Pemuda itu berlarian mencari seseorang yang sangat penting di acara kali ini. Seseorang yang di acari itu tiba-tiba menghilang begitu saja setelah penampilan mereka di atas panggung. Padahal itu bukan penampilan terakhir mereka. Masih ada satu penampilan lagi di akhir acara yang rencananya akan ditampilkan oleh ARION.
Siapa yang tak mengenal ARION? Grup musik terpopuler di Pelita Harapan yang juga menjadi kebanggan sekolah karena anggotanya yang berprestasi.
Pemuda yang berlarian itu adalah Leron. Dia Leron Crisco Karren sedang mencari Melodi yang entah hilang ke mana. Sebenarnya Leron tidak ingin mencari Melodi, tapi Gema dan Rey memaksanya. Alhasil Leron harus berlarian sepanjang koridor dan membuka beberapa kelas yang dikunci. Sudah menjadi semacam tradisi di Pelita Jaya jika ada suatu acara, maka kelas-kelas akan ditutup supaya semua siswa keluar dan memberikan apresiasinya.
Kalau biasanya Leron akan menyukai hal itu, kali ini dia sangat membencinya. Berkat kelas yang dikunci, Leron harus mengeluarkan upaya lebih untuk membukanya satu-persatu.
“Lo yakin dia di sini?” tanya seorang cewek berambut pendek sebahu.
Leron memang tidak benar-benar sendiri. Ada Rara, teman satu kelasnya yang juga sangat-sangat ngefans dengan Leron. Sudah Leron tegaskan berkali-kali ke Rara agar dia diam di tempat dan tidak mengikuti Leron, tapi apalah daya. Rara sudah seperti bayangan Leron di Pelita Harapan. Kemana pun Leron melangkah, di sana ada Rara.
Cukup mengesankan, tapi Leron tidak mempunyai perasaan apapun kepada Rara atau kepada semua siswi di Pelita Harapan. Leron sangat jual mahal. Dia senang dikejar bukan mengejar. Dalam kamus hidupnya, Leron sangat percaya diri bahwa dia sangat diinginkan oleh semua perempuan. Walau faktanya memang begitu, tapi sebagai seorang cowok, dia juga akan mengejar suatu saat nanti.
“Ini ruangan terakhir. Kalau nggak di sini gue balik.”
Rara mengangguk mengerti. Dia segera membuka kunci kelas. Perlu diketahui, mereka tidak bisa mengintip dari jendela kelas karena jendela kelasnya sangatlah tinggi. Itulah kenapa mereka harus menggunakan cara manual dengan membuka satu persatu kelas.
“Dia nggak ada di sini,” ucap Rara ketika melihat seisi kelas.
Leron mengacak rambutnya. Dia akan mendapatkan omelan dari Rey dan Gema jika tidak berhasil membawa Melodi kembali.
Saat Leron akan berlari kembali, Rara menarik tangannya. “Kenapa?” Inilah yang membuat Leron digandrungi banyak cewek. Meskipun dia tidak menyukai Rara, dia tidak kasar. Leron tetap memperlakukan Rara selayaknya perempuan berharga di luar sana yang harus mendapatkan perhatian. Tapi bukan berarti Leron bisa membalas perasaan Rara juga.
Leron punya adik perempuan, dia paham kalau perempuan tidak suka sifat kasar dan ingin diperlakukan dengan lembut.
“Lo mau ke mana lagi?
“Lapor ke Rey sama Gema.”
“Berhenti nyari Melodi?”
“Ya gimana lagi. Dia juga nggak ada di sekolah. Kalau nggak pulang yang dia bolos.”
“Tapi Melodi murid berprestasi. Aneh nggak sih kalau dia bolos?”
Leron baru menyadari hal itu. Sebagai sahabat Melodi, Leron baru ingat kalau Melodi tidak akan menghilang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Yang perlu Leron lakukan adalah mencari tahu alasan itu.
“Lo ada ide lain?”
Rara menggeleng. “Tapi gue lihat Melodi tadi waktu turun panggung, dia ngomong sama Bian.”
“Bian?”
“Iya, ada Azril juga. Tapi gue nggak tahu sih apa yang mereka omongin.”
“Gue nemu alasannya.”
“Ha? Alasan apa?”
Leron bergegas pergi namun lagi-lagi dia terhenti. Bukan karena Rara menarik tangannya. Tapi ada seseorang yang menabrak Leron. Dia seorang siswi dan juga satu tingkat di atas Leron dan Rara jika dilihat dari bet di seragam.
“Sorry, gue nggak tahu kalau lo mau lewat.” Leron ingin membantu siswi itu berdiri, tapi bantuannya diabaikan. Siswi itu berlari ke dalam toilet. “Lagipula bukan sepenuhnya salah gue.”
“Itu tadi Kak Lyla bukan?” gumam Rara.
“Lo tahu dia Ra?”
“Sedikit tapi tahu. Dia kakak kelas kita dan juga senior di paduan suara.”
“Oh.”
Seperti itulah Leron. Dia tidak akan bertanya lebih jauh karena baginya itu tidak perlu. Leron hanya mengurusi hal-hal yang dia anggap penting saja.
“Gue mau nyari Bian sama Azril. Lo bilang ke Rey sama Gema kalau Melodi udah nggak di sekolah.”
Rara menunjuk dirinya sendiri. “Gue nggak kenal sama Rey, apalagi Gema.”
Leron menepuk Pundak Rara. “Bilang ke Rey aja. Setidaknya dia lebih ramah dari Gema.” Dia berlari begitu saja.
“Hanya Rey? Gampang! Gue udah biasa lo cuekin. Kalau cuma Rey mah gue bisa atasin.” Dengan percaya diri Rara kembali ke tempat acara.
*****
“Leron mana?” tanya Sera saat Rara baru tiba di depan mereka.
“Gini gue jelasin dulu biar kalian nggak nyalahin Leron. Gue dan Leron udah nyari ke mana-mana. Udah buka setiap kelas dan ke toilet cewek dan cowok. Tapi Melodi nggak ada di sekolah. Dia udah pulang.”
“Nggak mungkin dia pulang. Sekarang ada acara penting buat ARION,” sahut Gema.
“Gue juga nggak tahu kalau kalian mau nanya alasan Melodi pulang. Leron masih nyari Bian sama Azril. Soalnya gue tadi lihat sebelum Melodi hilang, dia ngomong sama Bian sama Azril.”
“Jangan-jangan alasan Melodi pulang juga gara-gara Bian?” tebak Sera. Kali ini intuisinya sangat kuat.
“Kemungkinan besar Ser. Anehnya, Melodi sama Bian itu baik-baik aja. Gue lihat sendiri gimana Bian ngelihatin Melodi waktu nyanyi.”
“Rey, nggak semua yang lo lihat itu bener. Ada kalanya lo tetap salah walaupun menurut lo itu faktanya.”
Mereka melihat Gema. Rey menepuk pundak Gema. “Kalau lo udah ngomong, bawaannya gak sah kalau gue nggak percaya.”
“Ya udah terus kalian mau gimana?” tanya Rara.
“Nunggu Leron.”
*****
Leron kembali lagi ke tempat ia menabrak seniornya. Dia baru sadar kalau ada gelang yang tersangkut di sabuknya. Leron yakin itu gelang milik seniornya. Oleh karena itu Leron ingin mengembalikan.
Lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu. Senior itu belum keluar. Leron yakin dia masih ada di dalam karena Leron hanya berlari ke koridor umum saja yang hanya membutuhkan waktu detik untuk kembali.
“Dia nggak kenapa-kenapa di dalem sana kan?”
Leron mencoba melihat dari celah kecil ventilasi untuk memastikan seniornya itu masih ada di sana. Leron tentunya tidak ingin mengambil risiko ketahuan mengintip oleh petugas toilet atau CCTV sekolah.
“Halo? Masih ada orang di dalem?”
Tidak ada jawaban untuk Leron. Biasanya Leron tidak terlalu khawatir dengan orang baru. Tapi dengan seniornya kali ini, Leron sungguh khawatir.
Demi Gema yang selalu dingin padanya dan Sera yang selalu memukulnya jika ketahuan tebar pesona, Leron nekat menerobos aturan itu. Leron masuk ke toilet cewek. Dia membuka bilik satu persatu hingga ada satu bilik yang terkunci. Leron mendobraknya tanpa pikir dua kali. Dan benar saja, dia menemukan seniornya pingsan di sana.
Leron segera mengangkatnya. Dia berlari sambil menggendong seniornya menuju UKS. Baru kali ini Leron merasa tidak dibohongi oleh firasatnya sendiri.