bc

Kubalas Pengkhianatan Suamiku

book_age18+
372
IKUTI
4.7K
BACA
fated
boss
drama
bxg
city
lies
like
intro-logo
Uraian

"Jadi ini alasan sikap kamu berubah, Mas? Aku ingin kita bercerai!" Kata Renata tegas.

"Sampai kapanpun aku tidak mau bercerai dari kamu. Aku mencintai kamu!" Rangga menolak permintaan wanita yang masih dia cintai.

"Aku tidak paham, cinta seperti apa yang sebenarnya kamu miliki? Jika kamu mencintai aku, kamu tidak akan menyakiti aku. Kamu seharusnya sadar, Mas. Kamu sudah menghadirkan wanita itu di hidup kamu, dan bahkan saat ini dia telah mengandung anak kamu. Kamu berkhianat, dan aku tidak akan pernah memaafkan kamu!"

Rumah tangga yang selama tiga tahun terlihat harmonis, kini sudah di ujung tanduk perceraian. Selama ini Rangga menutupi hubungan gelapnya dengan Melia–sekretarisnya. Namun, namanya bangkai yang ditutupi. Pastinya, lama kelamaan akan tercium juga. Sikap Rangga pun menjadi berubah. Sampai akhirnya Renata mengetahui perselingkuhannya. Meskipun demikian, Rangga tetap menolak bercerai. Dia masih mencintai Renata.

Perselingkuhan itu bermula, saat Rangga dan Melia melakukan kunjungan ke luar kota. Rangga saat itu dalam keadaan mabuk, dan Melia mengambil kesempatan menjebak bosnya itu. Bukannya menghentikannya, Rangga justru semakin kecanduan.

Kehidupan Renata berubah, saat pertemuan dengan Arshaka Dirgantara seorang CEO perusahaan besar di Jakarta. Shaka begitu tergila-gila padanya, dan berusaha merebut hatinya.

Apakah Renata akhirnya memaafkan kesalahan Rangga dan merebut Rangga kembali dari Melia? Ataukah justru membalaskan dendamnya atas rasa sakit yang dia rasakan dengan menerima Shaka?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Awal Kehancuran
"Kamu ngapain ada di sini?" Rangga bertanya karena tak bisa menutupi keterkejutan saat melihat sang sekretaris tidur di atas ranjangnya. "Seperti yang Bapak lihat, kalau kita sudah melakukannya. Bapak sudah merenggut kehormatan saya," jawab Melia sambil berpura-pura terisak. Rangga memukul sisi ranjang kosongnya. "Sial! Ini gak mungkin!" "Tapi, ini memang sudah terjadi, Pak!" teriak Melia. "Bapak harus bertanggung jawab!" Rangga mendongak, berharap jika hal itu bisa meminimalisir emosi yang ada di dalam dadanya. Dia menghela napas, menatap Melia dengan suara berat, "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai kompensasi. Anggap saja ini tidak pernah terjadi sesuatu diantara kita! Sebaiknya, sekarang kamu pakai pakaian kamu dan pergi dari sini!" "Saya benar-benar tidak menyangka, kalau seorang pemilik perusahaan yang cukup besar ternyata adalah seorang pecundang," sindir Melia tatapan mata yang sinis. "Maksud kamu apa berkata demikian kepada saya?" Rangga bertanya dengan sorot mata tajam. "Bapak pikir dengan memberikan saya uang, semua akan kembali seperti semula? Bapak salah! Bagaimana kalau setelah malam panas kita justru tumbuh janin di dalam perut saya? Oh iya, bukankah semalam Bapak melakukannya tanpa penga—" "Terus kamu maunya apa?" Rangga memotong ucapan Melia. "Lagi pula, kamu juga belum tentu akan hamil. Kita hanya melakukan satu kali saja. Istri saya saja belum hamil sampai sekarang, padahal kami sudah sering melakukannya. Sudahlah, jangan buat kepala saya menjadi bertambah pusing. Sudah sana pergi!" usirnya ketus. "Bapak jahat!" teriak Melia tak terima. "Kita bahas nanti saja! Sebaiknya, sekarang kamu kembali ke kamar kamu karena saya butuh waktu untuk menenangkan diri!" usirnya sekali lagi. Belum selesai masalah, dering telepon miliknya berbunyi nyaring. Rangga yang tahu jika itu dari Renata–istrinya. Pria itu pun semakin dibuat kelimpungan. Setelah memastikan Melia keluar dari kamarnya. Rangga segera mengambil boxer dan mengambil ponsel yang berada di dalam saku jasnya yang tergeletak di lantai. "Iya, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Semua baik-baik saja di sini. Besok Mas pulang, kok. Sabar, ya! Mas juga udah kangen banget sama kamu," tuturnya bersikap biasa saja. "Ya sudah, kalau begitu. Aku berangkat ke butik dulu ya, Mas. Mau persiapan untuk produk baru. Assalamu'alaikum," jawab Renata di seberang telepon. Setelah panggilan itu selesai, Rangga tak langsung beranjak pergi. Dia justru duduk kembali di atas tepi ranjang, melamun dengan pikiran mulai gila. "Sial! Kenapa hal ini bisa terjadi? Andai saja semalam aku tidak mabuk ... ini semua tidak akan terjadi. Sekarang aku harus gimana? Bagaimana aku mengatakan pada Renata? Apalagi, Melia tidak ingin lepas dariku. Argh! b******k!" Rangga meremas rambutnya kasar. Air matanya menetes, bayangan wajah kecewa Renata kini langsung terbayang, dan hal itu membuatnya semakin frustasi. Pria itu pun mulai memutar waktu di mana awal pertemuannya dengan sang istri adalah ketika rapat para pengusaha di Jakarta. Sejak awal bertemu, dia begitu tergila-gila pada sosok Renata Ayudia Putri. Pada saat dia meminta untuk berpacaran, wanita itu menolak karena ingin hubungan yang serius. Akhirnya, dia memutuskan untuk langsung menikah. Renata adalah seorang pengusaha di bidang fashion. Bukan hanya sebagai pemilik butik, melainkan dia juga pemilik pabrik garment yang cukup besar. Salah satu produknya, bahkan sudah sampai di ekspor ke luar negeri. Hal itu yang membuat Rangga begitu mengagumi sang istri. Bisa dikatakan, Renata lebih sukses dibandingkan dirinya. Namun, wanita itu tak pernah menyepelekannya. Hal itu jugalah yang membuat mereka bertahan hingga sekarang. Meskipun, mama sempat protes karena istrinya tidak juga hamil. Akan tetapi, itu bukan halangan baginya. Memikirkan Renata, membuat Rangga melupakan waktu sarapannya. Akhirnya, dengan berat hati dia masuk dan keluar kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika dia siap untuk turun makan di restoran bawah, sosok yang tidak ingin ditemuinya, justru sudah berdiri di luar kamarnya. "Mau ngapain kamu?" tanya Rangga ketus. "Sarapanlah, Pak." Rangga menghela napas lelah. Ingin menolak, tetapi perutnya sudah memberontak ingin diisi. "Saya harap kamu tak banyak bicara ketika kita sedang makan karena saya benci orang yang tidak profesional!" Suaranya terdengar dingin dan tegas. "Selalu saja bersikap dingin. Aku pastikan, setelah ini kamu akan tergila-gila padaku, Mas, melupakan istri mandulmu itu! Lalu, aku bisa segera hamil anakmu!" ujar Melia bertekad. Dia terus melihat punggung tegap Rangga yang sudah berjalan terlebih dahulu dengan berbagi macam tipu muslihat . Setibanya di restoran yang menyatu dengan hotel, Rangga hendak mengambil piring, tetapi seseorang menahan tangannya. Dia menoleh dan menemukan Melia tersenyum padanya. "Biar saya ambilkan, Pak," tawarnya. "Tidak perlu repot-repot! Saya bisa ambil sendiri," tolak Rangga. Setelah itu, dia mengambil makanan sekadarnya untuk mengisi perutnya yang sudah kelaparan. Tidak ada sepatah kata pun terlontar dari bibir Rangga, dia hanya fokus pada makanannya. Dia juga bersikap tidak peduli ketika Melia memperhatikannya. Pria itu tidak ingin ada pembahasan apa pun di meja makan. Ini bukan pertama kalinya Rangga mengajak Melia dalam perjalanan dinas. Namun, selama ini tidak pernah terjadi apa pun yang menyimpang. Kali ini, dia benar-benar merasa sial. "Pak—" "Jangan membahasnya dulu! Saya sedang tidak ingin bicara apa pun sekarang. Lebih baik kita fokus dulu, pada tujuan awal kita ke sini. Jangan sampai proyek besar ini gagal!" potong Rangga tegas. "Baik, Pak." Melia akhirnya hanya menganggukkan kepala pasrah. Diam-diam, dia berharap proyek ini berhasil didapatkan. Dengan seperti itu, mereka akan semakin sering melakukan perjalanan dinas bersama. Rangga memang tidak terbiasa mabuk sehingga dia tidak bisa mengontrol dirinya. Malam itu, dia terpaksa menuruti permintaan klien yang mengajaknya ke klub malam, dan entah bagaimana cerita dia sudah teler. Pada saat meeting berlangsung, Melia memang selalu bisa diandalkan. Dia pandai melobi klien hingga tertarik untuk bekerja sama dengan perusahaan mereka. Bukan hanya sekedar cantik dan seksi, melainkan kepiawaiannya dalam segala hal itulah yang membuat Rangga memberi nilai plus pada sosok sang sekretaris. "Sepertinya, kalian adalah pasangan yang cocok. Sangat kompak sekali merayu saya. Apa kalian sebenarnya suami istri?" Tuan Ricardo bertanya penasaran. "Uhukkkk!" Rangga tersedak ludahnya sendiri. Melia yang berada di sampingnya, langsung sigap mengambilkan air minum untuk Rangga. "Pelan-pelan saja, Mas!" Mata Rangga melotot penuh peringatan kepada Melia karena sudah berani bersikap kurang ajar padanya. Namun, wanita itu justru tidak peduli dan terus mengusap punggungnya. "Tidak usah malu-malu, Tuan Rangga. Saya mengerti, anak muda seperti Anda kerap malu-malu," goda Tuan Ricardo. Rangga menatap tajam saat Melia menggenggam tangannya erat. Namun, Rangga tidak mungkin marah di depan kliennya. Melia pun mengedipkan mata, sebagai kode semua ini hanya berpura-pura. Pertemuan sudah selesai dan Tuan Ricardo akan bekerja sama dengan perusahaan Rangga. Sungguh ini pencapaian yang besar. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari peran serta Melia, Rangga tidak bisa pungkiri itu. "Mengapa kamu berkata demikian? Bagaimana kalau Tuan Ricardo menganggap semua ini benar? Istri saya akan marah besar. Lancang sekali kamu!" tegur Rangga dengan suara meninggi. Melia mengusap d**a Rangga dengan penuh kelembutan. Gayanya sebagai seorang w*************a, dia lakukan. Entah setan dari mana, Rangga tidak menolak saat Melia mencium bibirnya dengan penuh kelembutan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook