“Keinginanku hanya sesederhana merasakan bahagia seorang putri raja dalam keluarga kecilku, karena disanalah tempatku bersandar dari pahitnya dunia”
***
BRUK! BRUK! PRANG!
Aku menutup telinga gemetar. Lagi-lagi rintihan kesakitan dan tangisan mama akibat pukulan Ayah terdengar. Aku ingin berteriak. Kenapa ayah selalu memukul mama? Kenapa ayah selalu membentakku ketika aku menangis atau ingin lolipop yang dijual di taman? Padahal kata ibu guru di sekolah, ayah adalah sosok laki-laki yang tidak akan membiarkan anak perempuannya terluka. Aku juga sering melihat teman-teman perempuanku dijemput oleh ayah mereka sambil tertawa riang dengan oleh-oleh jajanan berbeda setiap pulang sekolah, atau bahkan sekedar pujian ringan yang sangat kudamba. Namun Ayahku?
Sejak umurku 4 tahun, perilaku ayah yang acuh padaku dan mama semakin menjadi. Awalnya dimulai ketika berhari-hari ia tidak pulang ke rumah dan membuat mama menangis setiap malam sembari memelukku dengan erat. Saat pulang ke rumah, wajah ayah selalu lelah dan kusut. Bau alkohol, rokok serta parfum yang cukup menyengat tercampur menjadi satu padanya. Tanpa basa-basi, ayah selalu masuk ke kamar tanpa menanyakan kabar kami selama ia tidak di rumah. Apabila kami berani membangunkannya untuk makan malam, ayah tak segan untuk membentak. Entah apa yang ayah lakukan di luar sana, aku merasakan sosok “cinta pertama”ku semakin menjauh. Ayah mulai berani memukul mama dan melempar barang-barang di rumah setiap kali kami melakukan kesalahan, sekecil apapun itu. Keributan di rumah berakhir dengan mama yang terluka akibat pukulan ayah sambil berusaha membersihkan puing-puing barang yang rusak dan tangis kencangku.
Aku mencoba berdiri dengan badan gemetarku, berjalan keluar kamar dan mendekap mama yang menangis menahan rasa sakit. Tepat saat aku membuka pintu, kulihat tubuh lemas mama yang terbaring dengan lebam di wajah dan lengannya. Sementara ayah masih berdiri depan mama dengan tangan terkepal.
“Mama!” jeritku sambil menghampiri mama dan memeluknya. Tangan mama yang lemah mencoba meraihku. Tatapan khawatirnya seolah menyuruhku untuk tidak berada disini. Aku menggeleng pelan dan menangis kencang. Kenapa aku mempunyai ayah sepertinya? Kenapa aku harus mengalami ini semua? Kenapa aku tidak bisa merasakan betapa bahagianya anak perempuan di luar sana dimanjakan oleh sosok cinta pertama mereka? Aku menatap ayah yang masih mengepalkan tangannya dengan penuh amarah dan kecewa. Dengan keberanian yang kukumpulkan, kucoba mengeluarkan kekecewaanku yang terpendam dalam satu kalimat tanya.
“Ayah, apa salah Canis dan mama sehingga harus ayah perlakukan seperti ini?”
Ayah menatapku dengan tatapan sinis dan meremehkan. Tatapan itu membuatku gentar, namun kali ini aku ingin mencari setitik rasa sayang yang mungkin saja ada untukku dan mama. Semua nihil tak bersisa. Hanya terlihat tatapan benci dan dingin.
“Saya menyesal pernah menikahi kamu Clarissa. Kamu hanya perempuan tidak berguna yang menjadi beban dan penghalang langkahku. Dan kamu...” ayah mengarahkan telunjuknya ke arahku dengan tatapan dingin yang membuatku semakin hancur.
“Kamu adalah anak yang semakin melengkapi beban saya. Kalian adalah hal yang sangat ingin saya buang sejauh-jauhnya supaya tidak ada lagi yang menghalangi langkah saya mencapai kebebasan,” lanjutnya kemudian berbalik pergi sambil melempar vas yang ada di dekatnya.
Aku membantu mama bersandar di dinding. Bergegas aku mengambil air dingin di kulkas dan handuk bersih untuk mengompres lebam mama. Sambil menahan tangis, ku kompres lebam mama yang mulai membiru. Mama perlahan mengusap kepalaku lembut sambil menyunggingkan senyumnya. Tangisku pecah seketika yang membuat mama memelukku dengan lemah.
“Ma, kenapa ayah benci Canis dan mama? Bu guru bilang kalau sosok ayah adalah orang pertama yang akan menjaga hati anak perempuannya. Tapi kenapa ayah benci Canis? Kenapa ayah nggak mau Canis ada dan jadi beban ma?” isakku keras.
“Canis sayang, ayah sayang banget kok ke Canis. Ayah hanya sedang kelelahan setelah berhari-hari bekerja. Makanya setiap pulang kalau kita ganggu ayah selalu marah,” jawab mama. Aku tau mama berbohong. Getaran ketakutan dalam suara mama dapat kurasakan. Aku tau mama tidak ingin membuatku membenci ayah. Namun tak bisa kupungkiri bagaimana kebencian ini telah tumbuh dalam relung hatiku.
Dia bukan sosok ayah. Bukan sosok cinta pertama yang kudamba. Bukan sosok raja arif yang membimbing keluarganya pada kebahagiaan. Dia hanyalah lelaki pengecut yang ingin bebas dengan menelantarkan keluarganya.
***
Aku keluar rumah mencari udara segar. Hembusan angin malam membuatku dapat bernafas lega dalam sesak yang menerpaku tanpa henti. Aku menatap kecewa ke arah langit karena tidak mendapati bintang yang menghiasi langit malam.
Kudengar suara pintu yang terbuka. Mama berjalan ke arahku sambil membawakan jaket. Bergegas kubantu mama berjalan menuju dipan depan rumah, tempat kami sama-sama berbagi cerita dan melepas penat selama alfanya kehadiran ayah. Mama memakaikan jaket padaku dan mengusap punggungku lembut.
“Mama kenapa memaksakan diri keluar? Kan mama masih sakit. Canis nggak apa-apa ma sendiri duduk di dipan malam ini. Nanti kalau mama tambah sakit bagaimana?” tanyaku khawatir. Mama menatapku lembut sambil menggelengkan kepalanya.
“Mama bosan Canis. Lagipula mana mungkin mama melewatkan satu malam tanpa melihat bintang malam bersama anak mama tersayang ini?” jawab mama sambil tertawa pelan. Aku ikut tersenyum melihat tawa mama. Syukurlah mama sudah cukup terhibur setelah apa yang ayah lakukan tadi. Lebam mama cukup parah hingga membuatnya cukup kesulitan bergerak. Bahkan untuk berjalan saja aku harus memapah mama.
“Bintangnya malam ini nggak muncul ma. Kayaknya mendung deh. Padahal Canis pengen dengar cerita mama tentang bintang lagi malam ini,” ujarku sambil cemberut menatap langit kelabu malam itu. Mama terkekeh kecil sambil mencolek jahil hidungku.
“Buat apa mencari bintang kalau nyatanya bintang paling terang sudah ada di dekat mama? Canis tau nggak asal muasal nama Canis berasal darimana?” tanya mama. Aku menoleh dan menggeleng. Dengan semangat, aku memperbaiki posisi dudukku menghadap ke arah mama yang lagi-lagi membuat mama tertawa kecil atas tingkah konyolku.
“Mama kan belum pernah cerita asal nama Canis. Selama ini Canis Cuma tau bahwa nama Canis diambil dari nama bintang. Mama hanya menceritakan kisah-kisah bintang di rasi bintang zodiak, terutama Aldebaran. Mama tau nggak kalau Canis nggak suka banget sama Aldebaran? Bintang itu ada di rasi Taurus, zodiaknya ayah. Kalau ingat bintang itu rasanya Canis ingat ayah. Tapi mau bagaimana lagi, mama paling suka cerita tentang Aldebaran, karena mama bilang ayah seterang Aldebaran. Padahal ada di dekat ayah saja Canis merasakan bintang yang siap meledak kapanpun. Apa ya istilahnya Canis lupa,” jelasku panjang lebar yang diakhiri dengan menggaruk kepalaku yang tidak terasa gatal.
“Supernova. Bintang yang meledak disebut Supernova,” tukas mama pelan. “Jadi, Canis mau mendengarkan cerita mama tentang Bintang Alpha Canis Majoris atau tetap melanjutkan dumelannya ke Aldebaran nih?” sambung mama sambil tersenyum jahil. Aku cemberut sekilas, kemudian menatap mama dengan tatapan seserius mungkin.
Mama menghela nafas sejenak, kemudian tangannya menunjuk ke arah sebuah bintang yang cahayanya masih terlihat meskipun kelap-kelipnya cukup terhalang oleh mendung. “Itu adalah bintang Alpha Canis Majoris. Lebih dikenal dengan sebutan Sirius. Bintang paling terang di langit malam. Canis tau nggak? Bintang Sirius ini dapat dilihat dengan mata t*******g sekalipun karena cahaya terangnya. Karena sekarang bulan Desember, maka kita akan dapat melihat jelas bintang Sirius, meskipun mendung seperti ini agak menghalangi kelap-kelipnya,”
Aku mengikuti arah pandang mama. Bintang itu masih memancarkan kelap-kelipnya, seolah bertarung dengan mendung yang mulai menutup pemandangan langit malam. “Meskipun letak Sirius cukup jauh dari bumi, tapi dia ditetapkan sebagai bintang paling terang di langit malam,” jelas mama di tengah keterpakuanku pada Sirius.
“Ma, apa Canis bisa menjadi bintang seterang bintang Sirius? Canis nggak tau apakah Canis bisa mewujudkan nama yang mama berikan pada Canis. Nama ini terlalu berat Canis pikul. Keadaan kita seperti ini dan Canis nggak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, yang setiap pulang marah ke Canis, ke mama, bahkan sampai mukul mama. Sirius itu terlalu terang, sedangkan Canis terlalu redup. Canis dan sirius mungkin memiliki nama yang sama, tapi Canis nggak bisa bangkit untuk seterang itu ma,” lirihku. Tanpa sadar air mata mulai mengalir deras. Kurasakan tangan mama mendekapku erat dalam pelukan hangatnya. Dapat kurasakan debaran jantung mama yang cukup keras seolah menahan segala rasa sakit yang selama ini ia rasa.
“Canis, mama tau mungkin ayah bukanlah sosok ayah yang Canis dambakan. Mungkin ayah adalah sosok yang ingin Canis jauhkan dari hidup Canis saat ini. Tapi tanpa ayah, mama nggak akan ketemu dengan Sirius mama. Nggak akan merasakan sebahagia ini dengan bintang kecil mama,”
“Tapi ma, andai mama sama orang lain selain ayah, mungkin mama nggak akan dipukuli, dan mungkin mama akan mempunyai anak yang lebih ceria dari Canis, lebih manis dari Canis, bahkan membuat mama lebih...” Ucapanku terpotong oleh telunjuk mama yang menempel depan mulutku. Aku menatap mama yang mulai menangis setelah mendengar ucapan terakhirku.
“Maafin Canis mama, Canis nggak bermaksud menyakiti hati mama,” Mama menoleh dengan air mata yang masih mengalir, namun sorot matanya menunjukkan kasih sayangnya yang besar kepadaku.
“Canis, mama nggak pernah menyesali kehadiran Canis, bahkan jalan hidup yang kita tempuh saat ini. Meskipun keluarga kita dihantam badai, meskipun sekujur tubuh mama jadi korban k*******n, mama nggak akan menyesal memiliki Canis dalam hidup mama. Sekalipun untuk mendapatkan Canis mama harus menempuh jalan ini, mama rela. Bagaimanapun, Canis adalah anugerah terindah yang mama tunggu ketika kabar positif hamil itu menghampiri mama dan ayah. Mama selalu percaya Tuhan akan berikan pelangi setelah hujan nantinya, karena mama masih punya anugerah terindah yang Tuhan berikan disamping mama dan menemani mama sampai detik ini,”
Penjelasan panjang mama membuatku menangis haru. Mama benar, meskipun tak dapat kurasakan perlakuan khusus puteri raja dari sosok ayah, aku masih dapat merasakan kasih sayang mama padaku. Selama ini mama selalu mengajarkanku kuat tanpa harus memarahi, membuatku bangkit tanpa harus membentak. Hal yang mungkin banyak anak tidak dapat rasakan dari seorang ibu. Bahkan teman-teman sekolah sering bilang bahwa mereka selalu dimarahi ibunya jika nakal atau malas mengerjakan PR. Mungkin aku tidak mendapatkan sosok ayah yang menyayangiku seperti yang mereka dapatkan. Namun aku sudah mendapatkan sosok ibu yang berperan ganda dalam hidupku dan menyayangiku tanpa syarat.
“Canis janji ma, Canis akan coba menjadi bintang Sirius yang dapat bersinar terang. Sejauh apapun itu, dan halangan apapun yang akan datang. Asal ada mama, Canis rasa Canis nggak akan takut melewati masa sulit ini,” ujarku sambil mengusap air mata dan menatap mata mama dengan semangat yang mulai kubangun.
Mama tertawa sambil mengusap bekas air mata di pipinya. Ia menowel pipiku sambil berkata, “Jangan berjanji sama mama, sayang. Berjanjilah dengan diri sendiri, supaya nanti Canis dapat berdiri tegap pada diri sendiri. Mama disini hanya bisa mendukung. Jalan hidup Canis, akan Canis tentukan sendiri,” Aku membalas perkataan mama sambil mengangguk dan menggumamkan janji itu dalam hati.
“Apapun yang terjadi nak, kita masih punya satu sama lain. Kita pasti akan baik-baik saja. Mama yakin itu,”