Kehilangan dan Kebangkitan
Hari dimana Dinasti Han berada pada penghujung kejayaan nya, saat itu terjadi kekeringan dan wabah penyakit, namun kekaisaran malah menaikan pajak yang membebani rakyatnya. Banyak rakyat yang mulai merasa mereka berada di neraka akibat penderitaan yang tak berujung. Langit kelabu menggantung berat di atas sebuah desa kecil di wilayah Han. Seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun berlari menembus hujan, napasnya tersengal-sengal. "Ayah! Ayah!" teriaknya panik. Namun terlambat tubuh ayahnya sudah tergantung di balok rumah mereka yang hampir roboh. Xu Ya muda jatuh berlutut, air matanya bercampur dengan tetesan hujan yang tak kunjung reda.
"Mengapa, Ayah? Mengapa?" bisiknya lirih, tangannya gemetar memegang surat terakhir sang ayah yang basah oleh air hujan. Tulisan di atas kertas mulai luntur, namun kata-katanya terukir abadi dalam jiwa Xu Ya: "Maafkan ayah, anakku. Negeri ini telah membusuk. Para pejabat korup memeras kita hingga tak tersisa apa pun. Ayah telah gagal melindungimu..." Ayahnya sang penjual ukiran kayu sudah tidak ada
Kehidupan setelah kematian ayahnya bagaikan mimpi buruk yang tak berujung. Ibunya berjuang sendirian menghidupi mereka, bekerja menjual sayuran sisa hingga tubuhnya tak sanggup lagi. Setiap malam, Xu Ya kecil mendengar ibunya terbatuk-batuk, semakin hari semakin parah. "Xu Ya, anakku," bisik ibunya suatu malam, tangannya yang kurus mengusap rambut Xu Ya dengan lemah. "Berjanjilah pada ibu, kau akan menjadi orang yang kuat. Tapi ingat, kekuatan tanpa keadilan hanyalah kekejaman..."
Kata-kata itu menjadi wasiat terakhir sang ibu. Penyakit dan kelaparan merengut nyawanya, meninggalkan Xu Ya sebatang kara di usia yang masih sangat muda. Beruntung, kakeknya yang sudah renta masih hidup dan mengambilnya. Sang Kakek adalah seorang tukang kayu dan dari kakeknya Xu Ya bisa mengukir ukiran kayu dengan baik.
Di era keemasan Dinasti Han, kakeknya dikenal sebagai pandai besi legendaris yang melayani para jenderal dan komandan terbaik kekaisaran. Bengkelnya yang berada di sudut ibu kota selalu diselimuti asap dan denting besi yang tak pernah berhenti. Tangannya yang kapalan mampu menciptakan senjata-senjata terbaik, membuat para bangsawan dan pejabat tinggi rela mengantri berbulan-bulan untuk pesanan mereka.
Namun, ambisi kakeknnya membawanya pada proyek berbahaya. Setelah mendengar legenda tentang gunung suci yang menyimpan bijih besi ajaib, ia menghabiskan bertahun-tahun untuk mencarinya. Ketika akhirnya menemukan bijih tersebut di kawah gunung berapi yang masih aktif, Kakek nya tahu ia telah menemukan material untuk menciptakan pedang terhebat sepanjang masa.
Selama seratus hari seratus malam, Kakek nya menempa pedang itu. Bijih besi gunung suci dicampur dengan lava yang masih mendidih, ditempa dengan teknik kuno yang nyaris terlupakan. Setiap pukulan palunya diiringi mantra-mantra. Pedang itu akhirnya selesai Chaos Edge, senjata yang konon bisa membelah batu terkeras seperti memotong sutra.
Komandan Liu, pemimpin pasukan elit kekaisaran, menjadi pemilik pertama Chaos Edge. Ia membayar dengan harga yang fantastis, cukup untuk membeli sebuah desa kecil. Namun kebanggaan itu tidak bertahan lama.
Dalam pertempuran pertamanya menggunakan Chaos Edge, sesuatu yang mengerikan terjadi. Karna kurang nya keahlian dari Komandan Liu, Chaos Edge bergerak dengan kecepatan dan kekuatan yang tak terkendali. Komandan Liu kehilangan kendali, dan dalam sekejap mata, ia telah membantai sepuluh prajuritnya sendiri sebelum akhirnya berhasil menghentikan amukan pedang itu.
"Pedang ini dikutuk!" teriak Komandan Liu murka. "Pria itu telah menciptakan senjata iblis!"
Pengadilan kekaisaran segera mengadili Kakek Xu Ya. Para pejabat yang dulu memuja karyanya kini berbalik menuduhnya sebagai pengkhianat yang bekerja sama dengan kekuatan jahat. Hukuman mati nyaris dijatuhkan, namun berkat jasa-jasanya di masa lalu, Kakek Xu Ya 'hanya' diasingkan dan seluruh hartanya disita.
"Ambil semuanya," kata Kakek Xu Ya pasrah. "Tapi biarkan aku membawa Chaos Edge dan kuda kecil hitamku."
Para pejabat, menganggap pedang 'terkutuk' itu tidak bernilai, mengabulkan permintaannya. Mereka tidak tahu bahwa kuda hitam kecil itu, Crimson Phantom, adalah hasil persilangan langka yang akan tumbuh menjadi kuda perang terbaik di dataran Tiongkok.
Kakek Xu Ya meninggalkan ibu kota dengan hanya membawa Chaos Edge dan Crimson Phantom yang masih kecil. Ia memahami bahwa pedang buatannya memang istimewa bukan terkutuk, tapi membutuhkan pengguna dengan jiwa yang kuat dan murni untuk mengendalikannya.
Bertahun-tahun berlalu, Kakek Xu Ya menetap di sebuah desa terpencil, hidup sederhana sebagai pengrajin kayu biasa. Crimson Phantom tumbuh menjadi kuda yang luar biasa, sementara Chaos Edge tersimpan rapat, menunggu pemilik sejati yang mampu mengendalikan kekuatannya.
"Kemarilah, cucuku," panggil sang kakek pada suatu sore, tubuhnya yang kurus bersandar pada dinding gubuk mereka. Di tangannya tergenggam sebilah pedang yang tampak usang namun memancarkan aura misterius. "Ini Chaos Edge, pedang yang ditempa dari besi dan batu lava gunung suci. Dan di luar, ada Crimson Phantom, kuda terbaik yang pernah kakek miliki."
Mata Xu Ya melebar melihat kuda hitam gagah yang berdiri di halaman. Crimson Phantom, dengan mata merahnya yang menyala, seolah menatap langsung ke dalam jiwanya.
"Dengar, Xu Ya," suara kakeknya bergetar. "Negeri ini membutuhkan perubahan. Tapi perubahan tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kehancuran baru. Berjanjilah... berjanjilah kau akan menggunakan kekuatanmu untuk membawa perubahan yang benar..." Kata-kata itu menjadi napas terakhir sang kakek.
Setelah pemakaman sederhana kakeknya, Xu Ya menghabiskan hari-harinya di bengkel kayu yang ditinggalkan sang kakek. Tangannya yang dulu halus kini mulai kapalan, membentuk tulang-tulang yang lebih kuat setiap kali ia mengayunkan kapak dan gergaji. Namun pekerjaan ini hanyalah kedok, di malam hari, jauh di dalam hutan, latihan sebenarnya dimulai.
Chaos Edge terbukti sama liarnya seperti legenda yang diceritakan. Di malam pertama latihannya, pedang itu nyaris memotong lengan kirinya sendiri. Xu Ya terhuyung, darah mengucur dari luka dalam di bahunya, tapi ia tidak menyerah. Crimson Phantom berdiri setia di dekatnya, mata merahnya menyala dalam kegelapan, seolah mengawasi setiap gerakan.
"Aku harus lebih kuat," bisik Xu Ya, membalut lukanya dengan kain seadanya.
Minggu-minggu berlalu. Xu Ya mulai dengan berlatih mengayunkan Chaos Edge melawan batang pohon. Setiap ayunan salah bisa berarti luka baru. Pedang itu seolah memiliki kehendaknya sendiri, selalu mencoba melepaskan diri dari kendalinya. Tangannya penuh luka sayatan, beberapa cukup dalam hingga meninggalkan bekas permanen.
Suatu malam, saat berlatih di tepi sungai, seekor beruang besar muncul dari semak-semak. Xu Ya, yang baru menguasai kendali dasar Chaos Edge, terpaksa menghadapinya. Pertarungan berlangsung sengit. Cakar beruang merobek punggungnya, tapi Chaos Edge akhirnya menemukan sasarannya. Itu adalah pembunuhan pertamanya - bukan untuk makanan atau dendam, tapi murni bertahan hidup.
"Maafkan aku," bisiknya pada bangkai beruang itu, menyadari bahwa setiap kehidupan adalah berharga.
Latihan berkuda dengan Crimson Phantom tak kalah berbahaya. Kuda itu memang luar biasa, tapi juga sangat liar. Berkali-kali Xu Ya terpental, tulang rusuknya patah dua kali, kakinya terkilir begitu sering hingga ia kehilangan hitungan. Namun setiap kali ia jatuh, Crimson Phantom akan berdiri di dekatnya, menunggu ia bangkit kembali.
Tantangan terberat datang saat kawanan serigala mengepung mereka di musim dingin. Salju membuat pegangan pada Chaos Edge menjadi licin, sementara Crimson Phantom kesulitan bergerak di medan bersalju. Xu Ya terluka parah - taring serigala merobek pahanya, sementara Chaos Edge dalam kendali lemahnya malah melukai bahunya sendiri.
"Tidak... aku tidak boleh mati di sini," Xu Ya menggertakkan gigi. Di tengah rasa sakit yang membutakan, ia merasakan sesuatu berubah. Chaos Edge tiba-tiba terasa ringan, bergerak selaras dengan nalurinya. Crimson Phantom bergerak dalam harmoni sempurna dengan gerakannya. Dalam sekejap mata, kawanan serigala itu tercerai berai.
Setelah tiga tahun berlalu, tubuh Xu Ya dipenuhi bekas luka. Setiap goresan menceritakan kisah perjuangannya, luka melintang di punggung dari cakar beruang, bekas gigitan serigala di paha, sayatan-sayatan dari Chaos Edge yang memberontak. Namun matanya kini memancarkan kebijaksanaan yang hanya bisa ditempa oleh penderitaan dan pengorbanan.
Chaos Edge kini bergerak seperti perpanjangan tubuhnya sendiri, tidak lagi memberontak tapi mengalir dalam harmoni sempurna. Crimson Phantom, dengan mata merahnya yang misterius, telah menjadi partner setia yang memahami setiap gerakannya bahkan sebelum ia berpikir.
"Aku siap, Kakek," bisiknya pada angin malam. "Aku siap membawa perubahan yang kau impikan."