"Dia adalah gadis dengan senyuman paling tulus yang pernah ku lihat dahulu, dan kini senyum itu ingin ku ukir kembali di wajahnya yang kian hari kian mendung itu"
***
Kent
Aku memegang suratku yang dikembalikan oleh Canis beserta cilok favoritnya. Bagai disambar petir di siang hari, perkataan Pak Arya yang mengatakan bahwa ia tidak ingin bertukar surat denganku lagi cukup membuatku terpukul. Tanpa bertanya sebabnya pun aku mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Diah.
Aku sudah tahu bahwa Diah menyukaiku semenjak pertemuan kita di lomba berhitung dua tahun lalu, namun yang aku tidak mengerti adalah darimana tepatnya ia mengetahui jika aku bertukar surat dengan Canis? Padahal aku selalu mengirimkan surat secara sembunyi-sembunyi kepada Canis.
"Pak Arya, apa Canis nggak mau lagi menerima surat dariku?" tanyaku lemah sambil mencoba berharap bahwa yang Canis katakan hanya candaan belaka. Ekspresi Pak Arya yang menunjukkan raut penyesalan membuatku semakin sedih menatap surat dan cilok pemberianku.
"Maafkan bapak Kent. Bapak juga ndak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada nak Canis. Tapi seperti yang nak Kent ketahui, nak Canis sering sekali di ejek di sekolah oleh teman-teman bahkan kakak kelasnya. Di rumahnya pun beberapa hari lalu ia pernah di kurung dan ndak bisa ke taman seperti biasa untuk menunggu nak Kent. Bapak ndak bisa berbuat banyak, karena selain surat dari nak Kent, nak Canis selalu sedih dan menangis atau menyendiri di gazebo sekolah,"
Aku menghela nafas panjang mendengar penuturan Pak Arya. Aku tahu bahwa setelah mamanya meninggal, Canis seringkali menyendiri dan menangis seorang diri di sekolah. Di rumahnya pun, ia diperlakukan layaknya pembantu. Aku mengetahui semua hal itu dari cerita Pak Arya atau ketika aku pergi ke desa tempat tinggal Canis untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja.
Canis adalah gadis tangguh yang pernah ku kenal. Meskipun selalu saja badai menerpa hidupnya tanpa henti, ia selalu berusaha kuat bahkan menangispun selalu ia tahan kecuali ia sendirian. Aku pernah melihat Canis bertemu dengan ayah dan selingkuhannya di taman, namun ia terlihat sangat berusaha untuk menahan tangisnya dan menghindar supaya tidak terlalu menyakiti hatinya.
"Nak Kent, apa kamu tetap ingin mengirim surat kepada nak Canis meskipun ia sudah melarang?"
Pertanyaan Pak Arya membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk dengan tegas kemudian meminta Pak Arya menunggu seperti biasa di depan Panti Asuhan sebelum pulang ke rumahnya. Meskipun Canis mencoba menghindariku karena ancaman Diah kepadanya, aku tak ingin Canis merasa sendirian dan menunjukkan kepadanya bahwa aku masih peduli dengannya. Tak kan ku biarkan ia sendiri menghadapi hari-harinya yang berat itu.
***
Aku menghela nafas kecewa. Sudah tiga hari Canis mengembalikan semua surat dan barang yang kusertakan dengannya. Aku tak tahu apa yang Diah katakan pada Canis sampai ia menghindariku seperti ini. Sakit rasanya melihat Canis kembali murung setelah ia memutuskan untuk berhenti berhubungan denganku. Kemarin aku segera memastikan keadaan Canis setelah pulang sekolah dan meminta izin kepada bunda yang dibalasnya dengan senyuman menggoda. Bunda yang tahu seberapa inginnya aku membahagiakan Canis segera mengizinkanku untuk pergi menjenguknya.
Ternyata benar dugaanku. Canis tidak terlihat di taman sama sekali. Ketika aku memeriksa rumahnya, ku dengar jeritan kesakitan dan tangisan Canis akibat dihukum oleh paman-bibinya untuk ke sekian kalinya. Aku mengepalkan tangan. Amarahku memuncak hingga ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku menerobos ke dalam rumah neraka itu dan membawa Canis pergi dari sana. Bagaimana bisa orang-orang itu berbuat begitu kejam kepada anak yang baru berusia sembilan tahun? Mengapa mereka tega menghukum gadis kecil dengan senyum tanpa dosanya itu?
