"Benar adanya bila dia adalah bintang malam yang terang, karena berkatnya lah, gelapnya malamku kini berhiaskan kelap-kelip sepi namun mandiri darinya,"
***
Satu bulan telah berlalu semenjak aku bertemu dengan Kent. Adanya Kent di hidupku seperti mengubah segalanya. Ia datang layaknya bintang malam di langit malam yang ku punya dan menemaniku bercerita akan kerasnya hidup yang ku miliki. Aku sangat bersyukur ia datang di hidupku dan menggantikan sosok ayah yang telah lama hilang dari hidupku.
Kent adalah sosok anak-anak yang dewasa. Ia mengajarkanku banyak hal untuk tidak menyerah pada badai yang melanda meskipun terkadang rasa menyerah itu terus saja datang dan menyeretku untuk jatuh.
Kent selalu menjemputku sepulang dari sekolah. Ia selalu mengajakku ke suatu tempat untuk "belajar dari alam", sebuah sebutan yang selalu dia katakan padaku. Awalnya ia sempat cekcok dengan uncle dan aunt karena semenjak Kent menjemputku, aku selalu pulang telat sehingga aunt yang harus mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan olehku. Entah apa yang dibicarakan Kent kepada uncle dan aunt, pada akhirnya aku di izinkan pergi bersama Kent sebelum akhirnya pulang ke rumah. Masih ku ingat suara lemparan panci terdengar ketika aku dan Kent berangkat untuk melaksanakan program konyol ala Kent itu.
Kent adalah sosok humoris yang pernah ku kenal. Ia selalu mengeluarkan apapun yang ada di fikirannya sekali pun itu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah ku dengar. Selalu saja aku tertawa dan dibuat tertawa oleh tingkahnya yang berada di luar nalarku. Aku jadi semakin memahami mengapa Kak Diah menyukainya. Kent tidak pernah berpura-pura di hadapan orang lain. Ia selalu menjadi diri sendiri di hadapan orang yang ia kenal dan tidak ada sama sekali niat untuk berpura-pura ataupun menyakiti dari belakang. Aku merasa nyaman di dekat Kent karena ia adalah Kent yang ku kenal, bukan Kent yang berusaha untuk menjadi orang lain untuk disukai olehku. Karena aku sudah mengenal Kent dan merasa akrab dengannya, ku putuskan untuk memenuhi permintaan Kent untuk memanggilnya dengan sebutan nama tanpa embel-embel 'Kak' dan mengubah panggilanku menggunakan kata ganti 'aku'.
Siang ini seperti biasa aku menunggu Kent bersama Bu Aisyah sepulang sekolah yang disambut dengan tatapan penasaran anak-anak yang melewatiku. Kent sudah menjadi topik pembicaraan di sekolah sebagai "anak tampan calon pacarnya Canis". Sejujurnya masih ada anak-anak yang membicarakan kejelekanku mengingat tragedi pada keluargaku, namun belakangan ini sedikit berkurang karena kehadiran Kent menggeser gosip itu dan berganti menjadi gosip tentang Kent. Aku masih sering melihat raut wajah kesal Kak Diah yang menatapku karena kedekatanku dan Kent kian hari kian bertambah, namun ia sama sekali tak mengusikku dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.
"Canis, bagaimana perasaan Canis setelah berteman dengan Kent? Apa Canis sendiri, bahagia?" pertanyaan Bu Aisyah membuyarkan lamunanku. Aku menatap Bu Aisyah sekilas, kemudian menatap ke depan sambil tersenyum.
"Canis bahagia kok, bu. Canis merasa, Kent hadir dan benar-benar menggantikan sosok ayah di hidup Canis. Dia sama sekali enggak memedulikan bagaimana latar belakang keluarga Canis dan mau berteman dengan Canis karena Canis adalah Canis yang ia kenal, bukan orang lain. Dia selalu memberikan apa yang Canis butuhkan dan menghibur Canis kalau Canis sedih. Kent nggak pernah memaksa Canis melakukan apa yang membuat Canis nggak suka terhadapnya kok, bu. Dia baik sekali. Canis banyak belajar kuat dari Kent," aku menjawab pertanyaan Bu Aisyah sambil menyunggingkan seulas senyuman lagi di bibirku. Mengingat keanehan yang Kent lakukan saja sudah membuatku tersenyum tidak karuan seperti ini.
