Chapter 4 – Clarissa

2559 Kata
“Bagaimana aku bisa memercayai orang lain, jika mereka yang dulunya sangat ingin melukis senyuman di wajahku, kini menggores semua luka hingga aku sehancur ini” *** Clarissa Aku menutup pintu Canis dengan badan gemetar. Kata-kata Canis masih saja terngiang di pikiranku. Apakah pada akhirnya mas Roger akan benar menceraikanku dan meninggalkan kami demi Anita? Aku sudah lama mengetahui hubungan mas Roger dengan adik Bang Syarif, namun tak ku sangka hal yang ku takutkan pun terjadi juga, yakni perceraian. Aku tersadar dari lamunanku ketika pecahan gelas menancap di jari telunjukku. Dengan badan yang masih saja bergetar, ku berjalan membuang pecahan kaca ke tempat sampah secara perlahan supaya pecahan kecilnya tidak terinjak Canis nantinya. Ku ambil kotak P3K dan mengeluarkan Betadine untuk mengobati telunjukku yang tertancap serpihan kaca. Air mata segera mengalir deras ketika ku keluarkan serpihan kaca dari tanganku. Aku tak tahu air mata ini mengalir atas rasa sakit yang kurasakan di luka jariku atau di hatiku. Perasaanku campur aduk, terlebih membayangkan Canis akan mengalami hal yang sama denganku, Broken Home. Aku bergegas keluar rumah menuju dipan dan mencari-cari bintang sirius. Namun langit terlalu mendung dan menutupi penampakan bintang malam itu. Suara gemuruh bersahut-sahutan dan membuatku semakin merasa buruk dalam hati. “Daddy, maafkan Clarissa. Maafkan Clarissa nggak mendengarkan ucapan daddy yang sudah memperingatkan Clarissa. Sekarang pernikahan Clarissa sudah hancur. Clarissa nggak tahu apa yang harus Clarissa lakukan daddy. Bagaimana dengan Canis kalau mas Roger ceraikan Clarissa dan pergi bersama Anita? Clarissa nggak mau Canis merasakan apa yang Clarissa rasakan dulu ketika mum meninggalkan kita berdua. Clarissa harus bagaimana daddy? Harus bagaimana?” Kesedihanku memuncak bersamaan dengan rinai hujan yang semakin lama semakin deras mengguyur. Kubiarkan diriku diterpa air hujan yang semakin lama membuatku menggigil. Sambil membenamkan kepala, pikiranku melayang ke masa kecil yang sangat ingin ku lupakan, masa kecil yang membuatku membenci sosok seorang ibu dalam hidupku. *** 26 tahun lalu... “Sini kamu anak bandel,” Aku menangis keras, menahan tangan mum yang menyeretku dengan kasar hanya karena aku tidak sengaja memecahkan gelas. Namun tenaga mum terlalu besar dan bisa ku rasakan sakit akibat gesekan kakiku dengan lantai. Ku keraskan suara tangisku dengan harapan rasa iba mum akan membuatnya berhenti, namun nihil. “Ayumi, berhenti! Jangan siksa Clarissa. Dia nggak salah apa-apa!” Kulihat daddy berjalan menghampiri, kemudian menahan tangan mum yang menyeretku. Mum memelototi daddy yang mencoba menghalanginya untuk menghukumku. “Don't you dare to stop me Mike! Kamu tau, anak ini baru saja memecahkan gelas! Dia kira gelas bisa dibeli pakai daun? sudah berapa kali dia memecahkan perabotan rumah tangga! She has to be punished!" Bentakan mum membuatku bergidik ngeri. Di matanya tampak amarah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Cengkeraman tangan mum di tangan kananku semakin menguat yang membuatku meringis kesakitan. Air mata lagi-lagi keluar dari mataku. “Dia memang salah Ayumi, namun dia tidak pantas kamu hukum seperti ini! Kamu boleh menghukumnya, bukan dengan cara menyakiti, namun dengan cara mendidik supaya dia memahami kesalahan dia. Clarissa tetap anak kita Ayumi, dan seharusnya sebagai seorang ibu, kamu tetap menyayanginya, bukan memperlakukannya sebagai seseorang yang hina,” jawab daddy mencoba sabar menjelaskan. Namun sia-sia saja, sorot mata mum bertambah murka, meradang melihat daddy mencoba menghentikannya.Mum menghempaskan tangan daddy kuat-kuat kemudian memaksaku berdiri dengan kasar dan menarikku ke arah kamar mandi. Bisa kurasakan daddy tetap menyusul mum dan aku, berusaha untuk menghentikan mum, namun langkahnya kokoh dan tidak bisa di hentikan. Sesampainya di kamar mandi, mum mendorongku yang kemudian membentur dinding dan mulai menyiramku dengan air dengan kalap. Aku ingin menangis, namun air mataku tertahan oleh sesak nafas yang mulai kurasa. Mulutku megap-megap untuk menangkap udara untuk mengisi paru-paruku. Mum semakin membabi buta menyiramiku dan aku semakin berusaha mencari udara melalui mulut dan hidungku secara bergantian. Badanku mulai menggigil kedinginan dan kesadaranku perlahan memudar. Dapat kudengar teriakan daddy yang beberapa kali menghentikan mum padaku. Entah sudah berapa lama hukuman ini berlangsung, ketika tubuhku melemah dan terduduk karena kehilangan kesadaran, samar ku dengar suara gayung terjatuh ke lantai dan guyuran air berhenti menerpa tubuhku. Samar kulihat daddy menghampiriku dan didekapnya erat tubuhku. Tak bisa lagi kutahan air mataku dan mulai terisak pelan karena tenagaku mulai habis setelah tadi menangis cukup keras ketika mum menarikku kemari. Aku segera menghirup udara sekuat-kuatnya dalam pelukan daddy untuk tetap tersadar, namun hukuman mum benar-benar membuat tenagaku terkuras habis. Daddy mendekapku lembut, dan matanya waspada terhadap mum. “Enough Ayumi! Kamu nggak lihat kalau kamu sudah benar-benar keterlaluan kepada Clarissa. Tubuhnya sampai menggigil kedinginan begini, nafasnya juga tersengal-sengal. Dia masih 9 tahun Ayumi. Jangan hukum anakmu seperti ini!” Bentak daddy kesal. Ia melepas pelukannya dan mengeringkan badanku dengan handuk yang dibawanya. Mum mendecak kesal, kemudian ia ambil gayung yang tadi terlempar sambil menunjukkannya kepadaku dan daddy. “Awas kamu anak nakal. Sekali lagi kamu memecahkan barang, aku tidak akan memaafkanmu,” Setelah berkata begitu, mum melangkah keluar kamar mandi dengan langkah kesal. Suara pintu yang menutup dengan keras menjadi bukti seberapa marahnya ia padaku. Aku kembali gemetar ketakutan, namun daddy mengangkat kepalaku dan menatapku dengan lembut. "Daddy, apakah Clarissa salah? Apakah mum sudah tidak sayang lagi kepada Clarissa? Kenapa mum tega menghukum Clarissa seperti ini daddy? Apa ke depannya mum akan marah seperti ini lagi kepada Clarissa daddy?Clarissa takut mum jadi membenci Clarissa dan buat daddy bertengkar dengan mum,” lirihku dengan air mata berlinangan. Daddy tersenyum padaku dan melanjutkan mengeringkan badanku, kemudian menggendong tubuh lemahku menuju kamar. “Badan Clarissa agak hangat nak. Clarissa ganti baju dulu ya, biar daddy ambilkan air hangat dan kompresan. Tunggu disini sebentar ya,” ujar daddy yang hendak berbalik pergi, namun kutahan tangannya dengan gemetar dan kepala menunduk. Daddy tampak mengerti apa yang kurasakan dan mengelus rambutku yang masih basah dengan lembut. "Daddy nggak akan lama Clarissa. Setelah ini daddy bakal balik kok. Kamu nggak perlu khawatir ya. Daddy janji nggak akan lama-lama dan bertengkar sama mum. Daddy hanya mau ambil kompresan aja supaya badan Clarissa nggak sakit, ya nak?” bujuk daddy pelan. Aku mengangguk, tetap sambil menunduk, sementara daddy keluar kamar untuk mengambilaknku air hangat dan alat kompres. Aku segera mengganti bajuku sesuai permintaan daddy, menggantinya dengan baju tidur karena kutahu daddy akan memintaku istirahat. Kebetulan kepalaku sudah mulai terasa pening dan badanku kembali menggigil. Aku segera duduk menyandarkan badanku di tempat tidur dan menarik selimutku. Bertepatan dengan itu, daddy masuk ke kamar dengan membawa sebaskom air hangat dengan wewangian jeruk nipis beserta segelas air. Ku minum perlahan air hangat di tanganku sembari melihat daddy mengaduk air perasan jeruk nipis tersebut. Setelah meminum air hangat, daddy menyuruhku tidur sembari mengompreskan air tersebut ke kepalaku. Dapat kurasakan sensasi dingin menyegarkan mengenai dahiku. “Clarissa tidur ya, biar daddy yang jaga Clarissa selama tidur,” ujarnya sembari menaikkan selimutku sampai lutut, menutup gorden serta menghidupkan lampu tidur. “Good night my daughter, sweet dreams. Percayalah selalu bahwa Clarissa akan baik-baik saja,” ujar daddy lembut sembari mengelus kepalaku yang menghantarkanku pada dunia mimpi. *** Aku terbangun ketika jam menunjukkan pukul satu dini hari oleh suara berisik orang berdebat, disusul dengan suara debuman buku yang cukup besar. Aku mengumpulkan kesadarnku kembali sebelum akhirnya ingatan tentang hukuman mum sebelumnya membuatku gemetar kembali. Sayup ku dengar suara tertahan daddy menahan emosi dan suara mum yang siap berteriak kapan saja. Aku memeluk bonekaku erat sembari berjalan ke arah pintu untuk mendengar apa yang terjadi. Apakah aku membuat kesalahan lagi hingga kedua orang tuaku bertengkar pada dini hari? Pertanyaan tersebut terus terngiang-ngiang di otakku dan membuatku sedikit ragu untuk mengetahui penyebab pertengkaran daddy dan mum. Namun rasa ingin tahuku mengalahkan rasa takut sehingga membuatku perlahan membuka pintu kamar dengan sangat perlahan. Aku hampir terkejut melihat mum mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah akan menampar daddy yang telah memegang pipi kanannya. Dengan sigap, ditahannya tangan mum yang masih tampak emosi melihat ke arah daddy. “Cukup Ayumi. Marah nggak akan menyelesaikan apapun masalah antara kita, bahkan jika kamu ingin membunuhku sekalipun, semua tidak akan selesai,” ujar daddy sambil berusaha menekan suaranya sekecil mungkin. Getaran emosi daddy tampak tersembunyi dari suara dan getaran tangannya. Ia menghempaskan tangan mum keras-keras yang dibalas suara mengaduh dari mum. “Kalau aku nggak marah, kamu nggak akan sadar Mike! Puas kamu membuat semuanya hancur seperti ini? Aku capek Mike! I'm EXHAUSTED! Kamu kira gampang mengajari anak kayak Clarissa? Dia itu autis, bandel banget! Aku malu Mike punya anak seperti itu! Kamu faham nggak sih apa yang aku rasain Mike? HAH?” Aku terhenyak mendengar bentakan mum yang cukup keras ia katakan pada daddy tentangku. Tanpa sadar, tubuhku lemas dan terjatuh yang mendorong pintu terbuka lebar. Dapat kulihat kedua orang tuaku menatap dengan dua tatapan berbeda, daddy dengan tatapan terkejutnya, dan mum dengan tatapan datarnya. Tangisku tumpah dan dengan suara bergetar ku tanya mum sambil menyatukan kedua tanganku, memohon padanya dengan segenap hatiku. “Mum, maafkan Clarissa. Clarissa janji nggak akan nakal lagi, nggak akan seperti yang mum bilang tadi. Clarissa juga janji nggak akan buat masalah lagi seperti tadi. Mohon maafkan Clarissa mum, udah jadi anak nggak baik. Benar-benar mohon maaf,” Air mataku mengalir deras