Terhitung lima belas kelompok sudah berhasil melewati tes penegak sampai dini hari. Pembina telah memastikan kalau semua anggota kelompok lengkap. Sedangkan di dalam kelompok, tak ada yang tau pasti apakah anggota mereka lengkap atau tidak karena mata mereka ditutup sejak tiba di pos lima.
Tak ada yang menyadari bahwa Melodi menghilang. Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Selain dingin, mereka juga harus tetap menjaga diri agar tak tertidur.
Semua orang masih di kumpulkan di pos lima yang berada di lapangan. Ada evaluasi dari senior yang telah menjadi alumni. Itu cukup lama, sampai subuh.
Sudah lama Sera menahan agar tak ke toilet. Namun udara dingin membuat Sera harus izin ke toilet agar tak kebocoran di lapangan. Tempat Sera digantikan oleh Dinda saat dia berhasil mendapatkan izin untuk keluar sebentar dari evaluasi. Mata Sera masih ditutup sampai di toilet. Sera diantar satu orang senior cewek.
Selesai dengan urusan toilet, Sera pun segera keluar. Sebenarnya Sera merasakan keganjalan pada kelompoknya. "Kak boleh saya tau anggota kelompok lima berapa orang ya tadi?"
Senior itu tampak berpikir sebentar. "sembilan orang kan?"
"Loh, kelompok saya sepuluh orang Kak."
"Bukannya kelompok enam yang anggotanya sepuluh orang?"
"Gimana sih Kak, kelompok lima yang sepuluh orang. Yang sembilan orang baru kelompok enam soalnya satu anggota mereka nggak ikut jelajah."
Rasa panik membuat senior itu langsung berlari meninggalkan Sera yang masih bingung. Sera yakin ada yang salah dalam pencatatan. Sera memutuskan menyusul senior tadi tanpa menutup mata lagi.
Bisa Sera lihat orang-orang yang bertugas untuk mengevaluasi langsung membentuk kerumunan. Sera ingin memastikan sendiri kalau anggota kelompoknya masih lengkap.
Namun saat menghitung dan memastikan menggunakan senter, kaki Sera langsung terasa lemas. Dia kehilangan satu anggota kelompoknya. Melodi tak ada dalam barisan kelompok Sera.
"Lapor! Anggota kelompok saya tidak lengkap, kurang satu orang."
Sontak laporan dari Sera membuat suasana menjadi gaduh. Semua siswa akhirnya mencopot penutup mata mereka untuk melihat keadaan sebenarnya.
Sera sudah menuju kelompok Gema dan Rey untuk melaporkan hilangnya Melodi sebelum pembina mengumumkan ke seluruh peserta. Rey, Gema, Sera, Leron, Bian dan Fauzan langsung menuju hutan. Semua peserta juga langsung mencari Melodi. Tak ada yang tau di mana mereka melihat Melodi terakhir kalinya termasuk Sera.
Dengan bantuan senter seadanya mereka mulai membentuk kelompok-kelompok besar untuk mencari Melodi.
Ketakutan tak kalah besar merambat ke hati Bian. Bian sungguh kalap saat mencari Melodi. Dia bahkan tak memedulikan beberapa ranting tajam yang menggesek tangan dan kakinya yang terbalut sepatu. Yang ada di pikiran Bian, Melodi bisa ditemukan secepatnya dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Melodi kelompok lo Ser, masa lo nggak tau kelompok lo hilang?"
"Gue ada di depan Ron. Melodi paling belakang, gue nggak tau sama sekali apa yang terjadi."
"Udah, udah. Nggak akan ada hasilnya kalau kita cuma nyalahin satu sama lain." Bian sungguh tak habis pikir dengan mereka semua. Lebih baik terus mencari daripada berdebat.
Hampir satu jam lamanya Bian dan semua orang mengitari bukit tapi tanda-tanda Melodi belum ada.
Bian pun tak ingin menyerah begitu saja. Di saat semua orang sedang beristirahat, Bian masih berusaha mencari Melodi. Bian mendekati tebing yang terdapat jurang dalam di bawahnya. Sangat gelap, itulah yang Bian lihat. Tak ada tanda kehidupan di sana.
Namun ketika Bian berbalik untuk pergi, dia mendengar suara rintihan yang sangat pelan. Bian mencoba menajamkan pendengarannya. Hingga dia yakin pasti kalau itu suara Melodi.
Bian kembali mengarahkan senter ke bawah tebing. Dia terus mencari dan akhirnya menemukan Melodi di bawah sana.
"Siapa pun tolong! Gue butuh bantuan di sini." Bian menggerakkan senternya ke segala arah supaya teman-teman yang lain tau. "Mel bertahan ya, gue berusaha cari bantuan." Entah bagaimana rasanya hati Bian saat tau Melodi mulai berhenti bersuara.
Semua orang bergegas menuju tempat Bian. Mereka langsung memasangkan tali yang terdapat pengait ke tubuh Bian dan menahan tali itu di pohon besar.
Bian mencoba turun dengan perlahan. Dia mendapat penerangan dari senter besar yang dibawa oleh Leron.
Jurang ini sangat terjal, Bian semakin khawatir dengan keadaan Melodi.
Saat Bian sudah sampai di dasar. Bian menarik tali yang dipasang di tubuhnya. "Panjangin talinya, gue nggak bisa jangkau Melodi!"
Mereka memanjangkan tali sesuai permintaan Bian sedangkan Bian menuju tempat Melodi terbaring lemah.
Tak bisa dikatakan baik, tubuh Melodi penuh memar saat Bian berhasil mendekapnya. Jaket yang dikenakan Melodi sobek di beberapa bagian. Lutut Melodi yang semula sudah terluka kini semakin mengeluarkan banyak darah.
"Mel, bertahan ya. Gue akan bawa lo ke atas, kita selamat, bertahan Mel." Kekhawatiran Bian semakin menjadi saat dia merasakan kepala Melodi basah. Bian melihat darah merembes dari belakang kepala Melodi.
Melodi mengerjapkan matanya. Selain amat pusing yang mengganggu, Melodi juga sudah kehabisan tenaga untuk berbicara. Dia hanya bisa mengeratkan tangannya untuk memeluk Bian selagi cowok itu berusaha untuk membawanya ke atas.
"Tarik lebih cepat!" Bian kalap, ia sangat kesal karena mereka yang ada di atas sangat lambat menurutnya.
Bian mengusap rambut Melodi dan menyingkirkan helaian yang menutupi wajah cantiknya. Sekarang di hadapannya sendiri Bian melihat Melodi selemah ini. Orang yang dia sayang sedang bertaruh nyawa. Entah jika dia terlambat sedikit saja, mungkin Bian bisa kehilangan Melodi untuk selamanya.
"Gue sayang lo. Maafin gue Mel, gue harus pura-pura jahat dengan putusin lo." Air mata Bian menetes. Dia menangis melihat Melodi yang tak baik-baik saja.
Meski sudah tak punya tenaga untuk membalas perkataan Bian. Namun Melodi berusaha untuk menggerakkan satu tangannya untuk mengusap air mata di pipi Bian. Melodi menggeleng seakan mengatakan kalau Bian tidak boleh menangis, Melodi akan baik-baik saja.
*****
Melodi mendapatkan penanganan pertama di tenda kesehatan sebelum akhirnya ambulance datang untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.
Kegiatan perkemahan juga dinyatakan telah selesai dan semua peserta akan dipulangkan.
Semua orang sedang menebak-nebak kronologis jatuhnya Melodi ke dalam jurang. Banyak yang menuduh salah satu orang dari kelompok lima sebagai pelakunya karena tak mungkin Melodi dengan sengaja mencelakakan diri sendiri dengan masuk ke dalam jurang.
Di dalam ambulance ada Sera, Leron dan Bian juga. Rey dan Gema mengurusi barang mereka di bus.
Sebenarnya kondisi Bian juga kurang baik. Kaki dan tangannya terdapat banyak luka gores. Penampilannya juga lusuh karena tercampur tanah dan darah Melodi.
Bian terus memegangi tangan Melodi yang bebas infus. Ada selang oksigen yang dipasang di hidung Melodi untuk memudahkannya bernapas. Kepala Melodi juga sudah diperban sehingga darah berhenti mengalir.
Bian sudah sangat khawatir kalau Melodi kehabisan darah. Beruntunglah itu tidak terjadi. Kata petugas kesehatan, Melodi memerlukan jahitan di lutut dan belakang kepalanya, tapi tak banyak.
"Ser, lo nggak curiga sama sekali sama seseorang?" Pertanyaan Leron mengundang rasa penasaran Bian yang sedari tadi menunduk.
"Curiga sama siapa? Gue nggak naruh curiga sama siapa pun. Lo tau sendiri kan, nggak ada yang berselisih sama Melodi."
Namun Leron belum puas dengan jawaban Sera. "Pasti ada yang sengaja mencelakai Melodi. Nggak mungkin dia ke pinggir tebing gitu aja kalau kalian waktu jalan ke pos empat saling deketan."
"Ya terus siapa Ron?" Sera sudah pusing dengan keadaan Melodi, dia tak bisa berpikir jernih.
Bian juga tahu Melodi tak punya musuh. Selama ini aman-aman saja dan tak pernah ada pertengkaran hebat dengan siapa pun.
"Melodi pernah berselisih sama siapa emangnya?" Kali ini Bian memutuskan untuk bertanya.
"Cuma sekali sih sama Dinda. Itu juga waktu kelas satu." Butuh beberapa waktu sampai Sera mencerna ucapannya sendiri. "Anjir! Waktu sampai di pos lima, Dinda datang telat sendiri. Gue sempat lihat sebelum mata kita ditutup sama senior."
"Jangan bilang pelakunya Dinda." Leron mengepalkan tangannya. "Ingat nggak lo Ser waktu Bian dirawat di rumah sakit, Dinda datang dan nangis. Dia minta maaf ke Melodi waktu itu, inget nggak?"
Sera harus menggali beberapa memorinya. Ia ingat DInda pernah melakukan itu, sesuai dengan penjelasan Leron.
"Bantu gue jelasin ke Pembina setelah kita sampai di rumah sakit."
"Gue juga nggak akan biarin Melodi kita disakitin orang lain."
Meski semua ini sudah terlanjur dan menimpa Melodi, Bian tetap bersyukur Melodi dikelilingi oleh orang-orang yang sayang dan peduli dengannya. Sekarang Bian mengerti pentingnya ARION untuk Melodi. Bian juga menyesal telah memutuskan Melodi tanpa mau mendengarkan penjelasan darinya.
Bian mungkin tak akan tau bagaimana rasanya menjadi Melodi yang tidak punya siapa-siapa lagi selain ARION. Melodi pasti tertekan karena Bian.
"Makasih Ser, Ron, kalian selalu ada untuk Melodi. Maafin gue karena telah menyia-nyiakan Melodi. Seandainya gue mau dengerin Melodi dan mencoba mengerti, mungkin kita nggak akan putus. Dan gue masih bisa milikin Melodi."
"Makanya didengerin dulu!"
Sera mendapat pukulan di pundaknya oleh Leron. "Nih cewek nggak ada ceweknya sama sekali. Gue ngerti Bi, tapi lo harus minta maaf sendiri ke Melodi."
Bian mengeratkan genggamannya ke tangan Melodi. "Lo denger sendiri kan Mel kata mereka. Lo harus bangun supaya gue bisa minta maaf langsung dan kita bisa balikan lagi."
*****
Rombongan peserta camping sudah sampai di Jakarta sesuai kabar dari Gema. Rey dan Gema akan menyusul ke rumah sakit setelah selesai mengurusi perkara Dinda ke polisi.
Melodi juga sudah sadar beberapa saat lalu dan memberikan keterangan lewat video call. Dia ditemani Sera di dalam ruangan. Sebenarnya juga ada Bian, tapi cowok itu sedang keluar mencari makan untuk Sera.
Jadi Bian tak tau kalau Melodi sudah sadar. Dia begitu terkejut sekaligus senang saat kembali dan mendapati Melodi sudah siuman.
Sama seperti Bian, Melodi juga terkejut. Sera tak bilang apa-apa, jadi Melodi tak tau kalau Bian juga ada di sini.
"Udah ngerasa baikan Mel?"
Melodi melirik Sera sebelum menjawab Bian. "Terserah lo Med, gue nggak mau ikut campur."
Ya, Sera benar. Hubungan Melodi dengan Bian bukan urusan Sera atau pun ARION karena Melodi lah yang menjalani hubugan itu.
"Udah baikan Mel?' Bian bertanya sekali lagi. Dia meletakkan pesanan Sera di nakas lalu menarik kursi dan duduk di samping Melodi. "Gue minta maaf ya, lo nggak harus maafin kok Mel. Maaf karena gue nggak dengerin lo. Maaf karena gue kita harus putus. Gue menyesal karena gue nggak berusaha untuk mengerti lo. Mungkin jika gue ada di posisi lo, gue akan melakukan hal yang sama." Bian meraih tangan Melodi.
"Kayaknya gue harus makan di luar." Sera terkikik dan langsung keluar.
Sementara Melodi masih menggantung Bian dengan diam. Diamnya Melodi ada dua kemungkinan. Mencoba memaafkan Bian atau tidak ingin memaafkan Bian.
"Gue kesel sama lo."
Bian terkekeh ringan, akhirnya Melodi mau berbicara. "Wajar kok, kalau lo nggak kesel ke gue itu baru nggak wajar."
"Kenapa di sini? Kita udah nggak pacaran lagi."
"Justru gue di sini untuk memperbaiki apa yang telah gue rusak. Mau nggak lo jadi pacar gue lagi? If I can have you, I promise I can make you feel happier."
"Really? Can I keep your promises?"
"If I can have you, I can't promises."
Melodi melebarkan senyumnya. Meski Bian telah melakukan kesalahan dengan memutuskannya tanpa penjelasan, Melodi juga telah bersalah karena menarik Bian ke dalam janjinya bersama ARION.
"Maafin gue juga ya Bi. Seharusnya lo nggak mengalami semua ini, tapi karena gue, lo jadi ikut masuk ke dalam lingkaran yang gue buat bersama ARION."
"Udah lah maaf-maafannya. Sekarang lanjut aja kasih sayangnya."
Melodi memukul Bian dengan tangan kirinya yang bebas dari infus. Bian menangkapnya, dan mencium lembut tangan Melodi. Bian sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menebus semua kesalahannya karena ia telah berhasil memiliki Melodi, lagi.