"Keraguan itu terus mengikutiku untuk mengenalnya, namun setitik cahaya harapan yang terus menerus ia berikan padaku menghilangkan semua keraguan yang ku miliki padanya,"
***
Canis
Aku masih mengerjapkan mataku tak percaya. 'R.K' atau Kent yang semenjak tadi ikut jongkok di depanku masih mengulurkan tangannya kepadaku, seolah ia sabar menungguku menyambut uluran tangannya. Ku perhatikan badannya yang mulai basah terkena percikan air hujan di tanah, namun ia tak memedulikannya.
Kent mempunyai postur tegap, mata yang cukup tajam, kulitnya yang kuning langsat, hidung mancung dan bibirnya cukup mungil. Aku cukup memahami mengapa Kak Diah menyukainya, itu karena kesan pertama yang ku dapatkan darinya adalah seorang anak laki-laki yang tampan. Aku menghela nafas dan mengusap air mataku yang masih mengalir dengan sapu tangan pemberiannya. Ia masih mengulurkan tangannya dan menantiku membalasnya.
Ada jeda beberapa saat yang di hiasi dengan suara hujan yang masih deras sebelum akhirnya aku menyambut uluran tangannya. Ia tersenyum lebar dan membantuku berdiri, kemudian mengajakku berteduh di salah satu gazebo taman. Hening tercipta di antara kami dan menciptakan rasa canggung sebelum akhirnya Kent bersuara terlebih dahulu memecah keheningan.
"Apa Canis kedinginan? Kalau iya biar aku kembali ke sepeda. Kebetulan tadi bunda membawakanku baju ganti karena hujan. Canis bisa ke WC umum di taman ini dan berganti pakaian. Nggak bagus kalau tetap memakai pakaian basah, bisa masuk angin," ujarnya khawatir sambil menatap tubuhku yang basah kuyup. Aku terdiam mendengar perkataan Kent. Baru saja aku bertemu dengannya dan ia langsung menawarkanku untuk memakai bajunya. Wajahku memerah karena malu dan menunduk dalam-dalam.
"Canis sakit? Wajah Canis memerah. Apa Canis panas?" tanyanya lagi yang membuatku semakin merutuk. Kent bodoh. Kenapa malah menanyakan hal itu yang membuatku semakin malu saja? Apa ia tak memahami bahwa sekarang aku malu?
Kent tidak menyentuhku, namun wajahnya semakin mendekat dan memastikan bahwa aku baik-baik saja. Namun semakin dekat wajahnya ke wajahku, aku dapat merasakan wajahku semakin menghangat, mungkin sudah terlihat seperti kepiting rebus sekarang. Sebelum wajahku semakin memerah, aku menutup wajahku kemudian berkata dengan gugup.
"Ka, Kak Kent. Canis nggak apa-apa, kok. Jangan me, mendekat lagi. Canis malu,"
Dapat ku rasakan Kent memundurkan wajahnya dariku. Aku kemudian membuka wajahku yang sudah kembali normal dan ku lihat dia yang menutup setengah wajahnya sambil mengalihkan pandangannya dariku.
"Maaf Canis, aku sudah nggak sopan kepadamu. Padahal baru saja kita bertemu namun aku sudah lancang. Maaf," ujarnya sambil tetap mengalihkan pandangan.
Aku tertawa keras seketika menertawakan kecanggungan yang terjadi di antara kami. Padahal selama ini di surat, kami layaknya teman yang sudah lama kenal dan saling bercerita satu sama lain tanpa kecanggungan sedikitpun. Dapat ku lihat Kent terkejut melihat perubahan sikapku yang mendadak. Ia bingung harus bersikap bagaimana dan hanya terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ya kak, Canis membuat kakak bingung. Habisnya selama ini di surat kita nggak canggung seperti ini dan seperti teman lama. Canis nggak menyangka kita akan bertemu seperti ini, padahal beberapa hari ini Canis menghindari kakak, tapi ternyata kakak benar-benar mendatangi Canis dengan cara nggak terduga seperti ini,"
Aku menghela nafas sebelum melanjutkan pembicaraanku, " Maafkan Canis yang nggak mau membalas surat kakak lagi. Namun karena kakak sudah datang seperti ini dan baik kepada Canis, bagaimana bisa Canis menghindar lagi dari kakak kalau kakak seperti ini ke Canis. Rasanya nggak sopan kalau Canis balas kebaikan kakak selama ini dengan hal yang nggak baik," Aku menyodorkan tangan kepada Kent yang dibalasnya masih dengan tatapan bingung.
