Baru saja Bian mengirim pesan ke Melodi. Isinya menyuruh Melodi untuk segera datang ke koridor dekat studio musik. Saat Melodi bertanya perihal apa, Bian tak membalas lagi.
Langkah Melodi tergesa, takut jika Bian marah karena menunggu terlalu lama. Suara sepatu Melodi terdengar di telinga Bian hingga dia menoleh untuk memastikan.
"Bi, tumben ngajak ketemu di sini, kenapa?"
"Langsung aja Mel ke intinya. Gue bahan taruhan lo sama ARION, bener?"
Tubuh Melodi menegang. Dia tak bisa menatap langsung mata Bian.
"Jawab gue Mel, gue akan dengerin alasan lo kalau itu bener."
"Bi, apa yang lo pikirin nggak seperti itu."
"Iya atau nggak?"
Melodi memelintir roknya dengan tangan dingin yang gemetar. "Iya, tapi sekarang beda. Gue udah suka sama lo."
"Ternyata lo makan omongan lo sendiri ya Mel. Dulu waktu gue bilang hal yang sama, respon lo langsung marah dan pergi tanpa mau denger penjelasan gue. Apa gue harus melakukan hal yang sama?"
"Jangan please, gue minta maaf Bi. Gue egois, gue salah. Jangan pergi.."
Bian membuang muka ke kiri mendengar penjelasan Melodi. Jika ditanya sakit atau tidak hatinya mendengar kebenaran itu, Bian akan jawab iya.
"Gue berharap semua yang gue denger kemarin itu salah. Tapi emang bener ya Mel, karma itu ada."
Melodi mengambil satu tangan Bian yang bebas untuk ia genggam. "Gue sama ARION yang lebih dulu memulai taruhan, itu bukan karma Bi."
"Sengaja?"
Melodi tak bisa menjawab, dia diam.
"Gue bener kan?" Bian mengempaskan tangan Melodi. "Lo bisa lepasin gue atau gue yang akan putusin lo Mel."
Gelengan lemah menjadi jawaban Melodi, dia sudah mempercayakan sebagian kebahagiaannya ada pada Bian. Jika Bian pergi, seseorang yang melindungi Melodi juga hilang. Bian sangat berarti bagi Melodi, orang lain tak akan tau.
"Gak ada yang baik dua-duanya. Gue memilih bertahan dan mempertahankan lo Bi."
"Bukan itu yang gue mau, tapi melepaskan atau dilepaskan."
Sebenarnya ini salah Melodi juga, dia terlambat menjelaskan semuanya ke Bian. Kalau saja dari awal Melodi segera memberitahu yang sebenarnya pasti Bian tak akan salah paham.
"Gue nggak pernah main-main kalau jatuh cinta Bi. Kalau lo emang sekadar taruhan bagi gue, pasti gue lepasin lo gitu aja waktu itu."
"Oke itu keputusan lo sendiri. Mulai hari ini gue lepas lo. Nggak ada lagi Bian dan Melodi. Sekarang kita sendiri-sendiri, nggak ada hubungan lagi antara gue, lo dan ARION. Terima kasih satu tahunnya." Bian melepaskan gelang hitam polos yang pernah Melodi berikan saat mereka berkunjung ke kebun belimbing.
Setelah Bian pergi dari sana, kaki Melodi rasanya melemas. Dia menekuk sedikit kakinya dan membungkam mulutnya agar tak ada yang mendengar isakannya.
Dilepaskan memang lebih menyakitkan. Terlebih secara paksa tanpa persetujuan.
Melodi tergesa-gesa menuju toilet. Menghapus jejak air mata yang terus turun membasahi pipinya.
*****
"Semua persiapan buat besok udah selesai semua kan?" tanya Gema ke semua anggota ARION.
"Gue udah," jawab Rey.
"Gue juga udah kok," sahut Sera.
"Udah dong." Leron sangat semangat.
Tersisa satu orang lagi yang mereka tunggu dan masih diam serperti melamunkan sesuatu. Terpaksa Leron menggedor meja.
"Eh, ada apa emangnya?"
"Persiapan buat camping udah selesai?" ulang Gema sekali lagi.
"Oh itu, udah kok. Udah beres semua."
Semua orang melihat Melodi yang terlihat gusar. Mereka tau ada sesuatu yang tidak beres.
"Lo kenapa deh Mel?"
Tanpa diduga-duga, setelah pertanyaan Sera yang cukup sensitif itu, Melodi menunduk dan terisak. Tentu saja ARION panik.
"Mel lo kenaoa?" Leron mengintip melalui celah di bawah meja.
"Gue diputusin Bian." Bahu Melodi naik turun saat mengatakan itu.
"What?"
"Lo seriusan?"
"Seharusnya lo yang mutusin Bian." Leron mendapat lirikan tajam dari berbagai pihak.
"Bian udah tahu kalau dia taruhannya." Melodi melanjutkan cerita dengan air mata yang semakin deras turun.
Sera mendekat untuk memeluk dan menenangkan Melodi. Baru kemarin Sera bertanya perihal Bian yang mendadak aneh, hari ini Melodi dipustukan.
"Nangis aja kalau bisa bikin lo lega, jangan ditahan." Sera mengusap punggung Melodi, menenangkan.
"Tapi lo udah jelasin semuanya kan ke Bian?" tanya Gema khawatir.
"Biar pun gue jelasin sampai berbusa, Bian udah mutusin gue Gem."
"Orang lagi nangis masih ditanya juga," sinis Rey.
Mereka kini diam membiarkan Melodi menangis sepuasnya. Lebih baik begitu daripada Melodi menyendiri dan stress kan?
"Camping besok, kalau lo mau batal ikut masih bisa Mel, biar gue izinin ke pembina pramuka."
"Yang patah hati Melodi, bukan tangan atau kaki dia. Jangan lebay deh kalian semua."
Sera berhasil membuat Melodi tertawa kecil. ARION memang satu-satunya tempat yang masih nyaman untuk Melodi tinggali.
*****
Hari camping tiba, seluruh kelas sepuluh akan mengikuti perkemahan untuk anggota penegak, tak terkecuali Melodi. Seburuh apa pun suasana hatinya hari ini, Melodi harus ikut supaya mendapat nilai di ekstra wajib pramuka.
Bersama ARION dia berangkat menuju sekolah. Di sana sudah terparkir empat bus besar yang cukup menampung satu angkatan.
Saat ARION turun dari mobil, mereka langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Siapa pun akan takjub dengan paras mereka yang tampan dan cantik. Bisa dibilang, ARION itu good looking.
"Cepat masuk, kita akan berangkat sepuluh menit lagi."
Semua murid langsung masuk ke dalam bus sesuai arahan pembina. Banyak sekali yang antusias dengan kegiatan camping nanti, tapi banyak juga yang malas-malasan karena lebih suka kegiatan indoor.
Tempat duduk telah diatur sedemikian rupa. Satu bus diisi du akelas yang diurutkan mulai IPA 1-IPS 4.
Melodi masih mencari kursi saat bus mulai melaju. Tadi dia kebagian terakhir memasukkan barang di bagasi. Alhasil Melodi terakhir yang masuk bus.
Melodi harus ekstra melihat tulisan kecil di dinding bus. Hingga akhirnya Melodi menemukan kursinya yang berada di tengah-tengah, dua kursi.
"Permisi, gue yang duduk di sebelah kursi lo. Maaf ya gue bangunin."
Orang yang dimaksud Melodi melepas hoodie. Terpampanglah wajah Bian yang menahan kantuk. Bian juga kaget seperti Melodi. Tak ada yang tau siapa berpasangan dengan siapa. Semua nama diacak.
Tanpa menjawab Bian memutuskan pindah ke kursi yang ditempati Fauzan. Hal itu membuat Melodi kecewa. Setidaknya kalau Bian memutuskan dirinya, mereka masih bisa berteman kan?
"Kenapa tuh Bian pindah? Seharusnya seneng duduk sama pacar, aneh banget tuh cowok."
Ingin Melodi menyahuti Fauzan, tapi dia tidak ingin hubungan yang sifatnya pribadi menjadi bahan pembicaraan orang lain. Cukup dirinya dan Bian yang tahu. Kalau pun Bian ingin Fauzan tau, biar Bian yang memberitahu sendiri.