Chapter 9 - After Mom's Gone

2471 Kata
"Aku telah kehilangan sosok yang menerangi duniaku dengan sinar cerahnya. Lantas, masihkah aku mampu untuk bertahan dalam lorong gelap yang mengurungku tanpa ku tahu dimana ujungnya?" *** Canis Aku menangis dalam diam. Entah mengapa firasat ini semakin kuat membisikkanku kata-kata yang tak ingin ku dengar ataupun alami. Aku memang kecewa pada mama. Namun haruskah aku bersikap keterlaluan begitu kepada mama? Ku benamkan kepalaku dalam-dalam, mencoba menghentikan gejolak perdebatan hatiku yang tak kunjung berhenti. Egoku masih saja tinggi, namun firasat ini mendesakku untuk berbaikan dengan mama.  Ku dengar suara pintu kamar mama dibuka. Aku segera berdiri dan menempelkan telingaku ke pintu, mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf atas semua ego yang telah ku turuti. Suara pintu depan rumah yang di buka membuatku menyadari mama sedang menyendiri lagi ke dipan. Lagi-lagi tanpa diriku, entah untuk yang ke sekian kalinya. Aku kembali berlari mengintip melalui jendela kamarku. Mama sedang duduk di sana dengan tubuh kurus dan ringkihnya, memandang bintang malam seperti mencurahkan semua kegelisahan, dan air mata mulai turun dari pelupuk matanya. Entah mengapa hatiku ikut merasakan sakit yang mama rasakan. Aku tau bahwa mama tak ingin aku khawatir akan keadaannya yang tidak baik-baik saja mengingat aku masih kecewa atas kepergian ayah dan perbuatan mama. Aku tau bahwa aku egois dan tidak mau memperbaiki hubungan dengan mama, padahal dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini. Jauh dalam lubuk hatiku, aku menyadari semua rasa kecewaku adalah tameng yang ku gunakan supaya tidak ada orang yang bisa melihat betapa rapuhnya aku.  Melihat mama yang pergi ke dokter untuk berobat bersama Bu Aisyah cukup menamparku dengan telak bahwa keegoisanku membuat mama takut untuk menyakiti hatiku ketika mengetahui kondisinya, sekaligus perasaan kecewa pada diri sendiri yang ku lemparkan pada mama. Seharusnya aku membantu mama untuk menopang kehidupan kami berdua, nyatanya, aku hanya menambah bebannya dan membiarkan mama sendiri dalam rasa sakitnya. Aku tak bisa menjadi anak yang membuat mama bertahan, padahal mama adalah orang yang paling tersakiti atas perceraian ini. Persahabatan dan hubungan cinta yang telah mereka bangun kini hancur berkeping-keping setelah kehadiran satu wanita baru yang membuat ayah lebih merasa nyaman dibandingkan dengan kenyamanan dan cinta yang telah mama berikan padanya.  Sayup ku dengar suara mama yang mengatakan maaf padaku berulang kali di tengah lamunannya dan membuatku mengakhiri perang batin dalam diriku. Aku harus meminta maaf kepada mama, tidak peduli rasa ego ini akan membuatku menyesal di kemudian hari karena telah mengabaikannya. Baru saja aku berdiri ketika mama bergegas masuk, ku lihat tubuh mama yang ambruk menahan rasa sakit di d**a sembari berusaha bernafas melalui mulutnya. Firasat itu kembali datang, namun kali ini ia nyata berbentuk kejadian yang selama ini hanya berupa bisikan. Aku segera berlari keluar dengan panik dan menangis keras. Ku teriakkan permintaan tolong dalam gelapnya malam sembari memangku mama yang semakin lama semakin terkulai lemah. Tangan mama yang ku genggam semakin lama semakin dingin, sehingga aku menunduk sedalamnya. Ku ucapkan kata yang sejak dulu tertahan dalam relung hatiku. Permintaan maaf itu meluncur tanpa jeda kepada wanita yang telah memberikan kebahagiaannya padaku.  "Maafkan Canis ma. Maafkan Canis yang selalu seenaknya sendiri. Maafkan Canis yang nggak memikirkan perasaan mama padahal mama yang paling ingin nangis dan sedih disini. Maafkan Canis yang sampai saat ini terlalu mementingkan ego Canis sendiri sampai nggak mau minta maaf ke mama. Maafkan Canis yang nggak pernah paham kalau apa yang mama rasain jauh lebih sakit dari yang Canis rasakan ma. Maafkan Canis yang nggak bisa jadi anak baik setelah ayah pergi meninggalkan kita. Maaf ma, maafkan Canis yang seperti ini," Ku tatap wajah mama yang mulai menutup matanya perlahan dan membuatku semakin histeris berteriak, namun tak ada seorang pun yang datang. Mama menggenggam tanganku erat, menyunggingkan senyum lega di wajahnya kemudian berbisik pelan dengan suara lembut.  "Mama sayang Canis, makasih, sayang,"  Setelah mengatakan hal itu, mata mama terpejam sambil menyunggingkan seulas senyum di wajahnya. Setetes air mata tampak terjatuh dari pelupuk matanya. Ada jeda sejenak sebelum ku goyang-goyangkan tubuh mama dengan kencang, namun mama tak bergeming. Badan mama yang mulai dingin seolah meledakkan firasat burukku. Ia tampak bersorak sorai dalam diriku, seolah mengatakan bahwa tugasnya memberitahuku selesai. Aku menangis dan ku coba memapah tubuh mama, membawanya ke dalam dan mengambilkan air hangat. Mama nggak mungkin meninggalkanku bukan? Ini hanya candaan yang mama buat supaya mama tau betapa aku menyesali perbuatanku bukan? Firasat itu menunjukkan kepergian mama yang masih hidup bukan? Ini nggak mungkin terjadi. Mama pasti bercanda.  Ku kompres tubuh mama yang dingin itu dengan air hangat. Namun seberapa keras pun aku mengompresnya, mama tidak bereaksi sama sekali. Dadanya tidak menunjukkan gerakan naik turun layaknya orang bernafas. Aku yang gemetar mengompres tangan mama terus memanggil-manggil, berharap mama akan menjawab. Selama apa pun aku memanggil, firasat itu membisikkan kata dimana mama tidak akan menjawab panggilanku yang membuat pertahananku goyah. Tangisanku menjadi tangis penyesalan yang takkan pernah bisa ku hapus sampai kapanpun. Karena ego, aku tak bisa menghabiskan waktu di saat terakhir mama dengan baik dan mengacaukan semuanya. Apakah aku ditakdirkan menjadi anak pembawa s**l yang membuat mama berpisah dari ayah, hingga membuat mama pergi meninggalkanku sendiri?  Aku berdiri dan menuju telfon rumah dengan sempoyongan. Aku menekan nomor telfon Bu Aisyah dengan tangan gemetar. Ketika Bu Aisyah mengangkat telfonnya dan menjawabku dengan suara lemah, aku kembali menangis dan menceritakan apa yang terjadi pada mama yang berakhir dengan tangisan histeris Bu Aisyah. *** Bu Aisyah tiba di rumahku dengan segera. Ia datang dengan mata sembab bersama dengan suaminya yang menyusul dengan tampang murung di belakangnya. Bu Aisyah langsung memelukku dengan erat seolah ia ingin menguatkanku di keadaan yang seperti ini. Aku membalas pelukan Bu Aisyah dengan tangisan yang semakin kencang.  "Maafin Canis siang tadi ibu. Canis sudah marah-marah sama mama dan Bu Aisyah. Canis malah buat mama kayak gini, pergi ninggalin Canis tanpa kasih Canis kesempatan untuk minta maaf ke mama. Apa Tuhan benci sama Canis bu? Karena Canis nakal, karena Canis durhaka sama mama, makanya Tuhan ambil mama dari Canis. Apa Tuhan benar-benar membenci Canis bu? Apakah perkataan mama yang bilang Canis adalah anugerah terindag dari Tuhan itu salah bu, sehingga kehadiran Canis disini hanya bawa s**l kayak yang ibu-ibu tetangga bilang?" Aku terus menangis sambil mengucapkan kata-kata itu. Ada jeda sebelum Bu Aisyah menjawabku. Ia mengencangkan pelukannya sambil menggeleng perlahan.  "Canis nggak boleh bilang kayak gitu. Canis nggak salah. Canis sama Clarissa sama-sama kuat sehingga Tuhan kasih ujian ini kepada kalian berdua. Clarissa pergi bukan karena Tuhan benci Canis ataupun anak pembawa s**l seperti yang dibilang oleh tetangga-tetangga Canis. Bu Aisyah tahu betul bagaimana Clarissa sangat menyayangi Canis, makanya beliau bisa bertahan sejauh ini meskipun Roger sudah meninggalkan kalian, karena Canis ada disini bersama Clarissa. Jangan menyalahkan diri sendiri nak. Bu Aisyah paham kalau tadi Canis kecewa karena kita tidak bilang kalau Clarissa sakit. Tapi Clarissa hanya tidak mau Canis tambah sedih aja," Ujar Bu Aisyah sambil mengusap-usap punggungku dengan lembut. Ia melepaskanku dari pelukannya sesaat setelah aku merasa sedikit tenang, kemudian mengusap air mataku.  "Sekarang Canis jangan nangis. Clarissa nggak suka melihat Canis menangis nak. Biarkan mamamu tenang sama Tuhan disana. Sekarang yang harus Canis tau, Clarissa nggak perlu lagi menangis karena merasakan sakit ditinggal Roger atau karena penyakitnya ya. Bu Aisyah tau Canis anak yang kuat, karena waktu diejek sama teman-temannya saja, Canis yang bilang kalau Canis kuat. Sekarang kita lihat Clarissa bersama-sama. Canis bisa kan kuat untuk Clarissa sebelum Clarissa dikebumikan?" Pertanyaan Bu Aisyah membuatku terdiam sejenak, menghantamku bagai godam yang meremukkan berkeping-keping. Apakah bisa aku tidak menangis melihat mama yang tertidur tanpa bisa bangun lagi? Apakah aku sanggup menahan air mata kembali ketika sekarang ku sadari bahwa mama sudah tiada? Selama ini aku bisa kuat karena mama. Aku tahu bahwa mama ada untukku dan selalu menjadi tempat untukku "pulang", menyediakan segala hal yang membuatku kuat sehingga air mata itu bisa ku tahan. Namun saat ini, mama sudah tiada. Tak ada lagi "rumah" tempatku pulang seperti dulu. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk dapat menahan air mataku jika mama sudah tiada, bukan?  "Canis?" Panggilan Bu Aisyah menyadarkanku. Ia dan pak Anam menatapku dengan tatapan khawatir. Dapat ku rasakan air mataku mengalir deras saat ini. Aku menarik nafas perlahan dan ku tatap Bu Aisyah dengan tatapan sendu.  "Maaf bu, bolehkah kali ini saja Canis menangis? Canis hanya ingin menangis sebagai tanda bahwa Canis sedih mama pergi untuk selamanya. Malam ini saja bu, kasih izin Canis untuk menangis karena Canis menyesal tidak bisa hadir di saat-saat terburuk mama dan malah marah seenaknya. Boleh kan, Bu Aisyah? Karena Canis janji untuk waktu ke depannya, Canis akan menahan air mata Canis seperti biasa. Boleh ya, Bu?" *** Aku berdiri lama depan pusara mama. Tidak ada tangis lagi yang keluar, karena aku sudah lelah menangis semalaman. Sedih ini tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seolah ia terkunci di suatu tempat terdalam relung hatiku dan tidak bisa dikeluarkan begitu saja. Semua pelayat sudah pulang, termasuk Bu Aisyah yang akhirnya memyerah membujukku untuk pulang dan berkata jika sampai nanti siang aku masih terus disini, Bu Aisyah akan membawaku pulang dengan paksa mengingat aku belum makan apa-apa sejak pagi.  Setelah satu jam berdiri, aku bersimpuh di depan makam mama, menatap kosong pusara itu tanpa berbicara apa-apa. Semua emosiku telah tumpah semalaman depan tubuh mama. Penyesalan, permintaan maaf, semua seolah terkunci rapat dalam relung hatiku saat ini. Ingin rasanya ku teriak, namun lagi-lagi kesedihan mendalam ini mendekapku terlalu erat hingga tak bisa ku keluarkan apa yang ingin ku ucapkan.  Ayah tidak datang ke pemakaman mama. Padahal tadi ku lihat Bang Syarif datang meminta maaf atas nama adiknya yang jahat itu. Apakah lelaki selalu begitu? Membuang wanita yang mati-matian dikejarnya sejak lama setelah mendapatkan kenyamanan baru? Apakah aku sama sekali tidak memiliki arti di mata ayah untuk mempertahankan pernikahannya dengan mama?  Rasa bersalah itu tetap menderaku. Ucapan-ucapan tetangga yang menatapku dengan penuh kasihan tadi terngiang-ngiang dalam benakku.  "Kasihan sekali si Canis ya. Padahal dia masih kelas 3 SD, tapi udah ditinggal sama ibunya," "Siapa yang mau mengurus anak itu sekarang? Ayahnya saja tidak datang dan tidak peduli. Apa dia akan hidup menggelandang?" "Padahal pintar dan selalu juara kelas, tapi kasihan keluarganya hancur seperti itu," "Masih muda saja keluarganya sudah nggak benar begitu. Bagaimana nanti kalau anak ini tumbuh menjadi dewasa?" Aku mengepalkan tanganku kesal. Padahal ini pemakaman mama, namun orang-orang itu masih saja membicarakan kejelekan keluargaku. Tidak bisakah satu kali saja mereka menghormati mama yang kini telah tiada? Apakah sebegitu hinanya keluargaku di depan mereka sampai ketika hari yang paling  menyedihkan bagiku, mereka sibuk mencari-cari kesalahan mama.  Ini semua karena ayah. Di depan orang-orang, ayah sibuk bermesra-mesraan dengan wanita tidak tahu diri itu sampai mama dianggap istri yang tidak bisa menjaga suaminya dan tidak pandai memanjakan suami. k*******n yang ayah lakukan kepadaku dan mama juga menyebarkan rumor bahwa kelak aku akan menjadi seorang pembunuh k**i karena dendamku terhadap ayah begitu dalam.  Ku tatap nama di batu nisan itu dalam-dalam.  Clarissa Yumiko Lahir: 26 Mei 1975 Wafat: 13 Mei 2012 "Ma, akhirnya setelah melalui masa sulit itu, Tuhan meminta mama menyerah dan mengembalikan mama kepada-Nya. Bu Aisyah bilang kalau Canis harus kuat karena mama sudah tenang di sisi Tuhan, nggak perlu merasakan sakit ataupun menangis lagi. Tapi Canis dulu pernah bilang kan ke mama kalau nggak ada mama Canis nggak bakal kuat untuk jalani hari tanpa ayah? Kalau sekarang mama sudah pergi, tolong beritahu Canis cara supaya Canis tetap bisa berdiri tegap tanpa harus nangis, karena Canis sendiri sampai sekarang masih bertanya bagaimana cara Canis bertahan kalau nggak ada mama yang menemani Canis lagi. Nggak ada lagi orang yang mau diajak cerita tentang bintang di dipan atau sekedar kasih tau Canis banyak hal lagi. Tolong beritahu Canis caranya untuk bertahan sekarang, ma. Bisa kan mama kasih tau?" Aku menarik nafas sejenak. Lagi-lagi air mataku tidak bisa keluar karena kesedihan ini tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ku genggam bunga Asoka yang ku siapkan dan menaruhnya di atas pusara. Berdoa sebelum akhirnya Bu Aisyah mengajakku pulang dengan agak sedikit memaksa. Ku panjatkan doa dalam kesedihan tak terungkap ini, berharap hidupku akan menjadi seperti bunga Asoka.  "Kebebasan dari kesedihan, Semoga hari itu akan segera datang kepada Canis, Tuhan," *** Bu Aisyah menyerahkanku beberapa buku usang dan sebuah kado untuk ulang tahunku besok seusai aku makan. Ia menjelaskan bahwa ketika aku marah kepada mama kemarin, mama memberikan semua ini kepada Bu Aisyah, seolah ia sudah mengetahui takkan ada waktu lagi baginya untuk bertemu denganku. Ia menemaniku yang gemetar memandang barang-barang pemberian mama. Wangi khas mama tercium kuat di antara barang-barang itu, seolah mama tak pernah pergi dariku dan menemaniku seperti biasa.  Setelah meyakinkan diri, aku membuka kado dari mama. Aku kaget melihat isinya, sebuah cincin bergambarkan rasi bintang tempat Sirius berada, dan sebuah diary yang ku inginkan ketika mama mengajakku ke pusat kota tahun lalu. Ku buka lembaran pertama diary itu dan membaca tulisan mama.  Dear Sirius mama,  Ada banyak yang ingin mama ungkapkan kepadamu Canis, namun disini nama hanya akan menulis 2 hal penting yang harus Canis ketahui. Yang paling pertama dari banyak hal itu adalah permintaan maaf mama. Maaf kalau mama sudah membuat Canis merasa menyedihkan dan melakukan hal itu depan ayah. Mama sudah tidak tahu bagaimana harus meminta maaf pada Canis, karena selama ini Canis selalu menghindari mama. Ketika Canis marah dan menghindari mama, rasanya dunia mama hancur dan ketika itu mama sadar bahwa ketika ayah tidak bersama kita, Canis adalah segala-galanya.  Yang kedua, mama ingin mengucapkan terimakasih karena selama delapan tahun yang indah ini, Canis sudah menemani mama dalam suka dan duka. Memang benar kata orang bahwa anak adalah anugerah terindah bagi setiap orang tua. Canis tidak perlu melihat bagaimana ayah memperlakukan Canis, karena bagi mama, Canis adalah hadiah terindah yang tidak akan pernah mama gantikan dengan apapun di dunia.  Selamat ulang tahun yang ke sembilan anakku sayang. Mama harap dengan membaca ini, kamu akan memaafkan mama atas kesalahan mama dan kita bisa tertawa bersama lagi di dipan seperti biasa. Semoga Canis akan selalu bahagia ya nak, dan semoga akan ada banyak waktu bagi mama menemanimu, melewati hari-hari membahagiakan bersama. Mama berikan kamu cincin yang mama khusus pesankan dari Jakarta. Cincin ini adalah rasi bintang tempat Sirius berada, yakni rasi bintang anjing. Sirius berada tepat di d**a rasi bintang anjing, yang mrnandakan bahwa yang terpenting dari seseorang adalah hatinya. Mungkin di waktu dewasa Canis akan mendengarkan bahwa anjing adalah nama yang sering digunakan sebagai ejekan. Tapi jangan khawatir karena anjing adalah hewan yang paling setia pada tuannya, mungkin karena rasa setia itu, Bintang Sirius ada di rasi bintang anjing ini. Siapa tahu, bukan?  Mama selalu menyayangimu Canis. Jangan pernah lupakan itu Dari Mamamu,  Clarissa Yumiko.  Aku menutup diary itu dengan senyuman haru. Ku elus cincin pemberian mama. Air mata yang terkunci sejak tadi seolah lolos begitu saja.  "Canis nggak apa-apa?" Pertanyaan Bu Aisyah membuatku menoleh dan melihat wajah khawatirnya. Aku menggeleng sambil tersenyum.  "Canis nggak apa Bu Aisyah. Karena kali ini, Canis akan coba menjadi Sirius, meskipun akan banyak hari dimana Canis menangis karena kangen sama mama,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN