Hal pertama yang dilakukan oleh semua orang saat sampai tempat perkemahan yaitu mendirikan tenda. Satu tenda akan diisi oleh 10 orang. Tenda cowok dan cewek juga dipisah sejauh lima meter setiap tenda.
Untuk yang terbiasa naik gunung atau pengurus pramuka dan PMR di sekolah mungkin sudah terbiasa. Tapi bagi siswa yang belum pernah ikut kegiatan alam, mereka cukup kesulitan. Namun mereka harus mandiri dan harus bisa mendirikan tenda bersama timnya. Bagi yang tidak bisa mendirikan tenda maka tidak akan dapat tempat untuk meletakkan barang-barangnya.
Butuh usaha keras sampai akhirnya tenda Melodi, Sera dan Dinda bisa berdiri. Mereka satu tenda. Sangat kebetulan bukan?
Semua orang langsung masuk ke tenda untuk sekadar menaruh barang karena harus apel setelahnya. Pembina tak mau menunggu lama. Calon penegak harus sigap.
Kurang dari dua menit semua sudah berkumpul di tanah lapang untuk mengikuti apel. Setiap tenda berarti satu kelompok. Dalam satu kelompok harus ada satu pemimpin.
Kelompok Melodi menunjuk Sera. Kelompok Gema, Leron dan Fauzan menunjuk Gema sebagai ketua. Kelompok Rey, Bian dan Azam menunjuk Bian sebagai ketua.
Semua ketua kelompok diberi arahan untuk meneruskan ke anggota. Kabar kurang menyenangkan datang karena malam ini juga mereka akan menjalani tes penegak. Artinya tak ada tidur sampai tengah malam.
Apel singkat selesai, semuanya bubar. Ada yang langsung mengantri di toilet, ada yang tidur karena takut tak bisa begadang dan ada yang sibuk menata ulang barang bawaan seperti Melodi. Di saat teman-teman satu tendanya memilih istirahat dan berbincang, Melodi menata barangnya. Melodi juga ingin memastikan semua perlengkapan untuk tes nanti malam siap semua. Melodi tak mau dihukum.
"Mel pinjem jaket lo boleh?" Dinda menyingkap pintu tenda.
"Boleh. Lo kedinginan? Bentar ya gue ambilin."
"Tapi gak papa nih gue pinjem? Lo bawa berapa emang?"
Melodi menyodorkan jaket itu ke Dinda. "Cuma satu, tapi pake aja. Gue masih belum butuh."
"Ya udah nanti bilang aja ya kalau ko butuh. Biar gue kembaliin."
"Iya gue pasti bilang," ucap Melodi meyakinkan Dinda.
Setelah Dinda pergi, Melodi kembali melanjutkan aksi beres-beresnya. Kaos kaki ia taruh di dalam sepatu dan ia keluarkan dari tenda. Untuk topi pramuka, Melodi sampirkan di atas tas.
Kini semua sudah siap. Melodi baru bisa beristirahat. Punggungnya lumayan pegal karena menahan untuk tetap lurus ke depan saat di bus. Itu karena Bian ada di sebelah belakang kiri. Yang jika Melodi menoleh, maka Bian bisa melihatnya.
*****
Peluit tiba-tiba dibunyikan. Semua orang gelagapan. Beberapa kaget karena terbangun dari tidur dan melihat langit sudah gelap.
Sera membangunkan Melodi yang masih tertidur di sebelahnya. Kelihatan sekali Melodi sangat capek.
"Ah kenapa Ser?" Melodi mengusap matanya. Suaranya masih serak khas orang bangun tidur.
"Kita punya waktu lima menit buat ganti dan bawa semua perlengkapan ke lapangan. Ayo cepet!" Sera yang sudah siap ikut membantu Melodi.
Sera berlari dulu ke lapangan untuk mencari tempat sambil menunggu Melodi datang.
Tak berapa lama Melodi benar datang dengan ngos-ngosan. Pasti sangat sakit kakinya berlari dengan pantofel.
"Makasih," kata Melodi. Dia langsung mengenakan topi yang sudah dibawa Sera.
