“Kelam itu terus membayangi, hingga kaki ini menapak di taman pendidikan yang katanya penuh warna, namun nyatanya menyimpan ribuan luka,”
***
Derasnya hujan dan bunyi gemuruh yang bersahut-sahutan membuatku menghela nafas panjang. Aroma hujan adalah aroma yang paling kusuka dan membuatku tenang. Hujan juga membuatku lupa akan kesedihan yang menggerogoti pikiran dan hatiku. Namun kali ini aku kalut. Air mata tak kunjung berhenti mengalir dari pelupuk mata, menyuarakan rasa sakit yang tak dapat ku utarakan. Besok hari senin, hari yang paling kubenci. Bagi sebagian orang, hari senin juga merupakan hari kutukan, karena senin merupakan permulaan dari rasa sakit di sekolah, bahkan tempat kerja. Rasa sakit itu juga menghampiriku, karena sekolah adalah mimpi terburukku.
Aku mulai sekolah di usia 6 tahun, setelah merengek pada mama berhari-hari untuk menyekolahkanku lebih awal. Aku ingin ada suatu hal yang dapat mengalihkan pikiranku dari sikap ayah, dan kufikir sekolah adalah jawaban atas kekhawatiranku kala itu. Aku berhasil masuk ke salah satu sekolah yang cukup sederhana dekat rumah dan biayanya cukup terjangkau. Awalnya aku merasa nyaman bersekolah disana. Lingkungannya cukup asri, bahkan masih rimbun tanaman dan aroma embun membuatku semakin betah untuk bersekolah disana. Aku menyibukkan diriku dengan belajar dan membaca buku sebanyaknya. Namun hal yang menyibukkanku tersebut adalah awal dari bencana ini.
Aku tinggal di Bogor, tepatnya sekitar Sungai Cikeas. Tidak banyak tetangga bermukim di sekitar rumahku, namun mereka yang tahu akan keadaan keluargaku dan kelakuan ayah terhadap kami mewanti-wanti anaknya untuk menjauhiku di sekolah. Aku berusaha bersikap biasa dan tetap tersenyum pada mereka yang menatapku sinis, karena mama selalu berpesan padaku untuk tetap menunjukkan rasa hormat meskipun kita telah dijatuhkan. Namun ketika semester satu di tahun pertama aku bersekolah telah berakhir dan aku dinobatkan sebagai peringkat pertama, mereka mulai bertindak lebih dari sekedar tatapan.
Esok hari setelah pengumuman peringkat kelas, aku membeli gulali ke taman sebagai hadiah dari mama. Baru saja kuinjakkan kaki ke taman tersebut, Via datang bersama dua temannya menghadangku. Aku terdiam dan bergidik ngeri mengingat Ibu Via adalah orang yang paling membenci mama. Kebencian itu seolah diturunkan pada Via. Aku sering merasakan Via menatapku dengan tatapan jijik dan penuh amarah, padahal aku tak pernah sekalipun menyapa atau berbicara dengannya.
Aku menghela nafas perlahan. Kutatap Via beserta kedua temannya yang kutahu bernama Sofia dan Rafina dengan tatapan setenang mungkin, namun dibalasnya dengan tatapan penuh amarahnya. “Ada apa Via cari Canis? Apakah Canis punya salah ke Via?” tanyaku pelan.
Via berdecak kesal kemudian membalas, “Canis nggak sadar salah apa sama Via? Gara-gara Canis dapat peringkat pertama, Via dimarah seharian sama ibu. Via juga dilarang makan gulali selama seminggu karena nggak dapat peringkat satu. Ini semua karena Canis. Kenapa Canis harus jadi peringkat pertama?! Kenapa Canis harus satu sekolah sama Via? Nggak cukup kehadiran Canis buat Via ketakutan setiap malam?”
Aku terpaku mendengar penjelasan panjang lebar Via. Salahku? Jadi peringkat satuku adalah salahku? Bukankah kemarin mama bangga dan bilang kalau aku sudah berusaha yang terbaik hingga mendapat peringkat satu? Aku tidak pernah bermaksud untuk membuat Via dimarah, apalagi sampai membuatnya dilarang makan gulali. Tadi juga Via bilang apa? Takut? Apa yang ia takutkan dariku sehingga tiap malam dia merasa tidak tenang?
“Maaf Via, Canis nggak faham apa yang Via bilang tadi. Canis nggak pernah kok bermaksud buat Via dihukum sampai nggak bisa makan gulali. Atau Via mau Canis belikan gulali biar Via nggak marah lagi sama Canis?” ujarku berusaha membujuknya. Via menghalangiku tetap dengan tatapan amarahnya yang membuatku semakin kebingungan.
“Ih Canis tambah serem tahu kalau begitu. Berarti yang dikatakan ibunda benar ya kalau Canis diam-diam suka maksa,” ujar Sofia sambil bergidik ngeri melihatku. Aku semakin terpaku. Apa yang ibu-ibu itu katakan tentang Canis dan mama sehingga anak-anak ini begitu membenci Canis?