Bu Aisyah menatapku dalam, seolah meneliti apakah yang aku katakan benar atau tidak, kemudian ia mengelus bahuku pelan.
"Bu Aisyah percaya kalau Canis tahu dimana letak kebahagiaan Canis sendiri. Satu pesan ibu untukmu nak, bahagialah karena Canis ingin bahagia, jangan sampai Canis berbahagia karena Canis nggak enak atau merasa bersalah kepada orang yang berusaha membahagiakan Canis. Paham kan maksud ibu?"
Refleks ku tatap Bu Aisyah karena perkataannta barusan. Aku teringat akan mama yang dulunya selalu bahagia karena melihatku dan ayah bahagia sampai melupakan kebahagiaannya sendiri. Apakah dulu mama bahagia? Apakah mama pernah merasakan kebahagiaan karena mama ingin bahagia?
Kent sampai di gerbang sekolahku lima belas menit setelah bel pulang sekolah. Aku yang masih tertegun atas perkataan Bu Aisyah segera sadar ketika ku lihat Kent berjalan ke arahku sambil menenteng cilok favoritku. Bu Aisyah tersenyum kecil menatap Kent, kemudian ia menepuk bahuku seolah berkata 'Semoga hari ini akan menyenangkan' kepadaku. Aku menghela nafas perlahan kemudian mencium tangan Bu Aisyah, disusul dengan Kent yang melakukan hal serupa, kemudian kami berangkat ke taman untuk melalukan program konyol Kent seperti biasa.
Aku masih termenung mengingat perkataan Bu Aisyah. Entah mengapa rasanya aku rindu pada mama dan ingin bertanya kepadanya, apakah selama ini mama bahagia? Apakah selama ini mama pernah bahagia karena mama ingin bahagia, dan bukan bahagia yang disebabkan oleh kebahagiaanku dan ayah? Setetes air mata kemudian menetes di pipiku memikirkan mama. Aku menengadahkan kepala ke langit sambil bertanya dalam hati.
'Mama, apakah sekarang mama sudah bahagia di sisi Tuhan? Apakah saat ini mama sudah mendapatkan kebahagiaan mama disana?'
Aku masih saja menangis dalam diam. Tiba-tiba, tangisku tergantikan oleh rasa kaget mendengar suara Kent yang sedikit berteriak ala penyiar radio atau pembawa acara di televisi.
"Hari ini kita akan ke taman untuk program keseharian kita yakni 'belajar dari alam' bersama pembawa acara kalian yang cakep Rigil Kentaurus. Belajar dari alam kali ini ialah membahas tentang daun. Jadi meskipun daun ini akan menua nantinya, tapi daun mempunyai banyak pelajaran yang penting untuk kita ketahui dan... aw Canis. Sakit tau. Aku belum selesai bicara," Aku terkikik geli setelah mencubit Kent. Seperti biasa tingkah Kent selalu saja membuatku tertawa lepas dan melupakan kesedihan yang baru saja melandaku. Aku mengusap air mataku dan tertawa lepas melihat Kent yang masih menggerutu terkena cubitanku.
"Cubitanmu sakit tau Canis. Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting kamu sudah tidak menangis lagi kan?" Aku tertegun mendengar perkataan Kent. Ia menyadari aku yang baru saja menangis dan segera mencari cara untuk menghiburku.
"Kent kenapa tahu kalau aku nangis? Kan nggak bersuara sama sekali dari tadi. Lagipula disini kan berisik, jadi tambah nggak mungkin kan kalau Kent bisa dengar aku menangis. Tapi makasih ya Kent. Karena Kent, aku jadi lupa kalau baru saja sedih," Aku mengeratkan peganganku di pinggangnya seolah mengucapkan terimakasih.
Aku dapat merasakan tawa Kent yang tertahan, kemudian ia berkata, "Aku tau dong kalau kamu nangis Canis. Udara di sekeliling jadi asin tiba-tiba, kan air mata asin banget. Coba deh kalau kamu jangan nangis, kasihan akunya nanti haus hanya karena merasakan aura keasinan air matamu. Tau nggak? Fakta menyebutkan bahwa air laut yang asin akan semakin asin karena orang yang menangis akan menambah kadar keasinan air laut dengan air mata mereka. Awalnya air laut itu tawar, tapi menjadi asin karena banyak orang yang menangis di dunia,"
Aku melepaskan pegangan tanganku di pinggangnya dan memasang wajah cemberut yang dibalas dengan gelak tawa Kent. Ku tarik lagi ucapanku yang mengatakan aku terharu dengannya. Ujung-ujungnya selalu seperti ini. Dia tak pernah menanggapi dengan serius dan mengeluarkan perkataan konyolnya. Ku cubit sekali lagi pinggang Kent yang membuat sepeda Kent oleng dan kami berdua terjatuh dari sepeda. Ada jeda sejenak sebelum akhirnya kami menatap satu sama lain dan menertawakan kekonyolan kami.
Hari bersama Kent tidak akan pernah membosankan, karena ia selalu mempunyai alasan untuk membuatku tersenyum.
***
Aku mengikuti langkah Kent yang masih sibuk menyusuri taman dan dedaunan. Entah kemana ia melangkah, namun aku selalu menantikan apa yang akan ia ajarkan kepadaku hari ini. Hari ini taman agak ramai. Baru saja aku ingin menawarkan diri untuk membelikannya gulali, aku teringat akan perselingkuhan ayah dan mengurungkan niatku. Lagipula siang ini, tak ku lihat Bang Syarif dimana pun.
Kent berhenti tiba-tiba di tempat pertama kali kami bertemu dan menatap pohon rindang di depannya dengan tatapan serius. Aku ikut menatap pohon itu dan bertanya pada Kent.
"Jadi apa yang akan kita pelajari kali ini, Pak Guru Kent?" Tatapan mataku masih menerawang pertemuan pertama kami di bawah pohon ini dan Kent memayungiku yang menangis diterpa air hujan. Tiba-tiba, Kent menarik tanganku dan duduk di gazebo taman, kemudian ia menunjuk ke arah pohon tadi, khususnya bagian dedaunan
"Kamu tau nggak Canis? Bunda selalu mengajarkanku untuk menjadi seperti daun yang mempunyai banyak manfaat. Dia bisa memasak makanan, menjadi pertukaran udara di pohon, dandan meninggalkan jasa yang besar bagi pohon ketika dia sudah layu dan tua. Meskipun banyak orang yang tidak memperhatikan jasa daun, dia selalu pantang menyerah dalam melaksanakan peran pentingnya pada pohon yang ia tempati,"
Aku mengikuti arah pandang Kent yang mengamati daun di pohon besar itu. Entah mengapa aku selalu setuju dengan perkataan Kent. Aku selalu berdecak kesal jika terdapat daun yang mengotori halaman rumah karena tumpukan daun itu seolah tidak habis-habisnya. Sekarang aku hanya menyesali sedikit perbuatanku kepada daun-daun itu.
"Ada beberapa daun yang bisa dijadikan sebagai bahan masakan seperti daun pandan, daun jeruk, dan daun salam. Padahal mereka sekecil itu Canis. Tapi mereka bisa mengubah sebuah masakan menjadi lezat, menghasilkan buah untuk pohon, dan menjadu pertukaran udara. Begitu banyak manfaat daun bagi kehidupan ini. Tanpa daun, pohon yang berbuah tidak akan berfungsi dengan baik, karena sadar dan tidak sadar, kita membutuhkan daun untuk bisa mendapatkan buah dari pohon. Mereka juga yang menyediakan kadar oksigen yang banyak dan ditukar dengan karbon dioksida untuk proses memasak di pohon tersebut,"
Kent mengalihkan pandangannya kepadaku dan menatapku dengan serius. Aku sedikit gugup ditatapnya seperti itu, namun tetap ku tahan pandanganku supaya bisa menatapnya lebih lama.
"Setiap kali bunda bercerita perihal daun, aku selalu ingat kamu Canis. Kamu memang masih kecil. Tapi kamu sudah bisa menanggung semua hal berat itu di pundakmu. Kamu nggak pernah sekalipun mau menyerah dengan keadaan dan terus maju. Maka dari itu, kamu jangan pernah menyerah Canis. Kamu selalu saja menjadi kuat seperti ini sejak pertama kali kita bertemu. Kamu berani melawan mereka yang menginjakmu karena menganggap kamu masih SD kelas tiga. Jadi ku harap kamu tidak menyerah ya Canis. Tetaplah jadi Canis yang kuat seperti ini. Kalau Canis kesulitan, jangan khawatir, karena Kent bakal terus ada untuk Canis,"
Perkataan Kent membuat pipiku memanas. Aku tersipu mendengar ucapannya dan memalingkan wajahku darinya. Tak terasa air mataku menetes, bukan karena aku sedih, melainkan terharu. Sudah lama sekali semenjak aku terakhir mendengar perkataan seperti itu dari mama. Aku sudah kenyang rasanya mendengar perkataan 'Kamu ini beban' ataupun 'Kamu adalah anak menyusahkan'. Baru kali ini aku kembali mendengar bahwa aku adalah anak yang kuat dan tidak apa-apa jika suatu hari nanti aku lelah dan terjatuh.
"Canis, apakah ucapanku menyakitimu?" pertanyaan Kent membuyarkan lamunanku. Ku tatap ia yang mengkhawatirkanku dan tersenyum kecil.
"Nggak Kent. Sama sekali nggak. Makasih karrna Kent sudah bicara seperti itu. Aku merasa kali ini nggak apa jika aku sedikit lelah dan minggir dari kehidupanku ini. Makasih karena udah muncul di hidupku. Sekarang aku tau bahwa aku bisa menghadapi ini karena aku nggak sendirian lagi. Tapi ada Kent yang mau menemaniku,"
Kent tersenyum lega melihatku. Ia tampak berfikir sejenak kemudian berkata, "Canis, minggu depan Bunda akan mengajak anak-anak panti ke Kebun Raya Bogor. Kamu mau kan ikut juga? Masalah paman dan bibimu, biar aku dan bunda yang urus. Mau, kan?"
***
Aku berdiri gugup di depan Bunda Kent yang ku tahu dipanggil Bunda Tita. Di depan tadi, aku bertemu dengan Lina yang juga terkejut melihat kedatanganku, kemudian ia ikut mengantarkanku kepada Bunda Tita bersama Kent. Lina sempat bercerita bahwa yang membuatnya minta maaf kepadaku adalah omelan Bunda Tita dan juga Kent kepadanya.
Bunda Tita menatapku dalam-dalam yang membuatku semakin menunduk gugup. Ada jeda singkat sebelum akhirnya Bunda Tita memelukku erat dalam pelukannya. Pelukan ini, persis seperti pelukan mama dahulu. Erat dan hangat. Aku meneteskan air mata. Apakah setiap pelukan seorang ibu selalu menghangatkan seperti ini? Aku membalas pelukan Bunda Tita dengan ragu, namun kemudian ia mengeratkan tanganku untuk memeluknya.
"Nggak apa-apa Canis. Jangan ragu untuk memeluk bunda. Bunda sudah mendengar semuanya dari Kent. Pasti selama ini berat jadi kamu ya, nak? Nggak apa-apa, sekarang ada Kent, ada bunda juga yang akan menemani Canis. Jadi Canis nggak perlu merasa sendirian lagi ya?" Aku menangis mendengar ucapan Bunda Tita. Semua ini seolah mimpi, aku mendapat keluarga yang menyayangiku meskipun bukan keluarga sedarah. Mereka menganggapku sebagai seorang anak yang lelah dari kerasnya dunia yang ku hadapi, bukan sebagai anak kecil yang dapat disuruh melakukan apapun tanpa protes.
Cukup lama Bunda Tita memelukku, sampai ku dengar suara bus mini berhenti di depan panti. Ia melepaskanku dari pelukannya, kemudian mengusap air mataku. "Sudah. Sekarang Canis akan baik-baik saja. Jangan sedih ya. Waktunya Canis Bersenang-senang lagi setelah sekian lama nggak ke Kebun Raya Bogor. Senyum yang lebar dulu sebelum kita berangkat,"
Aku memamerkan senyum lebarku kepada Bunda Tita yang dibalasnya dengan elusan lembut di kepalaku, kemudian ia pergi ke dapur disusul dengan Kent untuk mengangkat beberapa makanan yang akan kami bawa. Aku duduk di sebelah Kent. Selama perjalanan, ku nikmati hijau pohon dan sawah yang kami lewati. Sudah lama semenjak terakhir kali aku menikmati pemandangan seperti ini. Kent memakaikanku jaket ketika aku merasakan kedinginan karena AC bus.
Tidak sampai sejam, kami sampai di Kebun Raya Bogor. Anak-anak segera berhamburan keluar disusul Bunda Tita, namun aku masih bertahan di tempat dudukku. Ku lihat pintu masuk Kebun Raya Bogor yang mengingatkanku terhadap mama dan ayah.
"Ada apa, Canis?" tanya Kent. Aku menghela nafa sejenak, kemudian menatapnya dalam-dalam.
"Kent, apa aku bisa melalui hari ini? Dulu ini memang tempat favoritku karena ayah selalu membawa kami kemari di hari Minggu atau libur. Tapi kalau ingat tempat ini, aku takut kalau akan menangis karena ingat kenangan yang nggak akan bisa aku ulangi lagi, karena nyatanya keluargaku sudah seperti ini,"
Kent menatapku dengan intens sekilas, kemudian ia tersenyum pelan, "Aku tau kalau ke tempat ini, kamu akan takut karena ingat kenangan itu. Tapi begini saja Canis. Kalau Canis takut mengingat hal itu, kenapa tidak menjadikan kenangan itu sebagai kenangan yang jika Canis toleh lagi ke belakang akan menimbulkan senyum karena sudah melalui perjalanan sejauh ini? Lagipula sekarang ada aku. Ada bunda juga. Jadi kamu nggak sendirian. Kamu bisa, kan?" tanya Kent yang membuatku tersenyum kecil. Entah mengapa apa yang ia ucapkan selalu menenangkanku.
Aku menghela nafas sebentar sebelum menyambut uluran tangan Kent kepadaku. Ku lihat Bunda Tita tersenyum ke arahku, dan hal itu menumbuhkan keyakinan padaku bahwa aku akan baik-baik saja.
Setelah membayar tiket masuk, Bunda Tita berpesan kepada kami untuk kembali ke dekat pintu masuk jika hampir tiba waktunya makan siang yang langsung di iyakan oleh kami. Segera setelahnya, Kent menarikku ke arah Taman Soedjana Kassan atau yang dikenal dengan Taman Bhineka karena tempat itu merupakan tempat favoritku.
Aku melihat Taman Soedjana Kassan dengan tatapan penuh kerinduan. Masih ku ingat bagaimana aku tertawa dan bermain kejar-kejaran bersama ayah di antara relief Burung Garuda, sementara mama sibuk memotret kebersamaan itu. Kent benar. Meskipun ayah sudah menjauh dariku dan mama tak lagi berdiri bersamaku, kali ini aku memandang memori itu sebagai memori yang membuatku tersenyum, bukan lagi tangisan seperti hari-hari yang sudah berlalu. Kent mengajakku bermain kejar-kejaran di antara relief Burung Garuda dan kolam kecil yang ada disana. Di sela-sela permainan kami, ia bertanya padaku.
"Apakah kamu bahagia, Canis?"
Aku menoleh kepadanya dan mengangguk. Ya, kali ini aku bahagia karena telah menjalani hari ini bersamanya yang menyadarkanku bahwa kenangan itu tidak lagi menyakitkan untuk dikenang. Aku menatap Kent berulang kali dan mengucapkan rasa terimakasihku berulang kali dalam hati.