“Din, bukankah kamu pernah memergoki warga yang memuja patung sekte?” Kini mereka sedang berada di ruang keluarga, berceloteh kesana kemari tentang sekte yang meresahkan tentunya. Setelah kepergian tamu beserta Utomo kini ketiga remaja itu duduk di kursi melingkari meja makan, tak menahu kemana perginya sang kakek. “Ya, aku pernah melihat mereka di suatu tempat di desa ini. Gubuk yang berada di sekitar sungai, disana lah mereka melakukan ritual.” Dinda memutar kembali ingatannya saat ia pertama kali jalan-jalan mengelilingi desa seorang diri tanpa Ara, tak sengaja matanya menangkap aktivitas mencurigakan dari gubuk itu hingga akhirnya ia melihat ritual pemujaan sekte sesat. “Tapi tunggu—apa mereka masih meletakkannya di tempat itu? Secara kini banyak warga lain yang terang-terangan m