"Tadi kan kakak sudah memperkenalkan diri di depan Canis. Nggak adil dong kalau hanya kakak yang memperkenalkan diri dan Canis enggak. Ya, meskipun Canis tau kalau kakak sudah tau nama lengkao Canis yang ada di kotak bekal, tapi enggak apa-apa, karena ini perkenalan resmi. Kenalkan kak Kent. Nama lengkap Canis adalah Alpha Canis Majoris, dulu mama sering memanggil Canis dengan sebutan..."
"...Sirius, kan? Karena nama Canis diambil dari nama bintang paling terang di langit malam, bintang Sirius, yang terletak di rasi bintang Canis Major atau rasi bintang anjing,"
Ucapan Kent yang memotong pembicaraanku membuatku menatapnya dengan takjub. Aku tidak menyangka akan menemukan orang yang menyukai bintang sepertiku.
Kent menyambuy uluran tanganku dan tersenyum lebar. "Kenalkan Canis, namaku Rigil Kentaurus. Orang-orang biasa memanggilku Kent. Namaku juga diambil dari bintang tercerah nomor empat di langit malam, yakni Alpha Centauri dari rasi bintang Centaur. Semoga perkenalan kita akan menerangi alam semesta ini karena akhirnya dua bintang paling terang di langit malam bertemu. Kalau aku boleh meminta ke Canis, tolong panggil aku dengan Kent saja tanpa embel-embel kakak supaya tidak ada kecanggungan di antara kita. Satu lagi, kalau denganku saja, bisakah Canis menggunakan 'aku' daripada menyebutkan nama?" Aku tertawa mendengar perkenalan dan permintaan Kent.
Aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaannya, "Mama dulu bilang kalau Canis harus memanggil kakak ke orang yang lebih tua dari Canis. Terus kedua, susah sepertinya bagi Canis untuk memanggul diri sendiri dengan kata 'aku' karena sudah terbiasa menggunakan nama. Tapi karena Kak Kent yang minta, Canis akan coba. Tapi berikan Canis sedikit waktu, jika nanti Canis benar-benar merasa akrab ke kakak, Canis akan memenuhi permintaan kakak," jawabku yang di balas dengan senyuman kecilnya Dapat ku rasakan bahwa kecanggungan itu telah menghilang di antara kami.
Aku merasakan badanku menggigil kedinginan dan membuatku memutuskan untuk menerima tawaran Kent yang tadi memintaku untuk berganti baju. Meskipun malu, namun aku tak ingin jatuh sakit dan merasakan kekesalan kepada uncle dan aunt karena tidak mau merawatku dan membiarkanku sembuh dengan sendirinya seperti sebelumnya.
Aku menoleh kepada Kent dengan ragu-ragu, kemudian dengan wajah sedikit memanas, ku coba menanyakan tawarannya yang tadi.
"Anu, maaf sebelumnya kak Kent. Bolehkah Canis me, menerima ta, tawaran kakak tadi untuk me, mengganti baju dengan ba, baju kakak?" tanyaku sambil menunduk malu. Aku tidak bisa membayangkan diriku memakai baju Kent. Meskipun ia sudah memintaku untuk tidak sungkan kepadanya dan kami sudah beberapa kali bertukar surat, namun permintaanku tetaplah terhitung sebagai permintaan kepada orang asing karena hari ini adalah pertama kalinya kita bertemu.
Jeda singkat yang tercipta di antara kami membuatku panik dan bertanya-tanya apakah permintaanku keterlaluan, sebelum akhirnya Kent tertawa keras dan membuatku lega.
"Boleh dong. Kan tadi aku yang menawarkan ke Canis. Tunggu sebentar disini ya biar ku ambilkan dulu bajuku," Ku lihat punggungnya yang menjauh dariku dan menerobos hujan dengan payungnya. Aku menghela nafas dan bergumam dalam hati.
'Mama, apakah benar bahwa ia adalah orang yang mama kirimkan untuk menemani Canis?'
***
Aku kembali dari kamar mandi taman dan berdecak kesal melihat seragamku yang basah. Sepertinya besok aku tidak akan diizinkan sekolah dan mendekam di kamar seharian karena berlari dan membentak uncle-aunt. Rasanya aku tidak ingin kembali ke rumah karena kesal mengingat hukuman yang akan ku terima.
Aku melihat Kent yang menungguku di gazebo sambil menahan tawa. Aku merutuk kesal, pasti karena bajunya yang ku pakai terlalu besar sehingga aku terlihat seperti badut. Sesampainya di sana, ku tunjukkan raut cemberutku sambil berkata.
"Kenapa menahan ketawa? Canis lucu ya? Kayak badut kan? Ketawa aja nggak apa-apa, lagipula Canis nggak bakal ngambek kok,"Di luar dugaanku, Kent tidak tertawa kencang melainkan tertawa pelan sambil berkata, "Nggak kok. Nggak terlihat seperti badut. Canis cocok pakai baju apapun. Malah kelihatan cantik," mendengar ujarannya, aku menunduk malu. Dapat ku rasakan wajahku kembali menghangat. Lagi-lagi Kent berkata hal-hal yang tidak perlu. Harusnya ia simpan saja kata-kata itu untuk diri sendiri dan tidak perlu mengatakannya kepadaku. Kalau seperti ini, aku kan malu dan tidak tahu harus membalas apa.
"Kak Kent jangan memuji Canis seperti itu dong. Harusnya disimpan untuk diri sendiri. Canis kan jadi malu,"
Kent tampak tertawa pelan kemudian menggeleng. Ia mengusap kepalaku lembut. Anehnya, aku sama sekali tidak memberontak seperti apa yang ku lakukan terhadap Faza dulu, melainkan ada perasaan aneh yang merasukiku, perasaan hangat yang entah apa.
Aku mundur beberapa langkah dan membuat Kent salah tingkah. Untuk memecah keheningan, aku mencoba mengajaknya berbicara.
"Maaf Kak Kent. Tapi apakah nggak apa-apa kalau Canis dekat-dekat dengan kakak? Canis hanya takut nanti Canis akan dimarah atau dilabrak sama... sama...," Aku menghentikan perkataanku. Hampir saja aku menyebutkan nama Kak Diah dan membuatku akan celaka. Ku lihat Kent mendengus pelan, kemudian berkata.
"Kamu takut sama Diah kan? Diah yang menyuruhmu untuk nggak dekat-dekat denganku, bukan?" tanyanya yang membuatku kaget. Bagaimana Kent bisa mengetahui kalau yang mengancamku adalah Kak Diah? Bagaimana nasibku di sekolah nanti? Apakah aku akan di keluarkan dari sekolah karena Kent sudah mengetahui bahwa Kak Diah lah yang melarangku untuk bertukar surat lagi dengan Kent?
Aku menunduk takut, tidak berani menatap wajah Kent yang tampak menimbang-nimbang sesuatu. Ia kemudian berjalan mendekatiku.
"Canis, coba lihat aku dulu sebentar," pinta Kent. Aku masih menggeleng dan tidak berani melihatnya, kemudian ia meminta lagi dengan suara yang lebih lembut. "Sebentar saja. Boleh kan, Canis? Aku cuma ingin kamu yakin padaku kalau kamu berbicara sambil melihat kesungguhanku," Aku menghela nafas, kemudian menatap wajahnya yang menatapku lembut.
"Aku sama Diah hanya sebatas kenal saja. Dia memang menyukaiku, namun bagiku, tidak ada sedikit pun rasa suka kepadanya. Sekarang fokusku adalah menjaga kamu, gadis yang sejak pertemuan pertamanya denganku membuatku mencari-cari keberadaannya. Aku akan menjelaskan ke Diah apa yang terjadi dan tak akan ku biarkan dia mengeluarkanmu dari sekolah. Aku janji bahwa apa yang aku katakan padanya tidak akan membuatnya mengadu kepada ayahnya. Aku tahu pihak sekolah juga nggak semudah itu akan mengeluarkanmu karena Canis adalah anak yang berprestasi dan tidak pernah membuat masalah. Pokoknya Canis nggak perlu khawatir. Masalah Diah, biarkan aku yang menanganinya. Paham kan? Canis percaya kan padaku?" Aku menatap wajah Kent dalam, kemudian mengangguk pelan. Masih tersisa satu keraguan dalam diriku kepadanya, namun kali ini aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali menggantungkan harapan pada ucapan Kent. Aku hanya tidak ingin putus sekolah hanya karena masalah sepele.
Aku memandang hujan yang perlahan mereda. Sudah saatnya aku pulang, namun entah mengapa perasaan takut kembali melingkupi hatiku.
"Canis kenapa? Masih ada yang mengganjal?" tanya Kent khawatir. Aku menggeleng lemah, kemudian menjawab pertanyaan Kent dengan singkat dan enggan, "Canis takut mau pulang ke rumah, takut sekali," Air mataku mulai mengalir dan dapat ku rasakan badanku gemetar ketakutan. Aku perlahan menggeleng dan maju beberapa langkah, kemudian mengepalkan tangan.
"Nggak, Canis nggak boleh takut. Kali ini Canis harus berani. Kalau Canis takut, nanti uncle dan aunt bakal semena-mena dengan Canis. Pokoknya kali ini Canis harus berani seperti sebelumnya. Tadi Canis saja berani membentak mereka, tapi kenapa sekarang harus takut?"