seiring kata demi kata terucap dari mulutku. Aku tak berani melihat reaksi mum mengingat ia yang tadi menatapku dengan datar dan dingin. Terdapat jeda sejenak setelah permohonanku sampai daddy menghampiriku dan mengelus wajahku lembut. Ia menggeleng dan menunjukkan tatapan luka yang juga ku rasakan. “You are all the same. Aku menyesal punya anak seperti kamu. Sudah autis, bandel, bisa nggak kamu jadi seperti anak-a...” “CUKUP AYUMI! Jangan lagi berani kamu menjelek-jelekkan Clarissa. Dia masih tahap belajar memahami, dan dia tidak autis. COBA KAMU LIHAT DIA BISA MENANGIS! Dia merespon emosi yang kamu limpahkan ke dia! Sudah cukup kamu terpengaruh teman-teman kamu yang mengatai Clarissa hal-hal jelek!” aku menatap daddy yang agak berteriak sambil menatap mum yang hanya dibalas kibasan tak peduli dari mum. “Kamu bilang teman-temanku membawa pengaruh buruk Mike? Justru kalianlah pembawa petaka dalam hidupku. Mengiyakan lamaranmu dan punya keluarga ini adalah aib memalukan bagiku,” Mum membalas amarah daddy kemudian melenggang pergi tanpa peduli apa yang akan dibalas daddy dan tangisanku yang semakin kencang. Aku menatap punggung mum yang samar akibat genangan air mataku dengan tatapan sedih. “Sssh sweetie. It's okay, daddy's here with you,” Ucapan itu terus terucap dari mulut daddy, namun tidak dapat ku pungkiri bahwa hal itu semakin memaksaku mengetahui fakta. Aku adalah anak pembawa petaka bagi mum. *** Sejak kejadian hari itu, aku merasakan mum mulai menjauh dan berubah. Setiap aku berada di hadapannya, ia selalu pergi seolah tak ingin berada di ruangan yang sama denganku. Beberapa kali ingin ku menangis dan memohon kembali pada mum untuk memaafkanku, namun daddy selalu menahanku hingga akhirnya aku paham, ada dan tiadaku sama sekali tidak berarti bagi mum. Siang itu aku kembali menatap mobil mum yang pergi ketika aku hampir sampai rumah setelah pulang sekolah. Aku menarik nafas perlahan dan menguatkan diriku dari air mata yang lagi-lagi siap tumpah. Segera ku berlari ke rumah, mengganti baju lalu mencuci muka seperti apa yang diajarkan daddy untuk meredakan rasa sedihku. Namun kali ini hal itu tidak bekerja dan membuatku semakin sedih. Hari ini adalah hari ulang tahunku ke 10, dan tahun ini juga aku merasakan alphanya mum dalam ulang tahunku. Biasanya setiap tahun ia selalu memberiku hadiah dan ucapan disertai dengan senyuman yang menghangatkan hatiku. Daddy telah berjanji hari ini akan pulang lebih cepat untuk merayakan ulang tahun bersamaku, namun tetap saja hari ini akan terasa sedikit berbeda tanpa ucapan dari mum. Ku putuskan untuk berjalan-jalan ke taman untuk jalan melepas penat sambil membawa komik yang kemarin dibelikan daddy. Aku berjalan menuju tempat favoriku di taman, yakni tempat duduk dari batu yang ditutupi pohon paling rindang di taman. Biasanya tak ada orang yang berada di sana karena konon ada penunggu pohon yang mengganggu, namun nyatanya aku selalu bermain disana tanpa adanya gangguan sama sekali. Senyum yang ku paksakan mengembang di wajahku menghilang seketika melihat anak laki-laki berambut coklat tua duduk di salah satu batu dan meminum es jeruk di tangannya. Tapi aku pantang mundur, aku harus tetap kesana supaya pikiranku teralihkan. Baru saja aku menuju ke tempat itu, anak laki-laki itu menatapku dengan seksama, dan mengembangkan senyum tipisnya. Aku mencoba untuk tidak mengindahkannya dan duduk jauh darinya sambil membaca komik yang ku bawa, namun tak ku sangka anak itu mendekatiku dan menjulurkan tangannya. Aku menatapnya heran sambil menunjukkan wajah tanpa ekspresi. “Kok mukamu kusut begitu? Aku kan hanya ingin kenalan saja. Aku anak baru disini,” anak laki-laki itu tersenyum cerah dan membuatku bergidik. Tak ku indahkan jabatan tangan anak itu dan segera pergi dari sana, namun ia masih saja mengikutiku. Ku percepat langkahku dan dapat ku rasakan ia tak mengindahkanku yang mengacuhkannya. “Hey kamu cantik sekali, apa kamu keturunan campuran?” tanyanya lagi pantang menyerah. Aku masih saja tidak peduli san meneruskan langkahku. “Hey kamu dengar kan apa kataku? Ayo dong jawab,” ucapan terakhirnya membuat emosiku menyeruak ke permukaan. Ku tatap dirinya tajam-tajam yang membuatnya terdiam dan ku lampiaskan semua emosiku. “Bisa nggak sih kamu diam? Aku capek dengar kamu ajak bicara aku. Aku nggak kenal siapa kamu. Kenapa di hari ulang tahunku, aku harus ketemu anak aneh sepertimu ketika mum nggak peduli sama aku?” Bentakanku tidak membuatnya marah atau tersinggung. Anak itu tampak terdiam sambil berpikir. Aku mendecak kesal, dan bertepatan dengan itu, ku lihat daddy datang dan segera ku tinggalkan anak itu. Daddy segera memelukku dan membisikkan kata-kata ulang tahun yang membuatku tersenyum bahagia. “Happy Birthday my Sweetheart. Anak daddy sudah umur 10 tahun, semoga kamu selalu menjadi sosok yang kuat ya Clarissa. Daddy will always be with you,” aku melepaskan pelukan daddy dan mengangguk semangat. “Thank you daddy, makasih udah pulang buat rayakan ulang tahun Clarissa,” Daddy tertawa kecil melihat tingkahku dan mengajakku pulang. “Excuse me Sir, bolehkah aku juga ikut merayakan ulang tahun Clarissa?” Segera ku menoleh dengan kaget dan mendapati anak menyebalkan tadi tersenyum lebar pada daddy. Sama denganku, daddy juga terkejut dan menatapnya dengan tatapan curiga, “Ah maafkan ketidaksopanan saya om. Saya Roger Alpha Tauri, biasa dipanggil Roger. Saya anak baru disini. Tadi anak om yang kalau nggak salah dengar namanya Clarissa ini bilang sedang kesal karena mum-nya tidak bisa hadir, jadi bisakah saya yang menggantikan?” Daddy menatapku dengan tanda tanya setelah mendengar penjelasan anak bernama Roger itu dan kubalas dengan gelengan panik. Roger tertawa pelan dan kembali berbicara. “Kalo boleh om, izinkan saya menjadi teman Clarissa. Saya harap saya bisa menemani dan membuatnya tidak kesepian lagi,” *** “Mama kenapa basah begitu?” Aku menoleh ke arah Canis. Semua kenanganku bersama daddy dan pertemuan pertamaku dengan Mas Roger lenyap ketika Canis menyodorkan handuk dengan tatapan khawatir. Wajahnya masih sembab namun sudah tidak terlihat pucat lagi. “Mama nangis ya? Mama jangan nangis, Canis sudah nggak nangis lagi kok. Kan kata mama kita adalah perempuan yang kuat,” ujar Canis sambil memperagakan pose pamer otot di kedua tangannya. Aku sedikit terhibur dengan tingkahnya. Takkan ku biarkan apa yang terjadi padaku akan terjadi juga padanya, tekadku dalam hati sekuat-kuatnya. Ku keringkan tanganku kemudian mengelus kepalanya lembut. “Mama udah nggak apa-apa. Yuk sekarang masuk ke dalam. Mama mau ganti baju,” ujarku mendorongnya pelan tanpa memberinya kesempatan bertanya. Sebelum ku tutup pintu, langit malam terlihat sudah cerah kembali dan pandanganku fokus kepada satu bintang paling bersinar di langit malam. Dear Sirius, hatiku mungkin rapuh. Namun, rapuh bukan berarti hancur berkeping-keping, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN