Chapter 10 - Broken Family

2216 Kata
"Aku ingin terbang bebas untuk menemukan kebahagiaanku, namun selalu saja ada kerikil dan tanjakan yang menjatuhkanku tanpa memandang sulitnya perjuanganku" *** Aku memandang dapur yang selalu menjadi tempatku menunggu mama memasak. Dapur itu kini kosong dan tak bernyawa, seperti rumah yang sudah sepuluh hari ini ku tinggalkan. Untuk sementara, Bu Aisyah mengajakku untuk tinggal di rumahnya sampai aku siap untuk pulang ke rumah. Sempat ku dengar rencana Bu Aisyah untuk mengadopsiku yang akhirnya di setujui oleh Pak Anam, mengingat beberapa hari lalu pengacara pribadi mama datang kepada mereka dan menjelaskan tabungan mama untukku. Aku cukup terkejut mama meninggalkanku kebutuhan material yang cukup banyak, bahkan cukup hingga aku menyelesaikan kuliah dan bekerja, padahal mama masih sempat untuk membelikanku banyak mainan atau membayar hutang ayah ketika mabuk. Tak ku sangka ternyata mama sehemat itu dalam mencukupi kebutuhan kami. Bu Aisyah bercerita bahwa mama sudah menyimpan tabungan ini semenjak perceraian kedua orang tuanya dulu, supaya nanti aku tidak merasakan hidup kekurangan.  Aku membuka kamar mama, kamar yang dulunya merupakan tempat aku bersenda gurau bersama mama dan ayah. Tempat yang selalu jadi favoritku kini menjadi tempat yang sangat menyakitkan bagiku. Dahulu sebelum ayah berubah terhadap kami, ayah sering menceritakan dongeng Kancil yang cerdas ataupun kura-kura yang rendah hati sembari mempraktikkan ekspresi masing-masing tokoh. Aku dan mama yang menonton hanya bisa tertawa melihat gerakan ayah, sembari sesekali menyombongkan diri bahwa dirinyalah ketua ekskul ketika zaman sekolah. Semua kenangan itu seolah terus menerus berputar dalam kepalaku dan memberiku kenangan yang masih sakit ketika di ingat.  Aku masih sering menangis setiap kali bangun di pagi hari, karena tidak ada lagi suara khas mama yang membangunkanku atau membawakanku air hangat setiap paginya. Libur sekolah membuatku semakin merasa kesepian, namun Bu Aisyah dan Pak Anam selalu mengajakku pergi jalan-jalan setiap weekend untuk menghiburku. Mereka juga mewanti-wanti jika bertemu dengan paman dan bibi dari ayah, karena menurut mama, mereka adalah orang yang sampai saat ini mencoba menemuiku supaya bisa menggunakan tabungan mama sesuka mereka. Aku menyetujui apa yang dikatakan mama, karena ketika menginap di rumah mereka 3 tahun lalu, mereka tega memukulku saat aku lupa mencuci piring setelah makan.  Pikiranku buyar ketika suara ketukan pintu terdengar. Ku lirik jam yang menggantung di kamar mama. Mungkin itu Bu Aisyah, karena sudah waktunya aku kembali ke rumah Bu Aisyah yang baru selesai mengurus berkas ke sekolah. Segera ku hapus air mataku dan memastikan diri bahwa mataku tidak sembab dan wajahku tidak kusut. Aku tak ingin membuat Bu Aisyah khawatir lagi padaku, padahal ia dan Pak Anam sudah berbaik hati menganggapku anak mereka sendiri.  Aku segera melangkah menuju pintu. Begitu sampai di dekat pintu, terdengar suara beberapa orang yang berkerumun di depan pintu, salah satunya adalah suara ayah. Aku tidak jadi membuka pintu dan gemetar ketakutan. Kenapa ayah ada disini? Apa yang ayah mau dariku? Bukankah ayah sudah berjanji untuk tidak mengusikku lagi setelah bercerai dengan mama? Lalu sekarang apa? Siapa orang-orang yang datang bersama dengan ayah itu?  Tanganku yang gemetar hebat perlahan mengunci pintu, namun ayah yang menyadari perbuatanku segera membentakku "Canis, ayah tau kamu di dalam. Buka pintunya sebelum ayah buka dengan paksa. Kamu kira ayah nggak tau kamu di dalam? Ayah masih punya kunci cadangan rumah ini. Cepat buka!" Aku mulai menangis. Traumaku terhadap ayah membuat lidahku kelu seketika. Badanku gemetar seketika mengingat ayah yang pernah membentakku dan memukul mama sampai lebam. Aku tidak ingin membuka pintu, namun jika aku tidak menurut, aku akan dimarah atau bahkan dipukul oleh ayah seperti perlakuannya pada mama dulu. Apakah aku punya pilihan untuk menolak? Aku hanya anak yang baru berusia sembilan tahun yang tidak dapat melawan, sekeras apapun aku mencoba.  "Canis, jawab ayah. Jangan buat ayah marah dan memaksa masuk ke rumah ini," Suara ayah yang tidak sabar membuatku semakin ketakutan, namun ku coba untuk menjawab pertanyaan ayah.  "Ma, mau apa a, ayah kesini? Bu, bukannya a, ayah tidak mau me, menemui Canis lagi?" Tanyaku gemetar. Aku dapat gelak tawa ayah bersama wanita itu yang terdengar mendominasi. Aku mengepalkan tangan kesal. Mengapa aku harus terbata-bata menjawab pertanyaan ayah? Sekarang ayah pasti akan mengira aku anak kecil yang sudah tidak mempunyai perlawanan setelah mama tiada. Aku menggeleng keras dan ku kumpulkan keberanianku sekali lagi, mencoba menjawab ayah dengan lantang.  "CANIS TANYA MAU APA AYAH KESINI? BUKANNYA AYAH BILANG NGGAK MAU BERURUSAN LAGI SAMA CANIS SETELAH AYAH PISAH DARI MAMA? SEKARANG APA MAU AYAH DATANG LAGI KESINI KALAU BUKAN UNTUK MENYAKITI CANIS?" Teriakanku membawa jeda sejenak di balik pintu sebelum akhirnya ayah menjawabku dengan geram.  "Anak ini, sudah ditinggal sama mamanya malah semakin nggak tahu diri. Jangan melawan ayah dan cepat buka. Kalau bukan karena ada Anita dan paman-bibimu, ayah nggak akan segan untuk memukulmu,"  Aku tidak menggubris ucapan ayah setelah ayah mentebutkan "paman-bibi". Apakah itu berarti Bibi Jane, adik ayah dan suaminya Paman Shawn ada disini? Mereka yang selalu di wanti-wanti untuk ku jauhi sekarang ada di depan rumahku, berdiri sambil tertawa puas di depan pintu ini? Mataku terpejam menahan gejolak rasa takut yang menyeruak memenuhi diriku. Kehadiran ayah dan wanita itu sudah cukup meruntuhkan duniaku, namun sekarang, dua orang yang sangat ingin ku hindari selain mereka berdua juga ikut muncul ke hadapanku. Kenapa mereka mencoba datang ke hidupku setelah tidak ada lagi yang melindungiku saat ini? Sebenarnya apa yang ayah mau dari anak yang telah dia buang? Bukankah ayah bilang setelah lepas dari mama, ayah benar-benar merasa bebas dan bahagia bersama wanita itu?  "Canis, cepat buka pintunya. Kalau setelah hitungan ke sepuluh kamu nggak buka, kamu akan tahu hukumannya," Perkataan ayah setelahnya refleks membuatku buru-buru mengusap air mataku. Ku tarik nafas panjang untuk menggumpulkan kekuatan. Pada hitungan ke sembilan, ku buka kunci rumah dan menguatkan diri untuk menantang tatapan mereka terhadapku. Benar saja, orang-orang yang membuatku trauma berkumpul di depan pintu sambil menatapku dengan sombongnya. Aku mengepalkan tangan, mencoba sekuat mungkin untuk tidak gentar berdiri di hadapan mereka yang mencoba mengintimidasiku. Aku menarik nafas pelan kemudian ku persilakan masuk ke rumah meskipun aku enggan rumah kecilku dengan mama dimasuki oleh mereka yang jahat padaku.  Ayah memerintahkanku untuk menyediakan air untuk mereka semua yang ku balas dengan langkah enggan. Aku benci keadaan ini, dimana aku tak berdaya menolak, namun aku tak punya pilihan lain selain mengiyakan. Andai aku sudah dewasa, aku ingin menjadi anak pembangkang yang tidak ingin menuruti keinginan mereka. Tidak ada lagi yang bisa mengaturku hanya karena kelak aku bukan lagi sosok anak kecil yang tidak berdaya.  Aku membawa beberapa gelas yang berisi air kembali ke ruang tamu. Tampak orang-orang itu tertawa dengan bebas seolah rumah ini adalah rumah mereka. Kekesalanku memuncak kepada mereka yang seenaknya sendiri di rumah dan menjadikanku seolah anak kecil yang bisa diperlakukan seperti pembantu. Ku percepat langkahku dan ku letakkan keras-keras nampan berisi air minum yang membuat mereka kaget dengan sikapku, kemudian aku menatap ayah tajam.  "Canis sudah bawakan ini untuk kalian semua. Sekarang Canis mau kembali ke tempat Bu Aisyah karena Bu Aisyah pasti sebentar lagi akan kemari," ujarku sedikit membentak yang membuat mereka cukup tersentak, kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih membeku di ruang tamu. Baru saja aku memakai sandal, tanganku dicengkeram kuat oleh ayah yang membuatku mengaduh kesakitan. Aku menatap ayah dengan tatapan marah dan memintanya untuk melepaskanku, namun ia tak menggubris dan mencengkeram tanganku semakin kuat.  "Ayah mau apa sama Canis? Ayah bilang sudah nggak mau ketemu Canis lagi setelah pisah dari mama? Apa yang ayah mau hari ini ke Canis?" Pertanyaanku membuat ayah menatapku tajam. Ia tidak bicara apapun dan menyeretku dengan paksa untuk kembali ke ruang tamu. Aku mencoba memberontak untuk lepas dari genggaman ayah, namun kekuatanku tidak sebanding dengannya.  Kembalinya aku dan ayah ke ruang tamu disambut dengan tatapan kesal Anita serta paman-bibiku. Aku menghela nafas panjang kemudian menatap mereka satu per satu dengan tatapan was-was. "Kenapa kalian kesini? Apa mau ayah, paman, bibi, dan..." Aku menatap Anita dengan tatapan tajam sambil menunjuk wanita itu dengan penuh amarah "...kamu," Ayah kembali menatapku dengan tajam, namun dapat ku rasakan ia menahan diri dan mulai duduk bersimpuh di hadapanku dengan tatapan intimidasi.  "Jangan ikut Aisyah. Tinggallah bersama Uncle Shawn dan Aunt Jane mu. Bagaimanapun Aisyah bukan keluargamu, tidak ada yang menjamin jika suatu saat kamu akan dibuang oleh Aisyah karena dia tak sanggup membiayaimu. Karena ayah masih peduli padamu, maka ayah meminta kamu untuk tinggal dengan paman-bibimu. Hitung-hitung kamu bisa mengakrabkan diri dengan keluargamu yang lain. Mungkin dahulu mereka pernah memukulmu, namun maafkanlah mereka untuk sekarang karena mereka sudah berubah. Bagaimanapun mereka adalah keluargamu juga kan? Mamamu pasti selalu memberitahumu bahwa keluarga itu penting bagi seseorang," Penjelasan panjang ayah membuatku melangkah mundur tak percaya. Keluarga itu penting katanya? Memang benar mama selalu mengatakan bahwa keluarga merupakan bagian dari diri kita. Baik buruknya kita seringkali dilihat dari keluarganya. Namun sejauh perjalananku memahami apa itu arti keluarga bersama mama, tidak pernah sekalipun ia menyebutkan nenek yang membuatnya hancur sebagai sosok keluarga, atau uncle Shawn dan aunt Jane ke dalam definisi itu. Aku memahami bahwa keluarga bukan hanya mereka yang memiliki hubungan darah dengan kita. Orang yang bisa disebut keluarga adalah mereka yang selalu bertahan bersama kita dalam susah maupun senang dan mencintai kita sebagai diri sendiri, bukan sebagai orang lain. Mungkin perkataan ayah memang benar bahwa keluarga adalah faktor penting dalam hidup kita, tepatnya faktor paling penting yang bisa menjungkirbalikkan hidup kita dalam sekejap atas rasa sakit yang diberikan.  "Nggak. Canis nggak setuju sama ayah yang bilang kalau Uncle Shawn dan Aunt Jane adalah keluarga. Selama ini, ayah dan mama adalah satu-satunya keluarga yang Canis punya karena dahulu ayah pun menyayangi Canis sama seperti mama menyayangi Canis. Tapi semenjak ayah lebih pilih wanita itu daripada Canis dan mama, Canis hanya punya mama sebagai keluarga Canis. Sekarang ketika mama nggak ada, satu-satunya orang yang menyayangi Canis bahkan mau mengangkat Canis sebagai anak hanya Bu Aisyah dan Pak Anam. Merekalah keluarga Canis sekarang. Bukan ayah, bukan juga uncle-aunt, apalagi wanita itu," Aku membantah ucapan ayah dengan tegas sembari menantang mereka dengan cara menunjuk mereka satu per satu. Mungkin aku memang hanya anak kecil, namun kali ini aku hanya ingin bebas dari lingkaran "keluarga" yang membelenggu dan menyesakkanku hingga aku tak bisa bernafas dengan bebas.  "Kau, beraninya kamu berkata seperti itu, hah? Kamu fikir kamu siapa? Beraninya menantang orang tua seperti ini?" Aunt Jane tampak emosi sambil berkacak pinggang membentakku. Pandangannya menoleh kepada ayah "Tuh lihat sendiri kan Mas Roger, ini dulu alasan aku nggak mau menerima Clarissa sebagai keluarga kita, karena dia mengajarkan anaknya nggak tau sopan santun kepada keluarganya sendiri. Masih saja menceramahi kita masalah siapa keluarga dan siapa yang bukan," ujarnya dengan penuh emosi. Ku lihat uncle Shawn berdiri dan menenangkan istrinya, "Sudahlah Jane. Yang penting ada harga setimpal dari merawat anak terlantar ini. Jangan terbawa emosi dan anggap saja dia adalah anak kita sendiri," Timpalan Uncle Shawn membuatku kaget. Harga setimpal? Apa maksudnya? Apakah ini berarti mereka mengincar harta mama yang ditinggalkannya untukku? Aku menatap ayah dengan tatapan menuntut sebuah jawaban, namun ayah yang memalingkan wajah dariku dan sikapnya yang berusaha menenangkan Aunt Jane adalah jawaban tak terbantahkan 'Aku telah dijadikan jaminan oleh ayah kepada mereka berdua' Aku memundurkan langkah, mencoba mencerna informasi yang baru saja ku dengar. Cobaan apa lagi yang sedang Ia coba berikan kepadaku? Setelah perlakuan teman-teman yang tidak bersahabat padaku di sekolah, pengkhianatan ayah, kepergian mama, sekarang aku kembali di hadapkan dengan cobaan yang membuatku jatuh setelah sepuluh hari membangun pertahananku kembali.  Aku terduduk dan menangis dalam diam. Apakah sama sekali tidak ada cara bagiku untuk memilih pilihan hidupku sendiri? Semua hal yang ku lakukan seolah selalu berujung pada jalan buntu yang melemparkanku kembali ke titik awal. Padahal aku sudah mulai berusaha bangkit dan merelakan kepergian mama bersama Bu Aisyah dan Pak Anam. Padahal aku mulai terbiasa bertemu dengan ayah dengan Anita di jalan tanpa harus histeris seperti sebelumnya. Kini, semua hal yang terjadi di ruangan kecil ini meruntuhkan semua dinding yang ku bangun dengan susah payah. Aku mengepalkan tangan dan merutuk dalam hati, mengingat bahwa hari ini adalah hari terkelam yang ku alami.  "Hei anak kecil," Aku menoleh dan menatap Anita berdiri depanku dengan tatapan penuh kemenangan. Ia tampak menimbang perkataan yang ingin disampaikannya kepadaku.  "Setidaknya kamu bersyukurlah masih ada keluarga yang memedulikanmu ketika mamamu sudah nggak ada dan ayahmu tidak bisa mengurusmu karena aku nggak suka ada anak kecil yang bukan darah dagingku. Ayahmu sudah mengurus semua hal mengenai pemindahan hak asuh kepada paman-bibimu. Jadi yang harus kamu lakukan sekarang adalah menjadi anak baik dan menuruti mereka tanpa melawan sedikit pun. Paham?" Aku terdiam mendengar penjelasan Anita. Tidak mengiyakan atau membantah. Aku terlalu lelah untuk memproses apa yang telah terjadi padaku sehingga lidahku kelu. Anita kembali berjalan ke sisi ayah dan ikut berbicara kepada Uncle Shawn dan Aunt Jane. Aku tidak tau apa yang mereka katakan sampai Aunt Jane berjalan ke arahku dan mengangkat wajahku untuk menghadap ke arahnya.  "Kamu sekarang sudah sah berpindah hak asuh kepada kami. Jangan karena kamu adalah anak dari Mas Roger, kamu akan berfikir jika kami akan lemah lembut kepadamu. Mulai saat ini, jadilah anak yang baik dan menurut pada kata-kata Uncle dan Auntmu ini. Ayahmu dan Anita akan mengurus barang-barangmu yang masih ada di rumah Aisyah, dan hari ini juga kamu kembali tinggal disini bersama kami. Paham?" Hatiku mencelos mendengarnya. Ku genggam cincin pemberian mama kepadaku untuk mencari kekuatan. Badanku mulai gemetar melihat tatapan Aunt Jane yang penuh dengan amarah dan kebencian. Firasatku mengatakan bahwa aku takkan bisa lolos dari pusaran penderitaan yang telah menderaku selama ini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN