Pagi ini Darren hendak memesan makanan, tetapi urung saat telinganya mendengar bunyi bel pintu. Dia segera melihat siapa yang datang dan ternyata adik iparnya.
"Mau ngapain kamu?" tanyanya yang tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
Nadia sedikit mundur, gadis itu takut melihat penampilan acak-acakan serta nada tinggi kakak iparnya.
'Mungkin benar Kak Darren sedang ada masalah, pantas saja dari kemarin sikapnya aneh,' batin Nadia.
"Aku mau mengirim sarapan Kak. Nasi goreng seafood," ucapnya sambil menyodorkan kotak makan.
Darren mengangguk dan lantas meraih kotak makan itu, sejurus kemudian ia berbalik badan dan langsung menutup pintu tanpa mengatakan apapun. Bahkan raut mukanya sangat datar.
Nadia hanya bisa mengelus d**a, tetapi ia tidak mau ambil pusing dan memilih kembali ke unitnya untuk siap-siap bekerja.
Sementara di dalam kamarnya, Darren tidak langsung membuka kotak makan. Dia memilih menghubungi asisten pribadinya, Jacob, yang ditugaskan untuk menjaga Raka.
"Ambil sampel darahnya, atau apapun yang bisa digunakan untuk tes DNA. Aku mau mencocokkan dengan DNA janin yang dikandung oleh istriku," katanya.
"Baik, Pak," sahut Jacob di seberang telepon.
"Lepaskan saja dia. Nanti antarkan kembali ke rumahnya, dan jangan lupa matanya ditutup seperti kau menculiknya kemarin. Jangan sampai dia tahu markas kita."
"Saya akan melakukan seperti yang Anda katakan, Pak."
Darren mengangguk puas, masalah Raka sudah selesai dan dia bisa sarapan tenang pagi ini.
Sejak semalam pria itu teringat dengan ekspresi sedih Anton serta Anita, tidak tega rasanya saat orang-orang baik dipusingkan dengan kelakuan anak yang tidak tahu diri.
"Masakan Nadia selalu enak," gumamnya saat baru menyendokkan sesuap nasi ke dalam mulut.
Darren menghabiskan sarapannya dengan cepat, dia lekas mandi dan bersiap dengan pakaian formalnya.
Pria itu melangkah tegap menuju unit Nadia, tanpa mengetuk pintu ia hanya berdiam diri sambil mengotak-atik tablet.
Setelah lama menunggu sambil membalas email pekerjaan, Nadia keluar dengan mengenakan setelan kasual. Gadis itu terkejut melihat kakak iparnya berdiri di depan pintu.
"Loh, kok, nggak ketuk pintu, Kak?" tanyanya.
"Sudah siap?" Darren bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Nadia.
"Sudah," kata gadis itu dengan suara lirih.
"Ayo, aku antar ke butik." Darren membawa langkah lebar dan Nadia langsung mengikuti sambil berlari kecil di belakangnya.
Pria itu tidak berniat memelankan jalannya, dia juga tidak mau peduli dengan kaki kecil Nadia yang berusaha menjangkau langkahnya.
Gadis cantik itu ngos-ngosan saat sudah tiba di parkiran, bulir keringat membasahi kening dan pelipis. Dia tidak pernah olahraga dan pagi ini Darren membuatnya jalan cepat hingga napasnya tidak stabil.
"Mulai besok kau harus ke gym, itu salah satu fasilitas yang ada di gedung ini. Ada juga kolam renang yang bisa kau gunakan untuk olahraga. Kalau mau simpel, ya, jalan kaki saja mengelilingi area gedung," kata Darren sambil masuk ke dalam mobil.
Nadia turut masuk, tetapi dia mendudukkan dirinya di kursi belakang yang kembali memancing emosi Darren.
"Kau mau menjadikanku sebagai sopir? Apa maksudmu duduk di belakang dan membiarkanku sendirian di depan?!"
Tubuh mungil itu tersentak mendengar bentakan Darren. "Maaf, Kak. Aku takut nggak sopan kalau duduk di depan. Mau bagaimanapun Kakak itu suaminya kakakku."
Darren menggeram emosi sambil tangannya mencengkeram setir dengan erat.
"Pindah ke depan atau aku tidak akan menjalankan mobil ini!"
Nadia langsung berjingkat dan keluar dari mobil, dia lalu duduk di sebelah Darren dengan wajah pucat pasi.
Dia tidak tahu apa salahnya, tetapi terus saja dibentak dari kemarin. Sebenarnya dia pun kesal, gadis itu menganggap Darren ada masalah dengan Tania dan malah dia yang terkena imbas.
"Pakai sabuk pengamannya, aku nggak mau ambil resiko kalau ada apa-apa."
"Iya, Kak," Nadia menunduk dengan perasaan tidak enak.
