, setidaknya kita bisa menilai mana yang pantas dan nggak pantas buat kita perjuangkan." Sekali lagi Nadia tercekat. Terkesima takjub dengan ucapan Akbar. "Kamu udah pernah nikah? Atau memang udah nikah?" tanyanya to the point. "Menurut kamu? Tampang muda sekece ini apa iya udah kelihatan beristri?" Nadia berdecak sinis. "Pede banget sih. Orang tampang kamu udah kaya om-om duren sawit gitu." "Kok duren sawit sih?" "Iya, kata orang itu singkatan." "Singkatan apa?" "Duren sawit. Duda keren sarang duwit." Lagi-lagi Akbar dibuat terbahak. "Mau jadi tantenya nggak?" "Tante siapa?" Nadia bingung. "Tantenya om. Pasangannya om kan tante," ujarnya teringat lawakan lama Abrar. Kebetulan yang bagus untuk melunturkan suasana kaku. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, begitu pepatah lamanya. Sekali berucap, bisa menghibur sekaligus merayu Nadia. "Ye, inget umur dong." "Kenapa? Apa pasangan saling memandang umur? Aku ganteng loh, kerjaan tetap, masih jomblo juga. Pas kan?" "Pas apanya?" "Pas buat jadi pendamping kamu..." Giliran Nadia yang dibuat tertawa. "Mimpi kamu!" katanya, lalu menjulurkan lidah mirip anak kecil mengejek temannya. "Udah ah, ayo ke kantor! Kita mulai belajar!" "Tumben semangat?" "Karena hidup harus melaju ke depan! Kita butuh pengalaman, ilmu, dan uang untuk tidak ditindas orang lain!" selorohnya ambigu. "Polwan gimana?" "Ehm ... pikirin nanti aja deh." "Yakin?" "Iya. Sekarang mau nyenengin kakek dulu. Mau move on dari cucu durhaka, ntar dikutuk jadi boneka mampang lagi." Keduanya terkekeh bersama. Mobil melaju melintasi jalanan kota Samarinda. Mengarungi perjalanan dua insan yang baru saja benar-benar telah dimulai. ===== ♡ LoveGuard ♡===== Sekilas info_ LoveGuard adalah series ke-2 dari project yang kukasih judul => Series 4 Serangkai- Man in Love (cerita tentang kisah cinta para cogan kece patinya) Kalau ini nanti sukses juga, insyAllah aku lanjutkan bulan depan (kalau gak berhalangan ya) series berikutnya. So, yuk terus dukung LoveGuard dan Secret Lover. Biar diriku makin semangat garap naskahnya. ^^ =======================
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN