“Sekarang apa lagi? Jika semua sudah sesakit ini, mau dibawa kemana kepingan hati yang telah berserakan dan hancur berkeping-keping?”
***
Canis
Aku menatap dipan yang selalu menjadi tempat favoritku dan mama setiap malam melalui jendela kamarku. Tempat yang selalu menjadi saksi bisu canda tawa dan kesedihan kami, kini berubah menjadi tempat yang paling menyakitkan bagiku. Mama yang selalu tersenyum, bercerita mengenai bintang-bintang, dan bilang menyayangiku meskipun ayah selalu mencampakkan bahkan meninggalkan kami, sekarang semua terdengar seperti omong kosong di telingaku.
Sudah 10 hari berlalu setelah kejadian yang membuatku tidak lagi bertegur sapa dengan mama. Kekecewaanku pada mama bukanlah kekecewaan karena mama meminta ayah kembali, namun perbuatan mama seolah menyadarkan betapa menyedihkannya aku yang dahulu selalu berharap pada harapan kosong supaya ayah kembali. Aku selalu saja berlari menghindari kenyataan itu dan menghibur diri sendiri bahwa aku akan baik-baik saja tanpa sosok ayah, cukup mama pun tak masalah. Rasa benciku terhadap diri sendiri kian memuncak ketika Via mengatakan permohonan mama kepada ayah di taman dan mama tidak membantah apa yang Via katakan. Apakah aku marah kepada mama? Ya, aku marah kepada mama. Marah karena ia menyadarkan betapa menyedihkannya aku yang diperkuat oleh orang lain yang sangat ku benci. Marah kepadanya karena aku tidak ingin mengakui bahwa aku adalah orang yang menyedihkan.
Aku meringkuk di tempat tidurku sambil menangis perlahan. Dalam hati kecilku, ku tahu bahwa aku ingin berbaikan dengan mama, namun kepercayaanku telah di rusak dan egoku terlalu tinggi untuk sekedar memulai perbincangan dengan mama. Setiap mama mencoba untuk mengajakku bicara, aku selalu menghindar. Sebenarnya aku tak tega menghindari mama dan membuatnya merasa bersalah, karena kondisi kesehatan mama semakin hari semakin buruk. Wajahnya pucat dan terkadang ku lihat mama kejang tiba-tiba tanpa ada penyebabnya. Beberapa kali ku pergoki mama muntah, makan ataupun tidak makan. Mama pernah mengatakan bahwa dia mengidap penyakit epilepsi sejak berumur 11 tahun dan jarang kumat semenjak aku berumur dua tahun karena mama rajin minum obat. Apakah epilepsi mama kambuh karena belakangan aku menambah beban di pundak mama?
Aku tak tahu sampai kapan rasa ego ini akan menguasaiku. Aku juga tak tahu kapan aku akan belajar memaafkan diri sendiri. Aku hanya berharap bahwa tidak ada kata terlambat untukku lepas dari semua belenggu yang mengikatku.
***
Aku terbangun dari tidurku oleh ketukan pintu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Aku tertidur setelah semalam menangis dan merutuk diriku yang tak dapat menahan emosi. Dapat ku dengar suara lemah mama membangunkan dan meminta izin untuk masuk, membawakan air hangat seperti biasa. Entah apa yang merasukiku, namun tiba-tiba emosi menyeruak keluar begitu mama meminta izin masuk ke kamarku.
“PERGI! NGGAK USAH BAWAKAN CANIS AIR HANGAT LAGI! CANIS BENCI SAMA MAMA, BENCI SEKALI RASANYA!”
Ada jeda sejenak setelah teriakanku yang cukup keras sebelum akhirnya ku dengar isakan mama dari balik pintu. Sempat ku dengar suara nampan diletakkan perlahan di depan pintu sebelum akhirnya isakan mama menjauh dari kamar. Ada rasa menyesal dan sakit mendengar tangisan mama karena perbuatanku, namun lagi-lagi egoku mengurungkat niat untuk meminta maaf pada mama. Selama aku menghindari mama, baru kali ini emosi merasuki dan menyebabkanku berteriak kepada mama. Apakah ini efek kebencian yang semakin besar pada diri sendiri? Ataukah karena luapan emosi yang menenggelamkanku dalam tidur semalam?
Aku membuka pintu dan ku lihat nampan berisikan gelas air hangat diletakkan tepat di depan pintu kamarku lantai bersama sebuah kertas kecil. Aku mengernyit heran, kemudian ku bawa nampan itu ke dalam kamar. Ku teguk air hangat itu secara perlahan, berharap agar rasa sedih dan bersalahku dapat tertelan bersamaan dengan habisnya tegukan air. Helaan nafas panjangku mengisi sedikit jeda sebelum akhirnya ku buka kertas kecil yang mama letakkan bersamaan dengan gelas air hangatku.
Sudah memasuki hari ke sebelas Canis marah sama mama,
Apa boleh mama memohon permintaan maaf Canis nak?
Mama rindu kebersamaan kita,
Mama butuh kekuatan dari Canis untuk bertahan.
Air mataku jatuh tanpa ku sadari. Aku membenarkan apa yang mama katakan dalam surat itu. Rindu kebersamaan itu menggebu-gebu, karena kali ini kita hidup sebagai dua perempuan yang mencoba berdiri tegap tanpa kehadiran laki-laki di antara kita. Aku sadar aku tak bisa terus menerus memupuk ego dalam diriku. Namun kapan? Kapan tiba waktu dimana aku tidak merasa gengsi pada mama?
“Maaf ma, maafin Canis karena sudah jadi anak yang nggak baik,” lirihku di sela-sela tangisku pada ruang hampa.
***
Clarissa
Teriakan Canis menyakiti hatiku. Apakah tidak ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki keretakan hubungan kami karena kesalahanku? Aku tahu bahwa apa yang ku lakukan sangatlah keterlaluan. Nama Canis ku jadikan tameng sebagai alasan supaya Mas Roger mau kembali pada kami dan meninggalkan Anita. Wajar jika Canis merasa kecewa, karena aku membuatnya terlihat menyedihkan di depan Mas Roger.
Aku merasakan kaki dan tanganku mulai kesemutan. Kepalaku pusing dan keseimbanganku menurun. Tanpa terasa, air mata jatuh dari pelupuk mataku. Aku menyadari belakangan gejala epilepsiku sering kambuh karena rasa stres dan pola hidupku tidak teratur setelah mengetahui Mas Roger yang selingkuh dengan Anita. Tanpa Canis selama ini sadari, aku diam-diam memanggil Aisyah untuk mmbantuku ke rumah sakit jika epilepsiku menandakan gejala kambuh. Aku segera duduk di tempat tidur sembari panik mencari-cari HP yang tergeletak entah dimana. Segera ku chat Aisyah untuk mengantarku ke dokter dan berobat jika sudah waktunya istirahat sekolah tanpa sepengetahuan Canis. Aku segera menenangkan diriku dan berbaring, namun ketika kubalikkan badanku dan melihat tempat tidur Mas Roger tanpa kehadirannya lagi di sisiku, aku menangis sambil menahan rasa sakit. Hari-hari indah yang kami jalani layaknya angin lalu dan tidak menyisakan sedikitpun rasa yang membuatnya tetap bertahan di sisiku. Setelah 26 tahun perkenalan kami, apakah hal itu sama sekali tidak membuatnya tetap memilihku lagi kali ini?
Aku merasakan sekujur tubuhku mulai mengejang. Pikiranku kelu dan waktu seolah berhenti berdetak. Hal terakhir yang ku ingat adalah suara pintu rumah yang dibuka Canis dan langkahnya meninggalkan rumah sebelum kesadaranku menghilang sepenuhnya.
***
Canis
Aku memberanikan diri melangkah ke kantin. Semenjak perang dingin yang ku mulai dengan mama, aku tak pernah lagi membawa camilan yang biasanya dibuatkan mama supaya aku bisa hemat dan menabung untuk membeli barang-barang impianku. Aku menghela nafas perlahan, dengan gemetar ku langkahkan kaki menuju kantin yang ramai akan lalu-lalang anak-anak. Dapat ku rasakan beberapa siswa membisiki dan menatapku lekat-lekat. Aku tersenyum getir. Inilah alasanku tidak mau ke kantin. Selain masalah keluargaku yang menjadi perbincangan anak-anak karena pengaruh orang tua mereka, aku selalu merasa bahwa aku adalah penjahat. Aku benci pandangan mereka yang selalu menghakimiku kemana pun aku melangkah, seolah aku ikut melakukan kesalahan atas perbuatan ayah.
Aku cepat-cepat membeli cilok Mbak Syana yang kebetulan tidak terlalu ramai. Sesekali ada yang menyikutku dan meminta maaf seolah perbuatan itu tidak sengaja mereka lakukan. Aku menyerahkan selembar uang lima ribuan kepada Mbak Syana yang menatapku dengan tatapan iba sambil memarahi anak-anak yang menggangguku, kemudian berlari ke kelas. Entah mengapa aku membenci tatapan iba yang Mbak Syana tadi tunjukkan kepadaku dan membenarkan keadaanku yang menyedihkan.
Ku keluarkan diary pemberian mama dengan tangan gemetar menahan tangis. Beberapa lembar di dalamnya ku robek dan terdapat beberapa kertas agak lecek bekas remasanku. Kepercayaanku pada mama memang telah hancur, egoku yang besar membuatku tidak bisa memaafkannya, namun buku pemberiannya adalah sahabat terbaik yang dapat menemaniku saat ini. Ku ambil pensil dalam kotak pensilku dan mulai menulis dengan hati teriris.
Dear diary,
Canis nggak tahu harus bagaimana di situasi seperti ini. Semua hal seolah tidak memihak pada Canis. Ayah sudah pilih perempuan lain dibandingkan Canis, anaknya sendiri. Mama pun mengecewakan Canis. Apakah Canis harus menyerah? Tapi mnyerah seperti apa? Andai saja Canis bisa pilih-pilih, mungkin lebih enak jadi hewan? Nggak perlu punya pikiran, nggak perlu punya perasaan, yang ada di pikirannya hanya bagaimana cara makan dan bertahan hidup.
Andai memang Canis boleh minta sama Tuhan, Canis hanya ingin meminta sebuah keluarga, dimana Canis bisa merasakan apa itu “senang”. Canis hanya ingin punya orang tua yang membuat Canis merasa Canis adalah anak yang bisa mereka sayangi dan memberikan senyum pada anggota keluarganya yang lain. Andai saja hal itu tidak mustahil untuk di kabulkan, apakah sekarang Canis akan hidup senang? Apakah Canis nggak akan menangis seperti ini?
Tuhan, tolong kabulkan lah. Jika memang ada kesempatan itu, izinkanlah Canis merasakannya meskipun hanya sebentar.
Aku membaca tulisanku hari itu sekali lagi. Pandangan mataku mengabur dan dapat ku rasakan air mata mengalir dari pelupuk mata dan mengenai goresanku di diary itu.
Kenapa Canis selemah ini? Nggak bisakah Canis kuat lagi? Nggak nangis lagi? Nggak bisakah kali ini coba senyum? Nggak bisakah masa-masa indah itu kembali lagi setelah semuanya buat Canis sedih berkali-kali?
***
Clarissa
Aku membuka mata dan ku dapati diriku berada di rumah sakit. Ketika kesadaran kembali memenuhiku, ku dapati alat bantu pernafasan di wajahku dan suara patient monitor yang memekakkan telingaku. Aku menoleh ke arah Aisyah yang menggenggam erat tanganku sambil memasang senyum paksa di sampingku. Melihatnya yang khawatir seperti itu, air mataku kembali mengalir deras yang langsung diseka olehnya.
“Maaf aku merepotkanmu terus Aisyah. Aku selalu selemah ini dari ketika kita pertama kenal di SMP. Maafin aku,” lirihku dengan nafas sedikit tersengal. Aisyah akhirnya ikut menangis melihatku yang serapuh ini. Dalam hati aku merutuk pada diri sendiri yang membuat sahabat terbaikku menangis seperti itu.
“Aku sudah bilang ke kamu sob, kamu nggak pernah merepotkanku sama sekali. Aku dengan senang hati membantumu, karena Om Mike sudah mewanti-wantiku berkali-kali sebelum beliau wafat untuk menjagamu dari si s****n Roger itu. Aku nggak masalah juga menjaga Canis untukmu karena dia sudah ku anggap seperti anakku sendiri, lagipula anakku sedang mondok di Jawa Timur. Kamu sama sekali nggak merepotkanku sob. Jangan pernah bilang seperti itu, karena kamu adalah orang paling tulus yang pernah ku temui sepanjang hidupku,” ujar Aisyah di sela-sela tangisnya. Aku mengangguk lemah sambil terus menangis.
“Sob, epilepsimu semakin parah. Kamu harus segera dirawat intensif di rumah sakit. Tolong kali ini dengarkan kata-kataku. Kejangmu tadi lebih dari lima menit, dan ketika aku tanyakan ke dokter, kamu harus harus segera dirawat disini. Kalau enggak, aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu sob. Setiap kali kamu chat aku, selalu saja firasat burukku datang dan ketika aku cerita ke Mas Anam, dia selalu bilang kalau kamu akan baik-baik saja. Tapi sekarang? Setelah perceraianmu dengan Roger, kondisimu semakin drop. Apalagi setelah Canis marah kepadamu. Sekali ini saja sob, bisakah kamu mendengarkanku?” penjelasan panjang Aisyah yang di akhiri dengan permohonan itu membuatku menghela nafas panjang. Aku tahu apa yang ia katakan benar. Namun apa yang akan terjadi jika aku tidak bekerja? Bagaimana jika Canis sendirian di rumah?
“Kasih aku waktu untuk berfikir Aisyah. Aku tidak menginginkan apa-apa saat ini selain maaf dari Canis saja. Aku nggak bisa menyerahkan Canis ke adik Mas Roger, karena kamu tahu kan apa yang Jane inginkan jika dia merawat Canis? Dia ingin memerasku dan tidak akan membiarkan Canis bahagia begitu saja,” aku menghela nafas mengingat adik Mas Roger, Jane. Dia adalah orang yang paling membenciku semenjak Mas Roger memutuskan untuk mengejarku, karena hal itu membuat Mas Roger jarang bermain dengan Jane kecil. Jane juga merupakan orang paling serakah yang ku tahu karena ketika Mas Roger dan aku menjalin hubungan, dia selalu mengancamku untuk membelikan barang-barang mahal dengan tabunganku jika tidak ingin hidupku diusik olehnya. Ketika ia menikah pun, Jane masih suka meminta uang kepadaku atau Mas Roger dengan alasan uang jajan yang diberikan oleh suaminya kurang, padahal kami sama-sama tahu suami Jane adalah seorang pemalas dan pengangguran.
Aisyah menarik nafas pelan, lalu menatapku dengan tatapan bingung. Jika membahas masalah Jane, ia juga tak bisa berbuat apa-apa karena ia tahu bagaimana perlakuan kasar Jane selama ini kepadaku.
“Aku tahu kalau Jane akan mengancammu lagi seperti dulu sob. Kamu nggak perlu khawatir, karena aku akan merawat Canis sementara kamu berobat. Kali ini aja, kamu mau ya dengarkan aku Clarissa. Dokter bilang status epileptikus padamu di khawatirkan dapat memengaruhi pernafasan atau jantungmu. Kalau kamu sakit dan firasat burukku benar terjadi bagaimana? Aku nggak mau kehilangan kamu sob. Aku yakin semarah apapun Canis kepadamu, dia juga nggak mau kamu kenapa-napa. Saat ini dia hanya sedang marah, kecewa, dan peralihan untuk bisa menerima kenyataan. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat menyayangimu dan ingin kamu selalu baik-baik saja,”
Ucapan Aisyah membuatku kembali menangis. Aku teringat bentakan Canis tadi pagi padaku. Apa yang diucapkan Aisyah benar. Aku tau Canis sangat menyayangiku, namun karena sebegitunya ia menyayangiku, ia marah ketika aku tidak memercayai sayang yang ia berikan padaku. Aku menggenggam tangan Aisyah erat. Menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh sambil berkata,
“Berikan aku waktu satu setengah bulan saja Aisyah. Aku ingin memastikan keadaan Canis baik-baik saja. Setelah itu, aku janji aku akan berobat rutin lagi ke dokter. Aku nggak mau Canis merasa sendirian dan ku tinggalkan sementara dia baru saja kehilangan sosok seorang ayah di hidupnya,”
Aisyah menatapku frustasi. Entah apa yang bisa dia katakan untuk meyakinkanku berobat secara rutin lagi. Ia menatapku dengan tatapan menyerah dan berkata, “Ya sudah. Aku antarkan kamu pulang sekarang, setelah tebus obat ya. Aku cuman minta ke kamu jangan sekali-kali kamu forsir dirimu sob untuk menulis bekerja menulis atau stres. Kapanpun kamu butuh aku akan siaga untuk membantumu sebisaku, dan Mas Anam sudah memberiku izin juga,”
Aku tersenyum mendengar perhatian Aisyah padaku. Ia melihat jam tangannya kemudian pamit kepadaku untuk memanggil dokter dan mengurus biaya perawatan. Ku tatap punggung sahabatku yang menjauh dan menghela nafas perlahan.
“Aku sangat berharap pernikahanmu dan Mas Anam akan selalu diberi kebahagiaan sob, supaya Aira tidak perlu merasakan keretakan hubungan orang tuanya seperti yang Canis rasakan saat ini,”