Apel dimulai dengan beberapa siswa dihukum karena telat. Melodi bersyukur karena di sana tak ada Bian. Jujur saja Melodi masih mengkhawatirkan Bian sampai detik ini.
Melodi mencoba mencari keberadaan Bian di barisan laki-laki. Saat menemukan yang dia cari, Melodi sangat senang. Bian satu kelompok dengan Rey. Artinya Melodi bisa memantau cowok itu melalui Rey. Tanpa sadar Melodi mengatakan 'Yes'. Sontak mengundang perhatian Sera dan teman di baris depan dan belakang mereka.
Melodi tertunduk malu.
"Lo kenapa deh Med?"
"Gak papa kok. Gue seneng aja nggak telat."
Sera tak percaya, dia mengikuti tatapan Melodi dan baru paham maksud Melodi sebenarnya. "Paham gue mah."
"Gue masih peduli sama dia. b**o ya Ser?"
"Wajar sih kan namanya lo sayang dia. Tapi kalian break, kalau itu salah sih."
"Setidaknya gue masih bisa peduliin Bian sebagai temen. Gue nggak salah kan Ser?"
Sera memutar bola mata malas. "Terserah lo aja deh Med."
Melodi masih mengawasi Bian. Bahkan sambutan pembina juga tidak Melodi pedulikan. Saat dia fokus pada sesuatu, Melodi akan melupakan sekitarnya. Mungkin Melodi masih ada di lapangan sendiri kalau Sera tidak segera menarik Melodi usai apel.
Angin malam mulai terasa dingin. Puncak acara baru dilakukan tengah malam nanti. Mereka dibebaskan untuk memakai jaket. Melodi ingat jaketnya dipinjam Dinda. Dan Melodi tak bisa menemukan Dinda di tenda atau di sekitarnya. Alhasil Melodi harus menahan dingin.
Tentu Melodi tak memberitahu Sera karena Sera juga sama butuhnya. Apalagi Sera sangat sensitif dengan udara yang dingin.
Untuk menghilangkan rasa dingin yang menusuk, Melodi memutuskan berjalan-jalan di depan tenda, ke kiri dan ke kanan sampai merasa agak hangat.
Lama-lama Melodi lelah juga. Masih ada kegiatan lagi yang membutuhkan tenaga besar. Melodi tak bisa terus-terusan berjalan.
Saat Melodi memutuskan duduk, Azam datang. Cowok itu memberikan Melodi jaketnya. "Lo kedinginan kan Mel? Pakai aja."
"Nggak usah, lo sendiri gimana?"
"Gue tahan dingin. Lagian banyak cowok-cowok yang gak pakai jaket juga. Malu lah."
Antara menerima dan menolak. Melodi bingung.
Terlalu lama menunggu akhirnya membuat Azam langsung memakaikan jaketnya ke tubuh Melodi.
"Jangan pura-pura kuat, lo makin kelihatan lemah."
Dari awal Azam pergi dari tenda, Bian memantau gerak-gerik Azam. Dan Bian hanya bisa menyaksikan Azam memakaikan jaket untuk Melodi dengan hati yang panas menahan cemburu. Bohong kalau Bian membenci Melodi sepenuhnya. Masih ada cinta untuk Melodi di hati Bian. Hanya saja tertutupi gengsi.
*****
Tes penegak dilaksanakan tepat tengah malam saat semua mata sudah mengantuk. Peluit pertama yang menandakan dimulainya tes sudah dibunyikan beberapa menit yang lalu.
Terdapat lima pos yang harus dikunjungi oleh semua siswa. Masing-masing pos mempunyai jarak yang lumayan jauh.
Area camping yang tak lain adalah perbukitan tentunya menjadi tantangan untuk setiap tim agar selalu kompak dan menjaga anggota mereka tetap utuh serta tidak terpencar. Hutan ini sangat lebat, sangat membahayakan jika sampai tersesat.
Kelompok Bian adalah kelompok terakhir yang mendapat undian untuk tes. Sedangkan kelompok Melodi mendapat undian kedua terdepan.
Jaket yang dipinjamkan Azam masih Melodi kenakan. Semakin malam ternyata udara semakin dingin sehingga Melodi harus mengenakan jaket itu.
Kini kelompok Melodi menuju pos keempat. Di mana pos empat ini letaknya sangat jauh dari pos yang lain. Dan juga pos empat berada di puncak bukit. Cukup sulit untuk menjangkau pos empat karena medan yang terjal.
Banyak bebatuan kecil yang bisa menggelincir kaki kapan saja. Di sekitar jalan setapak menuju puncak adalah jurang yang cukup dalam. Mereka semua harus berkonsentrasi penuh agar bisa sampai dengan selamat.
Karena tadi sempat menunggu Dinda mengikat sepatunya yang terlepas, kelompok Melodi berjarak cukup jauh dari kelompok pertama. Alhasil kelompok Melodi berjalan sendiri di tengah gelapnya hutan. Hanya senter kecil di topi yang mereka kenakan yang menjadi penerangan satu-satunya.
"Hati-hati, kita harus fokus." Tak henti-hentinya Sera selalu mengingatkan. Dia sangat menjaga anggota kelompok agar tetap berada dalam jangkauannya. Sera ini atlet judo di sekolah, jadi dia sedikit perkasa dari teman-teman cewek yang lain.
Satu tali pramuka yang dibawa Melodi terjatuh. Tali itu menggelinding ke belakang. Mau tak mau Melodi harus mengambilnya.
Sialnya, Melodi tak sempat memberitahu rombongan kalau dia akan berhenti sebentar untuk mengambil tali pramuka yang akan digunakan di pos keempat. Tanpa sepuluh tali lengkap, mereka dianggap gugur. Melodi tak ingin kelompoknya gagal karena kesalahannya.
Saat sudah mendapatkan tali yang tadi terjatuh, Melodi sudah tertinggal jauh dari rombongan. Melodi cukup panik dan dia berusaha berlari untuk mengejar. Sayangnya kaki Melodi tersandung bebatuan dan tergores. Celana yang dipakai Melodi sobek di bagian lutut sedang tangannya terasa perih karena bergesekan dengan batu.
Senter di kepala Melodi mengarah ke bawah karena dia masih tertunduk. Kalau tidak segera menyusul, Melodi akan semakin jauh tertinggal dari rombongan, tapi kaki Melodi juga sakit.
Susah payah dia mencoba berdiri dengan bantuan tongkat pramuka. Melodi berjalan tertatih karena kakinya sangat sakit. Darah bahkan menetes.
Sekitar lima meter Melodi melihat senter, itu artinya dia sebentar lagi sampai. Namun saat Melodi mendekat, yang dia kira rombongan kelompoknya ternyata adalah Dinda.
"Lo ketinggalan juga Din?"
"Tali sepatu gue lepas Mel, gue nggak tau kalau mereka bakal ninggalin."
"Mereka ninggalin?" tanya Melodi tak percaya. Setau Melodi, tak mungkin jika Sera meninggalkan mereka.
"Iya Mel. Gue kira gue bakal sendirian, ternyata lo juga di sini. Ke mana aja tadi?"
Melodi meringis sambil menunjuk lututnya. "Gue jatuh tadi ngejar kalian. Tali pramukanya lepas, jadi gue harus ambil ke belakang."
"Kalau aja lo bilang gue Mel, pasti gue bantu."
"Mana sempet Din."
Dinda mengambil tempat di sebelah Melodi untuk membantu memapah. "Kita pelan-pelan aja nyusul mereka. Kalau anggota kelompok nggak lengkap, mereka nggak bisa pergi ke pos lima."
"Ya udah Din, pelan-pelan aja deh. Kaki gue juga perih banget rasanya."
Dinda kembali membantu memapah Melodi. Tak lama kemudian Dinda melihat tempat yang cocok untuk mereka beristirahat sejenak.
"Kenapa Din berhenti?"
"Udah di sini aja dulu. Gue capek banget Mel."
Melodi mengawasi sekitarnya. Perasaannya mengatakan kalau mereka telah keluar dari jalur yang telah ditentukan. Sedari tadi Melodi tak melihat lagi tanda berupa kain putih yang dipasang di pohon setiap sepuluh meter. Ketakutan mulai merambati Melodi.
"Lo yakin kita nggak salah jalur kan Din? Gue nggak tau rutenya, lo yang tau soalnya."
"Tenang aja. Kita masih di jalur kok." Dinda berdiri dari duduknya. "Sini gue lihatin kalau kita masih di jalur yang udah ditentuin."
Melodi cukup terkejut saat Dinda menarik tangannya menuju pinggir tebing. Semak belukar tumbuh tinggi di sekitar tebing. Hal ini membuat Melodi merinding karena dia takut ketinggian.
"Din, mau ke mana sebenernya?"
Dinda tak menjawab dan masih membawa Melodi semakin mendekati tebing. Baru setelah berjarak sangat dekat dengan bibir tebing, Dinda melepaskan tangan Melodi.
"Mau tau kenapa gue bawa lo jauh dari temen-temen?" Dinda tersenyum tapi dengan wajah yang menahan marah.
"Gue nggak ngerti maksud lo Din." Melodi mencoba bersikap sesantai mungkin walau jantungnya sudah berdetak sangat kencang.
"Jangan sok b**o deh Mel! Gue masih suka sama Bian asal lo tau!"
Melodi terkejut bukan main. Dia kira waktu Bian masuk rumah sakit saat itu, Dinda juga sudah memutus perasaannya untuk Bian. Namun yang diucapkan Dinda barusan sangat bertentangan dengan waktu itu.
"Lo yang bilang waktu itu Din untuk nggak suka lagi sama Bian."
"Gue pura-pura, supaya gue bisa deket lagi sama lo dan nyingkirin lo." Dinda mendekati Melodi sedangkan Melodi berusaha mundur menjauhi tebing.
Melodi tak ingin apa yang ada di pikirannya saat ini menjadi nyata. Itu sangat menakutkan. "Kita bisa bicara baik-baik Din."
"Sedangkan lo terus sama Bian, itu kan yang lo mau!" Teriakan Dinda membuat suasana yang sepi tambah mencekam. Dinda menendang tongkat pramuka yang membantu Melodi berjalan. Tongkat itu masuk ke dalam jurang yang gelap.
Keringat dingin sudah membasahi pelipis Melodi. Di situasi seperti ini, apa saja bisa terjadi. "Gue berkali-kali minta maaf Din, gue nggak bisa lepas Bian. Bian sangat berarti buat gue. Gue sayang lo juga sayang Bian. Kalian berdua sama-sama penting, gue nggak bisa milih salah satu."
"Lo egois Mel." Dindang mendorong pundak Melodi. Kaki Melodi sudah di ambang tebing. Sedikit saja Dinda melepaskan tangannya di pundak Melodi, bisa dipastikan Melodi akan jatuh.
"Lo nggak akan ngerti Din. Kalau aja lo ada di posisi gue, lo juga akan melakukan hal yang sama." Melodi berusaha meyakinkan Dinda, apa yang dia katakan juga benar adanya. Melodi hanya punya Bian yang bisa mengerti selain ARION.
"Karena itu, lo nggak seharusnya ada supaya gue bisa bersama Bian tanpa pengganggu." Dinda melepaskan tangannya di pundak Melodi. Namun sebelum Melodi terjatuh Dinda kembali memegangi satu tangan Melodi.
Keselamatan Melodi sekarang ada di tangan Dinda.
"Din, yang lo lakuin ini salah. Jangan kayak gini." Mata Melodi sudah berkaca-kaca. Jika Dinda tidak bisa percaya dengan apa yang dikatakan Melodi, maka itu bahaya.
"Apa yang gue lakukan itu bener. Gue juga pingin sama Bian, tanpa lo."
Detik saat kalimat itu selesai terucap, Dinda melepaskan pegangannya dari tangan Melodi.
Waktu berjalan sangat cepat saat Melodi terhempas ke dalam jurang. Tubuh Melodi terguling dan menabrak bebatuan. Melodi sudah pasrah, dia hanya bisa melindungi kepalanya agar tak terantuk batu dan kesadarannya tetap terjaga.