Masih Misteri

1174 Kata
Leron meletakkan jari kelingkingnya di depan hidung Lyla, senior yang ia tahu namanya dari Rara. Sudah hampir satu jam tapi Lyla belum juga sadar. Besar sekali rasa ingin meninggalkan Lyla sendirian, tapi Leron adalah orang yang menemukan Lyla saat ia pingsan. Leron merasa tanggungjawab juga penting. Dia lupa membawa ponsel, tidak bisa menghubungi ARION. Mungkin saja setelah bertemu ARION, Leron akan mendapatkan serangan bertubi-tubi dari Sera. Ah, mengingatnya membuat Leron kembali mengacak rambut. Pintu dibuka, masuk petugas PMR cewek yang tidak dikenal Leron tapi dia mengenal Leron tentunya. “Lo dapat giliran jaga? Gue boleh minta tolong nggak buat jagain dia?” Leron langsung berdiri tanpa mendengar jawabannya. “Oh ya, kasih gelang ini ke dia kalau bangun. Makasih banyak sebelumnya.” Merasa telah bebas dari tanggungjawabnya, Leron langsung menyusul ke tempat ARION berkumpul. DIa telah melewatkan penampilan mereka yang kedua bersama Melodi yang tiba-tiba menghilang. ***** “Masih berani balik lo?” Sera langsung mengejar Leron yang berada di pintu hingga Leron tersandung kabel sehingga ia terjatuh. “Ser ampun Ser.” Leron melindungi kepalanya dengan kedua tangan. Takut jika dibanting Sera secara tiba-tiba. “Kemana aja lo?” Sera berkacak pinggang di depan Leron. Dari semua anggota ARION, Sera yang paling menakutkan. “Gue nyari Melodi. Tadi kalian juga yang nyuruh.” Leron melihat semua teman-temannya. “Melodi mana?” tanya Gema dingin. Dia berdiri dari duduknya dan ikut berdiri di sebelah Sera. “Nggak hanya Melodi yang nggak kembali, tapi lo juga ikut bolos tampil?” Rey menggelengkan kepala tidak percaya. “Guys, percaya sama gue, ceritanya panjang banget. Gue bisa certain kalau kalian minta.” “Ayo certain aja!” Leron bangun dari jatuhnya dan duduk. “Gue sama Rara emang nyari Melodi. Semua kelas dan toilet kit acari tapi Melodi nggak ada. Nah, di kelas terakhir yang belum gue buka, di sana gue tabrakan sama kakak kelas. Dia buru-buru ke toilet. Gue sama Rara lanjut nyari lagi tapi karena Rara bilang kalau Melodi sempat bicara ke Bian dan Azril sebelum dia menghilang, gue yakin Melodi udah bolos. Gue suruh Rara ngabarin kalian. Gue masih mau nyari lagi tapi gue baru sadar ada gelang yang nyangkut di ikat pinggang gue.” Leron menatap Sera dengan percaya diri. “Gue inget itu gelang yang dipakai kakak kelas itu. Balik lah gue ke sana. Cuma hitungan detik gue ke sana. Gue tungguin di depan toilet. Dia nggak keluar-keluar. Karena gue takut dia kenapa-kenapa dan di sana sepi banget, gue masuk ke toilet cewek.” Sera melotot. “Bisa aja dia lagi BAB Leronnnnn.” Leron menggeleng tegas. “Baru kali ini gue nggak dibohongin sama firasat gue sendiri. Dia beneran pingsan di toilet.” “Terus sekarang dia di mana?” tanya Rey. “Gue bawa dia ke UKS. Sebagai orang yang tahu dia pingsan dan bawa dia ke UKS, gue bertanggungjawab sampai dia sadar karena di UKS sepi. Untung aja setelah satu jam ada anak PMR yang jaga. Jadi gitu makanya gue nggak ikut tampil kalian.” Rey mengangguk paham. Gema, Sera dan Rey hanya tampil bertiga. Mereka terpaksa memilih lagu baru karena ketidakhadiran Leron dan Melodi. Untung saja kemampuan ARION bisa diandalkan. Mereka bisa tampil lancar sebagai penutup acara. “Gem, lo udah mastiin Melodi pulang gara-gara Bian?” tanya Leron. “Iya gue udah memastikan itu. Kita kumpul di kafe sebentar setelah bel pulang. Kalian bisa?” “Duh sorry. Gue harus latihan judo. Udah mau deket kompetisi, gue nggak mau dimarahin Samuel.” Leron memutar bola matanya kesal. “Bilang aja nggak mau absen lihat mukanya Samuel.” “Mau gue banting sekarang?” “Wih ngeri banget Ser.” Rey menepuk Pundak Sera. “Gue dukung lo ikut judo dan juga deket sama Samuel. Gue denger-denger dia cowok baik-baik.” Sera memilih pergi dari sana setelah sempat menendang kaki Rey. “Nggak paham gue. Sera sama Melodi bener-bener beda banget.” “Lo nggak akan bisa berhenti buat memahami cewek.” Rey dan Leron melihat Gema dengan pandangan heran. Sejak kapan dia suka membahas cewek? ***** ARION berkumpul di kafe minus Sera. Orang yang Leron cari yang tak lain Melodi sudah ada di sana karena Melodi memang harus bekerja di kafe Gema. Sebenarnya Leron sedikit kesal dengan Melodi karena tak memberitahu siapapun kalau dia akan pulang lebih dulu. Hal itu juga yang membuatnya harus mencari Melodi, bertemu dengan kakak kelas, hingga tidak bisa membantu ARION tampil. “Ron maafin gue ya.” Melodi memasang wajah yang membuat Leron mau tidak mau harus memaafkannya. “Iya, iya gue maafin Med.” “Dih ngambek,” sindir Rey. “Gue punya hati yang lapang buat maafin orang asal lo tahu.” “Iya pokoknya lo paling the best.” Melodi mengacungkan kedua jempolnya. “Kenapa lo mau kita kumpul di sini bareng Gem?” “Masalah itu, gue cuma mau mengingatkan, kalau kita nggak perlu memaksa untuk dekat dengan seseorang di waktu dekat ini. Promnight masih lama, kalian masih punya banyak waktu untuk mencari seseorang yang benar-benar tepat.” Leron menumpukan kedua tangannya ke meja. “Gue sih setuju sama Gema. Lagipula tanpa gue mencari, cewek-cewek udah datang duluan ke gue.” “Pede banget gila.” “Kalau nggak pede bukan Leron namanya,” tambah Melodi. “Dan juga jual mahal,” tambah Gema. Bukannya sadar diri, Leron justru menyetujui ucapan para sahabatnya. Memang benar dia dikejar banyak cewek, tapi selera Leron katanya bukan anak Pelita Harapan. Leron punya selera sendiri misal seperti artis-artis Hollywood yang pernah ia tonton. Dulu bahkan sampai sekarang, Leron masih punya pendirian yang kuat untuk kuliah di luar negeri supaya dia bisa bertemu bule yang cantik. Sungguh impian macam apa itu? “Bukannya lo udah dapet Rara?” tanya Rey. “Rara cuma temen gue. Kalaupun dia suka gue tapi gue nggak suka dia, dia bisa apa?” “Hati-hati nanti kemakan omongan sendiri tau rasa.” Melodi menakuti Leron. “Nggak. Nggak akan gue suka sama anak Pelita Harapan.” “Kalau omongan lo salah, gue boleh minta ganti ruginya?” tantang Gema. “Siapa takut? Kalau gue suka sama anak Pelita Harapan walau itu nggak mungkin, gue ajak kalian liburan ke luar negeri. Gratis, gue bayarin tempat tinggal sama makan kalian.” “Wih asik. Gue doain makin kenceng biar lo jadian sama cewek Pelita Harapan.” “Ye situ mainnya nggak boleh curang.” “Medi nggak curang kok. Dia cuma mendukung lo.” Tiba-tiba ponsel Leron berbunyi. Ada telepon masuk dari Leryn, adik Leron. “Gue angkat telepon dulu,” pamit Leron kepada sahabatnya. Leron memilih menerima telepon di kamar mandi. Dia segera mengangkat panggilan. “Kenapa princess?” [Jemput gue di sekolah sekarang!] “Wait, bukannya udah dijemput sopir?” [Gara-gara mobilnya lo buat balapan sekarang jadi mogok.] Leron menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Leryn sangat mengganggu. “Gue jemput ya Princess. Tapi jangan bilang ke Mama sama Papa oke?” [Kalau lo sampai di sini kurang dari lima belas menit.] Leryn menutup telepon. Leron langsung berlari mengambil kunci mobilnya. “Gue duluan!”                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN