Bab 3 Juragan Karta

1143 Kata
Pagi itu kulihat bapak sedang duduk di teras, sambil membaca Al Quran kecil miliknya. Ia tersenyum, saat aku hendak beranjak kerja. Biasanya setiap sore bapak akan menungguku di depan pagar. Puluhan telepon masuk hingga pesan singkat dikirimnya, jika waktu pulangku sudah lewat. “Jangan pulang sendirian kalau sudah hampir malam, mampir dulu tempat Mas mu, minta antar dia pulang!” titah Bapak dari seberang sana. Aku hanya mengiyakan dan menutup sambungan darinya. Perhatian-perhatian kecil dan senyum khasnya kala menyambutku pulang ke rumah, hal yang paling aku rindukan. Seperti saat itu kami belum memeliki penampungan air, sehingga sulit mendapatkan air saat kemarau. “Susah, Pak, kalau tidak ada tempat untuk menampung air!” keluhku pada Bapak, “tiap kali air PAM hidup gak pernah kebagian, apa lagi kalau berhari-hari air PAM gak nyala, bisa gak dapat air!” lanjutku. “Bapak, ada sedikit tabungan. Kita beli tempat penampungan air, aja!” jawab Bapak sambil berlalu masuk, tak lama kemudia, ia menyerahkan sepuluh lembar uang merah. “Ayo, kita beli!” “Ah... Bapak selalu saja membuat aku terharu, tidak bisa kah, kau membuat aku sedikit mandiri?” aku membatin. Gegas aku mengeluarkan motor metik berwarna biru, kubonceng Bapak dengan hati-hati. Kadang hal-hal kecil yang kami lalui berdua, adalah kenangan berharga bersama Bapak. Sejak lulus sekolah menenga pertama, aku langsung melanjutkan sekolah di kota hingga lulus kuliah. Kebersamaan kami hanya sesaat, tak banyak waktu yang kami habiskan, setelah aku lulus kuliah, Bapak lebih sering di pesantren dan mengurus kebun. Saat Bapak pulang adalah momen yang berharga, tak pernah melewati membersamainya. “Pak, aku ada sedikit tabungan, kita beli yang agak besar, aja, ya?” ujarku saat motor kulajukan. Bapak mengangguk. Sampai di toko bangunan aku dan bapak memilih tempat penampungan air yang besar. Kuserahkan uang sejumlah satu juta lima ratus pada pelayan kasir. Uang satu juta milik bapak dan tabunganku lima ratus ribu. Sore itu juga tempat penampungan air akan dikirim kerumah. Bapak mendapatkan pengasilah dari merawat kebun Pak Soleh, setiap bulan uang yang Bapak terima akan diberikan pada Ibu, untuk bekal kami di rumah, dan sisanya akan Bapak simpan untuk bekalnya di pesantren. Bapak juga memelihara kebun milik juragan Karta salah satu orang kaya di kampung sebelah. Rumah Juragan Karta lima belas menit dari rumah kami, hanya beda kecamatan. Kebun Juragan Karta tidak jauh dari kebun milik Pak Soleh, karena Bapak juga yang mencarikan kebun untuk Juragan Karta. Saat itu Juragan Karta bertamu kerumah dan meminta tolong pada Bapak. “Assalamu’allaikum, Pak Badri ....” suara lantang tersengar dari depan rumah. Aku yang sedang berada di kamar gegas melihat keluar. Di depan pintu kulihat Juragan Karta dengan kumis tipisnya tersenyum. “Wa’allaikumussalam, Juragan, ada perlu apa?” tanyaku sopan. “Bapakmu ada, La?” tanyanya. Aku mempersilahkan beliau duduk di bangku teras, “ada! Sebentar Lala panggil dulu, Pak!” aku berlalu menemui Bapak yang baru selesai salat ashar. “Pak, ada Juragan Karta di depan,” aku memberitahu Bapak dari ambang pintu kamar. Bapak berjalan ke depan, menemui Juragan Karta yang menunggu di teras. “Assalamu’allaiku, Juragan, ada perlu apa?” kudengar suara Bapak menyapa Juragan Karta. Aku menujuh dapur dan membuatkan minum untuk juragan Karta dan Bapak. Teh manis hangat dan gorenan bakwan kubawa kedepan, kulihat Bapak dan Juragan Karta masih berbincang-bincang. Hampir satu jam mereka ngobrol dan akhirnya juragan Karta pamit pulang. “Tumben, Pak, juragan Karta main ke sini?” tanya ibu, ketika Bapak masuk. Aku dan Ibu sedang duduk menonton acara kuis di TV. “Minta tolong cariin kebun,” jawab Bapak sambil meletakkan gelas dan piring yang tadi kusuguhkan untuk Juragan Karta. “Juragan Karta mau beli kebun?” tanyaku sambil menyantap gorengan bakwan yang tersisa. Bapak mengangguk, “Nanti mau Bapak tanya sama Pak Soleh, mungkin ada yang mau jual kebun” jawab Bapak sambil berlalu ke kamar mandi. Bapak yang memiliki banyak teman, kadang-kadang diminta membantu menjual atau membeli tanah dan kebun milik temannya. Seperti saat ini Juragan Karta meminta tolong dicarikan kebun. *** Prov Author “Assalamu’allaikum, Juragan,” Sapa Soebadri dari sambungan telepon. Ia memberi kabar pada Juragan Karta, ada seseorang yang akan menjual kebunnya di dekat pesantren. Setelah menyelesaikan sambungan telepon Soebadri langsung beranjak menemui Juragan Karta di rumahnya. “Bu, Bapak ke rumah Juragan Karta dulu, mau mastiin kapan mau lihat kebunnya.” Soebadri berujar sambil mengeluarkan motor. “Iya, Pak, nanti pulangnya sekalian jemput Rara dan Sabil, ya! Ibu sudah kangen sama mereka.” Soebadri mengangguk dan melajukan kendaraannya. Sesampainya di rumah Juragan Karta, ia melihat sang empunya rumah sedang memberimakan ayam-ayamnya di halaman rumahnya yang luas. Disisi kiri rumah ada pohon mangga yang rimbun dan tak jauh dari sana ada beberapa kolam ikan lele dan gurame yang diternakan. Juragan Karta menoleh ke arah pagar rumah saat suara kendaraan Soebadri memasuki pekarangan. “Assalamu’allaikum, Juragan,” sapa Soebadri sambil melangkahkan kaki menuju Juraga Karta berdiri. “Wa’allaikumussalam, kirain sore mau kesininya, kalau soal uang cepet sekali kau datang, ya, Bad,” kekeh Juragan Karta seolah mengejek. “Kalau gak buru-buru kesini nanti kebunnya dibeli sama orang lain, Juragan! Saya kesini mau pastiin kapan Juragan mau liat kesana, biar saya bisa kasih kabar sama yang punya jadi, gak dikasih ke orang lain!” tekan Soebadri sedikit jengkel. “Ayo! Duduk dulu!” ajaknya. Mereka pun berjalan menujuh teras samping rumah Juragan Karta yang langsung menghadap ke kolam ikan. “Buka harga berapa, Bad?” tanyanya sambil medudukan bobot di salah satu kursi yang ada di teras. “Seratus dua puluh juta, Juragan. Bisa goyang.” Soebadri ikut duduk di kuri yang bersebrangan dengan Juragan Karta. “Sudah ditanamin pohon karet, tapi belum terlalu tinggi, baru tiga tahun.” Lanjut Soebadri. “Tawar seratus juta, aja. Besok kita liat kesana.” Juragan Karta menyalakan rokok dan menghisapnya. “Sebentar, Juragan. Saya hubungi dulu orangnya.” Soebadri mengeluarkan HP jadul miliknya, kemudian menghubungi sang empu kebun. Bebarapa menit berbincang, Soebadri sudah mengakhiri obrolannya dengan tuan kebun. “Dia mau, Juragan. Besok dia tunggu di kebun,” ucap Soebadri memecah keheningan diantara mereka. “Jaraknya jauh, gak? Mobil bisa masuk?” Juragan Karta memastikan. “Gak begitu jauh dari jalan besar, mobil bisa masuk, tapi jalannya gak bagus, sebaiknya naik motor saja ke kebunnya, Juragan,” tutur Soebadri. “Nanti kau saja yang urus, ya, Bad. Hitung-hitung nambah penghasilan kau. Aku gak mau capek-capek cari orang lagi buat ngurus itu kebun.” pinta Juragan Karta. Soebadri terlihat sedikit berfikir. “Nanti aku sediakan motor untuk kau ke kebun. Upah kau delapan ratus ribu sama beras setiap bulan, bagaimana?” tawar Juragan Karta. “Ayo, lah! Gak usah kelamaan mikir, kau itu butuh uang, butuh makan. Aku siapkan kau motor untu ke kebun. Ngeharapkan upah dari pengasilan kau sekarang gak cukup untuk kau dan keluarga, belum lagi anak kau yang kuliah.” Juragan Karta masih bersikeras membujuk Soebadri. “Bagaima, ya, Juragan?” Soebadri masih berfikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN