"Ingin ku tarik dia sekuatnya sehingga kembali mendekat padaku, dan tak akan ku lepas lagi sampai nanti nafasku tak lagi berfungsi" *** Canis Aku menangis tanpa henti di teras rumah. Sedari tadi Bunda Tita menemaniku tanpa mengatakan apa-apa atau pun mencoba menenangkanku. Ia tahu aku butuh menangis tanpa perlu dihentikan atau dihibur. Kejadian ayah yang mendatangi sekolahku beberapa hari lalu masih saja membekas di benakku, bahkan kata-katanya yang kembali membuatku menjauhi Bara dan Kak Adit. Lama sekali aku terbenam dalam kesedihanku di malam yang semakin larut ini, hingga akhirnya tangisku mereda dan Bunda Tita beranjak ke dalam, membawakanku s**u hangat seperti biasa untuk meredakan tangisku. Aku menerimanya dengan mata masih berkaca-kaca dan meneguknya sedikit demi sedikit, berhar

