"Ketika kegelapan melingkupi duniaku, seberkas cahaya mulai berpendar sepi dalam ruang gelapku, menghiburku dan memberikan isyarat bahwa aku tak sendiri menghadapi kesepian dalam ruang gelap ini"
***
Aku bersandar di kamarku sambil menangis. Sudah tiga minggu berlalu semenjak hak asuhku diberikan kepada Uncle Shawn dan Aunt Jane. Tiga minggu ini pula merupakan masa-masa terberatku dalam menghadapi kemauan mereka yang semena-mena terhadapku. Mereka selalu mengatakan bahwa setelah mama tidak ada dan ayah akan menikah dua bulan kemudian, aku harus serba bisa dan belajar untuk melayani mereka yang rela merawatku. Ingin rasanya aku melawan dan membantah setiap mereka memperlakukanku seperti pembantu. Aku harus belajar bangun pagi dan mencuci piring serta perlengkapan makan lainnya, menyapu, mengepel, bahkan merapikan barang-barang berantakan yang disebabkan oleh mereka. Di atas semua keinginanku untuk melawan, aku bisa apa? Sekali lagi aku hanyalah anak kecil yang tidak dianggap di rumah ini.
Bagi mereka, aku hanyalah tameng yang mereka gunakan untuk dapat memakai uang peninggalan mama. Uang itu tidak secara langsung jatuh ke tangan mereka, melainkan tetap diberikan melalui pengacara yang mama sewa sampai aku dewasa. Aku pernah mendengar diam-diam bahwa mereka menggunakanku sebagai tameng untuk meminta uang lebih dari yang di jatahkan per bulannya untuk kesenangan mereka pribadi. Awalnya pengacara mama tidak menyetujui permintaan mereka, namun karena alasan yang mereka memberikan selalu masuk akal, dengan berat hati ia memberikan uang lebih kepada uncle dan aunt dari jatah yang seharusnya.
Aku mengepalkan tangan erat, menyesali keadaanku yang berada di tengah-tengah keluarga serakah namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku hanya bisa terdiam melihat keserakahan mereka menggerogoti peninggalan mama terhadapku. Aku mengetahui bahwa ayah juga ikut memanfaatkan keadaan ini demi menambah biaya pernikahannya karena setiap minggu ia datang ke rumah untuk meminta uang kepada uncle dan aunt.
Aku mengusap air mataku perlahan. Ku lihat cincin pemberian mama yang ku pakai sebagai penguatku setiap hari. Setiap kali melihat cincin ini, entah mengapa rasanya mama selalu ada disini dan tak pernah pergi meninggalkanku seorang diri, meskipun ruang hampa yang mama tinggalkan cukup meninggalkan sakit yang tak pernah bisa ku jelaskan. Aku menghela nafas kemudian pergi mencuci muka dan menggosok gigi sebelum tidur. Uncle dan aunt sudah terlelap sehingga aku dapat bernafas lega dan tenang untuk bergerak. Aku diam-diam pergi ke dapur dan membuat s**u hangat seperti kebiasaanku dengan mama dulu, berharap supaya kekuatan yang diberikan s**u ini dapat membuatku kuat menjalani hari esok yang akan terus membuatku lelah.
Ku cuci bersih gelas wadah s**u yang ku minum kemudian beranjak tidur. Semoga saja besok aku dapat terbangun tepat waktu sebelum pagi hariku dihiasi dengan teriakan aunt yang memekakkan telinga.
***
Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja. Semenjak uncle dan aunt berada di rumah, aku merasa waktu tidurku tidak tercukupi. Ketika ingin ku rebahkan diri ke tempat tidur, selalu saja panggilan mereka menggema di telingaku. Jika aku tidak menuruti kemauan mereka sedikit saja, hukuman seperti pukulan, pengurangan jatah makan atau uang saku akan diberlakukan tanpa segan. Setidaknya di sekolah aku mendapat sedikit istirahat meskipun Via dan teman-temannya selalu mengganggu dan tidak membiarkanku tenang. Beberapa kakak kelas juga mulai menggangguku seperti Via, namun selalu saja aku di lindungi oleh Bu Aisyah yang sigap membantuku.
Setiap kali di sekolah, Bu Aisyah selalu menanyai kabarku dan membawakanku makanan karena setelah tiga minggu aku meninggalkan rumahnya, tubuhku terlihat semakin kurus. Masih ku ingat tangisan Bu Aisyah ketika ayah memaksanya untuk memberikannya barang-barangku yang masih ada di rumah Bu Aisyah. Pak Anam sampai beradu argumen bersama ayah hingga akhirnya ia menyerah dan mengajak Bu Aisyah kembali ke dalam rumah karena ia lelah berbicara dengan ayah yang tidak ingin di salahkan. Baru saja aku mau memejamkan mata sejenak, ku dengar pintu kelas di ketuk dan ku lihat Pak Arya sang penjaga kebun sekolah mencariku. Aku mengernyit heran, namun ku hampiri ia yang berdiri di depan kelasku sambil memegang dua bungkus cokelat kesukaanku.
"Maaf Pak Arya. Ada apa mencari Canis?" tanyaku heran sambil melirik cokelat kesukaanku berkali-kali. Sejujurnya saat ini perutku lapar dan cokelat yang dibawa Pak Arya sangat menggugah selera makanku. Pak Arya tertawa kecil melihat tingkahku yang tertangkap basah melirik cokelat yang ada di tangannya dan membuatku tersipu malu.
"Nduk, nggak perlu sampai malu begitu ke bapak. Ini nek cokelat ya memang untuk kamu," ujar Pak Arya sambil memberiku dua bungkus cokelat yang sedari tadi dipegangnya. Aku membelalak kaget dan menatap Pak Arya untuk memastikan apakah benar cokelat ini memang untukku.
"Ini hadiah dari bapak ya? Dulu waktu mama Canis masih ada, mama selalu bilang kalau menerima pemberian dari orang itu harus Hati-hati dan bertanya dari siapa. Maaf kalau Canis menyinggung perasaan bapak ya dengan pertanyaan Canis," Aku menjelaskan dengan sesopan mungkin supaya tidak membuat Pak Arya tersinggung, namun seulas senyum terukir di bibirnya sembari tetap memberikan cokelat itu yang akhirnya ku terima dengan perasaan ragu. Aku baru menyadari sebuah kertas terselip di antara bungkusan cokelat itu.
"Itu cokelat bukan dari bapak, nduk. Bapak hanya menyampaikan saja hadiah itu dari seseorang. Katanya nek ndak tega melihatmu sedih dan dibicarakan oleh orang-orang bahkan diejek oleh teman-temanmu," Aku menatap Pak Arya dengan tatapan bingung. Seseorang? Aku tau hidupku memang sangat menyedihkan, namun tak ada yang memedulikan aku selain Bu Aisyah di sekolah ini. Lalu siapakah pengirim cokelat misterius ini?
"Kalau Canis boleh tahu, siapa yang memberikan ini ya pak kepada Canis?" pertanyaanku dibalas senyum penuh arti Pak Arya yang kemudian menggeleng pelan.
"Maaf ya, nduk. Bapak tidak bisa memberitahu siapa, karena yang bersangkutan sementara tidak ingin diketahui siapa identitasnya. Tapi kalau kamu ingin membalas kertas yang dia kirimkan kepadamu, nanti bilang saja ke bapak supaya bisa bapak sampaikan kepadanya," Aku mengangguk pelan sambil menatap cokelat di tanganku dengan wajah berbinar. Aku mengucapkan terimakasih kepada Pak Arya yang telah mengantarkan cokelat ini padaku dan berpesan padanya untuk menungguku yang akan membalas surat dari sang pengirim misterius.
Aku segera kembali ke kelas dan membuka sebungkus cokelat. Rasa kantukku hilang entah kemana begitu ku tahu ada orang yang masih memedulikanku selain Bu Aisyah meskipun tak ku tahu siapa orangnya. Selesai memakan sebungkus cokelat dan ku sisihkan sebatang lagi untuk cemilanku di rumah, ku buka kertas kecil itu dan k*****a tulisan yang ada di dalamnya.
Teruntuk Canis,
Halo sang gadis tangguh. Aku tau hari-harimu berat. Aku juga tidak tega melihatmu harus bersedih dan menyembunyikan kesedihanmu apalagi setelah mamamu tiada. Mungkin aku tidak bisa menghibur Canis disini, namun aku hanya ingin Canis tau bahwa aku akan selalu mendukungmu supaya kamu terus setangguh itu menghadapi kesedihanmu. Jangan sedih dan tetap tersenyum ya. Kamu cantik kalau tersenyum cerah tanpa ada beban.
Salam hangat,
~R.K~
Aku menatap isi surat kecil itu dengan seulas senyum. Meskipun isinya singkat, namun kata-katanya sudah cukup menghiburku yang belakangan ini cukup pesimis. Aku menggenggam surat itu dengan kuat. Kali ini aku menemukan sebuah penyemangat tambahan selain cincin dan diary pemberian mama, yakni ia yang diam-diam memahami apa yang ku rasa. Segera ku keluarkan pensil dan merobek kertas dari bukuku untuk membalas suratnya yang manis itu.
Salam untuk kak R.K,
Terimakasih atas surat kak R.K dan juga cokelatnya. Canis tidak menyangka bahwa masih ada yang memperhatikan Canis selain Bu Aisyah dan Pak Anam saat ini. Dengan surat dan hadiah yang kak R.K berikan, sekarang Canis merasa lebih yakin kalau Canis nggak sendirian. Canis masih sering menangis diam-diam karena susah sekali rasanya percaya kalau mama sudah tidak ada. Tapi Canis akan berusaha untuk lebih sering tersenyum kok seperti kata kakak. Oh iya, bisakah Canis suatu hari bertemu kak R.K? Canis ingin berterimakasih langsung kepada kakak. Hari itu akan menjadi hari yang Canis tunggu dengan sepenuh hati.
Salam hangat juga,
Alpha Canis Majoris
Aku melipat surat kecilku dengan perasaan senang, kemudian ku cari sosok Pak Arya di kebun sekolah. Pak Arya tertawa kecil melihatku yang bersemangat memberikan surat kepadanya. Sambil memasukkan surat kecilku ke sakunya, aku menatap Pak Arya dengan tatapan berharap kemudian berkata, "Pak Arya, tolong sampaikan kepada Kak R.K. Canis sangat ingin bertemu. Kalau kak R.K sudah siap, akan Canis tunggu di taman setiap hari jam dua siang ya pak," Aku segera meninggalkan Pak Arya yang tersenyum sambil menggodaku dengan tersipu. Hari ini aku senang, dan ku harap kesenanganku akan terus bertahan untuk menghadapi hari-hariku yang berat.
***
PRANG!
Piring yang di lempar Uncle Shawn hingga hancur berkeping-keping membuatku gemetar ketakutan dan memundurkan langkah. Tatapan amarahnya lurus menatapku seolah siap menerkam kapan saja. Aku tau aku salah karena lupa mencuci piring setelah makan malam karena tiba-tiba aku merasa tidak enak badan, namun haruskah aku menerima perlakuan seperti ini? Haruskan aku dimarah hanya karena kesalahan kecil yang ku buat? Tak bisakah mereka memaklumiku yang sedang kurang sehat untuk beristirahat sejenak?
Uncle Shawn berjalan mendekatiku dengan langkah perlahan yang membuatku semakin terpojok. Aku meringkukkan badan gemetar membayangkan k*******n apa lagi yang akan ku dapatkan saat ini. Rasa takut kembali membayangiku setelah hari-hari sebelumnya Aunt Jane memukulku dengan keras ketika hasil sapuanku kurang bersih dan tidak diberikan makan seharian ketika aku lupa mengepel.
Apa yang ku takutkan terjadi. Baru saja Uncle Shawn berdiri tepat di depanku, ia segera menarik tubuhku dengan paksa dan menyeretku ke ruang kerja mama yang kini di jadikan gudang karena ruangannya relatif sempit. Aku mencoba berdiri karena kakiku yang terkilir akibat dorongan uncle yang cukup keras padaku, namun belum sempat aku berhasil berdiri, ia segera menutup pintu sedikit keras kemudian menguncinya. Aku mencoba berlari sambil menangis dengan langkahku yang sedikit pincang dan menggedor-gedor pintu, berharap ada sedikit saja rasa belas kasihan dari mereka yang akan memberiku keringanan kali ini, namun yang ku dapatkan hanyalah teriakan sinis Aunt Jane.
"Makanya jadi anak jangan lembek. Kalau dihukum seperti ini kan siapa yang menyesal? Sekarang aku pula yang kerepotan membersihkan piring yang tidak kamu cuci dan pecahan piring yang di lempar uncle mu," Aku mengepalkan tangan penuh kebencian dan rutukan. Ingin rasanya aku mengamuk dan berteriak kata-kata tidak pantas kepada Aunt Jane. Belum selesai rutukan dalam hatiku terlontar untuk Aunt Jane, Uncle Shawn menimpali dengan ucapan yang membuat pertahananku runtuh seketika.
"Ini semua ulahmu, anak nggak tahu diri. Karena kamu nggak melaksanakan tugasmu dengan baik, aku harus mendengar omelan Jane yang susah dihentikan itu. Sekarang, renungkan apa kesalahanmu di gudang ini dan jika sampai sore kamu belum menyadarinya, hukuman yang lebih berat akan menunggumu,"
Aku menggeram dalam hati. Tak ingin rasanya aku mengakui apa yang diinginkan oleh mereka karena itu bukan kesalahanku, namun jika aku tidak menuruti apa yang mereka mau, maka aku akan terkurung di gudang layaknya seorang pecundang. Detik itu juga, aku melontarkan sebuah harapan supaya mereka akan mati dengan penuh penyesalan karena telah memperlakukanku seperti ini.
***
Aku berjalan ke arah gazebo sambil memegang perutku yang lapar. Pagi ini aku tidak diberikan sarapan sama sekali hanya karena uncle dan aunt masih kesal atas kesalahanku dua hari yang lalu. Meskipun kemarin sore aku berhasil keluar setelah berdebat dengan egoku untuk mengakui kesalahan yang seharusnya tidak dilimpahkan padaku, tetap saja mereka memberiku sedikit makan sehingga pagi tadi aku kelaparan.
Minggu ini Bu Aisyah tidak masuk sekolah karena harus menjenguk Kak Aira yang sakit di pondok sehingga tidak ada makanan yang bisa ku makan. Aku terlalu malas untuk pergi ke kantin demi menghindari gosip mengenaiku ataupun tatapan miris dan sinis dari orang-orang yang ku temui.
Baru saja aku memutuskan untuk keluar sekolah dan membeli makanan, ku lihat Pak Arya datang membawa sebuah plastik berisi kotak bekal makanan dan surat yang terselip di luarnya. Seulas senyum lega terukir di wajahku. Meskipun sampai saat ini sosok 'R.K' masih misterius bagiku, namun hanya ialah yang memahami dan mengetahui apa yang ku butuhkan. Semenjak pertama aku menerima surat dari 'R.K' yang dibarengi dengan cokelat kesukaanku, ia memberiku berbagai hal yang berkaitan dengan bintang seperti jepit dan gelang di surat berikutnya. Aku terus mendatangi taman seperti janjiku untuk menunggunya jika tidak terkurung di rumah seperti kemarin meskipun 'R.K' sudah memintaku untuk tidak menunggu sebelum ia memberi kepastian. Ia tidak ingin aku lelah menunggu di taman yang panas sendirian setiap hari sedangkan ia masih belum tahu kapan waktunya tiba untuk menemuiku.
Pak Arya memberikan plastik dan surat itu seperti biasa sambil tersenyum kecil, kemudian pamit undur diri meninggalkanku di gazebo sekolah untuk menikmati makanan pemberian 'R.K'. Ku buka plastik yang membungkus kotak bekal itu dan aku terkejut melihat isinya. Kotak bekal ini adalah kotak bekal berwarna biru-pink favoritku yang sempat hilang entah kemana sehingga aku menangis seharian dan merengek pada mama untuk mencarinya lima tahun lalu ketika hubungan mama dan ayah masih baik-baik saja. Kini kotak bekal itu kembali padaku, utuh tanpa lecet sekalipun, bahkan namaku yang ditulis mama dahulu masih terukir jelas disana.
Air mataku perlahan membasahi pipi, terharu akan perbuatan yang 'R.K' lakukan padaku sekaligus perasaan rinduku yang menyeruak pada mama setelah melihat tulisan tangannya lagi di kotak bekal ini. Ingin rasanya aku berlari dan memeluk mama dengan erat sambil mengungkapkan rindu yang tak tertahankan ini. Aku mengusap air mataku perlahan, kemudian membuka lipatan surat dari 'R.K' dan membacanya.
Teruntuk kamu Alpha Canis Majoris,
Ku kembalikan kotak makanan ini kepada pemiliknya ya. Sebenarnya aku telah menemukan kotak makanan ini tepat ketika kamu meninggalkannya di Kafe yang ada di Kebun Raya Bogor. Waktu itu ketika aku hendak mengejar dan mengembalikannya padamu, kamu menghilang di antara kerumunan sehingga ku bawa terlebih dahulu kotak bekal ini dan berharap suatu hari nanti aku akan dipertemukan dengan gadis kecil yang senyumnya tidak pernah ku lupa. Hari ini aku meminta bunda memasakkan makanan untukmu supaya aku mengembalikannya dengan kesan mendalam bagimu. Ku dengar kamu suka daging iga sapi. Semoga kamu suka dengan masakan bunda ya Canis.
Aku hanya berharap dalam waktu dekat kita bisa bertemu dan kamu juga bisa mengetahui siapa aku,
Salam hangat,
R.K
Aku segera membuka kotak bekal itu dan benar adanya isi bekal itu adalah daging iga sapi. Dengan perasaan hangat, ku makan bekal yang dimasakkan bunda 'R.K' untukku dan rasanya sangat mirip dengan masakan mama dahulu. Siang itu entah mengapa makanan yang ku nikmati dapat menghapus rasa kesalku karena hukuman yang diberikan uncle dan aunt padaku kemarin. 'R.K' tidak salah, karena mengembalikan kotak bekal ini dengan makanan favoritku di dalamnya sangat meninggalkan kesan di hatiku dan membuatnya mempunyai ruang khusus di hatiku.