Kent berjalan maju mengikutiku yang menatap langit tangan yang mulai cerah dan menandakan hari yang sore. Ia kemudian tertawa kecil dan berkata, "Aku tahu bahwa sejak awal aku melihatmu, kamu adalah gadis yang tangguh Canis. Kalau begitu, biarkan aku mengantarkanmu pulang. Tapi sebelumnya, kita pergi membeli makanan dulu ke warung depan taman, supaya ketika Canis nanti di hukum lagi, Canis nggak akan kelaparan lagi," aku menatap Kent sambil tersenyum semanis mungkin. Mungkin memang benar, ia adalah orang yang dikirimkan mama untuk memahami dan menemaniku yang kesepian ini.
***
Kent
Aku mengantarkan Canis pulang setelah ku suruh ia menyembunyikan nasi yang kami beli di depan taman dalam bungkus plastik berisi seragamnya yang basah. Benar saja seperti dugaan kami sebelumnya, paman dan bibi Canis segera memarahinya ketika kami sampai depan rumah. Mereka menatapku sinis dan tanpa mengatakan apa-apa, Canis dipaksanya masuk dengan kasar.
Ku kepalkan tangan kuat-kuat, hampir saja emosiku menyeruak ke permukaan, namun ku tahan mati-matian supaya tidak mengatai paman-bibi Canis perkataan kasar yang akan membuat Canis dihukum lebih berat. Canis sempat tersenyum sekilas sebelum akhirnya ia menghilang di balik pintu rumahnya.
Aku menghela nafas singkat. Tak ada yang bisa ku lakukan disini selain mempercayakan Canis yang akan menghadapi paman-bibinya. Aku mengayuh sepedaku dengan berat hati dan menuju ke suatu tempat. Rumah Diah.
***
Diah menyambutku dengan senyuman lebarnya yang membuatku kesal. Tidak ada sama sekali perasaan bersalah di wajahnya karena meminta Canis menjauhiku.
"Kent kenapa kesini? Kangen ya sama Diah? Ayo duduk dulu di teras sama Diah biar Diah minta Mbok Minah menyiapkan teh untuk Kent."
Baru saja Diah akan meraih tanganku, segera ku tepis tangannya dan ku tatap ia setajam mungkin. Diah tampak menangkap maksud kedatanganku, kemudian mendengus kesal.
"Kenapa? Kent mau minta Diah untuk nggak mengganggu Canis ya? Dia yang memulai duluan dan mendekati Kent. Diah nggak suka. Kent hanya boleh sama Diah nanti kalau sudah dewasa," Ucapan Diah membuatku menatapnya semakin tajam, kemudian ku hela nafas sebelum mulai berbicara.
"Aku dan Canis nggak ada hubungannya dengan kamu sama sekali, Diah. Lagipula akulah yang memulai surat menyurat dengan Canis. Dia nggak ada salah apa-apa, bahkan dia tidak menganggapku lebih dari teman surat menyuratnya. Jangan salahkan Canis, karena dia nggak tahu apa-apa dan juga dia nggak salah apa-apa. Diah paham kan apa yang Kent bilang ini?"
Diah tampak mendengus kesal untuk yang kedua kalinya. Ia menghentak-hentakkan kakinya kesal ke tanah, kemudian menangis. "Kenapa Kent? Kenapa harus Canis yang Kent pilih dan bukan Diah? Padahal Diah yang menyukai Kent, bukan Canis,"
Aku menatap Diah tegas, memberikannya kepastian yang tak dapat ia bantah. Ia tampak menunduk dan menangis dalam diam. Sebelum aku mengayuh sepedaku ke arah jalan pulang, aku menatap Diah sekali lagi dan menegaskannya melalui perkataan.
"Mulai hari ini, tolong Kent minta supaya kamu membiarkan Canis hidup dengan tenang di sekolahnya, Diah. Jadilah dirimu sendiri tanpa harus menjadi Diah yang di takuti oleh orang-orang di sekolah karena pengaruh ayahnya. Kalau Diah mau tahu alasan Kent membela Canis sampai seperti ini, karena dia adalah Canis. Dia tidak pernah mencoba berpura-pura menjadi orang lain ataupun terjebak lama-lama pada masa lalunya. Semoga dengan ini, Kent harap Diah tidak akan lagi mengusik Canis, ataupun memaksa Kent untuk menyukai Diah lagi. Diah paham, kan?"
Aku mengayuh sepedaku perlahan, meninggalkan Diah yang masih menangis dalam diam. Semoga Diah mengerti bahwa dengan ini, aku menegaskan kepadanya jikalau apa yang ku rasakan padanya tidak lebih dari sekedar teman dan dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus terbayang-bayang oleh status ayahnya yang merupakan donatur sekolah.