Sikap Aneh Darren

1058 Kata
"Pinjam uang kamu dulu aja, Tan. Nanti Ibu ganti kalau sudah ada," kata Mella. Tania menggeleng. "Enak saja. Ini nafkah dari Mas Darren, Bu. Bukan untuk membayar jasa WO." "Halah, tadi 'kan kamu juga yang ngajakin shopping sampai kita kalap kayak gini. Sekarang uang ibu tinggal sepuluh juta dan harus buat bayar jasa WO. Daripada ayahmu makin marah-marah dan semuanya tambah runyam, mending kamu pinjemin dulu uangnya." Mella terus mendesak. Tania menghentakkan kaki ke lantai karena saking kesalnya. Baru tadi pagi ia bahagia setelah ditransfer oleh Darren, kini malah suruh membayar jasa WO. "Ayo, Tania. Kamu bantu ibu, jangan jadi anak durhaka kayak si Nadia itu," ucap Mella yang terus nanti mencecar putrinya yang tidak juga bergerak. "Ibu, kok, malah banding-bandingin aku sama si anak nggak tahu diri itu sih?!" Tania yang merasa tidak terima pun tanpa sadar menaikkan nada bicaranya. Mella mengacak rambutnya dengan frustasi saat putrinya malah merengek. "Ibu nggak niat membandingkan kamu sama siapapun, Sayang. Sudahlah ... yang penting sekarang kamu cepat kirimkan uangnya ke orang-orang WO itu, takutnya mereka marah-marah nanti kalau kita nggak segera bayar." Tania memberengut kesal, tetapi ia tetap membawa langkah ke depan untuk menemui orang-orang WO. Wanita itu segera mentransfer sejumlah uang, detik berikutnya ia merasa sangat miskin karena telah menggelontorkan banyak uang dalam waktu beberapa detik saja secara cuma-cuma. "Kasihan sekali rekeningku, semoga kamu cepat diisi lagi ya," gumamnya. "Lagian ibu ini juga aneh, pakai jasa dulu baru bayar belakang. Kalau sudah seperti ini, aku juga yang repot." Tania terus menggerutu kesal. Setelah orang-orang WO pulang, Tania segera meminta sisa uang sepuluh juta yang masih dipegang oleh ibunya. "Berarti Ayah dan Ibu masih punya hutang seratus dua puluh juta ke aku," ucapnya. "Enak saja. Itu harus dipotong sama harga perawatan dan barang-barang yang kamu beli. Kamu 'kan juga pakai uangnya, enak saja ibu harus menanggung sendiri," balas Mella yang tidak mau kalah dengan anaknya. "Nggak bisa begitu, dong, Bu!" "Bisa." Tania melongo saat melihat ibunya mengambil semua paper bag termasuk punya dirinya. "Ibu tidak akan mengembalikan barang-barang ini kalau kamu tidak setuju untuk menanggung resiko sama-sama." "Hah?! Kok jadi gini, sih?" Mella tidak menyahut dan terus berjalan menuju kamar. Dia langsung mendudukkan dirinya di ranjang dengan lemas. Uang ganti rugi yang diberikan oleh Anton senilai seratus lima puluh juta, semuanya sudah raib untuk membeli barang branded kelas atas. Sekarang hanya menyisakan penyesalan. Sementara di ruang keluarga, Tania juga tidak kalah lemasnya. Wanita itu berbaring di sofa sambil meratapi rekeningnya yang kini hanya tersisa lima ratus ribu saja. "Nggak mungkin aku minta lagi sama Mas Darren, pasti aku juga dimarahi karena menghambur-hamburkan uang. Tapi harus minta sama siapa? Raka saja nggak bisa dihubungi," gumamnya dengan suara lirih. Padahal dia sudah berencana akan pamer kepada teman-temannya, tetapi barang belanjaannya malah disita oleh sang ibu. Namun, dia juga tidak sudi patungan. Yang membuat ulah adik dirinya, malah dia juga yang harus bertanggung jawab. "Huh, Nadia memang menyusahkan!" Tania bangkit dan hendak menuju kamar, tetapi langkahnya terhenti saat ponselnya tiba-tiba bergetar. Ternyata sebuah pesan singkat dari Raka yang sontak membuat ketua netranya membelalak lebar. "Astaga ... Raka menghubungiku lagi?" Bibir merahnya tersenyum lebar dengan perasaan bahagia yang membuncah. "Rezeki memang nggak ke mana. Baru saja aku bingung rekeningku terkuras, dan kini sumber uangku sudah kembali lagi." [Kita perlu ketemu di moon cafe, Tan. Aku menunggumu jam tujuh malam.] tulis Raka. Wanita dalam balutan dress berwarna hijau itu mangut-mangut sambil mengetikkan pesan balasan bahwa dia setuju untuk bertemu. Sekarang langkah kakinya menuju kamar terasa sangat enteng sekali, bayangan akan pundi-pundi uang sudah terasa sangat nyata di depan matanya. *** Di tempat lain, Darren tergelak melihat balasan pesan istrinya yang dikirimkan ke nomor Raka. Tadi pagi dia memutuskan untuk memasang aplikasi penyadap, ternyata aplikasi itu sangat berguna. "Bagus, aku kembali mendapatkan bukti untuk memberatkan tuduhanku," gumam Darren. Jam menunjukkan pukul dua siang, ada meeting yang diselenggarakan di luar kantor dan itu tidak jauh dari butik tempat Nadia bekerja. Darren langsung menuju ke restoran mewah bersama Jacob. Tidak perlu waktu lama mobil mewahnya sudah berhenti di parkiran restoran. Pria itu segera turun, sebelum masuk ia menyempatkan diri untuk menengok ke butik seberang. Butik miliknya terlihat masih sepi, tetapi adik iparnya belum kelihatan keluar. "Ayo kita masuk, Pak. Klien sudah menunggu di dalam," kata Jacob yang langsung membuyarkan lamunan Darren. Entah kenapa pikirannya akhir-akhir ini tidak bisa tenang, dia selalu was-was dengan keadaan adik iparnya. Beruntung selama meeting Jacob bisa memegang kendali, sehingga Darren tidak terlalu kerepotan. Setelah meeting, Darren berniat langsung kembali ke kantor, tetapi matanya tertuju pada Nadia yang tengah makan mie ayam gerobakan dengan Renaldy. Tanpa terasa kedua tangannya terkepal erat, dia pun langsung menghampiri dua insan itu dengan langkah tegap dan sorot mata mematikan. "Enak makan siangnya?" tanya Darren yang tanpa permisi langsung mendudukkan diri di samping Nadia. Gadis itu terhenyak, ia menggeser kursi plastiknya agar tidak terlalu dekat dengan Darren. "Kakak mau makan mie ayam juga?" Pria itu menggeleng. "Tidak, tapi aku ingin melihat kamu makan dengan pria lain," jawabnya sambil melirik sinis ke arah Renaldy. Sementara yang dilirik pun hanya cuek, dia sudah paham watak teman baiknya itu. "Aku makan di dalam saja, Nad. Kamu teruskan makannya di sini saja nggak papa. Semua sudah aku bayar, kok, sekalian minumnya." Renaldy mengangkat mangkuk dan segelas es jeruknya ke dalam butik, meninggalkan Nadia yang masih kebingungan. "Dasar cowok aneh, main pergi gitu saja," gumam Darren. "Kamu jangan mau kalau diajak makan sama cowok seperti itu, Nad. Itu tanda-tanda playboy," ucapnya lagi sambil menatap ke arah Nadia. "Kakak yang aneh, tiba-tiba datang dan menyindir Pak Renaldy. Jelas saja beliau tidak nyaman," sahut Nadia yang langsung memancing emosi Darren. "Kamu membela pria lain?" "Bukan mau membela, tapi kenyataannya memang seperti itu 'kan? Sekarang aku tanya, niat Kakak apa?" Nadia mengangkat dagunya dengan tatapan nanar, dia berlagak berani meskipun ucapannya bergetar dan air mata hampir merembes keluar. "Sudah aku bilang niatku cuma mau lihat kamu makan. Nggak jelas ucapanku tadi?" Darren menyahut dengan santai. "Nah, 'kan ... Kakak, tuh, memang aneh dan nggak jelas." Nadia kembali memakan mie ayamnya dengan kesal. Sekuat mungkin dia menahan genangan air matanya agar tidak menetes keluar, hatinya memang masih sensitif dan merasa serba salah dengan Darren. Sementara pria itu malah tertawa puas di dalam hatinya saat berhasil merecoki makan siang adik iparnya dengan Renaldy. 'Sudah aku bilang, nggak akan ada yang bisa mendekati kamu selama ada aku, Nad,' batin Darren.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN