Chapter 6 – Hari-Hari Tanpa Ayah

2707 Kata
“Aku mencoba untuk tidak memedulikan kesedihanku, namun semakin aku menghindarinya, aku semakin tenggelam dalam palung kesedihan” *** Aku termenung di tempat tidur. Badai yang ku hadapi siang tadi membuatku gelisah. Berbagai macam pertanyaan menghantui dan menghilangkan rasa kantukku. Mulai hari ini, aku dan mama benar-benar hidup berdua. Mimpi buruk yang selama ini hanya menghantui hari-hariku menjadi kenyataan. Aku membenamkan kepalaku dan menangis pelan. Air mata yang sedari tadi ku tahan depan mama akhirnya jatuh perlahan. Aku benci keadaan dimana aku harus menangisi kehilangan karena aku akan selalu mengasihani diri sendiri dan merasa semenyedihkan ini. Kenapa ayah harus berbuat seperti ini kepada kita? Apa perjuangan mama selama ini tidak cukup membuktikan betapa sayangnya mama terhadap ayah? Sosok seperti apakah si Anita yang mampu membuat ayah menutup matanya akan kehadiran kami? Pintu kamar diketuk pelan dan ku dengar mama meminta izin untuk masuk jika aku belum tidur. Segera ku usap air mataku dan menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjawab mama dengan suara se-normal mungkin. Terdapat jeda sejenak sebelum akhirnya mama masuk membawa segelas s**u Vanilla hangat yang selalu disajikannya tiap malam. Kata mama, minum s**u sebelum tidur akan membuat tidur kita nyenyak dan menenangkan pikiran. Namun dalam keadaan seperti ini, apakah efek s**u hangat ini akan bekerja seperti hari-hari biasa? Aku menerima segelas s**u hangat itu sambil memperhatikan wajah mama. Mata sipitnya sedikit bengkak dan wajahnya agak memerah. Namun malam ini di depanku, mama memaksakan diri untuk mengulas sebuah senyum kecil di wajahnya. Aku meneguk sedikit s**u sebelum akhirnya bertanya, “Mama, maafin Canis tadi siang sudah bilang seperti itu ke ayah ya. Canis tau mama sayang banget ke Ayah, bahkan biasanya kalau mama cerita tentang bintang Aldebaran, mama selalu semangat dan tatapan mama bahagia banget. Tapi tadi Canis malah bilang nggak apa-apa kalau ayah pergi dari kehidupan kita, padahal bagi mama, ayah adalah orang yang buat mama bahagia duluan sebelum ada Canis, meskipun mama sebenarnya sudah sering disakiti oleh ayah berkali-kali,” Aku kembali meneguk s**u sembari menunggu jawaban mama. Ia terdiam cukup lama mendengar perkataanku. Mama menatapku dalam-dalam, kemudian ketika aku selesai minum s**u, mama menerima gelasku sambil menghela nafas berat. “Mama memang sayang banget sama ayah, Canis. Tapi Canis juga harus ingat rasa sayang mama ke Canis juga besar, bahkan melebihi rasa sayang mama ke ayah. Canis tau nggak? Anak merupakan anugerah terindah buat setiap orang tua. Ketika mama hamil Canis, nggak berhenti setiap hari mama berdoa semoga Tuhan selalu berikan Canis kebahagiaan, meskipun nantinya mama dan ayah nggak baik-baik saja, seperti hari ini. Mama pernah takut kalau nanti Canis lahir, mama harus mengorbankan nyawa mama. Semakin mendekati kelahiran Canis, mama semakin menyadari bahwa Canis adalah bagian dari mama. Ketika Canis bereaksi dalam perut mama, perasaan hangat seorang ibu terhadap anaknya perlahan memberikan mama pengertian bahwa Canis adalah hadiah dari Tuhan yang selalu mama tunggu kehadirannya, meskipun nanti mama harus mempertaruhkan nyawa dalam melahirkan Canis,” Penjelasan panjang mama terdengar berat dikatakan terutama ketika mama mengatakan tentang rusaknya hubungan antara mama dan ayah, seolah perasaannya terhadap ayah benar-benar mempunyai ruang khusus yang tak bisa ku gantikan. Namun ketulusan mama dalam mengatakan rasa sayangnya padaku pun menunjukkan bahwa aku benar-benar mempunyai tempat khusus pula di hatinya, dimana tempat itu takkan bisa tergantikan oleh siapapun termasuk ayah. Mama bersiap keluar dan membawa gelas bekas susuku, namun ku tahan tangannya. Mama menoleh heran dan menungguku berbicara. “Mama, boleh nggak malam ini Canis lihat sirius sama mama? Canis nggak bisa tidur malam ini, Canis mau dengar cerita mama tentang bintang lagi. Boleh kan, ma?” *** Aku duduk di samping mama sambil menatap langit malam yang cerah, berbeda dengan suasana hati kami yang mendung. Segera ku cari bintang sirius di antara bintang-bintang yang terlihat malam ini. Setelah ku temukan cahaya bintang yang paling terang kelap-kelipnya, aku melonjak kegirangan yang membuat mama sedikit kaget dengan spontanku. Hari hampir menunjukkan tengah malam, dan biasanya bintang Sirius dapat dilihat dengan sangat jelas pada tengah malam. Mama menarik tanganku untuk duduk di sampingnya sambil menahan tawa melihat antusiasku. Aku menyunggingkan senyum kecil, bersyukur tingkah spontanku membuat mama tersenyum  dan melupakan kesedihannya sejenak. “Canis tau nggak? Meskipun Sirius ini merupakan bintang malam yang paling terang di langit malam, tapi nggak semua orang di belahan dunia dapat melihat bintang ini. Kita termasuk beruntung karena tinggal di Indonesia dan bisa melihat keindahan bintang Sirius ini,” ujar mama menjelaskan, kemudian matanya menatap bintang Sirius lekat-lekat. Aku mengernyit heran, “Kan Sirius ini bintang yang paling terang di langit malam ma, tapi kenapa nggak semua orang bisa melihat? Kan kasian mereka nggak bisa lihat betapa indahnya Bintang Sirius,” Mama masih terus menatap Bintang Sirius dan bintang di langit malam lainnya seolah mencari ketenangan, kemudian ia menatapku, “Karena Sirius ini terletak di rasi selatan, Canis, Orang-orang yang tinggal di atas 73,284o lintang utara. Jadi beruntunglah Indonesia ini karena terletak di 11o lintang utara,” jelas mama. “Yahh sayang sekali ya ma, padahal bintang Sirius seindah ini,” balasku sambil menghela nafas kecewa membayangkan mereka yang tidak bisa menikmati kelap-kelip bintang Sirius. Mama mengelus kepalaku lmbut sambil berkata pelan, “Nggak semua keindahan bisa dinikmati oleh setiap orang Canis. Lagipula meskipun Sirius nggak terlihat oleh mereka, masih ada Bintang Arcturus, bintang paling terang di langit malam nomor 4 kok. Bintang Arcturus ini bisa dilihat oleh hampir setiap orang di bumi,” Penjelasan mama membuatku sedikit terhibur. Aku kembali melihat ke arah kelap-kelip bintang malam yang semakin terang menampakkan sinarnya. Sebuah pertanyaan kembali melintas di benakku. “Mama, kenapa bintang itu cahayanya kelap-kelip begitu sih? Kenapa ga seperti cahaya matahari yang bisa bersinar terang?” Mama lagi-lagi tertawa kecil melihatku bertanya dengan antusias, kemudian kembali menjelaskan dengan penuh kesabaran. “Canis, bintang itu terletak jauh sekali jaraknya dari bumi. Matahari pun sebenarnya termasuk kelompok bintang. Bintang sendiri punya arti benda langit yang dapat memancarkan cahayanya sendiri. Jadi karena matahari bisa memancarkan cahaya sendiri, dia juga termasuk bintang. Bedanya, matahari adalah bintang paling dekat dengan bumi, maka dari itu cahayanya beda dengan bintang malam. Canis tahu nggak? Bumi kita punya mantel 7 lapis yang namanya atmosfer. Kalau bintang malam yang jaraknya jauh itu menyinari bumi, cahayanya harus melewati 7 mantel bumi yang pergerakan udaranya berbeda-beda. Karena itu cahaya bintang ada yang berbelok dan terlihat seperti cahaya bintang itu berkelap-kelip di mata kita,” Aku menganggukkan kepala memahami penjelasan mama. Entah mengapa aku sangat menyukai bintang malam, padahal mereka hanya menampakkan kelap-kelipnya yang sepi, bahkan cahayanya pun tidak seperti matahari yang dapat menerangi seluruh penjuru bumi. Mungkin karena aku seperti sosok bintang malam, berusaha tetap bersinar meskipun hanya cahaya kelap-kelip sepi untuk terus membuat bumi tidak merasa sendiri ketika gelap menghampiri. “Sudah malam Canis, kita tidur ya, besok kan Canis harus sekolah,” ujaran mama membuyarkan lamunanku. Aku menghela nafas berat dan masuk ke rumah disusul oleh mama. Kulihat sekilas taburan bintang di langit malam yang menemaniku malam ini. ‘Temani aku melewati hariku ya bintang-bintang di langit. Aku tau mulai besok semua akan terasa sama sekali berbeda, tapi aku yakin meskipun cahaya kelap-kelipku sepi seperti kalian, namun aku tetap dapat menemani mama dengan cahaya sepi ini’ *** Aku berangkat sekolah dengan lunglai. Sepanjang perjalanan ke sekolah, aku tahu bahwa mama menahan rasa gugup dan khawatirnya melalui tangannya yang terasa dingin. Setiap kali ku tanya, mama selalu mengelak dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Hari ini akhirnya datang juga, hari dimana mama akan bertemu dengan ayah di pengadilan negeri untuk pertama kalinya sebagai dua orang yang akan memutuskan ikatan suci atas nama Tuhan. Aku merutuki keputusan ayah untuk bercerai dari mama sepanjang jalan. Ingin rasanya aku berteriak di depan ayah untuk melihat dengan matanya secara sadar bahwa mama jauh lebih cantik daripada Anita. Meskipun sibuk, mama selalu merawat dirinya. Sering ku lihat mama memakai handbody dan pelembab wajah, bahkan sebelum mandi, secara rutin mama membersihkan tubuhnya dengan lulur. Apakah pernikahan memang seperti ini? Bukankah mama sesayang itu kepada ayah? Sebelum keluarga kami hancurpun, aku tahu betapa ayah menyayangiku dan mama, bahkan kami sering menghabiskan waktu liburan sebulan sekali ke Kebun Raya Bogor. Ayah bilang ia tidak bahagia tinggal bersama kami. Apakah kebahagiaan yang pernah ada di keluarga kita hanyalah kepalsuan semata? Apa kebahagiaan itu menjadi kenangan yang terlupakan begitu saja oleh ayah? Kalau memang tidak bahagia, kenapa tidak ayah cari lagi kebahagiaan itu bersama kami dan malah berlari ke perempuan lain? Kapan sebenarnya perilaku ayah berubah? Apa ketika ayah di PHK? Atau ketika... Aku terhenyak kaget mengingat suatu kejadian ketika ayah dan aku pergi ke taman empat tahun lalu dan membeli gulali. Disana aku melihat seorang perempuan yang menjual gulali pengganti Bang Syarif. Ya, tidak salah lagi perempuan itu adalah Anita. Dari awal pertemuan ketika aku merengek ayah untuk pulang, aku sudah mempunyai firasat buruk tentang perempuan itu. Andai saja hari itu aku nggak minta ke taman... Aku tersadar dari semua pertanyaan dan ingatan yang menghantuiku ketika mama menepuk bahuku cukup keras dan menatapku dengan wajah khawatir. Mama menangis melihatku terdiam selama perjalanan dan hal itu membuatku merasa bersalah. “Canis kenapa menangis? Canis nggak apa-apa nak?” pertanyaan mama membuatku terkejut dan spontan menyentuh pipiku yang basah oleh air mata. Kapan aku menangis? Kenapa aku harus menangis di hari ketika mama membutuhkanku sebagai penguatnya? Segera ku hapus air mataku dan tersenyum lebar ke arah mama. Mama mengernyit dan menatapku dalam-dalam, mencari kejujuran dari perkataanku. “Canis nggak apa ma, kan daritadi Canis bengong sampai lupa kedip mata sering-sering, jadinya keluar air mata deh. Udah yuk ma, belum sampai sekolah nih, nanti Canis telat,” ujarku sambil berjalan melewati mama. Baru dua langkah aku berjalan, mama menarikku ke pinggir jalan dan duduk di trotoar kemudian mendekapku dalam pelukannya