Jadian Lagi

1725 Kata
Seumur hidupnya, setelah sekian lama, Melodi akhirnya bisa menemukan kegembiraan lagi. Perjanjian yang dibawa ARION ternyata membuahkan hasil yang manis. Perjuangan Melodi mempertahankan Bian, ternyata terbayar seperti yang ia inginkan. Setelah perjanjian yang berlangsung sejak kelas X tersebut, baru kali ini akhirnya Melodi membawa Bian berkumpul bersama ARION di kafe Gema. Hanya Melodi sampai saat ini yang berhasil mendapatkan pasangan untuk prom. Seperti berjalan di karpet merah, Melodi akhirnya bisa menggandeng lengan Bian seperti gadis lainnya yang bisa bergandengan dengan pacarnya. Untuk kali ini, Melodi menyingkirkan rasa tidak percaya dirinya. "Asek, udah kayak lem aja kalian," goda Rey tepat saat Melodi masuk ke dalam kafe. "Lem sama perangko," timpal Sera. "Bukan-bukan, perangko sama surat," balas Leron. "Gue seneng akhirnya Med lo punya pacar juga," Gema tersenyum lebar. Memang dia tidak bisa sereceh Rey, Sera, ataupun Leron. Namun Gema sangat perhatian. "Gue jadi malu nih." Melodi duduk dengan Bian di sampingnya. Tiba-tiba mereka berempat, absen Melodi dan Bian pindah ke meja sebelah. "Gue nggak mau ganggu yang lagi kasmaran ah." Leron yang punya ide seperti itu. Tingkat kejahilannya melebihi siapa pun, sumpah. "Bukannya lo juga Ron?" tanya Bian dan Leron langsung bungkam seribu bahasa. "Jadi Leron juga udah nih?" Melodi girang bukan main, akhirnya sahabatnya satu itu tidak jomlo lagi. Rey dan Gema bertos ria seakan mereka tau semua. Sedangkan Sera bersikap biasa saja karena tidak ada yang bisa memengaruhinya. "Tadi katanya lo mau adain sesuatu yang baru Rey, apaan tuh?" Leron berusaha tetap santai, padahal dia sudah ingin mencaci Rey dan Gema. Tunggu, Bian juga. "Oh ya, gue mau kita semua, tanpa terkecuali, tulis surat buat dikumpulin. Nulisnya sama pasangan masing-masing. Dan berhubung baru Melodi yang punya pasangan, cuma dia yang nulisnya berdua sama Bian. Jadi Bi, lo nggak usah nulis lagi," tutur Rey menegaskan. "Gak ada jaminan surat itu bakal dibaca di sini kan Rey?" Sera sangat cemas dan begitu khawatir. "Ngapain disuruh buat kalau ujung-ujungnya nggak dibaca Ser? Dasar!" Gema menyentil hidung Sera. Gadis itu berdecak tidak suka. ARION mulai menulis suratnya masing-masing. Leron menghadap ke arah jendela, Gema melihat ke atas mencari inspirasi, Rey bersitegang dengan vas bunga di hadapannya. Melodi dan Bian sibuk mempertahankan argumen masing-masing. Beberapa menit berlalu, ternyata Leron yang mengumpulkan paling cepat. Di susul Rey, Sera, dan terakhir Melodi.  Ini semua gara-gara Bian, Melodi jadi lama menulisnya. Cowok itu terus menerus memandangi wajahnya sehingga Melodi tidak bisa konsentrasi. "Med punya lo baca dulu," putus Gema. "Hah, yang baca siapa?" "Lo sama Bian lah. Emang siapa lagi, Bian sama Dinda?" Rey langsung mendapat tatapan tajam dari semua orang. "Oke gue nggak maksud nyinggung kok. Cepetan kalian baca aja," lanjut Rey. Melodi berdiri, dipegangnya erat-erat kertas berwarna krem yang terdapat motif bunga-bunga di bagian pojok kanan. By the way, kertas itu adalah kertas rampokan Leron dari adiknya, Linzy. Dari Melodi dan Bian untuk ARION. Kami nggak tau mau berterima kasih yang kayak gimana lagi. Kalian semua udah buat kami rukun lagi dengan cara yang kalian buat. Kalian itu keluaga bagi kami yang sekarang. Intinya kami mengucapkan terima kasih yang banyak sama kalian semua. Oh ya, kami doa in supaya kalian bisa cepet dapat pacar ya. "Asem nyindir amat!" Sera berkomentar. "Sakit hati mbak dedek," Leron mulai alai lagi dengan mukanya yang didramatisirkan. "Jijik!" kompak, Rey dan Gema begidik ngeri. "Gue rasa kalian ngerti lah. Gue sama Melodi udah jadian. Tujuh bulan yang lalu." Melodi langsung menutup mulut Bian dengan donat. Tatapan matanya mengisyaratkan kalau sebentar lagi Bian akan