"FAREN, Fegan mau ngomong sesuatu sama Faren," ujarnya. "Faren masih marah?" Faren menyorot Feron dalam-dalam, matanya kemudian mengerjap. Bingung mau mengucapkan balasan seperti apa, Faren akhirnya menunduk. Feron menghela napasnya panjang. "Mungkin Faren masih marah. Fegan nggak nyalahin Faren karena itu. Faren benar, Faren berhak buat marah. Kesalahan Fegan emang banyak banget sama Faren. Fegan nyesel udah nyakitin Faren. Faren boleh luapin semua emosi semau Faren kalo itu buat Faren merasa lega." Faren menggigit bibir bawahnya, penuturan Feron membuat hatinya tersentuh. Pelupuk matanya pun kini sudah menampung air mata. Faren berusaha menjaganya agar cairan bening itu tidak lolos dan turun dipipinya. "Tindakan Fegan emang nggak bisa dibenarkan gitu aja. Faren tau? Penyesalan ya

