Chapter 5 – Di Tepi Jurang

2411 Kata
“Setiap detak waktu yang ku lalui, rasa sakit itu selalu mengikuti tanpa henti, menenggelamkanku dalam kesedihan tak bertepi, hingga akhirnya mendesakku berlari ke tepi jurang penuh sepi” *** Canis Aku bangun ketika jam menunjukkan pukul 5 pagi. Kondisiku sudah jauh membaik semenjak pertama jatuh sakit. Tak terasa sudah seminggu setelah hari pertama sekolah di semester dua kelas dua aku absen. Hari ini aku harus bertekad untuk melawan dan tidak lari lagi dari mereka yang mencoba menjatuhkanku. Segera ku beranjak dari kasur dan mengambil buku pelajaran yang dikirimkan oleh Bu Aisyah 3 hari lalu. Sempat ku dengar saat itu mama menitipkanku kepada Aisyah agar kejadian ini tidak terulang kembali padaku. Aku keluar menuju kamar mandi. Suara mama yang kemudian memanggil menghentikan langkahku, “Canis, kamu jadi berangkat ke sekolah nak? Apa Canis sudah tidak apa-apa?” Aku menoleh ke arah mama yang menatapku dengan tatapan khawatirnya. Ku balas tatapan itu dengan senyum selebar mungkin agar mama tidak khawatir padaku sambil perlahan menghampiri dan memeluknya. Dapat ku rasakan tubuh mama yang kaget menerima pelukanku, lalu dibalasnya dengan elusan lembut di kepalaku. “Mama percaya kan sama Canis? Mungkin Canis sering nangis dan ngambek karena ayah memang menyebalkan. Tapi kecil-kecil gini, Canis kan tetap bintang Siriusnya mama. Apapun yang terjadi, mama bilang Canis harus terus bahagia,” aku menatap mama sambil nyengir lebar. Mama terduduk dan mengelus pipiku lembut, menatapku dengan tatapan campur aduk, antara sedih dan senang. “Mama bangga sama Canis yang bisa dewasa padahal masih kelas 2 SD seperti ini. Maafin mama ya nak belum bisa memanjakan kamu seperti teman-teman yang lain. Canis jadi harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Mama cuman mau pesan satu hal saja ke Canis, seterang apapun bintang, pasti pernah redup menghiasi bumi karena ada yang menghalangi, entah itu mendung, ataupun badai. Jadi ketika Canis mengalami masa redup itu, jangan pernah memaksakan diri untuk bersinar. Masih ada tempat lain yang dapat kamu berikan cahayanya selain di bumi, dan banyak bintang juga yang menemani untuk tetap menyinari alam semesta. Bagi mama, Canis adalah bintang lain yang paling dekat bagi mama saat ini, dan mama harap Canis juga akan menganggap mama terus ada buat Canis, apapun kondisinya. Paham kan sayang?” Ujaran panjang mama membuat air mataku menetes. Ada rasa haru yang menyeruak dari dalam hati. Aku memang jarang manja atau mengeluh pada mama karena aku tidak ingin membebani mama. Keadaan keluarga yang sulit memaksaku untuk berpikir bagaimana aku bisa membahagiakan mama. Aku segera mengusap air mataku dan menggeleng pelan. “Loh kok berhenti nangisnya? Kan mama sudah bilang tadi kalau mau menangis nggak perlu ditahan. Ini awal baru Canis menghadapi sekolah di semester ini. Mama masih khawatir, tapi kalau Canis nggak menangis dan coba tegar, mama malah semakin khawatir,” Ujar mama yang akhirnya membuat tangisanku tumpah dalam pelukan hangatnya. “Nggak apa-apa. Menangis saja sayang. Anggap saja tangis ini adalah langkah baru bagimu untuk membangun dinding kekuatan yang baru,” *** Aku melangkahkan diri menuju gerbang sekolah diantar mama jalan kaki. Sebelum masuk, mama menggenggam tanganku erat dan menatapku dengan senyuman seolah memberiku kekuatan. Aku menarik nafas panjang dan pamit kepada mama, kemudian beranjak menuju kelasku. Sepanjang jalan menuju kelas, dapat ku rasakan bahwa anak-anak yang kemarin ikut tragedi tersebut melihatku dengan tatapan was-was. Aku tahu bahwa hatiku masih merasakan takut dan trauma akan kejadian itu, namun hari ini aku harus mencoba melawan rasa takutku dan membalas tatapan mereka dengan tatapan setajam mungkin. Langkahku terhenti melihat Via dan teman-temannya berdiri di depan pintu kelas seolah menghalangi jalanku. Sempat ada rasa gentar dalam hatiku dan menyerah pada rasa traumaku. Aku menoleh sejenak dan masih mendapati mama berdiri di