Bab 1 Difitnah Mencuri
Celine tergesa masuk ke Circle Cafe yang berada di Circle Golf dengan seragam berupa stelan kaos lengan pendek dan celana short pants jeans. Di kepalanya ada visor hat golf dengan logo Circle Golf. Dia menggantikan Rina di desk kasir.
“Lin,” Rina menegur Celine yang dipanggil dengan Lin, “Gimana bokap loe? Kapan direncanakan untuk operasi pemasangan ring di jantungnya?” memandang gadis mungil itu yang sedang menghitung jumlah uang di tiap slot boks di mesin kasir.
Celine terdiam diberi pertanyaan ini, teringat Giovan sang ayah yang sakit jantung. Dia adalah putri sulung pria itu dari Fitri istri pertama ayahnya. Sang ayah adalah presiden direktur Victory Company warisan Harun Pratama pemilik perusahaan itu.
Empat tahun silam, Indira istri kedua pria itu mengambil paksa perusahaan, lantas menggugat cerai sang presdir. Kejadian tersebut sangat memukul tuan billionaire sehingga terkena serangan jantung. Bukan hanya itu saja yang diberikan Indira ke Giovan, perempuan itu mengusir sang suami dan Celine dari rumah Harun.
Bahkan Alika putri Giovan dari Indira mengambil paksa butik pakaian milik Celine, padahal butik itu susah payah dibangun Celine dari masih SMU, karena gadis ini menyukai mendesain pakaian dan menekuni dunia itu.
“Mbak,” Celine mulai bersuara, “Bokap baik saja, menunggu gue dan Paman Martin mengumpulkan dana untuk operasi dan pasca operasi.”
Rina menghela napas, merasa mengilu karena sudah mengetahui penyebab Giovan mendapat sakit jantung, dan Celine berjuang setiap hari untuk menafkahi dan membiayai berobat si ayah. Gadis itu beruntung karena dibantu Martin asisten sang ayah dalam menyambung hidup dan membiayai berobat ayahnya.
“Lin, coba loe minjam ke Bu Wida dengan potong gaji.” Rina memandang Celine yang terlihat pilu.
“Ngga bisa, Mbak, kasbonan gue bulan lalu masih belum lunas.”
Celine bulan lalu meminjam sebesar lima belas juta Rupiah untuk Giovan melakukan pengecekan jantung di Cath Lab di rumah sakit Dharma Harapan. Rina menghela napas mendengar ini karena mengetahui si nona memang meminjam uang bulan lalu.
“Ah sudahlah!” Celine bersuara lagi, “Mbak ngga perlu ikut memikirkan soal itu,” ujarnya memandang Rina yang tulus berteman dengan dia dari dua tahun silam di Circle Golf ini.
Rina menganggukan kepala, “Gue ke Bu Wida dulu ya untuk laporan kasir.” Dia segera berpamitan, “Ah ya, gue sudah taruh dua juta di mesin kasir ya.”
“Oke,” Celine paham, “Makasih Mbak perduli ke Papa Aku.”
Rina tersenyum sambil sedikit menepuk sayang kepala si nona, lantas pergi sambil menentang boks uang yang tersegel.
Sejurus kemudian terdengar suara pria menyapa si nona dari arah depan mesin kasir.
“Siang, Mbak.”
Celine terkesiap segera mengalihkan pandangan ke depan, dan menemukan seorang pria tampan yang baby face yang bertubuh atletis dan tinggi sekitar seratus tujuh puluh lima centimeter. Pria ini menggenakan kaos sport dan celana panjang kargo dari katun.
“Siang, Tuan.” Sahut sang nona ramah, “Anda mau pesan makan siang, cemilan, atau minuman?” langsung menawarkan jasa layanan makanan di Circle cafe sambil menunjuk ke buku menu di meja. “Silahkan Anda melihat menu-menu yang ada, agar bisa memutuskan memesan apa ke Kami.”
Pria ini tersenyum mendengar cara si nona melayani customer, lantas menggeser badan sambil mengambil satu buku menu. Namun kedua matanya mengamati sang gadis diam-diam, sampai mengetahui kalau gadis ini bertubuh mungil sebab kedua kaki menjejak dipermukaan bangku plastik.
Setelah itu dia melihat-lihat menu yang ada, tapi sesekali mencuri pandang ke Celine yang menanti dengan sabar dan tidak menyadari tengah diamatinya. Pandangan pria ini tidak genit hanya terlihat tertarik ke sosok si nona. Lantas tadi mendengar percakapan gadis ini dengan Rina.
“Emm,” dia mulai bersuara, “Saya pesan satu Strudel Apel,” disebutkan apa yang ingin dipesan ke Celine, “Sama Caramel Coffee yang medium.”
“Baik, Tuan.” Si nona paham, lantas mengakses mesin kasir, mencatat apa yang di pesan pria itu, “Satu Strudel Apel dan Caramel Coffee Medium,” disebutkan pesanan tersebut, “Adalagi yang Anda ingin tambahkan, Tuan?” dialihkan pandangan ke si ganteng di depannya.
“Itu saja, Mbak Lin.” Sahut sang tuan muda tersenyum, “Nama Kamu, Lin kan?” dia menunjuk tag name yang terpasang di kaos yang dipakai Celine.
Celine mengarahkan pandangan sekilas ke tag name itu, lantas tersenyum ke pria tersebut.
“Iya, Tuan, nama Saya Lin.”
“Nama yang mudah di ucap dan di ingat.” Pria ini tersenyum, “Baik Mbak Lin, itu saja pesanan Saya.” Dikembalikan pembicaraan ke tema awal, “Berapa yang harus saya bayar untuk semua itu?” tanyanya sambil menarik keluar dompet dari saku belakang celana.
“Baik Tuan, mohon ditunggu sebentar.” Sahut Celine sopan, segera mengakses total harga pesanan sang tuan, “Tuan, totalnya jadi seratus ribu Rupiah sudah termasuk tax.” Lantas memberitahu hasil pengaksesan mesin kasir, “Maaf, Anda membayar dengan uang tunai, kartu Debit, atau kartu Kredit?” dipandang pria itu dengan ramah.
“Cash saja.” Pria itu segera mengeluarkan beberapa helai uang seratus ribu dari dompet, diberikan ke Celine.
Si nona terkesiap melihat semua uang itu, lantas, “Tuan, maaf, total pesanan Anda itu hanya seratus,” ujarnya merasa si tuan memberi uang lebih dari total belanja, “Anda memberikan uang lebih dari itu.”
“Tidak mengapa,” sahut tuan ini tersenyum, “Sisanya tip untuk kamu.”
“Untuk Saya?” si nona menunjuk diri sendiri, “Maaf Tuan, Kami yang bekerja di Circle cafe ini tidak menerima tip dari customer,” menolak dikasih tip.
“Ambil Nona.” Bujuk pria itu tulus memberi tip ke gadis ini. “Tip ini bisa untuk Kamu beli makanan. Kamu mungil, Nona.”
Celine terkesiap mendengar penuturan pria itu, segera mengecek diri sendiri, lantas memandang si tuan yang sedang menulis sesuatu di blok note di meja.
“Tuan, Saya dari kecil udah mungil, ngga bisa dibikin melar meski makan banyak sekali pun.” Tuturnya polos.
Pria ini selesai menulis sedikit tersenyum geli, “Nona, ambil saja tip dari Saya,” kekehnya tidak membahas lebih jauh mengenai tubuh mungil si nona sambil menyodorkan uang yang sedari tadi belum di ambil gadis ini, “Ah ya nanti tolong Anda yang mengantar pesanan Saya ke sana itu.” Dikembangkan pembicaraan sambil menunjuk meja yang berada di dekat jendela, “Saya duduk di sana.” Imbuhnya sambil menyobek halaman blok note yang berisi tulisannya, diselipkan ke atas helaian uang ditangannya.
“Baik, Tuan.” Celine paham, dengan berat mengambil uang tersebut, “Tuan, terima kasih atas tip Anda ini.”
Pria ini menganggukan kepala, lantas meninggalkan si nona. Setelah itu sang gadis menghitung jumlah uang yang diberikan sang tuan muda misterius itu.
“Astaga!” dia terkaget karena jumlahnya satu juta seratus ribu Rupiah, lantas mengecek kertas yang terselip di semua uang tersebut, dibacanya, lalu melihat ke pria itu yang duduk di kursi meja customer yang ditunjuk si pria. “Anda mendengar obrolan Saya ama Mbak Rina rupanya.” Dia baru menyadari mengapa sang tuan muda memberinya tip sangat banyak, karena tulisan yang dibaca mengatakan uang itu sedikit bantuan untuk Giovan.
***
Satu tamparan keras mendarat di wajah cantik Celine yang berasal dari Wida pemilik Circle Golf ini. Si nona selepas mengantar pesanan tuan misterius itu dipanggil ke ruangan perempuan itu. Sampai di sana sang atasan mengatakan dia mengambil uang dari mesin kasir dua hari yang lalu. Dia membantah tuduhan itu karena tidak melakukannya, dan mendapat tamparan dari si bos.
Di ruangan ini ada pula Riko suami Wida dan Karina salah satu Manager On Duty.
Celine mengangkat wajahnya yang terhempas karena ditampar keras Wida, ditatap perempuan itu dengan berani,
“Eee,” Wida menjadi kesal ditatap seperti ini, “Berani kamu memandang saya dengan galak, hmm?” dipelototin Celine dengan wajah kesal.
“Tentu Saya berani,” sahut si nona dengan berani, “Saya tidak mengambil uang dari boks kasir,” ujarnya kembali membela diri, “Ibu tanyakan saja ke Mbak Karina, karena hari itu saya sudah berikan semua uang dalam boks kasir.” Imbuhnya menunjuk Karina.
“Wida,” sela Riko, “Anak ini masih saja berbohong ke kita, padahal saya melihat sendiri saat dia mengambil uang itu.”
Celine terperangah lantas, “Bapak yang bohong!” serunya berani, “Saat Saya menemui Mbak Karina, bapak sedang di dalam ruangan ini kan?” dipandang suami atasannya ini dengan geram sambil menunjuk ruangan ini, “Gimana Bapak melihat Saya mengambil uang tersebut?”
“Udah lah Celine,” sela Karina cepat, “Lebih baik mengaku saja, dari pada Bu Wida mengirimmu ke Polisi,” diminta agar Celine mengaku, “Lantas mengaku juga lah, setelah kamu mengambil uang itu, kamu menemui Pak Riko. Kamu merayu beliau agar tidak memberitahu ke Bu Wida mengenai hal itu.”
Celine kembali terperangah. Cerita macam apa semua ini? Dia sambil mengingat-ingat kejadian hari itu, lantas.
“Saya paham sekarang,” ujarnya, “Malam itu saat Pak Riko memanggil saya ke ruangan ini, lantas beliau merayu saya, Mbak melihatnya.”
Karina tersentak kaget mendengar ini, hendak menukas, tapi si nona cepat melanjutkan perkataannya.
“Mbak merasa sakit hati,” ujar si nona, “Karena Pak Riko sugar daddy kamu merayu Saya,” dijelaskan lebih jauh hasil analisa pikiran cerdasnya setelah mengingat-ingat kejadian malam itu,
Karina tersentak kaget lagi, lantas, “Kamu ngomong apa sih? Jangan sembarangan bicara di sini!” serunya dengan wajah sedikit panik.
Dia memang seperti yang dikatakan Celine, simpanan Riko. Si nona bisa tahu karena tanpa sengaja melihat dia tengah nganu di ruangan ini. Pasangan gelap itu mengira semua karyawan sudah pulang, lantas langsung main tanpa merapatkan pintu. Padahal Celine masih ada di cafe, hendak menemui dia untuk menyerahkan uang dari boks kasir.
“Saya bicara sebenarnya,” sahut Celine memandang sinis Karina, “Karena Saya melihat sendiri saat kamu nganu sama Pak Riko di kursi itu,” ujarnya menunjuk kursi kerja Wida yang ada di belakang mereka saat ini, “Saat itu saya mencari kamu, hendak menyerahkan penghasilan cafe, melintas depan ruangan ini yang pintunya tidak ditutup rapat. Lantas telinga saya mendengar desahan mesra kalian, membuat Saya jadi penasaran, mengitip dan tampak lah adegan syur kalian.” Dituturkan semua yang dilketahui di depan Wida.
Karina dan Riko terhenyak, berbarengan menelan saliva. Sedangkan Wida memandang heran Celine, baru kali ini si nona yang pendiam, bisa mengetahui hal yang tidak diketahui olehnya.
“Ternyata,” suara Celine masih terdengar, “Pak Riko tidak puas denganmu, lantas mengincar Saya,” ujarnya sinis ke Riko yang terhenyak mendengar penuturan tersebut, “Malam itu, setelah Saya melaporkan keuangan ke Mbak Karina, beliau memanggil saya, lantas mencoba menaklukan saya.” dijelaskan kejadian malam yang membuat dia dituduh mencuri uang dari boks kasir, “Saat itu Kamu mendengar teriakan saya minta tolong, juga melihat saya terbirit lari dari ruangan ini,” tutur dia sambil mengalihkan pandangan ke Karina, “Lantas Kamu menemui Pak Riko, kalian bertengkar, dan memutuskan menjebak Saya dengan kasus mengambil uang dari boks kasir.”
Karina terhenyak mendengar semua ini, tidak menyangka Celine bisa mengetahui semua ini, padahal si nona sudah terbirit pergi dari cafe setelah berhasil melepaskan diri dari Riko.
“Kamu bohong!” seru Riko dengan lantang, “Kamu yang menggoda saya malam itu untuk menutupi kelakuan kamu mengambil uang dari boks kasir!” dibela dirinya.
“Dia memang pembohong!” timpal Karina cepat ikut membela diri, “Udah Bu Wida,” dipandang Wida yang tampak berpikir setelah mendengar semua penuturan Celine tersebut, “Ibu bawa saja dia ke Polisi, biar di penjara! Sudah mencuri uang, mengarang cerita bohong yang menjijikan,” imbuhnya minta sang atasan membawa sang gadis ke Polisi, “Dia melakukan semua ini demi menutupi kelakuan jahatnya!”
“Cukup!” jerit Wida menjadi senewen karena terjadi adu debat, “Sudah cukup!” dipandang semua orang di sini, “Celine,” lantas memanggil Celine, “Mengingat ayah kamu sedang sakit parah, maka saya tidak melaporkan Kamu ke Polisi,” ujarnya sambil menghela napas, “Saya hanya pecat kamu dari cafe ini!”
Celine terperangah mendengar keputusan Wida. Bagaimana nasib Giovan jika dia dipecat dari Circle cafe?