"Mengapa pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan dan meninggalkan luka mendalam? Dapatkah luka itu disembuhkan oleh detak waktu yang mengiringi?"
***
Canis
Aku berdiri di bawah pohon rindang taman seorang diri. Belakangan ini, aku selalu dirundung perasaan gelisah. Perasaan yang tak bisa ku deskripsikan rasa sakitnya. Entah mengapa perasaan ini begitu sakit dan menyesakkan di waktu yang bersamaan. Perasaan ini adalah perasaan yang menghantuiku ketika ayah akan meninggalkanku dan mama. Sangat tidak menenangkan, bahkan membuatku menangis setiap malam. Seperti akan ada yang pergi meninggalkanku dalam waktu dekat. Firasat itu, selalu saja merujuk kepada mama yang belakangan kondisinya semakin parah.
Hubunganku dengan mama masih saja retak seperti waktu itu. Ego yang masih menguasaiku terus menerus memintaku untuk tidak memaafkan mama atas apa yang terjadi, padahal sudah hampir dua bulan berlalu semenjak pertengkaranku dengan mama. Belakangan aku jadi sering membentak mama, meskipun setelah itu aku menangis dan menyesali perbuatanku. Aku tau, cepat atau lambat aku harus berbaikan dengan mama, karena semakin lama firasat itu mendesakku untuk berbaikan dengan mama sebelum semuanya terlambat. Namun, kapan ego ini akan berhenti membelengguku dalam pusarannya yang semakin menjauhkanku dengan mama?
Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Ingin rasanya aku mengentaskan semua gelisah yang ku rasa. Beberapa kali kekhawatiranku pada mama memuncak ketika diam-diam ku tahu Bu Aisyah pergi ke rumahku dan mengantar mama ke rumah sakit untuk periksa. Di saat seperti ini, aku merasa seperti anak durhaka yang tidak tahu rasa terima kasih pada mama. Berkali-kali mama mencoba mengajakku bicara dan memohon maaf, baik melalui surat maupun ketika aku tidak sengaja makan bersamaan dengan mama di ruang makan. Namun selalu saja berakhir dengan lunjakan emosiku yang membludak.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang memegang gulali terulur di temanku. Aku yang terkejut segera menengok ke arah seorang anak laki-laki yang tersenyum ke arahku dengan tampang polosnya. Segera ku kendalikan ekspresiku dan memasang ekspresi sedatar mungkin. Ku tatap ia sedingin yang ku bisa, berharap ia kan gentar menghadapi tatapanku dan segera menjauh dari sini, namun ia tidak peduli dan semakin memajukan tangannya yang berisi sebatang gulali itu padaku.
"Siapa kamu? Mau apa kamu memberikan gulali? Kamu jangan-jangan anak yang disewa oleh om-om yang suka culik anak ya? Pasti gulalimu ini ada obat yang bisa buat orang pingsan kemudian kamu dan om-om itu bisa bawa aku ke markas penculikan kalian ya?" Aku melontarkan kecurigaanku pada anak itu secara bertubi-tubi. Bertemu dengan orang asing seperti ini membuatku teringat pada mama yang dahulu memintaku berhati-hati jika keluar rumah ketika sedang marak-maraknya kasus penculikan anak di daerahku. Sebisa mungkin, aku menahan diriku untuk tidak menyebutkan nama seperti kebiasaanku ketika berbicara ke orang lain.
Ku tatap anak itu yang menatapku dengan wajah melongo, kemudian ia tertawa dengan kencang dan membuatku semakin waspada kepadanya. Ia menggeleng-geleng pelan sambil melihatku yang masih waspada dan menatapnya dengan tatapan tidak suka. Ia tetap menyodorkan gulali itu sekali lagi dan menatapku dengan senyuman semanis mungkin.
"Aku nggak mau culik kamu kok. Aku hanya anak yang numpang lewat saja disini. Ibu sedang mengajakku pergi dan aku mampir kesini karena ada yang bilang kalau gulali disini enak sekali," Jawab anak itu tenang, kemudian ia duduk di sampingku tanpa menanyakan izinku dan memakan gulali yang ia bawa di tangan satunya.
"Kamu ini lucu sekali ya. Aku baru menemukan anak yang menanyaiku detail seperti tadi," Ujarnya di sela-sela makan gulali sambil menyodorkan padaku gulali yang masih utuh untuk ke sekian kalinya.
"Jadi, kamu mau nggak gulali ini? Kalau kamu anak sini, ku tebak kamu suka sekali gulali ini karena kata penjualnya, gulali ini adalah favorit anak-anak disini. Kamu terlihat sedih. Aku nggak suka melihat orang sedih, jadi ku harap gulali ini bisa menghiburmu,"
Aku menatap gulali itu dengan seksama. Aku tau bahwa gulali Bang Syarif memang seenak itu, namun pikiranku melayang pada kejadian ayah yang mau menceraikan mama di depan gerobak Bang Syarif dan membuatku spontan menepis gulali di tangan anak itu dengan kasar. Terdapat jeda beberapa detik sebelum aku tersadar dari pikiranku dan anak itu dari rasa kagetnya. Ia menatap gulali yang tergeletak di tanah itu dengan tatapan kecewa, kemudian menatapku dengan tatapan marah.
"Aku nggak tahu masalahmu seperti apa, tapi tolong dong kamu hargai aku dan gulali ini. Mungkin kamu tahu kalau gulali ini di dapat dari orang asing, tapi kalau memang nggak mau, tinggal bilang saja apa susahnya sih?" Dumelan anak itu sama sekali tidak menghentikan rasa kagetku yang masih terbawa oleh trauma. Dapat ku rasakan air mataku merembes dari pertahanannya dan membuat anak itu kaget bercampur menyesal telah memarahiku.
Aku segera berlari sambil menangis. Tidak memedulikan teriakan anak itu yang memanggilku dengan nada panik. Yang ku inginkan hanya kembali ke rumah dan menangisi kebodohanku yang masih terikat oleh rasa trauma.
***
Clarissa
Aku menutup diary ku sambil tersenyum miris. Hari demi hari penyakitku kian parah dan sekarang saatnya aku harus pergi ke dokter untuk menjalankan perawatan supaya epilepsiku tidak bertambah parah. Aku mengirimkan pesan kepada Aisyah yang dibalasnya dengan segera. Sudah satu setengah bulan Canis menjauhiku dan masih kecewa terhadapku. Berbagai cara telah ku coba untuk meminta maaf padanya atas kelakuanku saat itu, namun terkadang ia membentakku atau pergi begitu saja tanpa mengizinkanku menjelaskan apapun. Padahal kita sudah hidup berdua seperti ini, namun entah mengapa sumber kekuatan untuk bertahan atas kesedihanku selalu saja direnggut dariku. Dulu daddy dan sekarang Canis.
Aku berdiri dan mengelilingi rumah yang telah kutinggali selama sembilan tahun ini setelah menikahi Mas Roger. Setiap sudut rumah ini seolah menyimpan banyak emosi yang masih terasa dengan jelas. Kini aku tiba di dipan yang menjadi tempat favoritku karena selalu ku habiskan dengan Canis dan menceritakan semua keluh kesah kita. Tanpa sadar, air mataku menetes karena merindukan momen yang selalu ku tunggu setiap harinya. Semua hanya tersisa sebagai kenangan indah yang entah kapan akan terulang.
Suara deru motor membuatku menoleh dan ku lihat Aisyah datang dengan seulas senyum terukir di wajahnya. Ku balas senyum itu kemudian mempersilakannya duduk denganku di dipan sejenak, menikmati teriknya siang itu sebelum akhirnya berangkat ke rumah sakit untuk berobat. Aku menghela nafas singkat, kemudian menatap Aisyah yang masih menatap lurus ke depan.
"Apa aku akan baik-baik saja, Aisyah? Entahlah belakangan ini aku sering ketakutan sendiri jika menjalani pengobatan, tidak bisa melihat Canis, mencari nafkah seperti biasa. Semua ketakutan itu selalu membayangiku dan belakangan sebuah firasat buruk selalu datang. Firasat itu selalu mengatakan bahwa pada akhirnya aku akan pergi, dan Canis akan sendirian. Sejujurnya aku selalu menyesali diriku yang tidak lagi berobat rutin ke dokter mengenai epilepsiku dan masa-masa depresi ini. Semua membuat diriku terjepit dalam keadaan tidak mengenakkan dan membawaku pada firasat mengerikan itu. Aku takut kalau nantinya pengobatan ini tidak berhasil dan aku harus pergi, bagaimana nasib Canis? Dia masih kecil dan membutuhkanku meskipun sampai saat ini hubungan kami belum juga membaik," Aku menunduk setelah mengucapkan kalimat terakhir. Ada rasa sakit yang tak dapat ku jelaskan setiap kali mengingat kemarahan dan kekecewaan Canis setiap kali ia melihatku. Aisyah terdiam mendengar semua curahan hatiku, kemudian ia memelukku dengan erat sambil mengusap punggungku lembut.
"Aku tahu kamu memiliki banyak ketakutanketakutan. Tapi kamu juga harus ingat aku selalu mendukungmu sob. Hidup yang kamu jalani sejak kecil benar-benar keras. Aku tau kamu adalah orang terkuat yang pernah ku temui. Karena itu jangan sekalipun kamu menyerah sob. Sejauh ini kamu selalu berjuang untuk dirimu, bahkan untuk Canis. Kali ini yakinlah bahwa kamu akan baik-baik saja. Percayalah pada dirimu yang sudah berjuang sampai di titik ini sob. Kamu akan baik-baik saja. Tanamkan itu dalam dirimu kuat-kuat," Perkataan Aisyah meruntuhkan pertahananku. Aku tau Aisyah benar. Tapi entah mengapa firasat buruk itu selalu membayangiku, membisikkan suaru kejadian dimana aku akan pergi meninggalkan Canis sendirian. Firasat buruk itu semakin sering datang dan membuatku takut untuk membayangkan masa depan yang akan ku jalani. Aku tidak akan menyerah semudah itu, namun apakah kali ini takdir akan memihak padaku? Selama ini apa yang ku perjuangkan selalu tidak sesuai dengan apa yang ku harapkan.
Aisyah melepas pelukannya kemudian mengusap air mataku. Ia menepuk-nepuk kedua pundakku kemudian memberikan senyuman. "Aku tau sahabatku yang satu ini kuat. Aku tau sahabatku ini juga nggak gampang menyerah. Jadi, ayo kita ke dokter sembari meyakinkan diri sendiri bahwa kamu bisa Clarissa. Kalau bukan kamu yang menjadi motivasi terbesar bagi dirimu, siapa lagi? Kita disini hanya sebagai penyemangat sekunder, untuk membangunkan dirimu supaya tidak terus menerus berbaring lemah di satu tempat," Aku menyunggingkan senyuman mendengar perkataan Aisyah. Dari dulu, ia selalu menjadi penyemangat di saat-saat tersulitku. Aku mengepalkan tangan dan menghilangkan segala firasat buruk yang mengepungku tanpa henti, kemudian berdiri dan menarik tangan Aisyah.
"Kalau gitu, temani aku berobat sekarang ya sobatku. Aku ingin kondisiku membaik supaya nanti bisa traktir kamu bakminya Mbak Sulastri,"
***
Aku menatap dokter dengan tatapan gugup, namun Aisyah menggenggam tanganku dan memberiku kekuatan. Dokter tampak menghela nafas sejenak sebelum akhirnya memulai pembicaraan.