depan gerbang sekolah, mengepalkan tangannya untuk menyemangatiku dan dapat ku rasakan keberanian yang sekejap tadi luntur kembali datang, entah dari mana. Ku tatap Via dan teman-temannya dengan tatapan datar namun intens yang membuat mereka sempat bereaksi terhadap reaksiku. Ku langkahkan kaki dan berdiri tepat depan Via. “Via bisa minggir? Canis minta hari ini Via dan kalian berdua TIDAK mencari masalah. Canis lagi nggak mau cari masalah dengan siapapun dan hanya ingin sekolah. Jadi Canis minta sekali lagi kepada kalian untuk minggir,” ujarku sambil menekankan kata “tidak” supaya mereka pada akhirnya dapat memahami bahwa aku hanya menginginkan kehidupan sekolah yang menyenangkan. Aku dan Via beradu tatapan tajam sebelum akhirnya ia meminta temannya untuk minggir. Tepat di sampingku, ia kembali menatapku dan berkata, “Jangan harap Via minta maaf ke Canis, Via nggak akan minta maaf,” “Dan jangan harap Canis akan takut lagi sama Via, karena Canis yang sekarang sudah janji sama diri Canis akan mencoba melawan, apapun caranya,” *** Aku merebahkan kepalaku seusai pelajaran berakhir. Energiku seakan menguap tanpa sisa setelah kejadian tadi pagi dan pelajaran berhitung yang diajarkan Bu Aisyah. Baru saja aku ingin mengeluarkan bekal yang dibawakan mama, ku lihat lima orang anak berjalan mendekatiku dengan wajah takut-takut. Ku genggam erat-erat kotak bekalku sambil menahan emosi yang bergejolak, mengingat mereka adalah anak-anak yang menertawaiku dengan keras disamping Via dan teman-temannya. “Kalian kenapa kemari? Canis ada buat salah lagi ke kalian? Bukankah dari tadi Canis nggak nyapa kalian sama sekali?” tanyaku waspada sambil menatap mereka dengan tatapan menusuk. Beberapa di antara mereka tampak salah tingkah dan saling mendorong teman lainnya untuk mewakili maksud mereka. Aku yang sebal segera beranjak pergi namun langkahku tertahan ketika salah satu dari mereka menahan tanganku. Terkejut dan teringat k*******n yang dilakukan ayah kepada mama, ku tepis tangannya dengan kasar. Tubuhku terhuyung ke salah satu meja dan ketika ku dengar mereka ingin membantu, ku berikan isyarat melalui tangan untuk tidak membantuku. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku pejamkan mata. Segera ku kumpulkan kesadaranku dan ku lihat wajah bingung mereka melihatku seperti orang linglung. Ku tumpu tanganku pada meja di belakangku dan kuhirup nafas dalam-dalam sekali lagi untuk mengembalikan kesadaranku. “Tolong, jangan sentuh Canis. Maaf kalau Canis terkesan nggak mau dipegang, tapi Canis memang nggak bisa di pegang oleh orang lain selain Mama dan Bu Aisyah,” ujarku, berusaha tegar meskipun dapat ku rasakan getaran hebat dalam suaraku, seolah memaksaku untuk menuruti rasa takut. Kembali ku perhatikan kelima anak itu, yang kalau tidak salah ingat bernama Farhan, Ramdhan, Faza, Lina dan Rafa. Namun mereka masih saja saling menyikut untuk memulai pembicaraan denganku. Aku mendecak kesal sekerasnya kemudian tanpa sadar memarahi mereka, “Kalau kalian nggak mau bicara, jangan tahan Canis disini. Canis laper tau, hari ini mama buatin Canis chocochip tapi kalian malah nggak jelas begini. Kalau gitu Canis pergi aja, mau makan, daripada nunggu kalian sikut sikut begitu,” Baru saja ku langkahkan kaki, Faza dengan gugup maju dan menatapku takut-takut. Ia menarik nafas sejenak dan berbicara dengan nada yang gugup, “Ca.. Canis.. Ki.. Kita mau mi.. minta ma.. af. Ka, kata orang tua kami, kami nggak boleh me.. mengejek da.. dan menertawakan te.. teman seperti itu,” Aku mengernyit heran. Darimana orang tua mereka mengetahui kejadian waktu itu? Apakah Bu Aisyah mengadakan rapat orang tua? Namun kalau begitu, kenapa mama tidak di undang? Aku menghela nafas ringan sebelum akhirnya membalas Faza, “Canis nggak tahu kenapa kalian waktu itu menertawai Canis yang lagi sedih dan malu, bahkan sampai sakit selama seminggu karena alergi terhadap air bekas atau kurang bersih. Canis selama sakit terus memikirkan apakah Canis punya salah sehingga kalian puas melakukan itu ke Canis? Sampai mama bilang kalau anak-anak seperti kita memang suka ikut-ikutan untuk menyoraki seseorang untuk merasa lebih baik dari yang disoraki. Canis memaafkan kalian, tapi Canis mohon supaya kalian nggak melakukan hal ini lagi ke teman-teman yang lain. Satu lagi, Canis minta supaya kalian langsung minta maaf tanpa dimarahi begitu. Semoga ke depannya, kalian dapat membedakan mana yang baik dan buruk untuk di ikuti,” Aku segera pergi meninggalkan Faza dan yang lainnya setelah mengucapkan kata-kata itu sambil membawa . Sekilas kulihat Ramdhan mendekati Faza yang menangis bersalah. Farhan dan Rafa ikut menenangkan Faza sementara Lina masih terpaku menatap kepergianku dengan tatapan maafnya. Aku tersenyum kecil sambil berjalan menuju gazebo sekolah. Sembari menikmati chocochip buatan mama, ku tatap langit yang tampak cerah sambil bersenandung lagu yang sering dinyanyikan mama ketika menulis novelnya. ‘Mama, apakah langkah kecil Canis ini bisa membebaskan kita dari rasa sedih? Apakah perkataan Canis bisa menyadarkan mereka? Canis harap suatu hari keadaan akan berbalik pada kita,’ *** Aku menatap cilok yang ku bawa dengan senang. Kata mama, cilok depan sekolahku adalah cilok terbaik yang pernah mama rasakan. Sengaja ku sisihkan sedikit uang sakuku untuk membelikan mama cilok dan merayakan langkah beraniku untuk melawan dan mencoba menyadarkan mereka yang melakukan pem-bully-an padaku. Awalnya aku ingin membeli gulali bang Syarif, namun mengingat kejadian kemarin dan mama melarangku ke taman untuk sementara, aku membatalkan niatku dan memilih membeli cilok untuk mama. Baru saja kakiku menapak depan halaman rumah, ku lihat pintu rumah terbuka. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah ada tamu? Karena jarang sekali kulihat rumah kami kehadiran tamu kecuali ketika dulu ayahku menerima kiriman jajan dari tetangga yang suka dengan ayah. Pertanyaanku segera terjawab ketika aku mendengar bunyi barang yang dibanting. BUKAN! Itu bukan tamu, tapi itu ayah! Segera ku bergegas ke dalam rumah untuk melihat keadaan mama. Ketika ku taruh sepatuku di rak, ku lihat sepadang sandal berwarna pink yang masih terpatri jelas dalam ingatanku milik perempuan kemarin di taman. Perempuan yang dengannya ayah berikan senyumannya. Geram, ku ambil sandal itu dan mencengkeramnya kuat-kuat, kemudian berlari mencari mama ke dalam. Aku terhenyak melihat mama terduduk sambil menangis melihat ayah datang dengan sosok perempuan di taman. Emosiku membuncah dan segera ku lempar sandal yang ku pegang ke arah perempuan itu. Dia mengaduh kesakitan dan ayah segera melihatku dengan tatapan marah karena perbuatanku padanya. Aku yang sudah hilang kendali segera berlari sekencangnya dan sengaja menabrak ayah dengan keras untuk melampiaskan semua kekecewaanku. “ANAK KURANG AJAR!!” Ayah mengangkat tangannya dan bersiap menamparku. Aku tidak menghindar dan menatap ayah dengan tatapan menantang. Hampir saja tamparan itu mendarat mulus di pipiku, kulihat tangan mama menahan kuat-kuat layangan tangan ayah. “CUKUP MAS! Jangan tampar Canis, dia nggak ada salah apa-apa! Kalau memang sebegitu inginnya kamu menikahi Anita, aku mau terima penawaran kamu untuk bercerai denganku! Aku lebih rela sakit hati lihat kamu dengan orang lain dibandingkan lihat Canis kamu sakiti!” Bentakan mama kepada ayah membuatku kaget. Cerai? Jadi apa yang aku rasakan kemarin benar adanya? Ayah ingin berpisah dengan mama untuk menikah dengan perempuan itu? Aku menatap mama nanar, “Ma....,” bisikku dengan suara bergetar. Mama menoleh dengan wajah cantiknya yang mulai memerah dan basah oleh air mata. Ia menggeleng dengan tatapan hancur yang membuat hatiku ikut hancur. Mama memelukku dengan erat dan tangisnya pecah, sementara ayah tampak tidak terpengaruh dengan keadaan kami. Ayah merogoh sakunya, kemudian melemparkan sepucuk surat ke hadapan kami. Terdapat tulisan “PENGADILAN NEGERI”. “Coba dari tadi kamu setuju, aku nggak perlu lama-lama berada disini. Ku harap besok kamu datang ke pengadilan. Kalau kamu nggak datang, berarti kamu pengecut yang nggak bisa mandiri dan ingkar janji,” Aku meradang mendengar ucapan ayah. Padahal selama ini mama adalah orang yang paling mandiri yang ku tahu. Mama selalu bekerja keras menulis novel untuk mencukupi biaya kehidupan sehari-hari, bahkan untuk membayar hutang-hutang ayah yang suka minum. Mama juga selalu mendahulukanku dan ayah, sampai jarang ku lihat mama membeli barang baru. Ayah menggandeng lengan perempuan bernama “Anita” itu keluar meninggalkan mama dan aku yang masih mematung. Ku lepaskan pelukan mama dan menatap ayah yang hampir keluar dari rumah dengan senyum bahagia bersama perempuan itu. Senyum bahagia yang membuat keluargaku hancur. Mama menahanku yang seolah siap meledak kapanpun, namun aku menggeleng pelan tanpa menoleh padanya. “Kalau mama pengecut karena ditinggal sendiri, Canis rasa ayah juga pengecut karena ingin bebas dengan melepas kami dengan cara seperti ini,” ujarku lantang yang membuat ayah dan Anita itu menoleh terkejut. Ayah menatapku dengan penuh emosi namun aku tidak peduli dan melanjutkan kekecewaan yang selama ini kurasakan. “Ayah tau nggak kalau mama selalu bilang ayah adalah lelaki yang hebat? Bahkan meskipun ayah sudah jelas-jelas kasar ke mama dan marahin Canis, jarang pulang ke rumah, mama tetap bilang kalau bagaimanapun ayah sayang sama Canis. Sekarang sudah jelas kalau ayah nggak pernah sayang ke kita, bahkan lepasin kita karena perempuan yang nggak sehebat mama kayak dia,” aku menunjuk ke arah perempuan itu dengan emosi yang dibalasnya dengan pelototan marah. “Kamu hanya anak kecil. Masih juga kelas 2 SD. Memangnya kamu tau apa tentang ayah dan Anita? Tau apa kamu tentang mamamu yang nggak pernah buat ayah bahagia di keluarga ini?” tanya ayah sinis dan menatapku dengan tatapan merendahkan. “Canis nggak tahu dan nggak mau tahu apa kelebihan perempuan itu. Yang Canis tahu, Bu Aisyah selalu ajarin di sekolah kalau merebut sesuatu yang bukan milik orang itu nggak baik, jadi Canis nggak mau tau apapun tentang perempuan nggak baik itu. Sebaik apapun dia di mata ayah, dia tetaplah orang yang sudah merebut sosok ayah dari Canis, dan sosok suami dari mama,” Bantahanku membuat ayah dan Si Anita terkejut bercampur emosi. Mama memegang tanganku dan dapat ku lihat tatapan khawatirnya padaku. Aku tersenyum kecil seolah mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. Aku melepaskan tangan mama perlahan dan melangkah mendekati ayah dan Anita. Ku tatap dalam-dalam mereka hingga dapat ku rasakan Anita emosi terhadapku. “Kamu, siapa kamu sehingga bicara seperti itu?” tanya Anita geram. Aku mencoba tersenyum dan menjawab pelan, “Canis hanya anak mama dan ayah yang sekarang kakak hancurkan hubungannya. Kenapa kak? Apa kakak marah? Canis nggak peduli kalau kakak marah. Itu berarti apa yang Canis katakan benar kan? Mama pernah bilang ke Canis, kalau Canis di ejek jangan marah ke teman-teman Canis, karena marah berarti apa yang mereka katakan benar,” Anita kesal mendengar penuturanku, kemudian ia beranjak keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ayah menatapku sekejap sebelum keluar mengejar Anita, “Kamu akan menyesal sudah berkata seperti itu,” Aku menarik nafas pelan, kemudian air mataku mengalir perlahan setelah kepergian ayah. Semua rasa sakitku menyeruak keluar, keberanianku hilang entah kemana. Aku kembali menjadi anak kecil yang sedih ditinggalkan ayahnya. Dapat ku rasakan mama menarikku ke dalam pelukannya, seolah ia tak ingin membiarkanku menangis sendiri. Kami sama-sama menangis dalam sepi, dan kini sepi itu akan semakin terasa setelah pada akhirnya seorang ayah tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini. “Maafin mama Canis, karena mama, Canis jadi kehilangan sosok ayah sekarang,” “Canis nggak mau nyalahin mama. Dengan mama saja sudah cukup, seperti yang selalu kita ingat, kita nggak akan sendiri karena kita saling memiliki satu sama lain,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN