Bab 4 Menemui Ibu Tiri

1758 Kata
Celine mencium sekilas punggung tangan Indira saat sudah bertemu sang ibu tiri di rumah peninggalan Harun. Saat ini ada Alika pula. Tampak kedua perempuan itu tidak suka dengan kedatangan si nona. “Sudah,” Indira bersuara, “Kamu duduk lah,” diminta anak tirinya duduk di sofa, lantas duduk di sebelah Alika di sofa, “Ada apa Kamu kemari?” langsung saja memberi pertanyaan setelah si anak duduk, “Bukan kah sudah Saya bilang kamu dan ayahmu tidak boleh kemari lagi?” Celine menjadi pilu, dia tahu Indira melarang dia dan Giovan ke rumah ini untuk alasan apa pun. “Maaf, Bunda,” sahutnya pelan, “Lin terpaksa kemari.” “Hei jangan berbelit ngomongnya!” tukas Alika judes, “Buruan katakan saja ngapain Kamu kemari?” ditanya si kakak dengan suara tidak sopan. “Aku kemari untuk Papa, Alika!” sahut Celine gemas ke adiknya ini, “Papa perlu dipasang ring pada jantungnya!” dilanjutkan perkataan dia. “Hanya untuk itu Kamu kemari? Hais menyebalkan!” “Alika!” si nona menghardik si adik, “Papa itu ayah Kamu, tidak bisa kah kamu prihatin beliau yang sakit?” ditegur keras sang adik. “Sudah-sudah!” sela Indira sebelum Alika membalas perkataan Celine, “Lin, kamu menemui Bunda karena butuh uang untuk Papa kamu kan?” ditatap putri tirinya itu. “Iya, Bunda.” Si nona menganggukan kepala, “Tapi Lin janji akan segera mengembalikan uang itu.” “Mengembalikannya?” tanya Alika dengan nada sinis, “Bagaimana kamu mengembalikan uang yang bernilai puluhan juta?” disindir si kakak yang miskin ini. “Cukup Alika!” sela sang ibu cepat agar Celine tidak membalas semburan Alika, “Lin,” segera mengalihkan diri ke putri tiri ini, “Bunda tidak bisa menolong ayah Kamu.” Indira menghela napas karena sudah berjanji ke diri sendiri tidak perduli ke Giovan. Dia mau dinikahi pria itu karena mengincar kekayaan Harun. “Tapi,” si ibu lalu bicara lagi, “Mungkin Bunda ada jalan lain.” Dipandang Celine yang terlihat pilu saat ini, “Bunda akan pinjam uang ke Tuan Sandiya Lewis.” “Mama?!” Alika terkaget mendengar ini, “Mama ngapain sih pake minjem uang ke orang untuk membantu pria penyakitan itu?” dia protes mengapa sang ibu mau menolong Giovan. “Udah lah biarkan saja dia begitu, lagian sebentar lagi tamat di dunia.” “Alika!” jerit Celine marah mendengar perkataan si adik, “Kamu ingin Papa meninggal? Keterlaluan Kamu!” “So what?” Alika menatap sinis si kakak, “Dia memang penyakitan, tidak akan lama di dunia ini.” “Sudah semuanya!” Indira cepat bersuara lantang menghentikan pertengkaran ini, “Celine,” kembali difokuskan ke Celine, “Bunda akan lakukan itu asal kamu mau menikah sama Tuan Sandiya Lewis.” Celine melongo mendengar ini, “Bunda menjual Lin ke dia?” “Dari pada Papa kamu tidak pasang ring di jantungnya.” “Alah udah jangan sok suci lah,” sela Alika sinis, “Masih bagus Mama menjualmu ke pria aneh itu.” “Aneh maksudmu apa?” Celine memandang si adik dengan heran. “Tidak ada yang pernah melihat dia kayak gimana, itu aneh kan?” Alika memberi jawaban, “Pasti karena dia itu tua, buruk rupa, juga cacat mental, jadi tidak mau menunjukan diri di depan umum.” “Astaga Alika!” Celine terkaget mendengar ini, lantas memandang ke Indira, “Bunda, maaf, jika itu syarat dari Bunda, Lin menolak. Bukan karena Lin anggap Tuan Sandiya Lewis aneh seperti kata Alika, tapi karena Lin tidak mau di jual ke tuan itu.” *** Celine melangkah gontai keluar dari halaman rumah megah Harun, merasa gagal mendapatkan uang untuk biaya pemasangan ring tersebut. Tadinya jika dia tidak kena fitnah, bermaksud meminjam dana tersebut ke Wida, di mana nanti mengembalikan dengan memotong lima puluh persen gaji bulanannya. Tidak jauh dari dia, tampak Arash mengawasi dari dalam mobil. Pria ini tidak mendekati karena sebentar lagi Martin datang menjemput si nona. Dia berhasil menghubungi asisten itu dengan ponsel si nona, minta pria itu menjemput sang gadis di sini. Sejurus kemudian kedua mata dia melihat seorang pria paruh baya mendekati si nona. Dia terlihat lega karena pasti pria itu Martin sebab sang gadis langsung mengenali asisten itu. “Nona,” Martin menegur sang nona yang terheran melihat dia datang, “Ayo kita pulang.” Ujarnya singkat sambil meraih tangan nona besar ini. Dia sudah tahu mengapa nona ini ke Indira, pasti untuk mendapatkan uang membiayai pemasangan ring di jantung Giovan. Celine menghela napas, “Paman tahu dari mana saya kemari?” Martin tersenyum tipis, “Paman ini juga ayah Anda, pasti tau Anda di mana,” ujarnya bijak karena Arash berpesan dia tidak boleh mengatakan ke si nona, bahwa Arash yang meminta dia kemari. Celine kembali menghela napas, lantas membawa mereka jalan menuju mobil jip milik Giovan. Martin berhasil mengambil mobil itu dari rumah Indira, dan mampu membuat perempuan itu tidak protes. Dia juga berhasil mempertahankan mobil itu agar tidak terjual atau tergadai demi berobat Giovan. Karena Giovan membutuhkan kendaraan untuk mengantar ke rumah sakit kapan pun. Biar lah dia kerja keras untuk sang presdir dan Celine. Arash yang masih mengawasi Celine melihat kedua orang itu ke jip mewah milik Giovan. Hatinya semakin penasaran ingin tahu siapa si nona sebenarnya. *** Arash masuk ke dalam kamar berdesain country yang nyaman seperti kamar di villa di kawasan lereng perbukitan. Diletakan kunci mobil, dan ponsel ke atas bufet di salah satu sisi tempat tidur, lantas segera ke dressing room kamar ini. Setibanya di sana, diambil kaos oblong polos dan celana pendek boxer dari lemari pakaian dalam, diletakan ke atas meja rias, lantas ke kamar mandi yang berada di wilayah dressing room ini. Tidak lama dia menyiapkan air mandi yang dicampur oil soap aromaterapi di jazuci, baru melepas seluruh pakaian di badan. Ditaruh semua pakaian itu ke dalam keranjang pakaian kotor, lantas masuk ke dalam jazuci. Direndam diri dalam air beraroma harum tersebut. Punggung dia bersandar di salah satu permukaan jazuci. ‘Gadis itu,’ bisik hati dia teringat Celine, ‘Memiliki inner beauty sangat bagus selain wajah cantik dan bentuk tubuh yang indah. Meski tinggi dia sekitar seratus lima puluh lima centimeter saja,’ dijabarkan bentuk fisik si nona yang menarik hati dan diingat baik dalam pikiran. Satu tangannya mulai membasuh permukaan kulit dengan air sabun di mana alam pikiran masih tertuju ke Celine. ‘Lin,’ disebut nama kecil Celine, ‘Mimpi apa aku kemarin malam ya, bisa bertemu kamu, lantas menjadi dewa penolongmu?’ desahnya tidak habis pikir, ‘Tapi tidak mengapa karena mimpi itu bagus.’ Kekehnya senang karena mendapat mimpi yang indah bertemu Celine, lantas menjadi dewa penolong si nona. Dia sudah merasa cukup membasuh tubuh dengan air sabun, kembali merilekskan pikiran yang dipenuhi golakan rasa sejak bertemu Celine. Dia yang mati rasa setelah menyandang status duda, kini dihidupkan kembali semua rasa. Rasa tertarik, rasa menolong, rasa marah, rasa melindungi, dan rasa ingin terus di dekat si nona. ‘Dia dari keluarga berada,’ dia masih mengingat si nona, ‘Tapi tinggal di rumah petakan yang sangat sederhana di kawasan Tebet tidak jauh dari rumah ibu tirinya,’ ujarnya karena tadi mengutit kemana mobil Martin melaju. ‘Apa orang tua dia bercerai, lantas dia ikut ayahnya? Apa ibu tiri itu menguasai semua harta keluarga mereka? Atau kah harta itu memang punya si ibu tiri, jadi tidak layak diberikan ke ayahnya dan dia?’ dia menerka-nerka seperti apa kehidupan si nona. Sejurus kemudian terdengar suara ketukan dari pintu kamar mandi yang sebagian terbuka disertakan suara Steve. “Tuan Muda!” Lamunan Arash buyar, terpaksa dibikin bersambung demi merespon sang asisten yang pasti hendak melapor. “Masuk, Steve!” dia meminta asistennya masuk, “Kemari lah!” imbuh dia menyuruh mendekat. Steve segera masuk dan mendekati si tuan muda yang berusia tiga puluh lima tahun ini, berdiri di depan jazuci. “Gimana, Steve?” Arash memulai pembicaraan, “Apa sudah kamu kasih pelajaran ke Riko dan Karina?” ditanya apakah si asisten sudah mengerjakan tugas yang diberikan dia. “Sudah, Tuan,” sahut sang asisten lantas menceritakan bagaimana dia memberi pelajaran ke Riko dan Karina yang membuat nama baik Celine tercemar dan kehilangan pekerjaan. “Good!” Arash puas mendengar cerita asistennya, “Itu harga yang harus mereka terima karena sembarangan memecat Lin tanpa menyelidiki lebih jauh fitnah yang di dengar.” ujarnya dengan suara kemenangan. “Tuan,” Steve bicara lagi, “Maaf, mengapa Anda melakukan semua ini? Anda tidak kenal siapa Nona Lin.” Arash terkesiap karena pertanyaan ini sangat masuk akal. Dia tidak mengenal Celine, tapi membalas kesakitan si nona. Pelan satu tangannya memercikan air sabun ke d***. “Steve,” dia bersuara, “Tidak perlu kamu pertanyakan, karena apa pun yang ingin saya kerjakan, pasti saya lakukan.” “Maafkan Saya, Tuan,” Steve menghela napas, “Saya bertanya karena Anda kan sudah berjanji ke Tuan Besar untuk menikah sama nona Celine Ayuna Pratama cucu tertua Tuan Harun Pratama sahabat Tuan Besar.” “Lantas, masalahnya apa?” “Saya merasa Anda naksir Nona Lin.” Arash terkesiap mendengar ini lalu tampak berpikir. Apa dia naksir Celine yang dikenal bernama Lin? “Tuan, benar kan yang Saya rasa itu?” Sang presdir terkesiap lagi, lantas, “Memang masalah jika Saya naksir Lin? Inner beauty dia sangat menarik hati Saya, membuat saya tergerak menolong dia dari kesulitan.” “Tapi gimana sama janji Anda ke Tuan Besar?” Steve kembali mengingat janji sang atasan ke James, “Lantas saya baru dapat kabar dari Pak Damar, Tuan Besar menyebar kabar bahwa Anda sedang mencari jodoh ke beberapa grup bisnis.” Arash tersentak kaget mendengar ini, dialihkan pandangan ke sang asisten. “Apa katamu? Opa melakukan itu? Untuk apa? Aku dimintanya menikahi Celine cucu Tuan Harun, mengapa menyebarkan kabar itu?” “Menurut Pak Damar, agar Anda bisa menemukan Nona Celine di antara para calon jodoh yang mendaftar ke pencarian jodoh tersebut.” “Astaga!” sang presdir menepuk sekali kening, “Apa berita ini di dengar pula oleh Nyonya Indira mantan menantu Tuan Harun?” “Pastinya sudah, Tuan, karena beliau kan member di salah satu grup bisnis.” “Astaga!” tuan muda kembali menepuk kening, “Hais Opa ngaco ini. Bisa-bisa Indira membenamkan Celine putri tirinya agar Alika yang disodorkan ke Aku!” “Jika Anda cemas itu terjadi,” sela Steve, “Baiknya Anda berhenti mendekati Nona Lin, segera lah mengadakan pesta jodoh agar Nyonya Indira bisa Anda desak mengatakan di mana Nona Celine berada.” Arash terhenyak, bagaimana bisa dia menjauhi perempuan bernama Lin yang sudah mengisi hati dan pikiran saat ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN