Prolog
“Kamu adalah orang yang tak pernah kuharapkan datangnya, namun selalu kudamba kehadirannya,”
***
Siang itu tampak cerah. Anak-anak berlalu lalang bersama orang tuanya mengelilingi taman hiburan dengan berbagai macam snack di tangannya. Namun tidak dengan sepasang remaja yang tengah duduk di rest arena. Aura kesedihan, kekecewaan, kemarahan dan frustasi tergambar jelas dari sorot mata keduanya. Seketika wanita itu berdiri sambil mengepalkan tangan dan beranjak pergi, namun suara pria yang menahannya mengurungkan niat tersebut.
“Canis, jangan pergi. Gue tahu gue salah udah ungkit tentang Kent. Tapi seberat itukah kesempatan gue buat bisa dapatkan tempat di hati lo? Nggak bisakah sedikit saja lo kasih gue kesempatan untuk buat lo bahagia? Gue juga tahu sampai kapanpun gue nggak bisa jadi seperti Kent karena gue Bara, gue bukan dia. Tapi gue punya cara sendiri buat bahagiain lo”
Wanita yang dipanggil Canis berbalik dan menatap Bara dengan tatapan sinis dan wajah tanpa ekspresi. Tatapan yang membuat Bara selalu hancur karena menyadari perasaan tak terbalasnya. “Gue udah bilang berkali-kali ke elo, gue nggak mau. Gue nggak bisa lupain dia. Lo ngerti nggak sih Bara? Kent nggak akan ada yang bisa gantiin. Bukan elo, bukan Adit, dan bukan siapapun. Dia cinta pertama gue, dia yang gantiin sosok ayah di hidup gue, dia orang pertama yang ulurin tangan ke gue bahkan ketika semua orang jauhin gue. Sekarang, lo minta untuk lupain dia dan jadiin lo sebagai pengganti? Lo kira gue sejahat itu Bara? Jadiin elo pengganti Kent? Enggak! Gue tahu gue anak dari seorang pria yang menelantarkan keluarganya demi mencari pelampiasan ke wanita baru. Tapi balik lagi kayak yang lo bilang, lo bukan Kent tapi Bara. Sama halnya kayak gue, gue Canis dan bukan Roger,” tukas Canis sambil menahan emosi.
Bara tertunduk lesu. Bukan ini yang ia mau. Ia hanya ingin siang ini akan menjadi hari yang indah buatnya dan Canis. Sudah 2 minggu ia merencanakan hari ini dan membuat Canis dapat membuka hati untuknya dan merasakan ketulusan yang selama ini ingin ia berikan pada Canis. Tak ada maksud sama sekali darinya untuk membuat Canis marah atau melupakan Kent. Namun kenapa begini akhirnya? Ia tak menyangka bahwa Kent adalah topik yang dapat membuat Canis rapuh dalam waktu singkat.
Bara mencoba berdiri dan menatap Canis sekali lagi, berharap apa yang ia rasakan dapat tersampaikan. Namun nihil. Wanita itu telah tenggelam pada kekecewaan dan sakit hati.
“Apa yang harus gue lakukan supaya elo percaya kalau gue juga tulus ke elo Nis? Apa yang harus gue lakukan supaya elo paham sebegitu inginnya gue membahagiakan elo?” lirih Bara sambil menatap Canis dalam-dalam.
“Gue nggak tahu, dan gue nggak mau tahu. Gue kira elo paham atas semua perasaan gue Bar, semua sakit yang masih menumpuk di kepala gue. Tapi nyatanya elo sama seperti kak Adit yang minta gue buka hati. Gue nggak bisa secepat itu move on Bara. 9 tahun dia pergi, tapi gue nggak bisa ikhlas, apalagi lihat ayah yang kadang datang ancam gue. Gue cuman ingin dia datang dan semangatin gue, karena gue merasa belum ada yang bisa buat gue bebas dari ayah dan trauma gue selain dia,” jawab Canis tak kalah lirih.
“Gue kira gue bisa percayain perasaan gue ke elo Bar. Gue kira lo bisa sabar nunggu hati gue terbuka buat lo. Ternyata penilaian gue salah. Elo nggak bisa memahami gue, dan gue juga nggak bisa memahami elo. Udah cukup gue sakit hati sama masa lalu gue. Udah cukup orang lain sakit hati sama gue. Lebih baik elo jauhin gue. Sampai kapanpun elo dan gue nggak akan bisa bersatu,” lanjut Canis kemudian meninggalkan Bara yang berdiri mematung dengan perasaan hancur memandangnya berjalan menjauh.
“Andai gue bisa milih waktu, gue ingin jadi orang yang elo dambakan utuk hadir di kehidupan lo, Nis,”