Dua minggu pasca aku menengok Bapak di pondok, kemarin sore Bapak pulang menumpang dengan temannya yang ingin ke pasar kota. Bapak dan temannya menggunakan sepeda motor. Siang ini, aku mendengar Bapak menelpon Mas Roni, entah apa yang mereka bicarakan.
Setelah berbicara dengan Mas Roni, ia mengambil kunci motor dan berlengang ke halaman rumah.
“Mau kemana, Pak?” tanyaku.
“Jemput Sabil sama Rara,” ujar Bapak sambil menaiki motor metik milikku.
Pukul 12.00 WIB biasanya keponakanku itu sudah pulang dari sekolah, wajar saja tadi Bapak menelepon Mas Roni, mungkin untuk memastika apakah cucunya sudah berada di rumah.
Terdengar suara motor dari arah luar, aku dan Ibu yang sedang berada di dapur berjalan kompak menuju teras. Terlihat Bapak dan kedua keponakanku sudah sampai di halaman rumah. Jarak anatara rumah Mas Roni dan kami yang tidak begitu jauh jadi hanya beberapa menit mereka sudah tiba di sini. Rara dan Sabil tertawa riang sambil berlali ke arah kami yang berada di teras.
“Yangput, tahu gak tadi di jalan Sabil sama Mbak Rara liat moyet lompat-lompat di pohon deket kebun itu,” Sabil bercerita sambil menunjuk ke arah jalan.
Jalan menuju rumah kami memang banyak kebun karet milik warga, perumahan yang kami tempati pun tak jauh dari kebun warga, karena sebagian besar warga di sini bekerja sebagai petani karet. Dan kebun-kebun mereka berada di sekitar perumahan.
“Sabil dari mana?” tanyaku pura-pura tidak tahu, padahal aku tahu kalau Bapak menjemput mereka dan mengajaknya jajan ke mini market. Aku dapat melihat kantong kresek yang di bawa oleh Bapak.
“Dari jajan sama Yangkung, tadi dijemput Yangkung terus diajak jajan,” terang bocah laki-laki itu.
Aku mengagguk paham. Seketika seisi rumah menjadi ramai dengan suara tawa dan terikan kedua keponakanku. Rara yang jahit pada adiknya selalu saja mengambil cemilan milik Sabil, padahal mereka sudah diberi satu-satu oleh Bapak.
Karena lelah dan asik bermain keduanya terlelap setelah berteriak dan saling tarik coklat yang dibeli tadi. Sore harinya Mas Roni dan istrinya, Mbak Laras, datang. Kami yang sedang berada di teras dapat melihat suami-istri itu berjalan ke arah kami,
“Asslamu’allaikum,” sapa Mas Roni.
“Wa’allaikumussalam, dari mana Le?” tanya Ibu.
“Dari ruma, Bu, sengaja ke sini mau anter baju anak-anak, malam ini mereka nginep di sini dulu, ya, Bu, Roni sama Laras ada urusan di Palembang, besok siang udah pulang, kok,” ujar Mas Roni.
“Anak-anak mana, La?” tanya Mbak Laras.
“Masih tidur, Mbak,” jawabku singkat.
“Ya, gak apa anak-anak nginep sini, malah Bapak seneng, jadi rame,” kekeh Bapak.
***
Saat Bapak berada di rumah seperti ini merupakan hal yang palig aku sengangi kerena setiap malam bapak akan bercerita, entah itu dongeng atau kisah Nabi. Aku selalu senang mendengar cerita Bapak, tidak hanya ilmu yang terselip tapi Bapak juga akan memberi nasihat. Bagiku, cerita yang Bapak sampaikan seperti nyanyian pengantar tidur. Walaupun sudah dewasa, aku selalu memintanya untuk bercerita kisah Nabi, kadang ia berceramah dengan mengemasnya dalam bentuk dongeng. Aku tak pernah bosan mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan Bapak.
Malam ini listrik padam dan udara sangat panas. Di lantai berkeramik putih bermotif bunga, Bapak dan aku duduk menikmati sepoi angin, menunggu listrik menyala. Lalu bapak menceritakan kisah jin dan petir.
“Lala, tahu gak kenapa saat hujan ada suara petir?” tanya bapak di kegelapan.
Aku menggeleng, sambil merebahkan kepala di pangkuannya. Bapak mengusap rambutku dengan lembut. Sambil tersenyum ia berkata, “Coba Lala buka surah Al-Hijr ayat 18, di sana menjelaskan bahwa iblis yang mecuri dengar berita dari langit, maka malaikat mengejarnya dengan semburan api yang terang.”
“Mencuri dengar berita apa?” tanyaku sambil mendongak menatap wajah Bapak.
Tiba-tiba Rara dan Sabil berlari ke pangkuan Bapak.
“Rara juga mau dengar cerita, Eyang!”
Aku yang merebahkan kepala di pangkuang bapak sontak beranjak. Rara dan Sabil malam ini menginap di rumah, sebab Mas Roni dan istrinya besok akan pergi keluar kota. Bapak langsung memangku cucunya. Rara di sebelah kanan dan Sabil di sebelah kiri. Bapak tersenyum melihat kami, lalu melanjutkan ceritanya.
“Mencuri dengar apa saja yang akan disampaikan Allah kepada Malaikat dan Rasul. Dalam surah Al-Jinn juga ada, jadi kilatan petir yang kita lihat saat hujan itu adalah panah api dari malaikat yang sedang mengejar setan dan iblis. Tahu untuk apa mereka mencuri berita dari langit?”
“Untuk disampaikan pada dukun” jawabku.
“Benar! Iblis dan setan akan menyampaikan berita itu pada dukun dan tukang ramal.
Padahal yang mereka dengar belum tentu benar semuanya, terkadang sebelum mereka mendengernya sudah kena panah api duluan, hahhaaaa ....”
Bapak bercerita layaknya pada anak kecil, “Makanya, jangan percaya pada dukun dan sejenisnya, mereka hanya ditipu iblis!” lanjut Bapak.
“Sudah ... sudah! jangan cerita gitu lagi, bikin serem! Tidur! Sudah larut!” Ibu berseru dari dalam kamar.
Kamar Ibu memang terletak di depan, sejajar denga ruang tamu, maka tak heran jika Ibu bisa mendengar Bapak yang sedang bercerita bersama kami di teras. Dan teriakan Ibu juga bisa kami dengar dari teras rumah, karena rumah kami bukan lah rumah yang besar seperti milik Nagita, rumah Bapak dan Ibu hanya rumah sederhana tipe 36 yang baru di renovasi bagian belakangnya saja.
“Rara... Sabil... ayo, tidur sini sama Eyangput!” panggil Ibu yang sudah berada di ambang pintu.
“Kanapa toh, Bu? Aku kan Cuma mau ngajarin anak-anak, kalau nanti aku udah gak ada, siapa lagi yang akan ngajarin anak-anak ilmu agama!” Bapak menyahuti dengan lembut namun tegas.
“Wess ... wess ... toh, Pak! Kita lanjut aja ceritanya!” Aku mecoba melerai keduanya.
Belum sempat Bapak melanjutkan ceritanya, lampu pun menyala.
“Nah ...! Sudah terang, wes ... besok lanjut lagi ceritanya!” Bapak beranjak dari duduknya dan melangkah masuk.
“Rara, Sabil, ayo! Kita tidur!” Aku mengandeng kedua ponakanku menuju kamar.
Raut kecewa tampak dari keduanya, mereka yang belum puas mendengar cerita dari Bapak, protes pada Bapak, “Ceritanya sebentar lagi, dong, Eyang!” rajuk Rara.
“Ceritanya sambung besok lagi, ya! Sekarang Mbak Rara sama Sabil tidur dulu!” bujuk Bapak. Dengan wajah ditekuk keduanya mengikutiku masuk kamar.
“Sudah sikat gigi dan cuci kaki belum?” tanyaku, mereka berdua mengangguk kompak.
Aku tersenyum menganggung mengerti, “Ayo! Baca doa dulu!” titahku.
Setelah mereka beruda membaca doa dan terlelap, aku pun mematikan lampu dan ikut tidur.
Tenang rasanya saat mendengar cerita Bapak, banyak ilmu yang didapat dari setiap ceritanya. Bapak selalu tidur di ruang tengah, lebih nyaman katanya. Sedangkan Ibu, tidur di kamar bersamaku. Kulihat ia mulai merebahkan tubuhnya, sedih rasanya melihat tubuh kekarnya berangsur menyusut, d**a bidang tempat aku bersandar kini mulai rentah. Sesekali kudengar Bapak batuk, entah sudah berapa banyak obat yang diminumnya tapi batuknya tak kunjung sembuh. Kenapa batuk Bapak tak kunjung sembuh ....