"Ketika aku terus mencoba berjalan mengarungi kegelapan yang mendekapku semakin erat, aku menemukan dia yang memberiku cahaya dan menunjukkanku ujung dari kegelapan yang telah ku lalui"
***
Sudah sebulan aku mengunjungi taman secara diam-diam di jam yang sama untuk menunggu seseorang. Dalam sebulan ini, aku telah banyak mengenal sosok 'R.K' yang misterius itu. 'R.K' adalah sosok jenaka namun setiap kata yang ia lontarkan kepadaku melalui suratnya menunjukkan betapa dewasa cara berpikir 'R.K' dalam menyikapi permasalahan yang aku alami. Melalui dialah aku mulai belajar memberontak untuk memperjuangkan kesalahan yang tidak ku lakukan meskipun pada akhirnya pemberontakan yang ku lakukan selalu saja berakhir dengan hukuman yang tidak berat.
'R.K' berkata kepadaku bahwa aku adalah sosok perempuan tangguh yang ia kenal selain bundanya. Entah darimana ia mendengar semua cerita tentangku, namun semua hal tentangku seperti makanan kesukaan, hobi, bahkan kegiatan yang ku lakukan pada hari sebelumnya. Setelah dia memberitahuku bahwa ia adalah laki-laki dan mengingat akan hal itu, ada perasaan aneh yang merasukiku untuknya.
Aku menceritakan sosok 'R.K' kepada Bu Aisyah, namun ia terlihat was-was mendengar ceritaku. Berkali-kali Bu Aisyah mengingatkanku untuk tidak mudah menyukai seseorang terutama seorang laki-laki untuk menghindari kejadian sama yang menimpa mama yang menyukai ayah dan malah berakhir dengan perceraian. Pertemuan mama dan ayah dulu diawali dengan permulaan yang manis bahkan perjuangan ayah untuk mendapatkan mama selama 15 tahun bukanlah perjuangan main-main, namun setelah mendapatkan mama dan kehadiranku di dunia, ayah sama sekali tidak menghargai tahun-tahun yang di laluinya bersama mama.
Sejujurnya, ada perasaan khawatir dalam diriku dan mengatakan bahwa 'R.K' akan melakukan hal yang sama kepadaku seperti apa yang ayah lakukan terhadap mama. Di surat sebelum-sebelumnya, ia sempat mengatakan bahwa ia tak bisa melupakan senyumanku yang ia lihat ketika bertemu denganku di Kebun Raya Bogor dan berharap suatu hari nanti akan dapat bertemu denganku. Perasaan semacam itu selalu saja membuatku takut tatkala aku mulai merasa nyaman dengan kehadiran 'R.K' di hidupku. Jauh dalam lubuk hatiku, aku selalu berharap ia berbeda dengan ayah yang datang di kehidupan mama hanya untuk mengakhirinya dengan akhir menyedihkan.
Aku menatap surat terakhir yang dikirimkan 'R.K' terhadapku. Di surat itu ia mengatakan bahwa aku tak perlu menunggunya di taman setiap hari ketika ia belum bisa memberikan sebuah kepastian. Ia tak suka membuatku menunggu di taman dengan keadaan penuh harap namun pada akhirnya harus berakhir dengan kecewa hanya karena ia belum bisa datang menemuiku.
Hari sudah mulai sore ketika pada akhirnya aku harus kembali menahan kekecewaanku karena belum bisa bertemu dengan 'R.K'. Seperti yang Bu Aisyah selalu wantikan kepadaku untuk tidak menunggu dan menyukai seorang laki-laki yang belum jelas keberadaannya, keraguan itu muncul dan menyerangku dengan firasat-firasat yang membuatku takut. Aku takut kebahagiaan ini adalah kebahagiaan semu yang ku rasakan sejenak kemudian menghilang dan menjatuhkanku kembali pada kesedihan yang selama ini akrab denganku. Tak bisa ku pungkiri kehadirannya di hidupku secara perlahan membuatku tidak memedulikan ucapan para tetangga yang Menggosipiku atau anak-anak mereka yang ikut memojokkanku di sekolah, namun tak bisa ku pungkiri bahwa aku takut kebahagiaan ini hanyalah angan yang ku ciptakan untuk lari dari masalah. Kebahagiaan seperti inilah yang paling menakutkan bagiku karena ia dapat membuatku terjatuh lebih dalam dan tak bisa bangkit lagi dari kegelapan yang menaungiku.
Ku genggam erat surat terakhir 'R.K' yang di kirimkannya padaku. Sambil menahan kekecewaan yang kembali muncul kepadaku, aku berjalan pulang ke 'rumah' dan berharap uncle dan aunt tidak memarahiku karena aku pulang lebih telat dari biasanya.
***
Aku menatap Kak Diah di depanku dengan tatapan heran. Baru saja Pak Arya datang memberiku surat dan cokelat kesukaanku dari 'R.K' kemudian pergi seperti biasanya, datanglah Kak Diah dengan muka marah di depanku sambil melihat cokelat yang ku genggam. Kak Diah adalah salah satu anak populer dan orang tuanya merupakan salah satu donatur di sekolah dan sekarang sudah menginjak kelas 6 SD. Tidak ada yang berani mencari masalah dengannya karena pernah ada yang di keluarkan dari sekolah karena mendorong Kak Diah ke kolam ikan di sekolah sampai Kak Diah sakit.
Aku tak tahu apa yang menyebabkan Kak Diah mencariku yang selalu menyendiri di gazebo sekolah ini. Biasanya ia tak pernah tertarik padaku bahkan tampak menghindari kehadiranku di sekelilingnya. Orang yang selalu ia hindari mati-matian ini sekarang malah mencariku dengan tatapan marah padahal aku merasa tak pernah mencari permasalahan dengannya.
"Kamu Canis kan? Anak Bu Clarissa yang sudah meninggal dan dikabarkan ia adalah tukang mengemis cinta dari Pak Roger ketika sudah bercerai?" tanya Kak Diah sambil tersenyum sinis padaku. Ada nada mengejek yang terdengar dalam perkataannya yang sengaja memancing emosiku. Tanganku mengepal seketika mendengar cacian Kak Diah terhadap mama. Ingin rasanya ku jambak rambutnya saat ini juga, namun aku menahan mati-matian supaya emosiku tidak menyeruak keluar begitu saja. Aku sudah tahu bahwa mereka menjelek-jelekkan mendiang mama seperti itu di belakangku dan aku sudah berusaha untuk tidak memedulikan ucapan mereka. Namun mengapa rasanya menyakitkan mendengar apa yang biasanya ku dengar secara tidak langsung ini tepat di depan wajahku?
Mama sudah meninggal. Dulu ia memang pernah mengemis cinta kepada ayah supaya kembali kepadaku dan mama, namun apa yang ia lakukan itu sebenarnya untuk kebaikanku juga yang tampak tertekan menjadi bahan ejekan di sekolah dan karena aku masih membutuhkan sosok ayah di sisiku.
Aku segera berdiri dan menantang Kak Diah tepat di depannya. Ku remas erat-erat cokelat pemberian 'R.K' di tanganku sehingga hancur untuk meredam emosiku. Ku tatap Kak Diah dengan amarah yang siap meledak kapan saja.
"Kakak kenapa ya mengata-ngatai mama Canis seperti itu? Salah Canis ke kakak apa? Bukannya selama ini kita tidak pernah sama sekali bertegur sapa? Canis sering lihat kok kalau kakak sangat ingin menghindari Canis karena gosip-gosip nggak benar yang disebarkan oleh anak-anak di sekolah. Tapi kenapa sekarang kakak datang tiba-tiba dan bicara seperti itu di depan Canis padahal Canis nggak pernah cari masalah sama kakak," ujarku dengan geram. Kak Diah tertawa sinis mendengar ucapanku kemudian dia menunjukkan cokelat pemberian 'R.K' yang ku remas.
"Kamu salah. Dengan menerima cokelat atau barang-barang lainnya dari orang yang kamu sebut 'R.K' ini berarti kamu sudah mencari gara-gara denganku. Aku nggak mau tahu apa yang kamu lakukan dengannya, tapi aku perintahkan kepadamu untuk menjauhi si 'R.K'. Dia adalah orang yang ku suka dan nanti setelah aku besar, aku akan meminta kepada papa untuk bisa berpacaran dan menikah dengannya,"
Hatiku mencelos mendengar nama 'R.K' disebut. Pikiran-pikiran negatif yang selama ini membayangiku kembali menghampiriku tanpa ampun.
'Tuh apa yang selama ini aku fikirkan benar bukan?'
'Si R.K cuman mau main-main sama kamu'
'Sadar diri dong kalau kamu dan Kak Diah berbeda jauh. Mana mungkin si R.K bakal lebih memilih kamu dibandingkan Kak Diah yang punya segalanya itu'
Aku menutup telingaku yang membuat Kak Diah kaget. Ia memundurkan langkahnya ketakutan melihatku yang mulai bersikap aneh kemudian mengatakan sesuatu kepadaku sebelum akhirnya pergi, "Awas kalau kita bertemu lagi kamu masih bertukar surat dengannya. Aku akan membuat perhitungan kepadamu bersama teman-temanku,"
Aku tak memedulikan ancaman Kak Diah atau kepergiannya. Pikiranku terlalu sibuk menenggelamkanku dalam kesedihan lagi. Ternyata 'R.K' sama saja seperti ayah. Tapi kenapa hati kecilku berkata lain? Mengapa masih saja ia mengatakan bahwa 'R.K' berbeda dari ayah?
Aku menggeleng dan tanpa sadar berlari ke arah Pak Arya yang menatapku yang berlinangan air mata dengan kaget.
"Loh nduk, ada apa? Kenapa kamu menangis? Ada yang mengganggumu lagi?" Tanya Pak Arya cemas kemudian mempersilakanku duduk di kursi taman, namun aku menolak. Aku mengembalikan surat 'R.K' yang belum sempat k*****a kepada Pak Arya kemudian berkata, "Pak, tolong bilang kepada pengirim surat ini. Canis nggak mau lagi bertukar surat sama dia. Apapun alasan dia, Canis nggak mau dengar,"
"Tapi, nduk, ada apa?" tanya Pak Arya yang semakin cemas menatapku. Aku menggeleng lemah, tak mau mendengar alasan apapun.
"Pokoknya tolong sampaikan kepadanya kalau mulai hari ini Canis nggak mau menerima apapun dari dia lagi,"
***
Tiga hari sudah berlalu dari kejadian itu. Pak Arya selalu saja berusaha membujukku untuk menerima pemberian dari 'R.K' yang khawatir terhadapku karena tidak mau menerima pemberiannya. Aku selalu menolak tanpa kata "tapi" dan membuat Pak Arya menyerah dan mengembalikan lagi kiriman tersebut kepada si 'R.K'. Pak Arya menceritakan bahwa wajah 'R.K' sangat murung ketika mengetahui bahwa aku tidak lagi mau menerima pemberiannya, namun aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin tersakiti seperti mama karena menggantungkan harapan pada seseorang dan terlalu menyayangi orang tersebut tanpa batas. Kehidupanku sudah cukup menyakitkan di rumah maupun sekolah, kini aku tak ingin lagi kehidupanku diusik oleh siapapun, apalagi jika aku harus dikeluarkan dari sekolah karena berurusan dengan Kak Diah.
Hari ini adalah hari ke empat aku menghindari surat dari 'R.K' dan Kak Diah tampak mengawasiku seperti biasa apabila Pak Arya datang menghampiriku. Baru saja aku akan menenggelamkan kepalaku sejenak sebelum pulang, ku lihat Via menghampiriku seorang diri tanpa Sofia dan Rafina seperti biasanya. Ia tersenyum menghina dan menatapku dengan penuh kemenangan. Aku membalas tatapan Via dengan malas dan mengabaikannya. Ku rapihkan buku dan kotak pensilku, namun kalimat yang ia ucapkan membuatku menghentikan kegiatan yang ku lakukan.
"Via dengar, kamu ada masalah ya sama Kak Diah, Canis? Kasihan sekali sih kamu harus berurusan dengan Kak Diah,"
Aku menggebrakkan kotak pensilku ke meja yang membuat Via kaget, namun ia berusaha tenang di depanku. Ku tatap Via lekat-lekat, menatap kasihan kepadanya yang sudah berkata seperti itu padaku.
"Via tau nggak? Canis sebenarnya kasihan sama Via yang selalu saja berusaha cari gara-gara dengan Canis. Kenapa Via sebegitu inginnya membuat Canis terlihat rendah di mata Via? Apa karena Via merasa Canis masih bisa waras padahal Canis sering di bicarakan dan ditinggal? Apa karena Via merasa Canis lebih hebat karena bisa mempertahankan peringkat kelas makanya Via ingin melihat Canis terjatuh?" Ujarku dengan senyum percaya diri yang membuat Via terkejut dan marah. Ia tidak membalas ucapanku yang ku rasa sudah menohoknya tepat sasaran. Aku membereskan kotak pensil yang tidak jadi ku masukkan ke dalam tas kemudian bersiap-siap untuk pulang.
"Ada lagi yang mau Via sampaikan kepada Canis? Kalau tidak ada minggir. Canis mau pulang," Via tidak bergeming dari tempatnya ataupun menunjukkan ekspresi akan melawan sehingga aku melewatinya tanpa mengatakan apapun lagi. Terakhir yang ku dengar adalah suara tangisan Via sebelum aku melihat Pak Arya kembali menungguku di gerbang.
Aku mendengus pelan. Tak bisakah 'R.K' memahami keadaanku yang sungguh-sungguh tak ingin berurusan lagi dengannya? Tidakkah ia kasihan kepada Pak Arya yang mengantarkan surat kecilnya padaku setiap hari?
Aku berhenti di depan Pak Arya dan dibalas dengan senyuman leganya. Ia menyodorkan surat 'R.K' seperti biasa yang ku balas dengan desahan lelah.
"Pak, apakah bapak sudah bilang kepada kak R.K untuk berhenti mengirimi Canis surat lagi? Kenapa dia masih bersikeras untuk mengirimi surat lagi?" tanyaku lelah. Sejujurnya ada rasa senang dalam diriku melihat usahanya menghubungiku, namun trauma akan hubungan mama-ayah membuatku bergidik ngeri untuk mengenal seorang laki-laki dalam hidupku.
Pak Arya menghela nafas panjang, sambil tetap menyerahkan surat itu kepadaku. "Bapak ndak tahu nduk. Dia memohon kali ini saja kamu mau menerima suratnya. Jika besoknya kamu ndak ingin menerima suratnya lagi, dia ndak apa-apa asalkan surat ini mau kamu terima,"
Aku menatap surat yang ada di tangan Pak Arya dan menimbang-nimbang sesuatu. Ku hela nafas berat sebelum akhirnya menerima surat yang ia kirimkan. Pak Arya menyuruhku untuk berhati-hati di jalan kemudian kembali ke kebun. Aku melihat surat itu sambil berjalan pulang, kemudian membacanya.
Teruntuk kamu Canis,
Maafkan aku jika beberapa waktu ini kamu tidak mau menerima suratku lagi. Kali ini ku harap kamu mau membacanya. Aku bisa bertemu denganmu nanti siang di taman karena aku nggak mau kamu ragu untuk berteman denganku. Ku mohon, kali ini kamu datang ke taman. Akan aku tunggu sampai kamu mau menemuiku disana, nggak peduli meskipun nanti akan hujan. Aku akan menunggumu.
Salam rindu dariku,
R.K
Aku meremas surat dari 'R.K' dengan geram. Mengapa baru sekarang ia yakin untuk bertemu denganku? Mengapa tidak dahulu saja ia menemuiku ketika aku masih menunggunya di taman?
Aku mendengus kesal dan kembali berjalan pulang. Hari itu memang sedang mendung dan bunyi gemuruh terdengar bersahutan. Aku tak akan menemuinya seberapa lama pun ia akan menungguku di taman.
***
Baru saja aku sampai di rumah dan meletakkan sepatu di rak, lemparan sesuatu melayang ke arahku. Aku terkejut melihat Aunt Jane menatapku dengan penuh amarah, disusul oleh Uncle Shawn yang tak kalah marahnya dengan Aunt Jane kemudian menghampiriku.
"Anak nggak tahu diri. Apa yang kamu lakukan di sekolah, hah? PACARAN? SUDAH UNTUNG KAMI MASIH MEMBOLEHKANMU SEKOLAH, TAPI KAMU MALAH ASYIK KIRIM SURAT DENGAN ANAK LAKI-LAKI NGGAK JELAS," Aku terkejut mendengar bentakan Uncle Shawn dan baru menyadari bahwa yang di lempar Aunt Jane adalah kotak tempat aku menyimpan suratku dengan Kent.
Baru saja aku hendak menjelaskan, tangan Uncle Shawn telah terangkat dan hendak memukulku. Dengan sigap, ku lepas tasku dan ku jadikan pelindung dari pukulan Uncle Shawn. Dapat ku rasakan pukulan keras dilayangkan Uncle Shawn di balik tasku. Baru saja aku merasa lega ketika dapat menghindari pukulan Uncle Shawn, ku rasakan tanganku dicubit keras oleh Aunt Jane yang membuatku meringis kesakitan dan mulai menangis. Tasku terjatuh ke lantai dan pukulan Uncle Shawn menyambutku dengan keras.
"Bicara apa kamu anak nggak tahu diri? Kamu bilang kita jahat kepadamu sehingga sering di bawakan makanan oleh anak nggak jelas itu? SUDAH UNTUNG MAU DIRAWAT OLEH KAMI MASIH SAJA NGGAK TAHU TERIMAKASIH,"
Ucapan Aunt Jane membuatku emosi. Aku mencoba sekuat tenaga melepaskan diri dari cubitan Aunt Jane dan menghindari pukulan Uncle Shawn. Tenagaku cukup untuk mendorong Aunt Jane beberapa ke belakang dan sigap ditangkap oleh Uncle Shawn.
Baru saja Aunt Jane akan melontarkan bentakannya, aku mendahului perkataannya dan meluapkan semua emosiku.
"IYA. KALIAN MEMANG JAHAT SAMA CANIS. APA NAMANYA KALAU NGGAK JAHAT KETIKA CANIS LUPA SEDIKIT SAJA LANGSUNG NGGAK DIKASIH MAKAN, DIKURUNG DI RUANG KERJA MAMA ATAU DI CUBIT? TERIMAKASIH KARENA SUDAH DIRAWAT? NGGAK! BAGI CANIS INI BUKAN DIRAWAT MELAINKAN DI SIKSA! CANIS NGGAK SUDI MENGUCAPKAN TERIMAKASIH KARENA CANIS SUDAH DISIKSA SAMPAI SEPERTI INI!"
Aku segera berlari keluar rumah dan menangis. Tak ku pedulikan teriakan Uncle Shawn dan Aunt Jane yang tak terima dengan ucapanku. Tepat saat itu, hujan turun dengan derasnya dan ku tetap menembus derasnya hujan. Aku hanya ingin berlari entah kemana yang membuatku tenang dan melupakan emosi yang ku rasakan.
Entah seberapa jauh aku berlari, aku melihat kakiku melangkah menuju taman. Segera ku cari tempat duduk untuk menangis dan menumpahkan semua amarahku. Siang itu taman sepi dan tak ada orang kecuali diriku sehingga aku merasa lega menangis dengan keras. Ku biarkan air hujan menerpaku dan ikut menangis bersamaku.
Entah berapa lama aku menangis, tiba-tiba ku rasakan air hujan berhenti menerpaku padahal derasnya hujan masih terdengar olehku. Aku mendongak dan dalam pandanganku yang masih kabur, ku lihat seorang anak laki-laki memayungiku sambil ikut duduk di depanku.
Anak laki-laki itu tersenyum di depanku yang masih menangis kemudian ia menyodorkan sapu tangan yang dibawanya kepadaku dan dengan refleks aku menerimanya. Sebelum aku bertanya mengenai dirinya, ia menyodorkan tangannya dan berkata,"Halo gadis tangguh. Akhirnya kita bertemu juga. Aku R.K yang selama ini bertukar surat denganmu. R.K adalah namaku, Rigil Kentaurus. Kamu bisa memanggilku Kent,"