"Ketika keinginan menyerahku ada di sana, dia selalu saja hadir seolah menyemangatiku untuk tidak menyerah begitu saja memperjuangkan hatinya selalu" *** Adit Aku masih merenung di balkon kamarku seorang diri. Tak dapat ku sembunyikan senyuman cerah dari bibirku. Aku tak menyangka bahwa Canis akan memberikanku dan Bara kesempatan kedua untuk mendekatinya. Meskipun awalnya terasa mustahil karena Canis tampak jauh dari genggaman, namun sekarang tidak terasa seperti itu lagi karena kesempatan kedua yang diberikannya terasa sangat berarti untukku. Aku tahu bahwa kehadiranku di hidup Canis bukanlah apa-apa dan sempat terbersit keinginan untuk menyerah karena patah hati. Ucapan Canis yang mengatakan bahwa dia ingin kami menjauhinya terasa bagai godam yang menghantam ulu hatiku berkeping-kepin