Aku menunduk dalam-dalam dan kembali ke sepeda yang ku parkir tak jauh dari rumah Canis. Air mataku mengalir membayangkan gadis dengan senyuman manis itu menangis kesakitan akibat dipukul dan dikurung. Ingin rasanya aku memeluknya dan berkata dia akan baik-baik saja karena aku akan selalu ada untuknya meskipun dia tak ingin lagi bertemu denganku.
Ku lirik jam yang mulai menunjukkan pukul dua siang. Aku memutuskan untuk berkunjung ke taman tempat Canis biasa menunggu. Selama ini aku selalu membuatnya menungguku yang belum siap menemuinya karena suatu hal yang membuatku merasa bersalah kepadanya. Aku hanya bisa memperhatikan dia dari jauh duduk di bawah pohon yang cukup rindang sambil membaca ulang suratku dan tertawa kecil. Namun kali ini, aku tidak mau membuatnya menungguku lagi.
Aku duduk di tempat Canis biasa menungguku. Sembari menatap rindangnya pohon, ku bulatkan tekadku untuk menemuinya esok. Ku hela nafasku perlahan. Ingatanku mengalir ketika pertama kali aku bertemu dengan Canis ketika almarhum ayah masih ada dan aku berlibur ke Kebun Raya Bogor bersama bunda dan ayah.
***
Lima tahun lalu...
Aku merengek kepada bunda untuk menyusul ayah ke arah kafe dan berhenti sejenak dari gaya narsisnya. Anak-anak panti lainnya juga sudah tampak lelah mengikuti bunda yang sibuk mengambil pose bagus untuk berfoto.
Sebal karena bunda tidak berhenti, aku akhirnya menyerah dan mengajak anak-anak panti beranjak ke arah kafe untuk beristirahat. Ku minta mereka untuk menunggu dan duduk dengan tenang sementara aku mencari ayah untuk ikut mengantri. Baru saja aku berjalan mencari ayah di kerumunan, seseorang menyenggolku sehingga aku terjatuh cukup keras. Mulutku siap untuk mengomel, namun seseorang yang ku lihat membuatku terpana dan menghilangkan emosiku. Seorang gadis kecil terjatuh di hadapanku. Kulitnya yang putih, mata sipitnya, bibir merah dan mungilnya, serta hidungnya yang agak mancung membuatku benar-benar terpesona tanpa berkedip.
Gadis kecil yang berusia sekitar tiga tahun itu mengaduh kesakitan, namun ia tidak menangis padahal ia terjatuh cukup keras. Ia bahkan segera berdiri dan menatapku dengan perasaan bersalah, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Sebenarnya aku bisa berdiri sendiri, namun entah mengapa tatapan dari mata sipit gadis ini seolah menyihirku sehingga aku menyambut uluran tangannya.
"Kakak nggak apa-apa? Maapkan Canis kalena Canis bulu-bulu cali ayah dan mama jadi nggak lihat kakak di depan Canis," kata gadis itu sambil membungkuk di depanku. Aku segera membantunya untuk kembali tegap kemudian menggelengkan kepalaku menandakan bahwa aku tidak apa-apa. Gadis itu membalas gelengan kepalaku dengan senyuman manis yang kembali membuatku terpana. Senyuman itu adalah senyuman paling manis yang pernah ku lihat dari orang-orang di sekitarku. Gadis itu menyadarkanku dari lamunanku kemudian pamit untuk mencari ayah dan mamanya.
Aku mengantarkan kepergian gadis itu dengan tatapan mataku yang tidak bisa lepas darinya. Ia masih menoleh kesana kemari mencari keberadaan mama dan ayahnya. Baru saja aku berniat membantunya mencari ayah dan mamanya, sebuah tangan mungil menggenggam tanganku erat dan ku lihat Lina mencariku dengan tatapan heran.
"Kakak Kent kenapa masih disini? Tadi ayah kakak mencali kakak loh. Lina lapel kak, Papa Wisnu sudah bawa maem ke meja. Yuk Kak Kent maem juga. Kata Papa Wisnu dan Bunda Tita, kita nggak mulai maem kalau Kak Kent belum datang," Aku melihat ke arah terakhir kali gadis yang bernama Canis itu berdiri, namun ketika tak ku dapatkan ia berdiri di sana, rasa kecewa merasukiku dan aku akhirnya mengikuti Lina kembali ke tempat berkumpulnya ayah, bunda dan anak-anak panti lain.
Aku melahap makananku kurang bersemangat. Mataku masih menelusuri kerumunan orang untuk mencari Canis. Setelah makanan di piringku tersisa sesendok lagi, aku melihat Canis dan orang tuanya mulai berdiri dan bergegas meninggalkan kafe. Refleks, aku berdiri dan mengejar Canis ke arah meja mereka. Dapat ku dengar ayah dan mama kaget dan memanggilku, namun tak ku gubris panggilan mereka. Fokusku sekarang adalah bagaimana aku bisa memanggil Canis dan sekedar bertanya dimana ia tinggal.
Hampir saja aku sampai ke tempat duduk Canis bersama orang tuanya tadi, mereka hilang di tengah kerumunan. Aku frustasi dan mencari-cari Canis di antara kerumunan orang, berharap dapat menemukannya, namun nihil. Ku lihat bunda menyusulku dan sedikit mengomeliku yang tiba-tiba berlari di tengah makan. Aku tidak mendengar omelan panjang bunda dan masih menelan rasa kecewaku, namun tiba-tiba mataku terfokus pada sebuah kotak bekal makanan yang tertinggal di meja Canis. Tanganku segera meraihnya dan dapat ku rasakan secercah harapan untuk menemukan petunjuk mengenai keberadaan Canis.
"Kent dengar tidak dari tadi bunda bicara apa?" omel bunda padaku yang masih membolak-balikan kotak bekal yang ada di tanganku. "Kent dapat dari mana itu? Jangan ambil sesuatu yang aneh-aneh dan ayo kembali ke tempat makan sebelum ayahmu ikut mengomel seperti bunda," lanjut bunda sambil mencoba mengambil kotak bekal yang ada di tanganku, namun aku menghindarinya dan masih membolak-balik kotak bekal itu.
"Kent dengar perkataan bunda tidak?" tanya bunda mulai tak sabar. Aku menatap bunda dengan senyuman lebar terukir di wajahku yang membuat bunda heran.
"Bunda nggak usah ngomel lagi. Kent dengar kok semuanya kalau Kent salah tiba-tiba pergi ketika makan seperti itu. Bunda jangan ambil kotak makan ini ya, kalau bunda ambil awas aja Kent bakal marah sama bunda,"
Aku meninggalkan bunda yang masih berdiri mematung di tempatnya dengan langkah senang. Setelah memeriksa kotak makan tadi, akhirnya aku menemukan nama lengkap gadis kecil yang berhasil mencuri perhatianku itu. Senyuman di wajahku kian melebar selama perjalanan pulang, seolah berterima kasih karena telah di pertemukan dengan gadis kecil yang perkiraanku berdarah Western-Jepang itu.
Aku melihat kotak bekal itu sekali lagi dan membaca nama gadis kecil itu dalam hati.
Alpha Canis Majoris.
***
Aku menatap bintang malam dengan perasaan campur aduk. Telah ku titipkan suratku kepada Canis esok hari kepada Pak Arya. Selain bekerja sebagai tukang kebun di sekolah Canis, ia adalah pengantar barang dari donatur panti sehingga darinya lah aku dapat mengetahui keberadaan Canis. Aku berharap besok Canis mau menemui dan menungguku di taman seperti yang ia lakukan sebelumnya. Setelah lima tahun kemudian aku mengetahui keberadaannya, mengapa ia harus menjalani hari-hari berat seperti ini? Setiap kali aku mengawasinya, ada perasaan bersalah yang merasukiku mengingat aku tak bisa berada di sampingnya dalam menjalani hal-hal seberat ini.
Ku rasakan bahuku di tepuk oleh seseorang dan ku lihat bunda menatapku dengan khawatir. Ia memberiku jaket karena udara malam ini cukup dingin, seperti pertanda akan hujan esok hari.
"Kamu kenapa Kent? Masih memikirkan Canis ya?" tanya bunda seolah bisa menebak jalan pikiranku. Aku mengangguk pelan, kemudian menatap bintang di langit lagi.
"Bunda, Kent mau tanya. Bunda sering bilang bahwa nama Kent adalah nama yang di ambil dari bintang malam paling cerah nomor empat, yakni Rigil Kentaurus. Kalau boleh tau, mengapa bunda memberikan Kent nama bintang tercerah nomor empat ini? Kenapa tidak diberikan nama dari Bintang Canopus yang merupakan bintang paling cerah nomor dua di langit malam, atau Arcturus sebagai bintang paling terang nomor tiga? Kenapa harus nama dari Alpha Centauri?" tanyaku yang dibalas senyuman bunda.
"Kent tahu nggak kalau Centaur adalah manusia setengah kuda? Banyak penulis mitologi Yunani yang menganggap bahwa Centaur dianggap sebagai makhluk liminal, dimana ia berada di antara dua sifat berlawanan. Ketika melahirkanmu, bunda sangat berharap supaya nantinya kamu akan dapat mengendalikan dan mengambil keputusan tegas antara dua pilihan sulit yang mengepungmu di tengah-tengah, meskipun itu berarti harus ada pertarungan sengit dalam dirimu. Tapi bunda selalu yakin kalau kamu akan selalu mengambil keputusan terbaik dalam hidupmu Kent,"
Aku menatap bunda kemudian tersenyum kecil. "Bunda, apakah menemui Canis adalah pilihan Kent yang tepat? Kent masih merasa bersalah pada Canis atas apa yang menimpanya bunda. Kent nggak tau bagaimana menjelaskannya. Kent hanya takut nanti ketika Kent menjelaskan kepada Canis, dia akan rapuh lagi dan menjauhi Kent. Apa yang saat ini harus Kent lakukan, bunda? Kent sungguh-sungguh nggak ingin melihat Canis bersedih ataupun menangis, rasanya Kent ikut sakit melihat Canis seperti itu, apalagi paman dan bibinya selalu kejam sama Canis. Selama ini Kent ragu menemui Canis karena rasa bersalah ini terus saja menghampiri Kent, bunda," Aku menatap bunda dengan tatapan takut. Menemui Canis sejujurnya keputusan yang besar bagiku karena ada perasaan bersalah akan sesuatu kepadanya.
Bunda tampak berpikir sebentar, kemudian ia menggenggam tanganku erat. "Bunda tau Kent masih bersalah atas hal itu. Tapi Kent, itu bukan salah Kent. Kita nggak bisa menghindari kejadian itu karena kita hidup jauh dari lingkungan disana. Sebenarnya bunda pun menyesali atas kejadian yang menimpa Canis. Tapi Kent, hidup harus terus berjalan. Meskipun semua menjadi seperti ini sekarang, yang harus kita lakukan adalah menjalani bagian kita sebaik mungkin dan sebisa mungkin untuk tidak mencampuri hal itu. Pergilah, temui Canis besok. Bunda yakin ini adalah keputusan terbaik Kent. Bunda juga tahu Kent tidak ingin membuat Canis terus salah paham dan menjauhi Kent karena ancaman Diah, bukan? Dekati Canis dan berikan ia kasih sayang yang sudah lama tidak ia dapatkan, terutama dari ayahnya. Kalau sudah begitu, nanti Canis pasti mengerti jika Kent ceritakan apa yang mengganjal pikiran Kent hingga saat ini. Paham kan?"
Aku mengangguk setuju kepada bunda. Ku tatap bintang di langit malam satu kali lagi, terutama Sirius yang masih bersinar terang di atas sana.
Ku mohon, kali ini jangan menghindar dariku, Canis.
***
Aku mengayuh sepedaku dengan sedikit terburu-buru. Hujan yang tiba-tiba turun membuatku mau tidak mau kembali pulang dan mengambil jas hujan serta payung di panti. Sudah lebih dari jam dua dan aku belum juga sampai di taman. Apakah kali ini Canis akan datang dan menemuiku?
Aku memarkir sepeda di tempat parkir kemudian melepas jas hujanku dan beralih memakai payung. Segera ku cari sosok Canis di taman, namun nihil. Aku tersenyum kecut, kemudian menggumam seorang diri.
"Kent bodoh. Mana mau Canis pergi ke taman hujan-hujan begini? Lagipula belum tentu juga dia mau menemuimu, Kent,"
Aku tetap menunggu kehadiran Canis di taman dan berteduh di salah satu gazebo. Setengah jam berlalu, belum juga ku lihat kehadiran Canis di taman itu. Baru saja aku berniat pulang, ku lihat seorang gadis berlari menuju taman dan masih mengenakan seragam sekolah. Alangkah senangnya diriku ketika mengetahui bahwa Canis datang ke taman, namun kesenangan itu segera berganti dengan kesedihan ketika ku sadari ia menangis dan pergi ke taman tanpa membawa payung.
Aku segera menghampirinya yang menangis kencang di bawah salah satu tempat duduk di taman dengan perasaan sakit tak terkira. Ku payungi ia yang masih menelungkupkan wajahnya, kemudian berjongkok untuk mensejajarkan wajahku dengannya. Ketika akhirnya ia melihatku, rasa gugup menghampiriku dan dengan salah tingkah, ku sodorkan tanganku sambil memperkenalkan diri.
"Halo gadis tangguh. Akhirnya kita bertemu juga. Aku R.K yang selama ini bertukar surat denganmu. R.K adalah namaku, Rigil Kentaurus. Kamu bisa memanggilku Kent,"