“Maksud Sofia apa? Kenapa dari tadi Canis merasa kalian takut dan marah terhadap Canis? Bukankah kita nggak pernah bicara atau menyapa? Kan ibu kalian nggak izinkan kalian dekat Canis. Terus sebenarnya apa salah Canis? Apa yang sudah Canis dan mama lakukan kepada keluarga kalian sehingga kalian begini?” Aku mulai terisak dan frustasi. Lagi-lagi keadaan ini, dimana aku sama sekali tidak faham rasa yang menyesakkan dan dibiarkan bertanya-tanya. Keadaan yang mulai kufahami sebagai keadaan memuakkan dalam hidupku.
Rafina berjalan mendekat sambil memamerkan tawa polosnya yang membuatku marah dan menyadari untuk pertama kalinya untuk tidak memercayai tawa polos seseorang. “Wah ternyata seorang anak nakal dan cikal bakal pembunuh bisa nangis juga ya. Hahaha nggak perlu takut Via, Sofia, si Canis saja cengeng begini. Nggak mungkin nantinya seperti yang apa ibu bilang, hahaha,”
Tawa Rafina yang polos itu mengundang tawa Via dan Sofia secara bersamaan. Tawa polos yang menyimpan makna mengejek. Aku sebisa mungkin menahan air mataku sambil mengepalkan tangan. Kutatap mereka bertiga yang mulai menyoraki dan mengelilingiku sambil mengejek. Kucoba terobos paksa kerumun yang mereka ciptakan. Aku berlari kencang hingga dapat kurasa air mata mulai mengalir. Masih ku dengar suara mereka tertawa dan meneriakiku tanpa ada nada penyesalan.
***
“Canis, ada apa nak?”
Lamunanku mengenai kejadian traumatis di taman satu tahun lalu buyar ketika mama menepuk pundakku. Buru-buru aku berdiri namun langkahku sedikit oleng dan hampir menghantam kursi yang ku duduki.
“Canis kenapa? Ada masalah nak? Mukamu pucat dan kamu menangis,” lirih mama sambil memeriksa keningku dan menghapus air mata yang tak ku sadari tumpah dengan sendirinya. Aku menggeleng pelan sambil berusaha tersenyum.
“Canis nggak apa-apa ma, mungkin Canis lagi capek saja. Canis dari tadi lagi menikmati hujan. Mama mau ikut nggak temani Canis disini?” tanyaku sambil berusaha memalingkan muka dari hadapan mama, tak ingin membuatnya khawatir akan trauma yang tiba-tiba muncul ini. Namun sekeras apapun ku sembunyikan, mama tetaplah ibuku dan pasti memahami sakit yang kurasa. Ia menarikku perlahan untuk bersandar di bahunya dan duduk.
“Mama tau Canis sedih menghadapi semua ini. Mama tau kamu pasti trauma untuk kembali menjalani aktivitas di sekolah karena kejadian tahun lalu. Maafkan mama ya Canis, karena mama nggak bisa mempertahankan hubungan yang baik dengan ayah, kamu juga merasakan imbasnya,” lirih mama dengan suara bergetar. Dapat ku rasakan beban rasa bersalah yang mama tanggung akibat kejadian tahun lalu.
Aku mendekap mama erat dan menumpahkan tangisanku. “Mama jangan salahkan diri sendiri. Mama kan pernah bilang kalau Canis nggak boleh menyesali apapun yang sudah terjadi? Canis nggak akan pernah menyesal menjadi anak mama meskipun harus sedih karena ayah nggak bisa memberikan kasih sayang seperti ayah yang lain. Canis belajar banyak untuk nggak mudah menyerah. Selama ada mama bersama Canis, semua hal pasti akan berlalu dengan mudah kan ma?” Ujarku di sela isak tangis.
“Canis nggak peduli mau diejek sebagai anak nakal, bakal jadi pembunuh, bahkan dipukul sekalipun sama mereka. Bagi Canis, mama adalah segalanya. Karena itu mama jangan tinggalin Canis, seberat apapun nanti. Kalau mama nggak ada, Canis nggak tau bakal bisa kuat atau enggak,” lanjutku yang masih menangis.
Ku rasakan belaian tangan mama di pundakku bergetar hebat. Perlahan air mata mama tumpah ke pangkuanku, disusul dengan kata-kata yang selalu membuatku teduh, “Tetaplah kuat Siriusku, dimanapun kamu berada, tetaplah bersinar terang tanpa harus membakar diri sendiri,”
***
Aku membuka mata perlahan oleh belaian tangan mama yang membangunkanku. Mama duduk di ujung kasurku sembari memegang segelas air hangat sebagaimana rutinitas pagi. Kata mama, air hangat di pagi hari dapat memperlancar pencernaan dan mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh. Aku tertawa kecil mengingat reaksiku yang ngambek karena mama terus membujukku untuk memulai hari dengan air hangat karena lidahku serasa terbakar ketika tanpa sadar langsung meminumnya ketika baru membuka mata.
“Kenapa Canis ketawa? Ada yang lucu?” tanya mama sambil mengernyitkan dahi. Aku membalasnya dengan tawa pelan, “Enggak kok ma, makasih ya air hangatnya pagi ini. Karena mama selalu sediakan air hangat, Canis jadi yakin di sekolah nanti Canis akan baik-baik saja,”
Mama mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang. Segera ku bergegas untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah meskipun rasa enggan di hati terus menghalangi. Selesai mandi, aku berkumpul di ruang makan bersama mama untuk sarapan roti dengan telur mata sapi serta sedikit tomat di dalamnya. Aku mencium tangan mama sebelum berangkat sambil diam-diam melirik kursi kosong yang seharusnya menjadi tempat duduk ayah untuk sarapan bersama. Nafasku sesak namun kupaksa untuk kuat melihat mama yang tersenyum tulus padaku.
Tak sampai 10 menit berjalan kaki, kulihat gerbang sekolah mulai terlihat. Rasa takut dan gemetar mulai menghampiriku. Aku masih takut apa yang akan kualami di hari pertama bersekolah ini akan menjadi hari terburuk yang menambah rasa trauma. Namun samar suara mama mulai terdengar dan memberiku kekuatan untuk melangkah.
“Tetaplah kuat Siriusku,”
Ya, aku adalah bintang sirius yang bersinar terang di langit malam, tak peduli seberapa banyak awan mendung yang menghalangi. Aku tau mereka tak akan diam saja melihatku yang berusaha tegar di tengah kesulitanku. Namun selama ada mama, aku tau akupun pasti kuat menjalaninya.
Benar saja, aku terpeleset di depan kelas dan dapat kurasa genangan air membasahi tas dan seragamku. Aku mengernyit kesakitan, berusaha berdiri sembari mendengar gelak tawa di sekelilingku. Aku berdiri dan menatap tajam Via yang terlihat paling puas menertawakan sambil menunjukku. Via membalas tatapan tajamku dengan sedikit gentar dan gemetar melihat amarah yang kutunjukkan pertama kalinya.
“Canis nggak tau apa salah Canis ke Via dan teman-teman lain yang ada disini. Canis nggak tau sebenci apa kalian kepada Canis. Tapi kalau sekali lagi kalian menyakiti Canis, Canis janji nggak akan diam lagi,” ujarku geram sambil menatap lurus ke arah manik matanya dan membuat Via semakin terpojok. Aku menatap tajam kepada anak-anak di sekitarku yang juga membisu, kemudian berjalan ke ruang guru untuk meminta izin pulang karena badanku mulai demam dan gatal-gatal. Ya, badanku cukup rentan terhadap sesuatu yang kotor atau basah lembab, sehingga kejadian barusan sukses membuatku gatal dan demam. Bu Aisyah, wali kelasku yang juga sahabat mama tampak terkejut melihatku basah kuyup. Segera diambilkannya aku handuk dan mengeringkan bagian tubuhku sambil terisak melihat kondisiku.
“Canis nggak apa-apa kan? Canis nggak terluka selain ini?” tanya Bu Aisyah sedikit panik sambil menatapku dengan iba, tatapan yang saat nantinya kusadari sebagai tatapan paling kubenci, karena aku merasa sangat rendah menyadari hidupku yang menyedihkan. Aku menggeleng pelan dan tersenyum tipis sambil menahan rasa tidak nyaman demam yang membuat kesadaranku menurun.
“Nggak usah khawatirkan Canis Bu Aisyah, Canis kuat, karena kata mama Canis seterang bintang sirius di langit malam,” balasku lirih sambil mencoba tertawa. Bu Aisyah yang mendengar jawaban polosku seketika memelukku dengan erat dan meruntuhkan sedikit pertahananku.
“Bu Aisyah antar pulang ya nak, maaf di saat seperti ini ibu nggak bisa jaga Canis, padahal baru hari pertama sekolah,” lirih Bu Aisyah sambil melepaskanku dari pelukannya dan kembali mengeringkanku dengan handuk kemudian menuntunku perlahan ke perkiran sekolah. Selama duduk di sepeda motor Bu Aisyah, aku menatap gerbang sekolah yang mulai menjauh dengan tatapan kosong.
‘Kenapa orang tua kadang nggak mengerti perasaan anak?
‘Kenapa orang tua kadang menyuruh anaknya yang masih SD untuk membenci anak lain karena merasa terkalahkan?’
‘Kenapa dunia ini memiliki kebencian yang dapat mengubah seorang anak SD polos menjadi monster kejam atas didikan yang salah?’
Pertanyaanku buyar ketika Bu Aisyah menuntunku untuk turun dari motor, disambut dengan mama yang berlari panik menghampiriku dan segera memelukku. Suara tangis mama seketika pecah dengan suara penyesalan meraung-raung, disaksikan oleh Bu Aisyah yang bergeming di tempatnya berdiri.
“Canis nggak apa-apa ma, Canis kuat. Karena itu mama juga harus berjuang bersama Canis dan nggak boleh menyerah sedikitpun,”