Baru kali ini dia dibentak oleh Darren. Dulu, meskipun kakak iparnya itu sangat cuek, tetapi tidak pernah berbicara dengan nada tinggi saat di hadapannya.
Namun, kini ia tahu bagaimana sebenarnya Darren. Saat lelah pria itu akan menjadikan siapapun yang ada di sampingnya sebagai pelampiasan amarah. Begitu pikir Nadia.
"Kau besok harus berolahraga agar sehat, Nad. Masa aku ajak jalan cepat gitu saja sudah ngos-ngosan, keringatmu juga sebesar biji jagung. Kalau kayak gitu caranya gimana kamu kuat, hah?! Padahal aku sudah berencana mau memasukkanmu ke kelas bela diri, buat jaga-jaga kalau ada apa-apa kamu bisa mengandalkan dirimu sendiri," ucap Darren panjang lebar yang sontak membuat Nadia melongo.
"Kak Darren tidak perlu berlebihan seperti itu. Ak—"
"Berlebihan bagaimana? Tinggal di kota besar kita harus serba bisa, Nad. Kita juga nggak bisa menduga kapan datangnya bahaya. Kalau kamu bisa beladiri, maka kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Jadi, aku bisa tenang saat membiarkanmu pergi sendirian."
"Iya, Kak. Aku nurut saja bagaimana baiknya," jawab Nadia.
Gadis itu memilih pasrah daripada terus dimarahi, niatnya ke sini untuk menenangkan hati malah dibentak-bentak oleh Darren. Kendati demikian, dia memilih diam saja dan tidak mau protes.
Berbeda dengan Darren yang diam-diam mengulas senyum tipis.
'Maaf, Nad. Aku hanya ingin membentukmu menjadi gadis tangguh dan tidak mudah diremehkan,' batinnya.
***
Sementara di tempat lain, Mella dan Tania baru saja pulang berbelanja dari mall, kedua wanita itu membawa banyak paper bag besar bertuliskan nama sebuah toko branded.
Uang ganti rugi yang diberikan oleh Anton telah digunakan Mella untuk berfoya-foya bersama putrinya. Seharian ini mereka sibuk berbelanja dan melakukan perawatan di salon mahal, tanpa peduli Toni yang sedang sibuk di rumah bersama wedding organizer.
"Uang mana yang kamu gunakan untuk belanja, Mella?" tanya Toni dengan kening mengerut bingung.
"Uang dari Pak Anton kemarin," jawab wanita paruh baya itu dengan santai dan langsung menaruh belanjaannya di sofa.
"Gila kamu! Uang itu akan ku gunakan untuk membayar wedding organizer, bisa-bisanya kamu buat foya-foya!" teriak Toni dengan mata melotot.
Mella ketakutan melihat urat-urat wajah suaminya yang menonjol, kali ini Toni benar-benar marah.
"Yah, a-aku—"
"Apa?! Kamu sendiri yang bilang kalau kita akan bayar wedding organizer setelah mendapatkan uang amplop dari pernikahan Nadia. Sekarang Nadia gagal nikah dan kita tidak mendapatkan amplop dari siapapun. Kita hanya mendapatkan ganti rugi dari Pak Anton, tapi uangnya malah kamu pakai foya-foya!" Pria paruh baya itu memotong ucapan istrinya dengan cepat.
"Mas—"
"Sekarang mana sisa uangnya?!" Toni mengulurkan tangan, membuat Mella semakin kesulitan meneguk saliva, sementara Tania hanya bisa diam terpaku dengan wajah ketakutan.
Hening! Mella tidak bergeming, wanita paruh baya itu bahkan tidak berani menatap wajah suaminya.
"Jangan diam saja, Mell! Orang WO-nya sudah menunggu di depan," desis Toni.
"Ma-maaf, Mas. Uangnya tinggal sisa sepuluh juta," jawab Mella dengan suara lirih dan bergetar.
Toni semakin membelalakkan mata dengan degup jantung berderu kencang, kepalanya terasa semakin berdenyut pusing mendengar fakta ini.
"Apa?! Keterlaluan kamu, Mel. Sekarang kamu saja yang temui orang WO-nya, terserah kamu mau mengatakan apa. Kamu sendiri yang harus tanggung jawab!" sentak Toni dan langsung melenggang pergi menuju kamar.
Harga jasa wedding organizer tidaklah murah, Mella sendiri yang memilih paket ratusan juta. Mella kukuh ingin menggelar pesta megah, padahal suaminya sudah mengingatkan. Wanita paruh baya itu beralasan ia tidak mau malu saat teman-temannya datang.
Namun, sekarang? Uang mana yang akan digunakan untuk membayar?
Orang WO menunggu uang sewa di depan, tetapi uangnya tinggal sisa sedikit karena digunakan untuk foya-foya ibu dan anak itu.
Mella dan Tania saling pandang. "Bagaimana ini, Mell?"
"Nggak tahu, Bu," jawab Tania yang tidak kalah paniknya.