"Aku mau kerja lagi, Kak," ucap Nadia setelah menghabiskan makan siangnya.
"Ya, silakan. Aku juga mau balik ke kantor," sahut Darren. "Nanti pulangnya naik taksi saja, jangan bareng Renaldy lagi."
Gadis itu mengangguk singkat, tanpa menjawab apa-apa lagi, dia langsung melangkah ke dalam butik dan melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Darren juga kembali ke parkiran restoran dan segera naik ke dalam mobilnya. Bibirnya mengulas senyum tipis, setidaknya dia sudah menggagalkan acara pendekatan Renaldy.
"Anda terlihat bahagia, Pak," ucap Jacob.
Darren terkekeh singkat, asisten pribadinya itu memang menunggu di dekat gerobak mie ayam sejak tadi. Niatnya adalah untuk memastikan keselamatan Darren, tanpa sadar mencuri dengar percakapan atasannya itu dengan Nadia.
"Dia adik iparku, sekarang menjadi tanggung jawabku. Selama dia belum bisa menjaga dirinya sendiri, maka akulah yang harus memastikan keselamatannya," sahut Darren.
Jacob tersenyum simpul sambil mengangguk.
"Nanti kau urus pendaftaran kelas bela diri untuk Nadia, pastikan juga pelatihnya benar-benar kompeten. Aku mau dia menjadi wanita tangguh," katanya lagi.
"Baik, Pak. Saya akan melakukannya hari ini juga."
"Bagus," ucap Darren seraya mengambil tablet dari dalam tas.
Pria itu mengecek beberapa email pekerjaan yang masuk, ada salah satu email dari kantor perusahaan Anton yang langsung menarik perhatiannya.
Darren membuka email itu, ternyata Anton menawarkan kerjasama.
"Ini kesempatan bagus. Aku bisa lebih leluasa mendekati Raka, syukur-syukur kalau aku bisa menyadap ponselnya," gumam pria itu.
Darren langsung mengiyakan, mereka akan bertemu tiga hari lagi, yaitu saat dia pulang ke kota tempat istrinya tinggal.
Mobil berhenti di parkiran kantor dan Darren lekas masuk. Dia dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, sebelum jam lima dia harus sudah sampai di gedung apartemen untuk melihat dengan siapa adik iparnya itu pulang.
Kalau Nadia masih nekat pulang bersama Renaldy, maka dia tidak bisa tinggal diam. Bukannya mau berlebihan, tetapi Darren benar-benar tidak rela Nadia harus bersama pria lain.
"Siapa yang menelepon jam segini?" ujar pria itu saat merasakan ponselnya terus bergetar.
Tangannya kembali merogoh tas dan mendapati nama ibu mertuanya di layar ponsel.
"Halo, Bu," ucapnya saat baru saja menggeser ikon hijau.
"Ibu mengganggumu atau tidak, Nak Darren?" tanya Mella dari seberang telepon.
"Tidak, mana ada ibu menggangguku. Ada yang bisa aku bantu, Bu?"
Darren berusaha berbicara seramah mungkin, siapa tahu ibu mertuanya itu bisa menguntungkannya.
"Iya, Nak Darren. Tapi Ibu takut banget mau ngomong." Nada bicara Mella terdengar sangat lirih dan memelas.
"Bicara saja tidak apa-apa. Memangnya ada apa, Bu?"
"Ah, begini ... kamu ada uang seratus dua puluh juta atau tidak? Ibu kemarin sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayar jasa WO yang mengurus pernikahan Nadia, tapi karena Nadia gagal nikah, jadi kami bingung harus membayar hutang ke temannya ayahmu. Tolong kamu kirimkan uangnya ke ibu, ya, Nak Darren. Ibu akan mencicil setiap bulannya nanti," jelas Mella yang hendak membuat Darren tersentak.
'Bukannya Pak Anton sudah memberi uang ganti rugi? Diapakan uang-uang itu sampai Bu Mella harus minta padaku?' Pria itu terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Bisa atau tidak, Nak Darren? Temannya ayahmu bilang memerlukan uang itu untuk biaya anaknya masuk perguruan tinggi, kami harus segera melunasinya. Dari kemarin orangnya sudah nagih-nagih terus, Nak Darren."
Darren tersenyum kecut mendengar alasan Mella. Seumur hidupnya ini adalah alasan paling tidak masuk akal yang pernah dia dengar.
Namun, Darren tetap mengikuti permainan ibu mertuanya itu.
"Baiklah, aku akan kirimkan uangnya. Ke nomor rekening siapa?" tanyanya.
"Ke rekening Tania saja, Nak Darren. Kalau ke rekening ayahmu, dia juga tidak bisa mengambil uang di ATM. Nanti biar diambilkan Tania uangnya," jawab Mella yang semakin membuat Darren mengerutkan kening.
'Apa jangan-jangan ini akal-akalannya Tania?' batin pria itu.
"Baiklah, Bu. Aku kirim uangnya sekarang."
"Terima kasih banyak ya, Nak Darren," kata Mella yang tidak lagi disahuti oleh Darren.
Pria itu langsung mematikan sambungan telepon, detik berikutnya dia membuka aplikasi m-banking milik sang istri yang tersambung di ponselnya. Matanya membelalak saat melihat mutasi rekening, di sana tertulis istrinya mengirim uang dalam jumlah besar ke jasa WO.
"Tania mengirim uang ke jasa Wo? Berarti ... benar dugaanku kalau ibu berbohong," ucapnya.
Darren memijat kepalanya yang berdenyut nyeri, lalu kemana perginya uang dari Anton? Ah, istri dan mertuanya itu sama-sama pemeras.
Darren membanting ponselnya ke atas meja setelah mentransfer sejumlah uang yang diminta oleh ibu mertuanya tadi. Namun, rugi rasanya kalau tidak memanfaatkan kepolosan Mella.
"Aku akan menggunakan Bu Mella untuk senjata menjebak Tania," gumamnya.
Seringai senyum tercetak jelas di sudut bibir itu. Meskipun belum tahu bagaimana rencananya, tetapi Darren sudah berniat untuk menghancurkan keluarga itu karena merekalah yang menyebabkan air mata Nadia turun.
***
Di tempat lain, Mella dan Tania jingkrak-jingkrak bahagia saat mendapati seratus dua puluh juta itu sudah masuk ke rekening.
"Ibu pinter banget aktingnya," bisik Tania.
Kedua wanita itu berada di dalam kamar Tania karena takut Toni mendengar pembicaraan ini. Mella melakukan ini semua atas permintaan putrinya, Tania tidak tahan melihat rekeningnya kosong, meskipun nanti juga akan diisi Raka.
"Ibu memang selalu pintar, Tan. Sekarang kita bagi dua uangnya, baru Ibu kembalikan barang-barang belanjaanmu," kata Mella.
Wanita hamil itu mengangguk setuju. "Nanti aku tarik dulu uangnya ke ATM, kebetulan nanti malam aku mau keluar sama temanku."
"Bagus. Kita tetap untung kalau begini caranya." Namun, sejurus kemudian Mella kembali murung. "Tapi ... Ibu tadi mengatakan akan menyicil setiap bulan. Bagaimana kalau Darren menagih?"
"Ah, nggak mungkin Mas Darren tega melakukan itu. Sudahlah, Ibu tenang saja. Yang penting sekarang kita nikmati uang-uang ini, jangan merusak suasana dengan berpikir yang tidak tidak," ujar Tania yang berusaha menenangkan ibunya.
Mella mengusung senyum merekah, dia tidak lagi khawatir setelah putrinya sendiri yang menjamin.
Wanita paruh baya itu kembali ke kamarnya dan mendapati sang suami tengah menandatangani beberapa berkas.
"Apa itu, Yah?" tanyanya sambil melihat tumpukan kertas yang ada di map. "Surat wasiat?" gumamnya.
"Iya, Bu. Bapak sedang mengurus surat wasiat yang menjelaskan tentang pembagian warisan."
Mata Mella berbinar mendengarnya, dia lekas membaca kertas itu dengan seksama. Namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah marah.
"Apa-apaan ini, Yah? Kenapa bagian Nadia yang paling besar?! Harusnya bagianku dan Tania yang lebih besar!" sentak wanita paruh baya itu dengan emosi.
"Memang seperti itu bagiannya, Bu. Nadia mendapatkan warisan dari mendiang ibunya dan juga dariku, wajar kalau jumlahnya paling besar. Apalagi Nadia cucu pertama dari ayahku, bagian yang ini sudah ada sejak Nadia baru lahir. Aku tidak mengubah apapun dan hanya membuatkan sertifikat untuk pengesahan, sehingga saat Nadia balik pulang nanti bisa langsung ditandatangani dan semuanya sah," jelas Toni panjang lebar.
Toni berharap istrinya mengerti, tetapi sepertinya Mella tetap tidak terima.
"Tapi dia sudah pergi dan bikin keluarga kita malu, Yah! Gimana, sih?!"
"Itu nggak ada urusannya sama pembagian warisan ini, Bu. Mau Nadia pergi atau tidak, dia akan tetap mendapatkan haknya," sahut Toni dengan santai.
'Kenapa anak sialan itu lagi?! Seharusnya aku dan Tania yang mendapatkan bagian terbesar,' batin Mella, kesal.