“Kemanakah cinta setelah pernikahan? Hilang terbawa angin? Dimakan rasa bosan akibat kebersamaan setiap hari? Atau sebenarnya dari awal ia tak pernah ada dalam suatu hubungan?”
***
Aku terbangun oleh wangi masakan daging iga yang menusuk. Sakit kepala dan demam yang menyiksaku selama 7 hari seolah hilang tanpa bekas. Ya, sudah 7 hari aku terbaring lemah di rumah. Mama segera membawaku ke rumah sakit ditemani Bu Aisyah. Kata dokter, gatal-gatalku cukup parah dan membuatku tak bisa berhenti merutuk pada anak-anak jahat itu. Tak lupa ikut kurutuk ibu-ibu mereka yang sangat apatis terhadapku dan mengubah mereka menjadi pribadi menyeramkan seperti itu. Sebelum pulang dalam keadaan terlelap di punggung mama yang menggendongku, sempat kudengar dokter memperingati mama serta Bu Aisyah untuk menjauhkanku dari air buangan berbau dan kotor dan membuatku semakin merutuki mereka.
“Mama, masak Iga Sapi kok nggak bilang-bilang sih?” tanyaku sambil celingukan melihat daging iga sapi di atas meja bagaikan masakan surgawi. Kalau berhadapan dengan iga sapi, aku bisa membayangkan air liurku mengalir deras dan bisa membentuk sungai kecil karena begitu besar rasa doyanku pada makanan satu itu. Iga sapi yang mama buat adalah iga sapi terbaik dan membuatku lupa akan rasa sedihku.
Mama menggeleng kepala gemas melihatku yang seperti anak hilang yang kekurangan makan sambil memukul pelan lenganku. “Ih anak mama kebiasaan lupa diri ya kalau sudah lihat iga sapi. Mama saja sampai dilupakan, sampai kadang mama merasa kamu itu lahir dari rahim sapi, bukan rahim mama karena sebegitu sukanya kamu kepada Iga sapi,” kata mama sambil memasang wajah pura-pura ngambek. Aku tidak menghiraukan ucapan “sok” ngambek mama dan menjawab sekenanya sambil menyendok makanan dalam porsi besar.
“Nggaklah, Canis kan anak mama bukan anak sapi. Kalau Canis anak sapi, nggak mungkin dong Canis mau dekat-dekat sama orang yang sudah masak mama Canis,” Mama tertawa mendengar jawaban garingku sambil memukul pelan tanganku yang bersiap mengambil iga sapi tanpa menggunakan sendok.
“Kan, kebiasaan lagi. Mama tau Canis sudah kerasukan kalau lihat iga sapi, tapi jangan lupa cuci tangan dong biar nggak sakit lagi nak,” dumel mama pelan yang dibalas cengiran lebarku. Aku segera berlari ke dapur dan mencuci tangan, namun langkahku terhenti melihat sebuah piring tergeletak dekat wastafel. Piring kesukaan ayah dan selalu ayah gunakan untuk makan, berisikan sisa nasi dan sedikit kuah. Jadi ayah pulang? Kapan ayah pulang? Kenapa ayah tidak ada menengokku sama sekali yang sedang terbaring sakit? Kenapa mama juga tidak bilang padaku kalau ayah pulang?
Aku tau mama tidak ingin aku sedih jika tau bahwa ayah pulang namun tidak menanyai kabarku sama sekali. Aku memang membencinya, bahkan kebencian ini takkan sirna rasanya. Namun jauh dalam lubuk hati, aku masih menyimpan kenangan akan ayah yang tersenyum dan menggendongku saat aku menangis karena terjatuh. Senyuman yang sampai saat ini tetap menyisakan rasa sayang di hatiku pada ayah yang sekarang telah berubah menjadi manusia tanpa perasaan.
Aku terduduk dan gemetar luar biasa. Rasa sakit ini menjalar seperti racun mematikan yang membuatku mulai histeris dan berteriak. Kulupakan iga sapi yang sejak tadi menggiurku, berganti dengan rasa pedih seorang anak perempuan dengan sejuta rindu tersimpan pada sosok ayahnya dahulu kala. Siang itu, tak ada iga sapi yang menemani siangku. Hanya ada tangis yang entah kapan akan berhenti.
Kudengar derap langkah mama terburu-buru menghampiriku. Dapat kurasakan ia berdiri mematung setelah melihat piring dekat wastafel dan mengerti penyebab tangisanku. Aku terhanyut dalam tangisanku sementara mama mendekapku erat. Tak bisa kudengar apapun selain kata maaf yang berulangkali samar mama ucapkan dengan suara bergetar.
***
Pria yang sudah memasuki usia 34 tahun itu menggandeng gadis kecil di belakangnya dengan tawa lebar. Gadis kecil itu berjalan tertatih dan sesekali kehilangan keseimbangan dalam berlari dengan langkah kecilnya. Karena dumelan dan rengekan sang gadis kecil, pria tersebut akhirnya menggendong tubuh mungil itu dengan riang.
“Ayah ayah, itu apah? Walnanya bagus telus banyak olang maem,” ujar gadis kecil tersebut agak cadel tersebut sambil menunjuk-nunjuk tempat gulali yang ramai pembeli. Pria tersebut tertawa kecil melihat anaknya sembari mencubit pipi mungil dan kenyal yang membuat gadis kecil tersebut cemberut.
“Aduh ayah cakit cekali pipi Canis,” gerutunya pelan. Sang ayah mengusap kepala gadis kecil bernama Canis tersebut dengan lembut, kemudian bertanya, “Canis mau ayah belikan itu nggak? Itu permen kapas, namanya gulali. Gu-la-li,” eja sang ayah dengan sabar. Canis mengangguk dengan penuh semangat dan senyum lebar terpatri di wajahnya. Tangannya menunjuk penjual gulali sambil berkata,”Gu-la-li. Gu-la-li, Canis mau gu-la-li ayah,”
Ayah Canis tersenyum kemudian berjalan ke arah penjual gulali yang tersenyum malu melihatnya. Pasalnya, ayah Canis yang berdarah Inggris tersebut memang tampan dan menjadi idola para wanita muda di kampungnya, sekalipun usianya sudah memasuki 30 tahunan. Ia mengernyit heran pada penjual gulali yang tidak dijajakan oleh bang Syarif seperti biasanya, melainkan seorang gadis muda berusia kira-kira 20 tahunan.
“Orang baru ya neng? Bang Syarifnya kemana?” tanya ayah Canis sambil memesan dua buah gulali.
“Bang Syarif lagi sakit Mister, jadi saya yang menggantikan. Mungkin lusa bisa kembali berjualan, karena kata mbak, bang Syarif sedang masa pemulihan,” jawab gadis muda tersebut sambil menunduk malu mempersiapkan gulali.
“No no, jangan panggil saya Mister, panggil saja saya Roger. Jadi kamu adiknya Syarif? Sampaikan salam saya ke Syarif semoga cepat sembuh ya,” Roger menatap gadis yang menunduk di depannya dalam-dalam. Ada perasaan menggelitik yang merasuki relung hatinya, entah apa.
“Ayah ayah, kok lama? Canis lapel mau maem di lumah,” panggilan Canis membuyarkan lamunan Roger, kemudian diambilnya gulali yang disodorkan oleh penjual gulali dengan wajah tersipu. Roger tersenyum kecil, kemudian menggendong Canis. Sambil tersenyum menghibur mata Canis, ekor mata Roger menangkap penjual gulali tadi masih menatapnya dari kejauhan.
***
Aku terbangun tiba-tiba. Kurasakan perih menusuk hatiku memimpikan kenangan bersama ayah di taman empat tahun lalu. Kenapa hanya karena kenangan itu, senyuman ayah masih tidak bisa membuatku membencinya, padahal sudah sebegitunya ia mencampakkanku dan mama? Kenapa aku tidak bisa mengutuk kelakuan ayah, meskipun ia sudah berani memukul mama di depanku? Apakah sebenarnya jauh di lubuk hati aku masih menginginkan ayah mencintaiku dan memperlakukanku seperti mereka yang keluarganya utuh? Apakah aku masih mendambakan sosok keluarga lengkap dengan ayah di dalamnya meskipun sebenarnya keluargaku sudah lama hancur? Apakah ada cara untuk mengembalikan ayah padaku dan mama seperti dahulu?
Pertanyaan itu kerap berputar di kepalaku. Kubenamkan kepalaku dalam-dalam sambil menangis tanpa suara. Aku tidak mau membuat mama khawatir meskipun sejujurnya aku kecewa padanya yang menyembunyikan fakta bahwa ayah sempat pulang dan tidak menanyakan kabarku. Mungkin apa yang kurasa adalah hal yang sederhana, namun ku yakin ini adalah impian semua anak untuk mempunyai keluarga lengkap dan saling menyayangi.
Aku menarik nafas panjang sebelum mengangkat kepalaku. Awan mendung menghiasi sore hari yang sendu. Entah mengapa setelah mimpi tadi aku ingin ke taman makan gulali, meskipun pergi kesana membuatku trauma akan ayah dan Via. Aku hanya ingin menghibur diriku yang beberapa waktu ini rapuh. Ku ambil tabungan uang sakuku yang selalu kusimpan rapi di laci meja belajarku. Dengan mengendap perlahan, aku menyelinap keluar rumah menuju taman yang cukup jauh dari rumahku. Hari ini aku ingin sekali makan gulali, dan ku harap gulali itu dapat membuatku kembali terhibur di tengah hari mendungku.
Sesampainya di taman, ku tengok kanan kiri, waspada akan kehadiran Via dan teman-temannya, ataupun ibu-ibu tetangga yang suka membicarakan keluargaku. Namun hari itu taman tampak sepi, hanya ada beberapa penjual yang sedang melepas penat di bawah teduhnya pepohonan. Ku hela nafas kuat-kuat untuk menguatkan badanku yang mulai oleng, kemudian langkah kaki lemahku membawa ke arah Bang Syarif si penjual gulali. Baru saja gerobak bang Syarif terlihat, aku dikejutkan oleh sosok ayah yang berdiri sambil tersenyum sumringah ke arah seorang perempuan di samping gerobak jualan Bang Syarif. Dapat ku lihat Bang Syarif mendengus kesal dan menatap sinis ayah dan perempuan itu. Dengan segera ku sembunyi di pepohonan taman yang cukup rindang. Ku tatap lekat senyuman lebar ayah ke perempuan itu dengan hati terluka. Senyum yang dulu selalu ayah tunjukkan padaku dan mama, kini ia tunjukkan pada orang lain.
“Roger, bisa nggak lo hentikan hubungan elo sama adik gue? Tau nggak lo? Gue capek dengar omongan tetangga kalau gue nggak pernah tegur Anita! Lo punya keluarga, tolong urus keluarga lo. Kasian Clarissa Roger, lo nggak punya pikiran ya? Bagaimana Canis? Dia masih kecil, masih butuh lo sebagai sosok ayah!” bentak Bang Syarif pada ayah hingga wajahnya memerah. Ayah mengibaskan tangannya depan wajah Bang Syarif yang membuatnya semakin terlihat marah.
“Lo nggak tau rumah tangga gue, jadi lo diem aja. Lagipula dalam waktu dekat gue akan ceraikan Clarissa,” jawab ayah tak kalah sinis.
Aku mengernyit heran. Ayah akan cerai? Aku tidak mengerti apa kata cerai itu, namun firasatku mengatakan bahwa hal itu mengarah ke sebuah kehilangan ayah. Aku tersungkur ke tanah sambil menahan isak tangis. Entah apa yang ayah ributkan dengan Bang Syarif setelah itu tak dapat ku dengar lagi. Pikiranku terfokus pada firasat yang semakin lama menyerangku dengan perpisahan dan melupakan keinginanku untuk makan gulali. Kalau memang ayah dan mama sudah tidak bersama lagi, bagaimana nasib mama? Bagaimana nasibku yang sedang berusaha untuk memperbaiki keadaan dan keluargaku dalam kondisi utuh? Bagaimana lagi aku memiliki harapan keutuhan keluargaku kalau ayah dan mama sudah tidak bersama lagi?
Aku mencoba berdiri dengan tubuh gemetar. Bisa ku rasakan suhu badanku mulai naik dan membuatku agak sempoyongan berdiri. Seluruh badanku gemetar hebat. Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup berjalan sampai rumah. Ku akui aku sama sekali tidak baik-baik saja. Semua hal yang ku dengar dan ketahui hari ini merupakan hal yang cukup untuk meremukkan perasaanku sampai habis.
Kurasakan sepasang tangan menutup telingaku dengan lembut. Berdiri di hadapanku sosok mama yang terlihat khawatir dan menahan tangis. Ia menggelengkan kepalanya, kemudian menenggelamkanku dalam pelukannya sembari masih menutup telingaku. Mama, aku tidak tahu seberapa besar derita yang ditanggungnya dan apa alasannya tidak memberitahukan kepulangan ayah padaku. Namun aku percaya mama tidak ingin aku terluka lebih dalam lagi, dan merasakan luka yang mama rasakan. Aku memeluk mama erat sebelum akhirnya dia berkata dengan ucapan bergetar.
“Nak, pulang ya. Canis mau kan pulang sama mama?”
Aku merasakan arti lain dari ucapannya. Ucapan yang menandakan bahwa jika benar cerai itu terjadi, aku akan tetap berada di sisi mama, tidak peduli apapun yang terjadi. Aku mengangguk sambil menahan air mataku, kemudian mama menggendongku sambil menyandarkan kepalaku di bahunya dan tetap menutup telingaku yang lain. aku merasakan air mata mengalir perlahan dan membasahi baju mama. Samar kudengar suara seorang perempuan yang kukenal membantah argumen Bang Syarif, dan terlintas sesosok perempuan yang 4 tahun lalu sempat membuatku kesal di tempat Bang Syarif. Awal pertemuan dengan perempuan waktu itu mengubah ayah seperti sesosok monster yang tidak lagi mengenali keluarganya, bahkan menelantarkan kami di tengah badai. Perlahan, mataku terpejam dan terlelap dalam mimpi yang masih menyerukan firasat perpisahan, kehilangan.
***
Aku terbangun di malam hari yang sepi, hanya suara jangkrik terdengar dari luar menghiasi sepinya malam. Ku lihat mama terduduk di samping tempat tidurku dengan mata sembab. Ia menyodorkan obat dan air hangat untuk ku minum. Mama tidak mengatakan apapun atau mengajakku berbicara selama aku meminum obat hingga selesai. Mama mengambil gelasku dan langsung bergegas keluar.
“Mama selama ini sudah tau ya kalau ayah selalu ketawa di depan perempuan lain? Mama juga sudah tau ya kalau katanya ayah mau cerai? Canis nggak tahu apa itu ce..”
PRANG!
Gelas yang dipegang mama bekas minumku terlepas dari tangannya sesaat sebelum ku selesaikan ucapanku. Mama terlihat mematung, kemudian sadar dan segera memungut pecahan gelas. Aku segera berdiri dan membantu mama namun mama mengisyaratkanku untuk tetap di tempat tidur. Setelah mengumpulkan pecahan gelas, mama berdiri sambil berbicara tanpa menoleh sama sekali kepadaku.
“Apapun yang terjadi, Canis nggak perlu memikirkan itu. Mama dan ayah akan baik-baik saja. Akan terus mama pertahankan ikatan suci atas nama Tuhan yang tidak seharusnya dipermainkan ini. Canis nggak perlu memikirkan apa makna kata itu. Mama janji keluarga kita akan baik-baik saja,”
Mama keluar dari kamarku. Dapat kudengar getaran suara yang sengaja ditahannya untuk menegaskan ucapannya barusan. Aku tau mama sedang berusaha sekuat tenaga dan memastikan semua akan baik-baik saja padaku. Namun mengapa firasat ini selalu menerpa. Perpisahan. Kecewa. Amarah. Rasa ditinggalkan. Aku menatap keluar jendela sambil mencari-cari bintang sirius yang belakangan aku tatap bersama mama di dipan. Aku tak tahu apakah harapku akan sampai kepada-Nya, namun malam ini aku ingin berharap satu hal pada bintang yang sepertinya bintang sirius dengan segenap jiwa raga di lubuk hati terdalamku.
“Tuhan, tolong jaga keluargaku, terutama jaga mama yang selalu berusaha dan bekerja keras menanggung semuanya seorang diri,”