"Mbak Clarissa, dari cerita mbak dan teman mbak ini, saya bisa menyimpulkan bahwa stres dan overtired mbak menjadi trigger factor yang menyebabkan epilepsinya kembali kambuh sesering ini. Jadi sekarang mbak harus rutin minum obat dan periksa. Apalagi mbak bilang ketika kejangnya kumat, ada rasa nyeri di d**a dan susah bernafas. Kondisi mbak ini cukup mengkhawatirkan dan harus mendapat penanganan rutin," Ujaran dokter tersebut membuatku menghela nafas panjang. Tanpa sadar air mataku mengalir dan firasat buruk kembali mengepungku setelah dokter mengatakan cukup mengkhawatirkan.
"Apakah kondisi saya bisa membaik, dok?" Tanyaku gemetar sambil memberanikan diri menatap dokter. Ia tersenyum agak ragu, namun ada rasa percaya diri yang terpancar dari senyuman itu.
"Bisa. Sekarang mari kita berusaha dan percaya, kalau badai yang mbak Clarissa lewati akan segera berakhir dan mbak Clarissa bisa tersenyum cerah nantinya,"
***
Canis
Aku sampai di rumah dengan nafas tergesa-gesa. Air mataku masih mengalir mengingat kejadian tadi. Aku meringkuk di pojok kamarku sambil menangis dalam diam. Aku benci pada diriku yang masih saja rapuh padahal sudah hampir tujuh bulan berlalu dari kejadian itu. Hampir saja peringkat kelasku menurun karena badai ini tak henti-hentinya menerpaku.
Aku menghela nafas panjang sebelum menghentikan tangisku. Segera ku cari air minum keluar kamar untuk menenangkan diri, namun sesuatu mengganjalku. Aku tidak dapat merasakan kehadiran mama. Panik, kucari sosok mama di seluruh penjuru kamar, namun nihil. Mama tidak ada dimanapun, tidak di kamarnya, di kamar mandi, bahkan di ruang kerja tempat mama biasa menulis novel atau puisinya. Aku mulai menangis lagi. Firasat buruk itu menyeruak ke permukaan, mendesakku untuk jatuh ke dalam kesedihan. Apakah mama telah pergi karena kecewa aku enggan berbicara dengannya? Apakah firasat ini benar-benar terjadi dan aku akan menjadi anak yang tumbuh tanpa orang tuanya?
Semua tanyaku lenyap tak bersisa ketika deru motor memasuki pekarangan rumah, disusul dengan mama dan Bu Aisyah yang membuka pintu. Ketika melihatku, dapat ku rasakan perubahan ekspresi mereka yang menunjukkan rasa kaget dan panik di waktu bersamaan. Aku mengusap air mataku, lalu ku pandang secara bergantian obat yang dibawa mama dan ekspresi mereka secara bergantian. Aku tersenyum kecut dan menyesali tangisan yang baru saja ku keluarkan. Mama tidak meninggalkanku, namun ia secara diam-diam sakit dan berobat bersama Bu Aisyah di belakangku. Entah mengapa, emosiku memuncak dan ku tatap mama dengan tatapan terluka. Lagi dan lagi, mama menyakiti hatiku.
"Mama sakit ya? Kenapa Canis nggak dikasih tau? Kenapa harus Bu Aisyah yang tahu kalau mama sakit sampai antar mama ke dokter? Mama tau nggak barusan Canis nangis karena mengira mama ninggalin Canis sama kayak ayah? Tapi ternyata Canis salah, mama malah menyembunyikan hal ini dari Canis. Canis minta maaf kalau Canis ada salah. Canis cuman mau bilang, Canis sedih mama seperti ini lagi ke Canis, seolah Canis adalah anak kecil yang harus mama diamkan tanpa tahu keadaan mama,"
Aku segera masuk ke kamar sambil membanting pintu. Lagi dan lagi, mama membuatku menyadari betapa menyedihkannya diriku. Sempat ku dengar tangisan mama kepada Bu Aisyah, sebelum aku menutup telingaku, tak ingin ada omong kosong yang ku dengar. Hatiku lelah, dan aku hanya ingin beristirahat sejenak tanpa mengingat siapa diriku.
***
Clarissa
Aku menarik nafas perlahan. Lagi-lagi aku merusak hubunganku dengan Canis. Apakah ini salahku? Aku hanya ingin dia merasa bersalah atau khawatir padaku karena kondisiku yang semakin menurun akibat stres dan terlalu memforsir diri. Tadi siang berakhir dengan kekecewaan Canis untuk yang kedua kalinya padaku. Aisyah berusaha menenangkanku, namun firasat buruk itu menghampiri. Segera ku titipkan hadiah ulang tahun kepada Aisyah untuk Canis lusa, dan beberapa diary yang ku tulis semenjak aku kecil. Aisyah sempat menolak dan memintaku untuk memberikannya kepada Canis langsung, namun entah mengapa firasat buruk yang membayangiku begitu kuat, dan akhirnya meyakinkan Aisyah untuk memberikannya pada Canis jika nanti terjadi hal buruk padaku.
Ku tatap obat pemberian dokter taditadi. Ada rasa enggan untuk melanjutkan pengobatan ini, karena rasanya sia-sia saja. Aku kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa memperbaiki hubungan dengan kekuatanku satu-satunya saat ini. Jadi untuk apa aku sembuh? Untuk apa aku melanjutkan ini jika semua terasa sia-sia?
Aku berjalan menuju dipan, mengumpulkan memori indah yang sekiranya masih tersisa. Semua memori indah seakan menari dalam fikiranku, mendekapku dengan erat. Ku tatap bintang di langit malam, menangis atas semua kejadian yang ku alami selama hidupku. Ku biarkan angin malam menerpa tubuhku yang semakin kurus dan lemah, karena semenjak sakit, nafsu makanku berkurang drastis.
Aku menatap bintang cukup lama, berharap ketenangan akan ku dapatkan, karena firasat buruk itu terus saja memenuhi fikiranku. Apakah aku akan mati? Apakah aku akan pergi dengan keadaan tidak mendapatkan maaf dari Canis akan menjadi akhir hidupku? Aku menggeleng perlahan dan bergegas menuju kamar. Baru saja tanganku menyentuh pintu, kepalaku serasa berputar. Tangan dan kakiku yang mati rasa kemudian membuatku panik tak terkira. Seiring dengan gejala epilepsiku yang mulai muncul, kali ini dibarengi dengan nyeri di d**a dan sulit bernafas. Ku coba mencari udara lewat mulutku, namun udara itu seolah ditolak oleh paru-paruku.
Tubuhku ambruk ketika aku hampir kehabisan nafas. Bersamaan dengan itu, ku dengar pintu kamar Canis dibuka dan ku dapati ia menangis dan menatapku dengan sejuta penyesalan. Berkali-kali ku dengar permintaan maafnya jepadaku, "maaf karena Canis sudah seenaknya sendiri", "maaf karena tidak pernah memikirkan perasaan mama*, "maaf karena Canis tidak memikirkan kalau apa yang mama rasa jauh lebih sakit dari rasa sakit Canis"
Aku tersenyum lemah dan menatap Canis dengan tatapan penuh rasa terimakasih. Tepat ketika kesadaranku mulai menghilang, dapat ku dengar tangisan dan teriakan meminta tolongnya untuk menolongku. Entah mengapa, kali ini hatiku telah dipenuhi rasa tentram dan damai, karena pada akhirnya kamu telah berbaikan, meskipun harus seperti ini akhirnya.
Kini kesadaran itu telah lenyap. Berganti dengan Pendar-pendar putih yang mendekapku dengan erat, seolah memberiku rasa tenang yang sudah lama tidak ku rasakan. Dapat ku lihat di ujung pendar putih itu, sosok daddy yang tersenyum padaku, kemudian memelukku dengan penuh kerinduan.