Bab 2 Menolong Nona Mungil

1581 Kata
Arash mengemudikan Jaguarnya meninggalkan Circle Golf tanpa dikawal Steve asisten dan para ajudannya. Tampak wajah billionaire yang berstatus duda tanpa anak ini berpikir. Sang kakek minta dia menikahi Celine Ayuna Pratama cucu sulung Harun sahabat karib si kakek. Di masa lalu sebelum Harun meninggal, memohon ke James agar menikahkan Arash dengan Celine, karena Harun feeling Indira menantu keduanya akan merebut Victory Company dari Giovan. Jika Arash menikahi Celine, maka kelak sang cucu bisa merebut kembali Victory Company dari tangan Indira dengan bantuan Arash. Arash mengurut sedikit keningnya yang terasa pening karena dia trauma menikahi perempuan billionaire, apalagi sang kakek bilang agar dia membantu Celine merebut kembali Victory Company dari Indira. Lantas dia sendiri mendengar sejak Indira menguasai Victory Company, keberadaan Giovan dan Celine tidak diketahui di mana. Jika dia menanyakan itu ke Indira, dia yakin perempuan itu akan menawarkan Alika adik Celine. Dia tidak mau itu, karena sudah banyak mendengar perangai buruk Alika, apalagi perempuan itu petualang ranjang, beberapa kali aborsi pula. Tidak banget Arash menikahi perempuan seperti itu. Setelah mengurut keningnya, kedua matanya kembali fokus ke jalan di depan, lantas terbelalak kaget karena melihat Celine dikejar-kejar beberapa pria berbadan kekar. “Nona Lin?” dia mengenali si nona yang melayaninya di Circle cafe, “Kenapa dia dikejar-kejar banyak pria?” merasa aneh melihat gadis mungil ini berlari ketakutan. Arash memacu mobil ke arah para pria yang mengejar Celine, lantas saat si nona menghindar, cepat dibelokan kereta besi tersebut di depan para pengejar gadis itu. Tidak lama dia turun dari mobil, memandang semua pria tersebut dengan berani. Celine yang berada di belakang mobil, perlahan mendekati pria itu, bisik lirih, “Tuan, tolong aku.” Arash mengalihkan pandangan ke gadis malang tersebut, merasa iba. Sang nona melihat tuan muda itu terkaget, hendak bersuara tapi cepat pria itu bicara. “Kamu tenang ya,” bisik Arash ke gadis ini, “Aku pasti menolong kamu.” Imbuhnya tergerak menolong si nona. “Terima kasih, Tuan,” bisik Celine mengucapkan terima kasih. Dia mengenali Arash, karena pria ini yang memberinya tip senilai satu juta tersebut. Arash menganggukan kepala, lantas melepas arloji dari pergelangan tangan kanannya, diberikan ke si nona. “Tuan?!” Celine melongo menerima arloji ini, “Maksudnya apa ini?” “Pegang dulu sama kamu,” sahut pria itu, “Aku mau menghajar mereka tanpa merusak arlojiku itu.” Celine melongo lagi, lantas pelan menganggukan kepala, paham penjelasan pria tersebut. “Hei kamu!” sejurus kemudian terdengar suara salah satu pria yang mengejar si nona, “Baiknya minggir saja! Nona itu milik kami!” diminta Arash tidak ikut campur urusan mereka dengan Celine. Mendengar ini si nona perlahan merapat ke sisi belakang lengan pria tersebut, wajahnya tampak ketakutan. Para pria itu utusan Riko untuk memberi si nona pelajaran pahit, dengan digilir. Celine pun dihadang ketika hendak ke parkiran motor, lalu berusaha ditangkap, tapi si nona melakukan perlawanan dengan memukuli mereka pakai tas miliknya, lantas terbirit lari. Arash melirik ke si nona, pelan menghela napas semakin tidak tega ke nona ini. Diraih tangan gadis ini, digenggamnya sebagai isyarat agar tidak perlu takut karena dia pasti melindungi. “Hais!” dia mulai bersuara di mana kini memandang para pria itu, “Nona ini milik kalian?” ditunjuk Celine dengan tangan lainnya, “Nona ini milikku, karena dia istriku!” serunya mengarang cerita bahwa si nona adalah istri dia. Celine melongo mendengar ini, dipandang wajah ganteng sang pria. Sejak kapan dia menikah sama pria ini? “Kamu,” Arash tersadar si nona terheran cepat ditegur, “Baiknya masuk ke dalam mobilku,” lantas meminta nona tersebut masuk ke dalam mobil di belakang mereka, “Biar kuberi mereka itu pelajaran,” imbuhnya menunjuk ke para pria yang terheran-heran mendengar dia mengatakan nona ini istri. Celine menghela napas merasa tidak ada pilihan, cepat melepas genggaman tangan sang tuan ganteng, bergegas masuk ke dalam mobil. Dia pun segera menurunkan kaca jendela agar melihat apa yang akan terjadi. “Hei kalian!” seru Arash lantang ke para pria itu, “Karena kalian kurangajar ke istri Aku, maka kuberi kalian hadiah!” serunya lantas bergerak ke para pria itu dan dengan gerakan cepat memberi hadiah pukulan dan tendangan kungfu ke mereka, bahkan gesit menahan serta membalikan serangan. Celine melongo melihat aksi pria ini yang seperti Jackie Chan aktor laga legendaris. Mimpi apa dia kemarin malam bisa ditolong pendekar ganteng saat ini? Tidak lama para pria yang diberi hadiah sama Arash bergeletakan kesakitan di aspal jalan. Sang tuan muda mendengus memandang sinis para pria itu yang hanya preman kroco. Dia segera masuk ke dalam mobil melalui pintu lain, lantas cepat menutup kaca jendela di pintu sebelah Celine duduk, kemudian memasangkan seat belts ke tubuh si nona. Gadis ini hanya melongo melihat semua yang dikerjakan sang tuan muda. Lebih melongo saat pria ini bicara. “Ayo jalankan mobil ini.” Celine dengan polos menunjuk ke diri sendiri, lantas menunjuk stir mobil di depan dia. “Iya,” Arash paham isyarat tersebut, “Kamu tinggal lajukan saja mobil ini,” ujarnya melepas rem tangan, “Hei kok terus melongo?” ditegur si nona yang masih melongo melihat aksinya ini. “Aku tidak bisa nyetir mobil Jaguar, Tuan.” Sahut Celine pelan. “Kamu bisa karena mengenali mobil ini Jaguar,” Arash bicara dengan wajah serius, “Ayo lekaslah, biar kuantar kamu pulang ke rumahmu, dan kamu balurkan minyak kayu putih ke tanganku yang pegal menghajar para pengejarmu.” Sambil memamerkan kedua tangan kekarnya ke si nona. Celine menghela napas merasa pria ini tidak waras, tapi karena sudah menyelamatkan dia, terpaksalah diikutin. Dia beruntung bisa mengemudikan mobil model apa pun karena sejak remaja sudah diajarkan oleh Giovan lewat tangan Martin. Dioprok arloji mahal ke tangan pria itu dengan wajah gemas, segera menarik tuas transmisi ke posisi R, lantas memundurkan mobil perlahan, baru membelokan stir agar moncong mobil berada ke depan jalan, setelah itu transmisi dipindah ke D1 agar mobil bisa dilajukan meninggalkan tempat ini. Arash sedari tadi mengamati tampak kagum. Dia sebenarnya asal bicara saja, tidak bermaksud meminta si nona mengemudikan mobil ini. Namun sang gadis menanggapi serius, sehingga menunjukan kemampuan bisa menyetir mobil matic ini. Dia segera memasangkan arloji ke pergelangan tangan kanannya. ‘Gadis ini bukan perempuan biasa, meski penampilannya sangat sederhana,’ bisik hati pria ini mulai menilai sosok si nona yang mengemudi dengan santai mobil di jalan raya. ‘Menarik ini,’ tampak wajahnya tersenyum karena merasa sosok gadis ini menarik. Celine menyadari diamati pria ini, sekilas melihat ke sang presdir, “Tuan, terima kasih sudah menolong saya,” ujarnya tulus, “Terima kasih juga karena Anda memberi tip untuk Ayah Saya.” Imbuh dia mengucapkan pula terima kasih atas tip tersebut. Arash tersenyum mendengar ucapan ini, “Sama-sama.” Sahutnya, “Maaf, siapa mereka? Aku merasa mereka mengejarmu untuk sesuatu yang buruk ke kamu.” “Mereka orangnya Pak Riko.” “Pak Riko? Siapa dia?” “Suami atasan Saya di tempat Saya bekerja.” “I see,” Arash paham, “Kamu ada berselisih dengan beliau?” Celine terkesiap, lantas menghela napas pelan, “Panjang ceritanya, Tuan, dan maaf Saya tidak bisa mengatakan itu.” Arash tersenyum, “Tidak mengapa,” paham Celine masih belum mengenal dia, “Ah ya, mana barang-barangmu? Kulihat kamu berlari tanpa membawa apa pun.” Celine terkesiap mendengar ini, mulai tersadar tidak membawa barang miliknya berupa tas dan motor. “Semua barang saya,” lirihnya, “Tertinggal di parkiran Circle Golf, karena Saya terbirit melarikan diri,” dijelaskan di mana barang-barangnya tersebut, “Entah apakah masih ada di sana, atau sudah hilang.” Arash menyimak ini menjadi mengilu, “Kita ke sana ya, ambil barang-barangmu, semoga masih milikmu.” “Saya tidak berani, Tuan. Takut bertemu mereka atau Pak Riko.” Celine menggelengkan sedikit kepala, “Sudah, nanti Saya telpon Paman Martin, minta beliau yang mengambil semua barang itu yang semoga masih milik Saya.” “Paman Martin? Siapa dia?” “Adik ayah Saya,” sahut Celine mengatakan Martin adalah adik Giovan, karena selama ini sang ayah menganggap asisten setia itu sebagai adik. “Huk!” tahu-tahu dia bertahak, segera menepikan mobil, lantas bergegas membuka pintu mobil, tidak lama dia muntah-muntah. “Astaga!” Arash terkaget, segera melepas seat belt dari badan Celine, lantas mengurut-urut pelan tekuk si gadis, “Muntahkan semuanya, Nona, biar angin dalam badanmu keluar.” Diberi instruksi ke sang gadis. Celine memang memuntahkan semua isi perutnya yang kosong akibat tidak diisi makanan apa pun sejak meninggalkan rumah kontrakan. Padahal Martin sudah membelikan sebungkus nasi uduk kesukaannya, bahkan membekali sekotak roti dalam tas. Tidak lama dia selesai menguras isi perut, menyandarkan punggung ke sandaran kursi mobil. Arash cepat mengambil sebotol air mineral bersegel dari kantung belakang sarung kursi yang diduduki si nona, setelah itu diminta gadis tersebut minum. “Minum, lalu kumur, dan buang ke jalanan.” Celine memandang botol air, lantas mengambil dari tangan pria itu, segera meminum seteguk air, dikumur, baru dimuntahkan ke jalan. “Sekarang minum airnya,” Arash memberi instruksi lanjutan, “Biar tenggorokan kamu lega. Lantas kita cari makanan untuk kamu mengisi perut.” Kembali si nona patuh ke Arash, diminum beberapa teguk air dari botol, lantas memberikan botol tersebut ke pria itu. “Terima kasih, Tuan.” Diucapkan terima kasih ke sang pria, lantas tubuhnya terkulai ke depan, tidak lama pingsan di d*** pria itu yang cepat menangkap tubuh dia tadi. “Astaga!” Arash terhenyak, “Nona! Nona!” ditepuk-tepuk pelan wajah cantik gadis ini, “Nona! Tuhanku, dia bukan sekedar masuk angin ini,” ujarnya karena merasakan kulit wajah si nona sedikit panas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN