“Akhirnya lo bangun juga.” Ezha akhirnya bisa sedikit lega. “Gue kenapa emang?” “Biasa, lo pingsan tiba-tiba gitu. Emangnya lo ke mana sih tadi? Ke tempat sepi lagi?” Lyla mendorong dahi adiknya. “Gue ke toilet. Siapa tahu bakal kambuh lagi.” Hal itu membuat Ezha menggelengkan kepala. “Udah Dibilangin sama Mama Papa kalau lo nggak boleh ke tempat sepi lagi.” “Tapi di sana ada orang juga.” “Di mana? Di luar?” Lyla mengangguk. Ezha memang lebih galak dari Lyla. Sebagai kakak, Lyla mempunyai sifat yang bertolak belakang dengan Ezha. Ezha tomboy, sedangkan Lyla feminism. Lyla suka musik sedangkan Ezha tidak. “Ya udah ayo pulang.” Ezha membawakan tas Lyla. Dari perawakan mereka berdua punya postur tubuh yang sama. Tapi Ezha selalu berlagak kuat. “Eh gelang gue kapan dibalikin?” Lyla