erat. Dapat ku rasakan mama menangis sambil memelukku. “Mama tau Canis sedih. Jangan ditahan nak, karena mama pun sedih. Kalau Canis nggak sedih mama jadi khawatir. Nggak apa-apa, jangan bohong ke mama kalau tadi Canis nangis. Nangis saja nak, karena kita sama-sama sedih. Meskipun kemarin Canis bilang nggak apa-apa ayah pergi, tapi mama tau sebenarnya kamu adalah orang yang paling kehilangan sosok ayah, jauh daripada mama yang kehilangan sosok suami,” Mendengar ucapan mama, aku menangis sekencang-kencangnya. Untung saja jalan yang kami lewati merupakan jalan yang jarang dilewati orang-orang sehingga tangisanku nggak akan terdengar oleh siapapun. “Kenapa ayah setega itu ke kita ma? Padahal mama sudah kasih segalanya ke ayah. Mama sudah bekerja keras bahkan bayar hutang-hutang ayah. Kenapa ayah harus melakukan ini ma? Kenapa karena perempuan itu ayah meninggalkan kita yang sudah berusaha mempertahankan ayah tetap ada sama kita? Kenapa ma? Kenapa?” aku terus mengulang pertanyaanku bukan untuk bertanya pada mama, melainkan bertanya pada takdir yang mempermainkan kita. Apakah memang ada usaha tidak membuahkan hasil seperti yang kita inginkan seperti sekarang? Mama tidak menjawab. Ia hanya mendekapku seerat yang ia bisa dan ikut menangis bersamaku. Sesekali diusapnya punggungku lembut, hingga sebelum kami menyudahi tangisan kami, mama menatapku dengan penuh kasih sayang, mengusap sisa air mataku dan berkata, “Nak, berikan kekuatanmu pada mama ya hari ini. Karena satt ini yang bisa menguatkanku hanya dirimu seorang,” *** Aku merebahkan kepalaku lelah. Hari-hariku di sekolah terasa berat setelah kejadian perceraian ayah. Seperti yang sudah ku duga sebelumnya, rumor mengenai perceraian mama dan ayah cepat menyebar sehingga ibu-ibu tetangga selalu bergosip mengenai aku dan mama. Selama proses perceraian terjadi, mama yang mengantarku ke sekolah seringkali ditatap sinis oleh mereka dan menjadi topik perbincangan. Pada akhirnya aku memaksa mama untuk tidak mengantarku lagi ke sekolah dan hanya diam di rumah karena aku tidak tega melihat mama yang tetap tersenyum menghadapi perkataan mereka. Kesehatan mama ikut menurun seiring berjalannya waktu persidangan, bahkan mama memaksakan diri untuk mencari pekerjaan tambahan jika disamping menulis novel. Tidak hanya tetangga, Via dan teman-temannya mulai memprovokasiku dan menghasut teman-teman lain untuk menjauhiku. Aku mengeluarkan buku kecil yang diberikan mama dua bulan lalu. Mama bilang, buku ini dinamakan diary, buku yang akan menjadi teman setiaku dan menampung keluh kesah terpendamku. Kini diary itu telah terisi sebagian dan setiap kali aku membacanya, entah kenapa aku selalu merasa diriku sudah berjuang sekeras ini melalui badai yang menerpaku bertubi-tubi. Ku keluarkan pensilku dan kembali menggoreskan tulisan disana. Dear diary, Hampir tiga bulan sudah Canis punya kamu. Mama benar, kamu adalah teman terbaik Canis yang bisa menampung apapun, bahkan ganjalan terpendam. Mama bilang dulu kakek pernah memberikan mama diary juga untuk jadi temannya ketika nenek nggak mempedulikan mama, dan karena ada diary itulah mama bisa bertahan ketika perceraian kakek dan nenek. Sekarang Canis harap dengan adanya kamu sebagai teman curhat Canis, hal ini pun akan terlewati dengan mudah ya. Terimakasih untuk kamu, dan untuk mama yang sudah menghadiahkan kamu untuk Canis. Badai, cepatlah berlalu. Canis hanya ingin hidup senang sama mama meskipun ayah sudah tidak ada bersama kami. Aku menutup diary ku dan segera merapikan buku. Mama bilang, hari ini aku harus cepat pulang karena mama membutuhkanku menghadapi hari resminya perceraian mama dan ayah. Kelas sudah sepi dan segera aku beranjak. Baru saja aku sampai di pintu kelas, Via dan teman-temannya sudah menungguku dengan senyuman mereka yang paling manis. Aku mundur beberapa langkah dan mewaspadai apa yang akan mereka perbuat kepadaku. “Minggir, Canis mau pulang. Mama menunggu Canis saat ini,” ujarku sedikit membentak mereka, namun Rafina dan Sofia menghadangku dari samping kanan dan kiri. Aku menatap Via dengan emosi. “APA MAU VIA MENGHADANG CANIS SEPERTI INI? CANIS MAU PULANG VIA, MINGGIR,” teriakku seperti orang kesetanan dan mengundang perhatian kakak kelas yang masih jam istirahat. Via tersenyum penuh kemenangan melihat kemarahanku, kemudian berkata, “Canis kasihan banget ya, udah nggak punya ayah. Tau nggak, kemarin waktu Via dan ibu pergi ke taman untuk beli gulali, mama Canis datang ke ayah Canis sama pacarnya sambil mohon-mohon untuk berubah fikiran. Ih kasihan banget ya mama Canis, kemarin sampai duduk apa ya kata ibu, ah berlutut depan ayah Canis loh. Canis pasti nggak tau kan ya kalau mama Canis kayak gitu? Sampai ibu cerita ke orang lain dan mama Canis terkenal karena cerita ibu,” Ucapan panjang Via bagai petir yang menyambarku. Mama kemarin memang keluar ketika sore, namun tak ku sangka ia menemui ayah dan memohon pada ayah untuk tidak meninggalkan kami. Tapi kenapa mama tidak memberitahuku? Pantas saja setelah pulang wajah mama sembab dan terdapat bekas tanah pada rok di bagian lututnya. Emosiku memuncak pada mama yang tidak menceritakan kejadian itu padaku. Aku menatap Via dan teman-temannya dengan tatapan amarahku yang membuat mereka terkejut dan ketakutan. “Minggir kalian. Canis mau pulang,” ujarku yang menerobos mereka, namun Rafina masih tetap berdiri di tempatnya. Ku tatap Rafina dengan kesal kemudian berteriak, “RAFINA MINGGIR! PAHAM NGGAK SIH SAMA APA YANG CANIS BILANG?” aku mendorong Rafina tanpa peduli ia terjatuh dan menangis. Aku berlari kencang dan tidak memedulikan keributan yang ditimbulkan olehku. Aku hanya ingin menanyakan alasan mama tidak jujur padaku dan meminta ayah kembali pada kami. Mama selalu bilang siap menghadapi hari ini asal aku selalu bersamanya. Namun sekarang apa? Aku membuka pintu rumah keras-keras dan ku banting tasku. Benci rasanya mengingat semua perkataan mama yang mengatakan bahwa denganku saja mama sudah bahagia. Aku mengunci pintu kamarku dan menangis di pojokan sampai ku dengar suara motor mama datang, di susul dengan suara batuknya. Dapat ku dengar suara kaget mama yang kemudian langsung mengetuk kamarku. Suara mama bergetar seperti habis menangis, namun saat ini amarahku mengalahkan rasa sayangku pada mama. “Apa? Mama mau bilang apa? Mama selalu bilang nggak apa ditinggal ayah kan? Asal ada Canis mama akan baik-baik saja. Tapi apa? KEMARIN MAMA MENEMUI AYAH. MOHON SUPAYA AYAH KEMBALI. Kalau gitu mama balik saja ke ayah, nggak usah ada lagi Canis di hidup mama,” Ada jeda singkat dan suara terkejut mama sebelum akhirnya mama menjawab dengan suara seraknya, “Bukan begitu Canis. Mama mohon ke ayah untuk memikirkan kembali hal ini karena mama rasa kamu masih butuh ayah di samping kamu. Mama nggak minta ayah kembali untuk kepentingan mama nak,” Mama mulai menangis dan mengetuk pintuku pelan, memohon supaya aku membukakan pintu. “Udah Canis bilang, meskipun Canis kangen sama ayahpun, asal ada mama Canis nggak apa-apa. Tapi mama masih saja nggak percaya kalau sosok mama sudah lebih dari cukup bagi Canis. Canis memang masih kecil. Selama ini Canis kuat karena mama. Tapi kalau memang itu mau mama, mulai hari ini, Canis nggak akan percaya lagi sama mama,”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN