"Auh," Kania meringis sakit ketika Atika menindih kain yang dicelupkan air hangat ke arah wajahnya yang penuh dengan garukan. Mata Kania memerah, hidungnya keluar ingus. "Tidak perlu katakan pada tetangga mengenai apa yang kakak lakukan di masa lalu," ujar Atika. Mata Kania memandang ke arah lain, dia malu memandang sang adik. "Aku menebar fitnah tentang kamu, jadi aku sendiri yang harus membetulkan jalan agar tidak terjadi prasangka-prasangka buruk pada kamu lagi, kita kan... sudah rukun," Mulut Atika ingin bergerak mengatakan sesuatu, namun tidak jadi. Pintu rumah mereka diketuk. Kania dan Atika melihat, ada Bu Rani, Mak Dep dan yang lainnya datang. Wajah Mak Yepi tidak bagus ketika melihat Kania. Kania menunduk takut. Mak Yepi bukan hanya mulutnya saja yang beracun, tapi juga pu

