"Aku balik hari ini, Tan," kata Darren saat baru saja memasuki kamar.
"Loh, kok, cepat banget? Kamu baru sampai tadi pagi, loh, Mas." Tania langsung bangkit dari ranjang dan mendekat ke arah suaminya. "Nggak mau besok atau lusa saja?"
"Temanku telepon, ada pekerjaan penting katanya dan perusahaan membutuhkanku. Aku janji tiga hari lagi akan pulang, Tan," jawab Darren, berusaha merangkai alasan semasuk akal mungkin.
Tania menunduk lesu, dia ingin ditemani dan dimanja oleh suaminya. Namun, Darren malah mau pergi lagi.
"Aku sudah kirim uang ke rekening kamu, bisa kamu gunakan untuk belanja biar nggak sedih lagi. Nanti aku kabarin kalau sudah sampai apartemen," kata Darren yang langsung membuat Tania mendongak dengan mata bersinar.
Pria itu langsung mengalihkan pandangan, dia paling tahu bagaimana membuat suasana hati istrinya kembali baik.
Tania memang mata duitan, apapun masalahnya akan langsung beres asal ada uang banyak di dalam rekeningnya.
'Uangku semakin banyak, belum lagi jatah dari Raka,' batinnya.
"Ya sudah kalau gitu kamu hati-hati, Mas. Aku sebenarnya sedih banget dan pengen kamu masih di sini, tapi aku juga nggak mau egois. Aku ngerti, kok." Tania menggamit mesra lengan suaminya, dia menyandarkan kepala sambil terus memajang senyum manis.
"Aku mau menyiapkan barang-barangku dulu, Tan," ucap Darren sambil mendorong kepala Tania.
Wanita itu mengangguk dan kembali duduk di ranjang sembari terus memperhatikan suaminya, tidak perlu waktu lama sebuah koper besar sudah siap.
"Ayo aku antar ke depan sekalian pamitan sama ayah dan ibu," kata Tania.
Darren tidak menolak saat Tania kembali menggamit lengannya, dia takut istrinya itu curiga kalau terlalu menampakan penolakan.
Setelah berpamitan dengan kedua mertuanya, Darren langsung masuk mobil dan meninggalkan kediaman sederhana itu.
Perjalanan panjang ditempuh tidak terlalu lama karena Darren melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia sampai di apartemen pada sore hari, tanpa berlama-lama lagi pria itu bergegas naik untuk menuju unitnya.
"Nadia lagi ngapain sekarang?" gumam Darren saat baru saja meletakkan koper di dalam kamar.
Pria itu melihat jam tangan dan jarumnya menunjukkan pukul lima sore, seharusnya adik iparnya itu sudah pulang bekerja.
Darren menuju lantai di mana unit Nadia berada. Namun, gadis itu belum tiba di unitnya.
"Apa mungkin masih di jalan?" gumamnya.
Darren membawa langkah menuju parkiran, niatnya ingin ke restoran yang ada di seberang gedung apartemennya, tetapi malah mendapati Nadia yang duduk di boncengan motor sport milik Renaldy.
Pria berkulit putih dan berpostur tidak terlalu tinggi itu menghentikan motornya di parkiran dan Nadia langsung turun setelahnya, gadis itu menghampiri Darren yang berdiri mematung di tengah pintu lobi.
"Kak Darren, kok, sudah di sini lagi? Kakak pulang secepat ini?" tanya Nadia.
Pria pemilik iris hitam legam itu melirik sekilas ke arah adik iparnya. "Memangnya kenapa? Kamu takut ketahuan kalau berboncengan sama Renaldy?"
Nadia sontak menggeleng. "Bukan begitu, Kak. Apa Kak Tania nggak masalah kakak hanya sebentar di sana? Ibu dan Ayah bagaimana?"
"Masalah itu kita bahas nanti saja." Darren berlalu dari hadapan Nadia tanpa mempedulikan gadis itu, langkah kakinya menuju ke dekat Renaldy yang masih bertengger di atas motornya. "Sudah aku bilang jangan dekati adik iparku, kenapa kau malah ngeyel?"
Renaldy menatap sekilas ke arah Nadia yang masih diam terpaku, kemudian menyahut, "aku hanya menawarkan tumpangan, Darren. Dia tadi bilang mau pesan taksi online, tapi karena apartemenmu searah dengan rumahku, jadi sekalian saja."
Hening! Darren tidak bergeming dan masih menatap tajam ke arah Renaldy.
"Oh, ayolah, Darren ... aku tidak macam-macam. Selama di perjalanan tadi kita juga tidak terlalu mengobrol, adikmu diam saja dan aku juga fokus menyetir. Tidak ada sesuatu yang lebih di antara kita, aku hanya berniat menolongnya. Apa itu salah?" tanya Renaldy panjang lebar.
"Tapi kau tetap saja melanggar aturan yang telah ku buat, Dy. Apa kau tidak jelas dengan kata-kataku tadi di telepon?"
Pria berambut gondrong itu membuang pandangan ke tanah, detik berikutnya dia kembali menatap Darren dengan wajah malas.
"Baru kali ini aku melihatmu sangat berlebihan, Darren. Kau itu hanya kakak iparnya, bukan pacarnya," ucap Renaldy dan lantas menarik gas motornya, dia segera pergi dari parkiran gedung pencakar langit itu.
Darren tidak mau ambil pusing dan segera berbalik badan, ternyata Nadia masih menunggu di depan pintu lobi dengan wajah tegang.
"Ayo masuk. Kamu mau berdiri di sini saja?"
"Aku minta maaf kalau salah, Kak. Kalau tahu Kakak marah, aku tidak akan pernah menerima tawaran Pak Renaldy lagi," sahut gadis itu dengan suara lirih.
"Ya memang seharusnya seperti itu, kau tidak boleh dekat-dekat dengan Renaldy dan pria manapun selain aku. Bukan bermaksud apa-apa, Nad. Tapi kau baru saja dikecewakan oleh Raka. Aku takut kau sakit hati lagi gara-gara orang baru, mau bagaimanapun kau 'kan belum terlalu paham dengan pergaulan cowok-cowok di kota," jelas Darren.
Nadia menunduk lesu sambil mengangguk pelan. "Iya, Kak. Aku ngaku salah. Aku minta maaf."
"Sudahlah ... lupakan kejadian ini, yang penting kamu nggak mengulangi lagi. Kamu sembuhkan hatimu, baru boleh dekat dengan orang baru. Jangan sampai kamu dekat dengan sembarang orang dan malah menjadikannya sebagai ajang pelampiasan sakit hati," jawab Darren sambil menghembuskan napas kasar.
"Tapi aku nggak kayak gitu Kak. Mana mungkin aku berpikiran seperti itu kepada Pak Renaldy? Aku tadi hanya segan menolak tawarannya," kata Nadia sambil mengangkat pandangan.
Ada rasa tidak terima saat Darren terkesan menuduhnya. Namun, ia harus tetap menjaga sopan santun karena kakak iparnya itulah yang telah menyelamatkannya.
"Aku tahu, Nad. Tapi aku minta tolong banget, nggak usah dekat dengan cowok manapun."
Darren melenggang pergi dari hadapan Nadia setelah mengatakan demikian, tanpa menunggu jawaban gadis itu.
Dia meninggalkan Nadia yang masih kebingungan. Baru kali ini Darren posesif, Padahal selama menjadi kakak iparnya, Darren terkesan cuek dan seringkali acuh.
"Kak Darren aneh banget, deh. Kenapa, sih, dia?" gumam Nadia.
Gadis itu menghirup napas panjang guna memenuhi rongga dadanya yang sempat terasa sesak. Dia lekas membawa langkah menuju unitnya, ingin segera istirahat setelah seharian bekerja.
Ditambah baru pulang malah dimarahi oleh Darren, suasana hatinya kini memburuk. Namun, dia juga tidak bisa balik marah kepada Darren.
Nadia memutuskan untuk berendam di bathtub dengan air hangat, siapa tahu bisa meregangkan otot-ototnya dan membuat rileks. Namun, baru saja hendak masuk ke kamar mandi, telinganya mendengar ketukan di pintu depan.
"Siapa yang ke sini? Aku 'kan belum mengenal orang lain selain Kak Darren? Apa staf gedung, ya?"
Kaki jenjangnya melangkah menuju pintu, Nadia melihat dari layar monitor kecil yang tersambung dengan CCTV di depan unitnya. Ternyata Darren yang berdiri di depan pintu.
"Kak Darren, aku kira siapa? Ada apa, Kak?" tanyanya sambil berusaha mengulas senyum.
"Ini aku bawain ayam bakar buat makan malam." Pria itu mengulurkan sebuah paper bag kecil.
"Terima kasih, ya, Kak. Aku juga belum sempat beli makanan," ujar Nadia yang hanya diangguki oleh kakak iparnya tersebut.
Tanpa sepatah katapun, Darren berbalik badan dan langsung pergi begitu saja. Pria itu kembali meninggalkan beribu tanya di pikiran adik iparnya.
"Aneh sekali. Kak Darren sebenarnya kenapa? Tadi marah-marahin aku, tapi sekarang ngasih makanan. Apa Kak Darren ada masalah sampai sifatnya berubah-ubah seperti itu? Huh ...."