Petir yang bersahutan disusul oleh lebatnya hujan membasahi tanah desa Pendem Asih, suasana gelap yang di timbulkan dari awan hitam membuat wilayah itu menjadi mencekam. Pohon-pohon di halaman meliuk-liukan badannya searah dengan angin yang berhembus, dedaunan berterbangan mengotori tanah di bawahnya. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam tulang, membuat tubuh mulai menggigil secara perlahan. "Hujannya sangat lebat kek, ini berbahaya jika sampai petir-petir menyambar dahan pohon." "Iya benar, tapi kakek rasa hujan kali ini bukan karena faktor cuaca." "Maksud kakek?" Tanya Ara yang kini ikut hanyut dalam obrolan. Utomo mengusap puncak kepala cucunya. "Ada suatu hal besar yang terjadi, kakek tidak menahu pasti." Aris menatap keluar jendela, melihat rintik-rintik hujan yang semakin lam