berurusan dengan Melodi. Cowok itu sama sekali tidak terpengaruh tatapan Melodi, malah tersenyum lebar. "Sumpah demi apa?" Sera menggebrak meja tidak percaya. Gema meliriknya tajam, "pecah tuh meja ganti Ser!" "Gampang-gampang, gue ganti. Sewot amat sih lu Gem. Ada yang lebih penting nih." "Berarti sebelum kenaikan kelas?" Rey mendekatkan dirinya ke meja yang digunakan Melodi dan Bian. "Tepatnya hari dimana Melodi datang ke ulang tahun Dinda," jawab Bian. "Gue kapan coba dapet pacar?" Leron mengacak-acak rambutnya. "Makanya jadi cowok jangan sok jual mahal!" kata Sera tepat di telinga Leron. Cowok itu mengusap telinganya yang gatal, "asem merinding gue." ***** "Jadi apa Bi yang mau lo omongin?" Melodi menatap gugup Bian yang kini berjongkok di hadapannya seperti seorang lelaki yang ingin melamar kekasihnya. Bian tersenyum mantap. Hari ini, di bawah temaram lampu jalan depan kos Melodi, Bian akan meresmikan hubungannya tepat di depan ARION. "Lo mau jadi pacar gue lagi Mel?" "Bukannya udah?" tanya Melodi bingung. "Iya udah. Tapi gue mau lo mengucapkannya di sini, di depan semua sahabat lo. Gue mau mereka percaya bahwa sekarang ada yang menjaga lo. Gue siap untuk itu." "Cie, cie." Sera, Leron, Rey, dan Gema bersorak-sorak senang. "Iya gue mau Bi. Malu ah." Melodi memukul pelan lengan Bian. "Mulai sekarang lo nggak usah khawatir Mel. Karena apa yang udah menjadi milik gue akan gue jaga dengan sebaik-baiknya. Gue janji nggak akan buat lo terluka." Mereka semua senang karena akhirnya Melodi punya harapan baru dan semangat untuk hidupnya. Bagi Melodi, Bian adalah titipan terindah dari Tuhan. "Sebagai pajak jadian, kita beli martabak manis. Bian yang traktir oke?" Leron menepuk bahu Bian keras. Bian pasrah. "Demi Melodi gue rela." ***** Hari ini ada acara pensi untuk memperingati hari guru di Pelita Jaya. ARION mendapat perintah untuk menyanyi di pensi. Mereka senang karena akhirnya hari ini semua akan tau kalau Melodi adalah anggota mereka juga. Selama ini hanya beberapa orang yang tau Melodi sebagai anggota ARION. Leron mempunyai usul agar mereka menyanyikan lagu 'Back to December'. Leron juga ingin hanya Melodi, dirinya dan Rey yang tampil. Gema dan Sera menyetujui saja. Lagipula mereka akan mengabadikan momen ini. Saat ARION membawakan lagu itu, semua terbawa suasana. Kadang riuh sorakan penonton saat Melodi menyanyi. Mereka takjub dengan suara Melodi. Tidak ada yang mengira suara Melodi akan seindah itu. Bian terus memperhatikan Melodi. Matanya terpaku pada gadis yang telah membuatnya bahagia itu. Bian tau dirinya sangat jahat kepada Melodi, untuk itu ia ingin menebus kesalahannya dengan mencintai Melodi dengan sungguh-sungguh. Mata mereka bertemu. Rasa hangat dan nyaman menelusup di hati keduanya. Namun tiba-tiba ada yang menarik tangan Bian dan membawanya menjauh dari sana. Bian marah karena dia tidak bisa melihat penampilan Melodi sampai akhir. "Kenapa Zam!" Ya, orang yang menarik Bian adalah Azam. Azam tertawa meremehkan. Memandang Bian seolah ia makhluk menjijikkan. "Lo b**o banget sih. Melodi nggak beneran suka sama lo. Dia pacaran sama lo cuma gara-gara pertaruhan dia dengan si ARION bodoh itu. Mau aja lo dibodohin cewek." "Gue nggak ada waktu untuk mengurusi kebohongan lo. Gue nggak percaya." "Oh ya? Walaupun gue tunjukin rekamannya saat ini juga?" Azam menantang dan semakin gencar. Azam mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara itu. Di dalam rekaman berisi percakapan Melodi dengan para sahabatnya alias ARION yang menjelaskan bahwa Melodi telah berhasil melalui perjanjian yang mereka buat untuk mendapatkan pacar. Mereka juga menyebutkan bahwa Melodi akan mendapat hadiah dari masing-masing anggota ARION karena berhasil memenuhi taruhan itu. "Masih nggak percaya dan masih nuduh gue sebagai perusak hubungan orang?" Bian mengepalkan tangannya. Rasanya tidak mungkin Melodi mengkhianati dirinya. Bahkan sekalipun tak pernah terpikirkan hal itu. Kemarahan Bian memuncak. Tega sekali Melodi melakukan ini semua. Apa jangan-jangan ini balasan lo Mel  karena dulu lo juga pernah gue dijadikan taruhan? "Kapan rekaman itu diambil?" Azam tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya Bian sudah percaya. "Lo nggak mau berterima kasih dulu?" "Jawab gue!" "Oke santai bro. Gue rekam ini jauh sebelum kalian dekat. Kelas X sebelum ujian kenaikan kelas." Damn! Itu artinya sebelum gue taruhan sama Fauzan. Melodi terlihat sangat baik untuk dituduh itu. Namun inilah kenyataannya. Hati Bian tertampar keras, semua memang Melodi lakukan untuk sahabatnya. Bian tau kedekatan Melodi dengan ARION seperti keluarga. Namun tetap saja Bian masih tidak menyangka. Seberapa berharga ARION Mel? Bian meninggalkan Azam. Bian tidak berpikir lagi jika Azam bohong. Karena bagi Bian kesungguhan Melodi sekarang hanya sebatas hadiah saja. Ya, hadiah karena  Melodi sudah berhasil memenuhi taruhan. Melodi yang baru turun dari panggung dibuat bingung karena Bian datang dengan napas terengah-engah. Melodi tidak tahu apa sebabnya. "Bi ...." "Gue nggak bisa anter lo pulang." Sudah itu saja dan Bian meninggalkan Melodi dengan seribu tanda tanya. Ada rasa tidak tega untuk mengungkapkan semuanya sekarang. Bian masih memberi jeda Melodi untuk berbahagia hari ini sebelum besok kembali ia patahkan. Sera menepuk pundak Melodi yang melamun. "Kenapa?" "Ada yang aneh. Bian tiba-tiba nggak bisa nganter gue pulang. Padahal kemarin kita janjian bantu mamanya bikin kue." "Lo nggak tanya?" "Gimana mau tanya Ser, dia udah pergi duluan." "Coba deh inget-inget, mungkin dia tersinggung." "Ngomong juga belum." "Mau nyusul Bian?" Melodi menggeleng. "Dia kalau marah nggak suka diganggu." ***** Melodi bekerja kembali di kafe. Ia masih memikirkan sikap Bian yang tiba-tiba berubah. Tidak bisa dihubungi walau Melodi mencoba telepon. Benar, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Beberapa pelanggan berdatangan. Melodi kembali ke meja kasir. Salah satu pelanggan yang dikenal Melodi masuk, dia Azam. "Silakan, mau pesan apa?" Bukannya menjawab, Azam malah melihat Melodi dengan saksama. "Zam, mau pesan apa?" Kesal, akhirnya Melodi memanggil nama cowok itu. "Bentar Mel, lagi mikir." Melodi sudah bersiap mencatat dengan catatan kecil yang ia kalungkan di leher. "Mie level 3 sama lemon tea." "Oke, silakan tunggu nanti ambil ke sini lagi kalau nama lo udah dipanggil." "Boleh nggak gue tunggu di sini aja Mel?" "Kenapa nunggu di sini?" "Ya males aja harus balik lagi." "Oke deh terserah lo. Gue anterin pesanan ke dapur." Selesai mengantar pesanan ke dapur untuk dimasak, Melodi kembali ke kasir. Azam masih di sana. Karena kaf e sepi jadi Melodi tidak mengusir Azam. "Mel." "Apa?" "Lo sayang banget sama Bian?" "Pertanyaan lo udah jelas banget jawabannya Zam." "Gue mau tau langsung dari lo." "Iya, gue sayang Bian." Azam tersenyum kecut. Kesempatannya untuk mendekati Melodi memang nol besar. Ia salah dari awal karena cara menunjukkan rasa suka ke Melodi dengan cara yang dibenci gadis itu. "Kalau Bian ninggalin lo atau mutusin lo gimana?" "Udah deh ngapain tanya yang nggak jelas gitu? Gue sama Bian baik-baik aja." "Ke depannya seperti apa nggak ada yang tau. Emang lo siap diputusin Bian?" "Zam!" "Pesanan nomor 11!" Ratih tau-tau sudah berdiri di samping Melodi. "Pesanan lo udah jadi, bisa lo pergi dari depan gue Zam?" "Apa yang gue omongin tadi bisa lo pikirin Mel." "Yang gue pikirin udah banyak, makasih." Entah kenapa Melodi kesal saat Azam berkata seperti itu. Melodi kesal Azam sok tahu. Memang Bian tidak bisa dihubungi, tapi masih satu hari kan? Besok Melodi bisa menghampiri Bian di sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN